Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 154. Siapa Sebenarnya Hantu Tuobha ini?


__ADS_3

“Saat itu, Raja Tuogui yang masih berstatus Pangeran, jatuh hati kepada Moulan. Dia pun memboyongnya ke Kerajaan Tengkorak Putih untuk dinikahi...” Tutur Qingwahong.


“...Tapi saat pernikahan Pangeran Tuogui dan Moulan, Aliansi Tiga Siluman menyerang Istana.” Imbuh Qingwahong bercerita.


Aliansi Tiga Siluman merupakan gabungan dari berbagai Trah Siluman, yang dipimpin oleh tiga Trah Siluman terkuat, yakni Siluman Harimau Putih, Siluman Serigala Mata Biru, dan Siluman Kalelawar Merah Darah. Pemberontakan terjadi, karena, pemerintahan Trah Tengkorak Putih cenderung diskriminatif terhadap Trah lain, membuat munculnya aliansi tersebut.


“Lalu?.” Tanya Gennai Dadoros penasaran.


“Trah Tengkorak Putih kalah dan mereka yang selamat mengasingkan diri dengan membaur di antara manusia...”


“Saat perang itu terjadi, Pangeran Tuogui baru mengetahui bahwa calon istrinya , Moulan, adalah adik dari salah satu pemimpin Aliansi Tiga Siluman.”


Moulan, Siluman Serigala Mata Biru, mematai-matai Tuogui dan berpura-pura mencintainya untuk mengetahui kelemahan Formasi Tulang Putih yang menjadi pelindung dari Kerajaan Tengkorak Putih.


Saat hari pernikahannya, Moulan, merusak Formasi tersebut dan meracuni sebagian besar persediaan makanan para Siluman Tengkorak Putih. Hal itulah yang membuat kejatuhan Trah tersebut.


“Kaisar Siluman waktu itu, Kakak Pangeran Tuogui, Tuobha, menggunakan jurus terlarang dengan menggunakan nyawanya dan mengurung seluruh pemberontak di dalam dimensi yang sekarang ini disebut sebagai Dimensi Siluman... Sejak itu, Kekaisaran Siluman menghilang dari Alam Kecil.” Ucap Qingwahong mengakhiri ceritanya.


Belakangan, Kekaisaran Siluman menemukan cara untuk keluar dari Dimensi tersebut dan mulai melakukan pengamatan terhadap Alam Kecil yang sudah ratusan tahun mereka tinggalkan.


Usai mendengar cerita tersebut, Gennai Dadoros naik ke atas punggung seekor kuda, “Aku hanya belum mengerti, Kenapa Putri memilih si Iblis Putih itu? Putri bisa saja menyewa pendekar lain atau pasukan dari Benua lain... Kenapa harus dia?.”


Qingwahong yang berdiri tak jauh dari Gennai Dadoros tertawa, “Itu karena si Iblis Putih adalah tokoh utama cerita ini... Hahaha...”


“Bukan.. Maksudku.. Selain karena bocah itu memiliki kemampuan, dia juga murid Mouhuli. Secara tidak langsung, dia memiliki hubungan dengan Kaisar Siluman yang sekarang, kalau dia membantu Putri, Kaisar Siluman tidak akan mencurigai Putri bukan?. Kaisar itu pasti tidak akan pernah mengira, bahwa murid Mouhuli akan membantu kita membangun kembali Kerajaan Tengkorak Putih Hahaha...” Ucap Qingwahong.


Tak menggubris jawaban aneh Qingwahong. Usai mengucapkan salam, Gennai Dadoros pergi menuju rombongan Kerajaan Penda.


“Ingat.. Jangan sampai Si Iblis Putih tahu, bahwa kamu yang telah memfitnahnya... Atau semua rencana ini akan gagal. Mengerti?!.” Teriak Qingwahong sambil melambaikan tangannya ke arah Gennai Dadoros yang memacu kencang laju kudanya.


***


[Tanah Halimun-Lembah Kematian]


“Guru.. Apa yang sebenarnya terjadi dengan tempat ini?.” Tanya Gofan ketika melihat banyak sekali hantu penasaran dan hawa negatif memenuhi Lembah Kematian.


Keduanya, Gofan dan Vasudev, baru saja tiba di Lembah Kematian.


“Disinilah tempat terjadinya Perang Dunia Siluman, sebelum mereka menghilang ke Dimensi lain.” Sahut Vasudev yang hanya melihat tanah berwarna merah darah memenuhi daratan yang dinamai Lembah Kematian tersebut.


“Gofan. Bisakah kamu melihat, dimana tempat hantu penasaran paling banyak berkumpul?.” Tanya Vasudev sembari memperhatikan sekelilingnya.


Gofan mengangguk dan menunjuk ke arah timur dari Lembah Kematian tersebut.


“Ini. Ambil kedua kunci ini dan pergilah ke sana...Dan terimalah ini, semoga ini bisa membantumu.” Setelah menyerakan kedua kunci, Vasudev menyentuhkan telunjuk tangan kanannya ke dahi Gofan.


*Blazh*


Kilasan ingatan tentang cara membuka Gerbang Dewi Ruyi, pemahaman dasar Rule, dan beberapa ingatan mengenai lokasi-lokasi yang pernah dikunjungi Vasudev terlintas di pikiran Gofan.

__ADS_1


“Terima kasih Guru.” Sahut Gofan sebelum mengeluarkan Pagoda Jindun serta menyimpan Kalung Kerang Ajaib dan Sangkar Gaib di dalamnya.


“Guru. Aku titipkan mereka kepadamu.” Ucapnya sembari menyerahkan Pagoda Jindun kepada Vasudev.


“Pergilah....” Vasudev menyimpan Pagoda Jindun dan melihat Gofan pergi menuju ke arah timur.


“Kembalilah dengan selamat.” Gumam Vasudev sembari membalik badan dan pergi menuju ke arah Kediaman Keluarga Tian.


**


Sesuai petunjuk, dari cara membuka Gerbang Dewi Ruyi yang diberikan Vasudev, Gofan mengambil dua buah batu besar dan meletakkan keduanya saling sejajar.


“Aneh sekali... Sepertinya hantu-hantu ini sudah lama bergentayangan, tapi kenapa mereka belum berubah menjadi roh jahat. Dewa Kematian pun seperti membiarkan mereka seperti ini....” Gumam Gofan saat tangannya sibuk menggambar sebuah pola di masing-masing batu.


*Zyuut*


“Hei... Anak kecil...” Seorang hantu penasaran melayang menghampiri Gofan.


Gofan mengabaikannya, berpura-pura tidak bisa melihat atau pun mendengarnya.


“Anak kecil... Aku tahu, kamu bisa melihat kami.” Ucap Hantu itu kembali. Semakin dekat dengan Gofan.


Gofan tetap tidak menghiraukannya, dia masih terus menggambar pola di atas kedua batu.


“Hei... Anak kecil...”


“Hei... Anak kecil...”


“Hei... Anak kecil...”


“Hei... Anak kecil...”


Urat hijau mulai terlihat di dahi Gofan ketika dia menyelesaikan pola di atas kedua batu.


“Jangan panggil aku anak kecil Paman! Aku Gofan. Namaku Gofan.” Sahut Gofan kesal.


Hantu itu tertawa, “Sudah kuduga, kamu memang bisa berinteraksi dengan kami.”


“Aku Tuobha... Aku pemimpin para hantu di sini, jangan khawatir, mereka tidak akan berani mengganggumu selama aku tidak mengizinkan.” Hantu penasaran bernama Tuobha itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Gofan hanya mengangguk dan duduk bersila. Kedua tangannya membentuk segel tangan untuk membuka Gerbang Dewi Ruyi.


*Zyuut*


*Zyuut*


Kunci Perak dan Kunci Perunggu melayang keluar dari dalam Cincin Dimensi Gofan dan melayang tepat di atas masing-masing batu bergambar pola tersebut.


“Hei... Gofan. Ternyata kamu akan membuka Gerbang Dewi Ruyi. Mau kemana kamu? Gerbang ini hanya akan mengantarmu ke Alam Langit Pertama. Kamu masih belum cukup kuat untuk mengunjungi Alam itu.” Celetuk Tuobha, mengganggu konsentrasi Gofan.

__ADS_1


Gofan melirik ke arah Tuobha dan berkata, “Sepertinya Paman cukup berwawasan tentang Gerbang ini. Aku mau ke Neraka.” Sahutnya.


“Hei... Sudah ku bilang, Gerbang ini hanya akan mengantarmu ke Alam Langit Pertama, bukan ke Neraka...”


“Tidak masalah. Aku akan mencari jalan ke Neraka setelah sampai di Alam itu.” Sahut Gofan sembari melanjutkan proses membuka Gerbang.


“Aiya...Hentikan. Itu percuma. Sesampainya kamu di Alam Langit Pertama, Prajurit Penjaga Langit akan menangkapmu...”


“Sebagai manusia Fana, kamu mana boleh menginjakkan kaki di rumah para Dewa...”


Mendengar ucapan Tuobha, Gofan sedikit gemetar. Dalam pikirannya, dia tidak pernah terbersit akan ada Prajurit Langit atau semacamnya.


“Tidak masalah. Aku akan menghadapi mereka dan menghindari mereka sejauh yang aku bisa.” Ucap Gofan.


“Kamu mau ke Neraka bukan?.” Tanya Tuobha yang dibalas anggukan oleh Gofan.


“Kalau begitu, ikut aku... Aku rasa, salah satu dari mereka masih ada di sekitar sini.” Imbuh Tuobha sebelum melayang pelan ke arah Selatan.


Gofan ragu mengikutinya.


“Hei... Anak kecil...Ayo.. Ikuti aku. Aku akan membawamu masuk Neraka.” Ucap Tuobha ketika melihat Gofan tidak mengikutinya.


“Terima kasih Paman. Tapi, aku akan tetap mencoba membuka Gerbang ini.” Gofan menolak.


“Aiya... Baik. Biar aku beri tahu kenapa ada banyak hantu penasaran di tempat ini dan kenapa Dewa Kematian tidak mengangkap kami... Itu karena aku.” Ucap Tuobha dengan sedikit angkuh.


‘Siapa sebenarnya Hantu Tuobha ini? Apa yang dia ucapkan bisa dipercaya?.’ Batin Gofan sembari tetap melanjutkan proses membuka Gerbang Dewi Ruyi.


*Zyuut*


Tuobha mengambil Kunci Perak dan melesat pergi ke arah Selatan.


“Paman... Kembalikan!?.” Teriak Gofan, bangkit dan mengejar Tuobha.


‘Sial. Apa maunya Hantu tua ini?’ Batin Gofan sembari mengambil Kunci Perunggu dan melesat pergi ke arah Tuobha.


**


“Ini Kuncinya, aku kembalikan... Lihatlah ke sana.” Setelah mengembalikan Kunci Perak, Tuobha menunjuk ke arah seorang Pria bertubuh putih dengan wajah pucat.


‘Dewa Kematian!? Tapi...’ Tatap Gofan melihat ke arah Pria yang ditunjuk Tuobha.


“Kenapa? Kamu penasaran, kenapa Dewa Kematian terlihat seperti itu?.” Ucap Tuobha.


Di hadapan Gofan, Dewa Kematian itu terlihat aneh, sebuah rantai hitam membelenggu lehernya.


Tuobha melayang mendekati si Dewa Kematian.


“Duduk!.” Perintah Tuobha.

__ADS_1


Dewa Kematian itu langsung duduk, sesuai yang diperintahkan Tuobha.


Bersambung...


__ADS_2