Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 139. Kita Harus Merampok Ziyishi


__ADS_3

Melihat Gofan telah berhasil mendapatkan Mata Ilahi. Si Raksasa, Birawa, mengucapkan selamat atas keberhasilan Gofan dan membawanya keluar dari Celah Dimensi, kembali ke dasar Rawa Bairawa.


*Bluup Bluup*


“Terima kasih Manusia kecil... Berkat dirimu, sekarang aku sudah bisa kembali ke rumahku. Hohoho.” Tawa renyah Bairawa menggema saat tiba-tiba tanah di sekitar rawa bergetar.


Belum sempat Gofan membalas ucapan Bairawa, tiba-tiba tanah retak dan bergetar mirip gempa.


*Gerudug* Tanah retak dan terbelah.


“Apa ini! Apa yang terjadi!?.” Gofan jelas terkejut, dia baru saja tiba di hadapan Bairawa, tapi tanah yang diinjaknya tiba-tiba retak dan jari-jari raksasa muncul merobek tanah.


*Zyuut*


*Zyuut* Gofan melompat ke kanan dan ke kiri menghindari tanah yang retak dan berlubang.


*Tap* Sebuah tangan raksasa menangkap dan menggenggam Gofan saat seluruh air rawa seketika mengering.


“Manusia kecil! Tenanglah.. Ini aku!.” Ucap Bairawa saat tangannya yang besar menggenggam Gofan.


Karena sibuk melompat menghindari lubang tanah yang terbelah, Gofan tidak sempat memperhatikan bahwa tanah yang terbelah itu karena ulah Bairawa. Raksasa itu baru saja keluar dari dalam dasar rawa.


Bairawa yang berdiri di atas rawa yang mengering, melihat raut wajah Gofan yang kebingungan, dia tertawa terbahak-bahak.


“Sial! Kenapa masih ada Raksasa di Benua Penda?!.” Vasudev yang sedari tadi terkejut merasakan tanah bergetar mirip gempa, kini terkejut mendapati seorang raksasa tengah berdiri menggenggam Gofan.


Sebelum ini, Vasudev tengah duduk bersila di bawah sebuah pohon. Dia menunggu Gofan keluar membawa Mata Ilahi. Namun, setelah tiga hari dua malam menunggu, Gofan muncul dalam genggaman tangan seorang raksasa. Hal itu membuat Vasudev terkejut.


*Zyuut* Vasudev menghentakkan kakinya dan melesat terbang sejauh 30an kaki.


“Hei Raksasa! Bebaskan muridku, lepaskan dia!!.” Teriak Vasudev saat dia berdiri melayang di hadapan wajah Bairawa.


*Blazh* Payung Tangisan Surga muncul di genggaman tangan Vasudev.


Masih dalam posisi terbang melayang, Vasudev mengambil ancang-ancang untuk membebaskan Gofan dari genggaman tangan Bairawa.


Gofan yang masih berada dalam genggaman Bairawa menoleh dan melihat bagaimana gurunya menjadi salah paham pada tindakan Bairawa.


“Guru! Tunggu Guru...Tenang.. Dia Bairawa, dia temanku!!.” Teriak Gofan ketika dia melihat kemunculan Vasudev.


Mendengar ucapan Gofan, Vasudev menghentikan langkahnya untuk menyerang.


‘Teman!?... Bocah ini.. Apa tidak ada temannya yang normal sedikit pun... Jika bukan Siluman, hantu,... dan sekarang Raksasa?’ Vasudev mendarat di tangan Bairawa yang menggenggam Gofan. Dia menggeleng kepala saat melihat Gofan tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Dua puluh hela napas kemudian, setelah mendengar penjelasan Gofan. Vasudev membantu Bairawa pergi ke sebuah pulau di Benua Valinoira dengan membuka sebuah celah ruang dimensi untuknya pergi.


“Manusia kecil... Sekarang aku tidak membawa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.. Tapi aku berjanji, jika kamu memerlukan bantuan, aku dan kaumku akan siap membantumu Hohoho.” Ucap Bairawa sebelum dia berpamitan pergi ke dalam celah ruang dimensi.


Berkat bantuan Vasudev, Bairawa tidak akan menimbulkan kekacauan ketika dia hendak pulang kembali ke kampung halamannya, pulau para Raksasa, di Benua Valinoira.


“Meski dia pulang sekarang, aku khawatir, hanya akan ada segelintir Raksasa yang masih mendiami pulau itu.” Ucap Vasudev saat dia menutup celah ruang dimensi.


“Guru.. Guru pernah bertemu dengan Raksasa sebelumnya?.” Tanya Gofan.


Vasudev mengangguk, “Pernah... Dulu, setelah menguasai sihir ruang dan waktu aku sering pergi menjelajah ke enam Benua, termasuk pulau para Raksasa yang ada di Benua Valinoira.”


Gofan sudah tahu sedikit cerita tentang pulau para Raksasa di Benua Valinoira, sehingga dia tidak bertanya lebih lanjut tentang pulau tersebut dan kenyataan tentang kondisi para Raksasa di pulau tersebut.


“Jadi, Guru juga pernah ke Benua Oermacht?.”


Vasudev mengangguk pelan, “Pernah, namun sesampainya di pulau terluar dari Benua itu, aku merasakan seluruh Energi Sihirku menghilang. Karena itu, aku memutuskan untuk kembali ke Benua Penda... Setelahnya, bagaimanapun aku mencoba, aku tidak pernah bisa merobek celah ruang dimensi menuju ke Benua itu, itu adalah perjalanan terlama yang pernah aku lalui.”


Gofan mengelus dagunya ketika dia mendengar ucapan Vasudev. Dia dan Vasudev sama-sama berpikir, ada sesuatu yang aneh dengan Benua Oermacht.


“Ada apa? Kenapa kamu menanyakan Benua itu?.” Tanya Vasudev.


“Tidak ada Guru.. Hanya penasaran.” Sahut Gofan diakhiri sebuah tawa kecil.


Gofan mengangguk dan melakukan hal yang diberitahukan Bairawa sebelum dia pergi. Bairawa memberitahukan, bahwa seorang Dewa telah mengutuknya dan membuatnya menjadi penjaga dari Mata Ilahi.


Dewa itu juga memberi tahu Bairawa, bahwa untuk menguasai Mata Ilahi seseorang harus berpuasa selama 49 hari sebelum menelan bola mata bercahaya tersebut.


“Baik Guru.” Sahut Gofan sebelum dia masuk ke dalam Payung Tangisan Surga.


Seperti biasa, hujan turun mengiringi kepergian Gofan ke dalam dimensi Payung Tangisan Surga.


Waktu yang terbatas membuat Gofan memutuskan untuk menggunakan Dimensi Payung Tangisan Surga untuk menyelesaikan 49 hari puasa sebelum melanjutkan perjalanan ke Neraka.


Dengan berpuasa di dalam Dimensi itu, Gofan hanya akan menghabiskan waktu empat sampai lima hari di dimensi nyata.


***


Lima hari kemudian. Setelah menyelesaikan puasanya di dalam Dimensi Payung Tangisan Surga, Gofan keluar dengan penampilan yang berbeda. Sebuah garis merah kecil terlihat ada di dahi, di antara kedua alis matanya.


“Ada apa denganmu? Apakah tanda di dahimu itu Mata Ilahi?.” Tanya Vasudev penasaran ketika melihat tanda garis merah di dahi Gofan.


Gofan tidak menjawab dia berjalan dengan angkuh melewati Vasudev. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menempel ke arah tanda garis merah di dahinya tersebut.

__ADS_1


“Mata Ilahi”


Sebuah bola mata muncul di dahi Gofan, kini Gofan memiliki tiga buah bola mata. Mata ketiga Gofan itu memancarkan cahaya emas.


*Duarr* Sebuah ledakan terjadi.


Saat cahaya emas dari Mata Ketiga Gofan melesat keluar dan mengenai sebatang pohon, pohon itu hancur dan menjadi debu.


Vasudev tertawa, “Hebat.. Kekuatan yang hebat, meski belum mencapai ranah Human God, kamu bahkan bisa menyaingi mereka Hahaha.” Tawa Vasudev memuji kemampuan baru Gofan.


Tetapi belum selesai Vasudev tertawa, Gofan yang tadinya terlihat angkuh memamerkan jurus barunya tiba-tiba jatuh, kakinya gemetaran dan rambut putihnya perlahan menghitam kembali.


“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi pada kekuatan Mentalmu?” Ketika melihat rambut Gofan mulai menghitam kembali, Vasudev menyadari bahwa kekuatan Energi Mental di dalam tubuh Gofan perlahan menghilang.


“Tidak apa Guru.. Aku hanya kehilangan sedikit Energi Mental.” Gofan kemudian duduk bersila dan membentuk segel tangan. Dia baru saja kehabisan tenaga dalam.


‘Haiwa... Ada apa dengan Gofan, apa yang terjadi padanya di dalam Dimensimu?, Kenapa kekuatan Mentalnya melemah?’ Vasudev bertanya kepada Haiwa yang berada di dalam Payung Tangisan Surga.


‘Sepertinya muridmu, mengalami kemunduran. Setiap dia mencoba menggunakan Mata Ilahi, Energi Mental di dalam tubuhnya akan semakin melemah...’ Suara desahan pelan Haiwa terdengar, sebelum melanjutkan ucapannya,‘Mata Ilahi ini menggunakan kekuatan Mental untuk mengaktifkannya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat tubuhnya menolak Energi Mental’


‘Benar... Ada sesuatu di tubuhnya yang menghalangi perkembangan Energi Mentalnya’ Tatap Vasudev ke arah sebagian kecil rambut putih Gofan yang telah menghitam.


Gofan masih diam memulihkan dirinya. Mata Ketiga di dahinya kembali menghilang, menyisakan sebuah garis merah kecil di antara kedua alis matanya.


Beberapa puluh hela napas kemudian, Gofan membuka kedua matanya dan bangkit berdiri.


“Ada apa dengan kemunduran Energi Mentalmu? Apakah ada yang salah dengan tubuhmu?.” Tanya Vasudev lagi dengan sedikit nada cemas.


Gofan ingin menjawab dan menceritakan yang sejujurnya kepada Vasudev, tentang Pil Teratai Racun Pelangi, dan juga tentang Tian Baixiang. Tapi, setiap Gofan hendak menceritakannya, lidahnya kelu dan dia seperti tidak bisa menceritakannya.


‘Sepertinya aku memang dilarang untuk menceritakannya.. Tapi kenapa?’ Batin Gofan sebelum menjawab, “Tidak ada Guru, tubuhku baik-baik saja.. Aku rasa ini karena aku memutuskan untuk melatih Kitab Raja Awan Hitam, jadi aku harus melatih ulang Energi Mentalku.”


Vasudev tentu tidak begitu saja mempercayai jawaban Gofan, “Baiklah.. Jika kamu tidak bisa mengatakannya sekarang, tidak apa, masih banyak waktu untuk itu dan sebaiknya kamu jangan terlalu memaksa menggunakan Mata Ilahi, sebelum kekuatan Mentalmu pulih sepenuhnya.”


“Baik Guru.” Sahut Gofan.


“Sekarang, Ayo kita pergi ke Paviliun Bunga Indah...” Ucap Vasudev saat dia menyimpan kembali Payung Tangisan Surga ke dalam Cincin Dimensi.


“Guru! Bukankah kita sudah sepakat. Kita akan pergi menolong Xionan sebelum pergi ke Pulau Api? Untuk apa kita ke rumah pelacuran di saat seperti ini?.” Tanya Gofan heran.


“Kita akan merampok. Jika kamu ingin pergi ke Neraka, kita harus merampok Ziyishi.” Sahut Vasudev sembari merobek celah ruang dimensi menuju ke Paviliun Bunga Indah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2