Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 61. Hancurnya Segel Kutukan Hutan Bambu Kemarau


__ADS_3

Gofan terdiam lumayan lama sebelum akhirnya, dia menghela napas panjang dan melanjutkan ucapannya.


" Adapun yang saya pahami adalah keikhlasan. Keikhlasan yang bukan kepasrahan " Ucap Gofan.


' Keikhlasan yang bukan kepasrahan? Apa maksudnya? ' Pikir Haiwa.


" Maksudmu...? " Tianyuan menanyakan maksud ucapan Gofan yang membuat dia dan Haiwa kebingungan.


" Maksud saya... "


" Saya harus mengikhlaskan masa lalu. Masa lalu tidak akan bisa saya rubah, tidak akan pernah bisa. Penyesalan dan dendam tidak akan merubah masa lalu, tidak akan merubah kenyataan... "


" Meskipun pada akhirnya di masa depan saya membalaskan dendam, tidak akan ada yang berubah. Kedua orang tua saya tidak akan hidup kembali, paman saya tidak akan kembali lagi, Perguruan Tanah Terlarang tidak akan kembali berdiri megah seperti dahulu..."


" Balas dendam hanya akan menambah penyesalan dalam diri saya sendiri, hanya akan membuat masa muda saya menjadi sia-sia hanya karena mengejar pembalasan dendam " Ucap Gofan.


Gofan memandang lirih ke depan, ke hadapan hamparan awan yang membentang di hadapannya, mengingat kembali kematian orang-orang yang dia cintai.


" Benar... Benar sekali! Tapi apa maksudmu dengan 'bukan kepasrahan'? Jika kamu tidak membalas dendam, bukankah itu berarti kamu menerima begitu saja, apa yang mereka perbuat kepadamu dan keluargamu? Itu artinya kamu pasrah, bukan? "


Tianyuan menyela ucapan Gofan, saat dia melangkah duduk.


" Tepat sekali Dewa... Jika saya tidak membalaskan dendam ini, itu berarti saya pasrah menerima. Namun yang saya katakan adalah 'bukan kepasrahan'... "


" Saya akan melakukan perlawanan kepada mereka yang jahat, tetapi bukan didasari dendam, melainkan perlawanan untuk menegakkan keadilan, memusnahkan angkara murka agar tidak ada lagi orang lain yang keluarga serta orang yang dicintainya harus merasakan nasib seperti saya dan keluarga saya " Sahut Gofan dengan tegas.


Tidak terlihat kemarahan di mata Gofan saat dia menyatakan akan melakukan perlawanan kepada mereka yang jahat, siapa pun itu, tujuan Gofan bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menegakkan keadilan dan menumpas angkara murka dari dunia ini.


Tianyuan tertawa lepas mendengar jawaban Gofan, " Begitukah? Tahukah kamu, siapa orang jahat yang harus kamu hadapi? "


" Mereka yang harus kamu hadapi adalah orang-orang yang kuat, bahkan ada yang mengatur jalannya dunia ini, mengatur jalannya ketiga alam ini... Sanggupkah kamu menghadapi mereka? " Imbuh Tianyuan.


" Siapa pun mereka, asalkan mereka melakukan kejahatan, menebar keangkara murkaan, akan saya hadapi... "


" Saya tidak bisa menjanjikan, bahwa saya pasti sanggup menghadapi mereka. Oleh karena itu, saya harus menjadi yang terkuat... Meskipun itu tidak mudah, saya akan berusaha sebaik mungkin " Sahut Gofan sembari duduk bersila di atas hamparan awan, tempat dia berpijak.


" Haih... Pikiranmu terlalu polos. Tidak akan semudah itu, bahkan tuanku sendiri gagal menghadapi mereka " Ucap Haiwa.


" Satu-satunya cara hanyalah kamu menemukan semua pecahan Batu Surga dan menyerap energinya " Haiwa menggeleng-geleng dari tempatnya duduk.


" Tidak apa... Kamu masih punya kesempatan. Aku lihat kamu membawa keberuntungan surga, mungkin kamu adalah orang yang diramalkan Surga " Ucap Tianyuan.


Gofan tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang itu, mulai dari ketiga alam? pecahan Batu Surga? keberuntungan Surga? ramalan Surga?, Gofan sama sekali tidak mengetahui semua itu.


Di dalam Kitab Kompilasi Bela diri, hanya dituliskan, bahwa dunia ini hanya terdiri dari dua alam, Alam Besar dan Alam Kecil. Alam Besar, terdiri dari sembilan lapisan alam langit, sementara Alam Kecil adalah alam tempat tinggal Gofan saat ini. Tidak pernah disebutkan bahwa ada alam ketiga selain dua alam itu.


Tianyuan bangkit dari tempat duduknya ketika melihat pandangan mata Gofan dipenuhi kebingungan. Tianyuan berjalan menghampiri Gofan yang duduk bersila di atas hamparan awan.


" Bagus... Bagus sekali! "


" Aku kagum, kamu bisa menyelesaikan permasalahan hatimu. Melepaskan dirimu dari belenggu dendam. Mengikhlaskan dendam tetapi tidak pasrah kepada kejahatan... "


" Jika kamu memelihara dendam, memupuknya hingga menjadi dendam kesumat, itu hanya akan meracuni dirimu, menjadi racun hati yang menyesatkan langkahmu... Gofan, Berdirilah! " Ucap Tianyuan sembari berjalan menghampiri Gofan.


Gofan berdiri ketika Tianyuan sudah sampai tepat di hadapannya. Kini mereka berdiri berhadapan.


" Oh... Tidak jadi, jangan berdiri. Membungkuklah sedikit... Kamu sedikit lebih tinggi dariku" Tianyuan mendapati Gofan lebih tinggi darinya, ketika Gofan berdiri mengikuti perintahnya.


Gofan tersenyum dan tertawa kecil, begitu juga dengan Haiwa.


Ketika Gofan membungkuk, Tianyuan menyentuhkan jari telunjuknya ke arah dahi Gofan. Sebuah cahaya keemasan memasuki ingatan Gofan.


Memberitahukan Gofan mengenai semua hal yang tadinya sempat membuat Gofan bingung, mulai dari ketiga alam, pecahan Batu Surga, keberuntungan Surga, dan ramalan Surga, semuanya terjawab.


Dalam ingatan Gofan, kini berbagai macam informasi berkelebat dan menghilangkan kebingungannya.


Ternyata setelah era kejatuhan para Dewa, dunia ini diatur dan dikendalikan oleh Kaisar Langit. Surga menghilang dan tidak pernah muncul kembali, setelah mengutuk Dewa Cahaya dan Dewa Gelap turun ke Alam Kecil. Sehingga kendali total semua alam berada di tangan Kaisar Langit.


Pecahan diri Dewa Cahaya, Dewa Phoenix memenangkan pertarungan memperebutkan tahta Kaisar Langit melawan pecahan diri Dewa Gelap, Dewa Malam. Dewa Malam yang kalah di usir dari sembilan alam langit oleh Kaisar Langit yang baru, Dewa Phoenix yang menggelari dirinya Kaisar Phoenix Api Abadi.


Dewa Malam menanggalkan gelarnya sebagai penguasa malam dan pergi meninggalkan Alam Besar. Dewa Malam mengganti julukannya menjadi Raja Neraka. Ketika Raja Neraka berkeliling semua alam, dia menemukan sebuah celah kecil di antara Alam Besar dan Alam Kecil, tempat roh bergentayangan.

__ADS_1


Dengan kekuatan kegelapannya, Raja Neraka menciptakan sebuah alam baru dari celah kecil itu. Raja Neraka mendirikan kekuasaan di alam baru itu dan menamainya Neraka, seperti nama julukannya.


Semua Dewa kecil pengikut Raja Neraka mengikutinya pergi ke alam baru itu. Mereka mengatur kehidupan di alam baru yang disebut Neraka itu. Para Dewa kecil itu menjadi para Dewa Kematian yang bertugas menjemput roh orang yang meninggal.


Semenjak saat itu, Alam ketiga pun resmi muncul, yang dikenal dengan Alam Kematian alias Neraka. Sehingga kini ada tiga alam di dunia ciptaan Surga, yaitu Alam Besar, Alam Kecil dan Alam Kematian.


' Jadi Alam Ketiga itu Neraka. Di Kitab Kompilasi Bela diri, Neraka disebut sebagai Alam Roh. Tidak ku sangka itu adalah Alam Ketiga, yaitu Alam Kematian ' Pikir Gofan.


Sebelum Surga menghilang, Surga menciptakan sebuah batu dari pancaran energiNya, yang dikenal sebagai Batu Surga. Batu Surga pecah menjadi tujuh bagian dan tersebar di semua alam. Salah satu pecahan Batu Surga jatuh ke Alam Kecil dan di ketemukan oleh Dewa Naga.


Saat pertempuran memusnahkan trah Naga, Dewa Cahaya dan Dewa Gelap hampir kalah oleh Dewa Naga, berkat bantuan dari pecahan Batu Surga.


Mengetahui kekuatan batu itu, Dewa Cahaya dan Dewa Gelap bertempur mati-matian merebut batu itu. Sesaat sebelum meninggal, Dewa Naga memecah pecahan Batu Surga miliknya menjadi sembilan bagian, yang kemudian dikenal sebagai Sembilan Batu Bertuah.


' Jadi, selain ingin memusnahkan trah Naga, kedua Dewa itu juga menginginkan pecahan Batu Surga...' Gofan mendapatkan pengetahuan baru, mengenai sejarah trah Naga dari kilasan ingatan yang berkelebat di pikirannya.


Beberapa ratus tahun setelah Surga menghilang, muncul sebuah ramalan dari Surga yang mengatakan, akan lahir makhluk hidup pembawa keberuntunganNya yang akan menegakkan keadilan dan menciptakan keharmonisan di semua alam, yang merupakan tujuan awal Surga menciptakan Cahaya dan Kegelapan.


" Dewa. Kenapa Surga menghilang? " Tanya Gofan setelah memahami semua ingatan yang dikirimkan oleh Tianyuan.


" Setahuku, itu karena Beliau terlalu sedih dan kecewa, kedua Dewa besar, Dewa awal mula, Cahaya dan Kegelapan ternyata justru menciptakan kekacauan dan bukan keharmonisan "


" Itulah yang banyak dikatakan oleh para Dewa pendahuluku... Aku hanya mendengarkan cerita, sama sepertimu " Sahut Tianyuan ketika dia berbalik pergi menuju ke tempatnya duduk.


" Dewa, bukankah Anda adalah Raja Siluman Kera? Seharusnya Kaisar Langit pasti tidak akan menerima Anda sebagai Dewa, bukan? Karena setahu saya, setiap siluman pasti memiliki kekuatan iblis di dalam dirinya "


Gofan kemudian melangkah beberapa langkah ke depan dan duduk di sebuah kursi yang diciptakan Tianyuan melalui kibasan tangannya.


" Ceritanya panjang... Ini ada hubungannya dengan kelahiran siluman di alam kecil ini, ini juga berhubungan dengan pertempuran Dewa Naga dan kedua Dewa besar itu. Suatu hari nanti, kamu pasti akan tahu "


" Untuk saat ini, cukup itu saja yang perlu kamu ketahui... Katakan kepadaku berapa bagian dari Sembilan Batu Bertuah yang sudah kamu serap energinya? " Tianyuan bertanya kepada Gofan sembari menatap tajam ke arah Gofan.


Haiwa terkejut mendengar pertanyaan yang ditanyakan Tianyuan. Haiwa tidak menyadari bahwa Gofan sudah menyerap Energi Surga.


Gofan bahkan lebih terkejut, dia tidak menyangka Tianyuan mengetahui tentang Energi Surga yang dia miliki.


" Tidak perlu terkejut, aku punya satu pecahan Batu Surga, karena itu aku bisa merasakan pecahan dari Energi Surga di dalam dirimu " Imbuh Tianyuan setelah melihat ekspresi terkejut di wajah Gofan dan Haiwa.


" Saya sudah menyerap dua bagian dari Sembilan Batu Bertuah " Sahut Gofan.


" Keturunan tidak langsung sebelumnya telah mencari ke semua Benua Penda dan tidak menemukan satu pun batu itu, tapi... Kamu sudah punya dua di usia begini muda "


Haiwa terkejut lagi, ternyata tidak hanya satu dari Sembilan Batu Bertuah yang sudah diserap Gofan, tetapi dua.


Padahal dulu, Wukong dan semua keturunan tidak langsung dari Dewa Perang, tidak bisa menemukan satu pun Batu Bertuah. Meskipun mereka sudah menghabiskan seluruh hidup mereka hanya untuk menemukan keberadaan Batu Bertuah itu, tidak satu pun yang mereka temukan.


" Haiwa... Tidak perlu heran begitu, seperti yang ku bilang sebelumnya, aku melihat dia membawa keberuntungan Surga "


Tianyuan menenangkan Haiwa yang tidak menyangka bahwa dua dari Sembilan Batu Bertuah sudah diserap Gofan.


" Gofan, kamu masih perlu tujuh bagian lain, agar semua pecahan itu menjadi satu bagian utuh dari tujuh pecahan Batu Surga... "


*Zyuut*


" Terimalah pecahan Batu Surga milikku, dengan ini, kamu akan dengan mudah merasakan keberadaan pecahan batu lainnya. Semakin banyak yang kamu miliki, semakin mudah kamu merasakan keberadaan batu lainnya "


Tianyuan mengibaskan lengannya dan sebuah pecahan Batu Surga muncul di atas telapak tangannya.


" Tuan!?... Jika Anda memberinya batu itu, percikan Jiwa Anda akan lenyap! " Ucap Haiwa.


Haiwa mendadak cemas setelah melihat Tianyuan mengeluarkan pecahan Batu Surga miliknya untuk diberikan kepada Gofan.


Selama ini, berkat kekuatan dari pecahan Batu Surga itu, percikan Jiwa Tianyuan mampu bertahan hidup. Jika pecahan Batu Surga itu hilang, secara langsung Tianyuan akan lenyap dari dunia ini.


" Bukan masalah... Tenanglah, aku akan hidup bersama Gofan, dia akan meneruskan perjuanganku, perjuangan kita " Tianyuan menepuk pundak Haiwa dan berubah menjadi seberkas cahaya putih, lalu masuk ke dalam pecahan Batu Surga.


" Tu-tuan...!! " Haiwa jatuh bersimpuh di hadapan pecahan Batu Surga yang melayang-layang di hadapannya.


Setelah beberapa hela napas, Haiwa bangkit dan memberikan pecahan Batu Surga kepada Gofan.


" Terimalah...! Setelah kamu selesai menyerap Energi Surga dari pecahan batu ini, aku akan menghancurkan segel kutukan sesuai perjanjian " Ucap Haiwa sedikit lirih, dia kemudian mundur beberapa langkah, menjauh dari Gofan.

__ADS_1


" Terima kasih "


' Terima kasih Dewa, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menegakkan keadilan dan menciptakan keharmonisan di dunia ini ' Batin Gofan.


Gofan sebenarnya, tidak pernah menyangka, Dewa Perang, Tianyuan, rela memberikan sisa kehidupannya kepada Gofan. Hati Gofan tersentuh karena hal itu. Gofan semakin bertekad untuk menjadi yang terkuat.


Gofan memejamkan kedua matanya saat mengambil posisi duduk bersila. Gofan menempatkan pecahan Batu Surga tepat di tengah di hadapan dadanya.


Telapak tangan kanannya berada di atas dan telapak tangan kirinya berada di bawah, mengapit pecahan Batu Surga. Gofan menyerap Energi Surga dari pecahan Batu Surga. Cara penyerapan itu, dia ketahui dari kilasan ingatan yang sebelumnya dikirimkan Tianyuan.


Ratusan hela napas kemudian, tubuh Gofan bergetar dan melayang. Gofan yang dalam posisi masih duduk bersila, melayang dan berputar-putar ratusan kali, sebelum sebuah cahaya emas memancar terang.


Cahaya emas itu menyelimuti Gofan dan menghilang sesaat sebelum Gofan kembali mendarat di atas hamparan awan.


' Aku berhasil...! Tapi apa ini? Sekarang ada dua kubus di dalam Titik Pusat Jiwaku?... Sudahlah, lain kali akan ku cari tahu lagi ' Ucap Gofan di dalam pikirannya.


" Selamat! Kamu telah berhasil " Ucap Haiwa ketika dia menghampiri Gofan.


Gofan membuka kedua matanya dan mengangguk membalas ucapan selamat Haiwa.


" Bagaimana dengan segelnya? " Tanya Gofan yang berdiri menghadap Haiwa.


" Aku sudah menghilangkan segelnya. Keluarlah! dan cabut Tongkat Emas Naga Kembar ini, dari dalam tanah, maka kutukan akan langsung menghilang " Jawab Haiwa sesaat sebelum menghilang.


*Zyuut* Jiwa Gofan kembali ke dalam tubuhnya.


" Hei... Xiashe, Apa yang kamu lakukan ini? " Gofan yang tersadar kembali, mendapati Julala sedang melilit erat tubuhnya.


" Oh... Kamu sudah sadar, tadi aku hanya mencoba melindungi tubuhmu, tubuhmu terasa amat dingin " Sahut Julala.


Julala kemudian bergerak melata ke arah samping Gofan. Gofan tersenyum tipis dan mengangguk kepada Xiashe sebagai wujud terima kasihnya.


" Fanfan, bagaimana kutukannya? Kenapa belum ada perubahan? " Tanya Xionan.


Xionan sangat bersemangat ingin melihat segel kutukan itu dihancurkan, namun ternyata tidak terjadi apa-apa, jadi Xionan bertanya kepada Gofan.


" Sebentar lagi.. " Sahut Gofan singkat.


Gofan berdiri dan memegang batang bambu yang selama ini ada di hadapannya, " Sekarang... Aku akan menghancurkan kutukannya! "


" Aarrgghh....!!! " Teriak Gofan sekuat tenaga.


Gofan mencabut batang bambu itu dari dalam tanah. Saat batang bambu itu terangkat dari tanah sebuah cahaya emas muncul dari dalam batang bambu.


" Tongkat Emas Naga Kembar!? " Ucap Julala dan Xionan yang terkejut melihat sebuah Senjata Dewa muncul di hadapan mereka.


Setelah cahaya emas menghilang, batang bambu yang dicabut Gofan berubah menjadi Tongkat Emas Naga Kembar.


Tongkat Emas Naga Kembar memancarkan cahaya emas ke atas, ke langit, membuat langit terlihat seperti berlubang. Dari langit datang sekelebat cahaya putih, kedua cahaya itu pun beradu dan meledak.


*Duuaarr*


*Duuaarr*


Ledakan terjadi berkali-kali merambat hingga di sekitar Gofan. Gofan kini tidak terlihat lagi, hamburan debu dan ledakan menghalangi pengelihatan Xionan dan Julalan.


Xionan dan Julala terpaksa menjauh dari Gofan. Saat mereka baru menjauh beberapa puluh langkah, tanah tiba-tiba bergetar, gempa terjadi, langit bergemuruh, angin berkecamuk, hujan dan badai tiba-tiba turun di Hutan Bambu Kemarau yang selama 700an tahun selalu kekeringan.


" Apa ini!? "


Semua orang terkejut melihat dan merasakan situasi yang kacau itu, Xionan, Julala, Suku Naga, Mouhuli, Bailaohu, Bianselong, Uroro, Urori, Urore, bahkan Yubing dan Nian yang berada di ruang dimensi juga terkejut.


' Apa kutukannya sudah hancur? ' Pikir mereka semua, di saat kekacauan itu terjadi.


Kekacauan yang terjadi menutupi seluruh area Hutan Bambu Kemarau. Sehingga kejadian ini dapat terlihat jelas dari sebuah Desa yang berada di sisi luar Hutan Bambu Kemarau.


Di sisi luar Hutan Bambu Kemarau, seorang Kepala Desa melihat dan merasakan kekacauan yang sedang terjadi di hutan terkutuk itu. Kekacauan itu terlihat jelas dari Desa yang dipimpin Kepala Desa itu.


" Beritahu Ketua Partai, bahwa segel kutukannya sudah hancur...! Pewaris baru telah muncul...! " Kata Kepala Desa itu kepada seorang pemuda yang berdiri di sebelahnya.


" Pergilah! " Imbuh si Kepala Desa.

__ADS_1


" Baik Kepala Desa " Sahut si pemuda, sebelum melangkah pergi menunggangi kudanya menuju ke sebuah Partai Bela diri, yang berada cukup jauh di luar Desa.


Bersambung...


__ADS_2