
" Ukh... Ini sinar matahari!? " Keluh Gofan.
Ketika memasuki ruang dimensi, Gofan menutup kedua matanya karena sakit, sinar matahari yang terang menyilaukan kedua matanya. Padahal sebelumnya di dalam gua, gelap gulita, ini keadaan yang benar-benar bertolak belakang.
Gofan dan Xionan, kini sudah ada di ruang dimensi buatan Mouhuli, tapi ini bukanlah sebuah ruangan seperti yang bisa mereka pikirkankan, ini lebih tampak seperti sebuah dunia di dalam suatu dimensi, ketika Gofan membuka matanya, sebuah pemandangan dunia di dalam dimensi ini muncul di hadapannya.
' Nannan, apa semua ini nyata? Tadinya kita masih di dalam gua yang gelap gulita ' Tanya Gofan melalui pikirannya.
Xionan berpikir sejenak sambil terus memandangi alam yang terpapar di hadapannya.
' Entahlah... tapi mungkin saja tidak nyata... aku rasa, ini adalah dunia di dalam dimensi, sepertinya siluman tua itu sudah memahami Rule '
' Rule? Apa itu? ' Tanya Gofan.
Gofan melirik ke arah Xionan yang melayang-layang di sebelahnya, ini baru pertama kalinya dia mendengar istilah Rule yang disebutkan oleh Xionan.
' Itu semacam kekuatan yang bisa kamu miliki, ketika kamu memahami cara kerja kekuatan alam ' Xionan memaparkan jawaban yang cukup jelas dan singkat.
Gofan menganggukkan kepalanya, dia paham apa yang dimaksud Xionan.
' Fanfan, lihat ada gubuk di pulau di dalam danau itu, mungkin siluman tua itu ada di sana ' Tunjuk Xionan ke arah gubuk di dalam sebuah danau.
Gubuk itu menonjol di atas bukit pulau, hingga meski dari jauh sekalipun, sudah dapat terlihat.
Setelah melewati portal, Gofan dan Xionan muncul dan tiba di tepian sebuah danau. Ada sebuah jembatan yang menghubungkan tepi danau dengan sebuah dermaga kecil.
Di dermaga kecil itu terikat sebuah perahu dan juga seorang pria berjubah rumi dengan topi caping dari bambu berdiri di atas perahu.
Danau itu sangat luas, sehingga tidak mungkin berenang untuk menuju ke pulau di tengah danau.
' Iya mungkin dia di gubuk itu, ayo, kita ke perahu itu dulu, kita akan menyeberang ke pulau di tengah danau itu' Sahut Gofan.
Kemudian Gofan melangkah menuju ke dermaga kecil, ke arah perahu yang terikat di tepian dermaga.
Beberapa hela napas kemudian, Gofan tiba di depan perahu yang terikat itu. Gofan melangkah dan mendekati pria berjubah rumi.
" Permisi, Apa bapak bisa menyeberangkanku ke pulau itu ? " Tanyanya kepada si Pria berjubah rumi.
Pria berjubah rumi itu hanya mengangguk diam dan mulai melepaskan ikatan tali setelah Gofan menaiki perahu, dia kemudian mengayuh perahu menuju ke tengah danau, ke arah pulau di tengah danau.
Suasana danau sepi, hanya riak-riak kecil cipratan air danau yang tampak bergemericik, udara sungguh sejuk meski matahari bersinar terik.
Gofan duduk di bagian depan perahu, sementara pria berjubah rami itu mendayung di belakangnya.
Kini hanya beberapa kali dayung lagi, perahu itu akan sampai ke tepian pulau di tengah danau.
" Lama sekali... Hanya mengucapkan perpisahan pada kedua gadis itu, Turun...! berenanglah dari sini...!! " Bentak si Pria berjubah rumi kepada Gofan.
Tiba-tiba Pria berjubah rumi itu bersuara mirip Mouhuli, dia menggunakan kayuh perahu untuk memukul Gofan keluar dari perahu.
*Ploaak* Kayuh perahu itu mendorong Gofan jatuh ke danau.
*Kecebyuur*
" Pak, Apa-apaan ini...? " Tanya Gofan kebingungan.
*Kecipak Kecipuk*
Gofan terjatuh dan tercebur ke dalam danau. Untung saja Gofan bisa berenang, jika tidak, dia mungkin akan tenggelam.
Tiba-tiba saja si Pria berjubah rumi mengusap-usap wajahnya. Sesaat setelah itu, wajahnya berubah menjadi wajah Mouhuli. Ternyata, si Pria berjubah rumi itu adalah penyamaran yang dilakukan oleh Mouhuli.
Mouhuli berdiri tegak di atas perahu sambil memandang ke arah Gofan yang berenang mendekat ke perahu.
__ADS_1
*Kecipak Kecipuk*
' Eh... Wajahnya berubah? Di-dia... Sial, Kenapa Leluhur harus mendorongku ke danau ini? '
" Oh... Ternyata, Leluhur.... Maaf, tolong bantu saya dulu, Leluhur... "
Gofan berenang-renang sambil melihat perubahan yang terjadi pada Pria berjubah rumi, dia menyadari itu adalah penyamaran yang dilakukan oleh Mouhuli.
" Aku tunggu kamu di gubuk, berenanglah ke tepi dengan usahamu, jangan sampai lewat sore hari. Jika tidak... Akan ada hukuman lain " Sahut Mouhuli.
*Zyuut*
*Duuaarr*
Mouhuli melompat dan menghilang dari atas perahu, perahu itu meledak dan hancur.
Gofan yang sebelumnya sudah berenang hingga cukup dekat ke perahu, kini terhempas gelombang ledakan dan terdorong lebih jauh lagi.
Gofan terhanyut di dalam gelombang itu. Wajahnya nampak kesal, dia belum naik ke permukaan air, melainkan mendiamkan dirinya tenggelam sedikit di dalam air.
*Bluup Bluup*
' Sialan, dia mempermainkan aku, hampir saja aku sampai, sekarang harus terhempas jauh begini ' Pikir Gofan, saat beberapa gelembung udara keluar dari mulutnya.
" Hihihi... Fanfan, keluarlah, mau berapa lama kamu berendam? kalau kamu sudah mempelajari ilmu meringankan tubuh, pukulan tadi harusnya bisa kamu hindari... Hihihi " Tawa Xionan.
Xionan melayang di atas tempat Gofan menenggelamkan diri karena kesal, dia tertawa melihat bagaimana Gofan dikerjai oleh Mouhuli.
*Pluup* Kepala Gofan muncul dari dalam air.
*Kecipak Kecipuk*
" Aku akan mempelajari Kitab Langkah Kilat setelah ini, lain kali aku pasti bisa menghindari pukulan seperti itu " Ucapnya kesal.
Gofan tampak bertekad dan penuh semangat, dia berenang sekuat tenaga menuju tepian pulau di tengah danau.
Gofan terkapar kelelahan. Dia membaringkan badannya menengadah ke atas memandang bintang-bintang dengan napas yang masih terengah-engah. Gofan kemudian tertidur beberapa saat sebelum akhirnya dia mendengar suara Xionan.
" Hihi... Fanfan, kamu telat, kira-kira apa yang akan dia lakukan lagi padamu Hihihi "
Xionan ikut berbaring di sebelah gofan, hanya saja tubuhnya tetap saja melayang, mengambang di atas pasir di tepian pulau itu.
" Hesh...hesh... Sudahlah, sudah sampai saja sudah bagus.... Akh... Lelahnya... "
Gofan menjawab Xionan dengan terengah-engah, dia kemudian merentangkan kedua lengannya dan melakukan sedikit peregangan tetapi masih tetap berbaring memandang ke atas langit yang kini telah berganti malam, membuat bintang-bintang semakin bersinar terang.
*Zyuut*
" Fanfan, sebaiknya kamu segera bangun, lihat itu...aku duluan ya Hihihi " Xionan tiba-tiba bangun dan terbang melayang di atas Gofan.
Lalu Xionan menunjuk ke arah sebelah kanan Gofan. Tampak sebuah bola api pijar bergerak cepat, tepat menuju ke arah Gofan.
" Sial... Leluhur ini!! " Ucap Gofan terkejut.
Gofan bergegas bangun dan langsung berlari ke tengah pulau, menghindari bola api pijar yang sebentar lagi akan menghantam tempat dimana sebelumnya Gofan berbaring, beristirahat, setelah berenang.
*Duuaarr*
Ledakan terjadi, pasir dan batu-batu kecil berhamburan akibat ledakan, air danau muncrat dan tumpah tampak seperti terjadi hujan rintik-rintik.
" Hesh...hesh.. Apa-apaan leluhur itu? Kalau aku telat, aku bisa saja mati, hesh..hesh " Gofan kini lebih terengah-engah, napasnya memburu saat dia bersandar di sebuah pohon besar di tengah pulau.
" Haih...Fanfan, kenapa kau diam lagi, lihat itu...! "
__ADS_1
Xionan yang sebelumnya berada jauh di depan Gofan, berbalik arah kembali ke tempat Gofan, Xionan memperingatkan jika masih ada bola api pijar lain yang sedang menuju ke arahnya.
" Apa !!!..Sialan, Kenapa lagi?...."
Mata Gofan yang sebelumnya layu karena kelelahan kini terbelalak sekali lagi ketika melihat sebuah bola api pijar menuju ke arahnya lagi, dia langsung berlari tanpa henti, kali ini meski lelah, Gofan terus berlari.
Beberapa ratus langkah kemudian, Gofan terdiam sebentar sambil terus mengatur napasnya.
" Nannan, masih jauhkah gubuk itu? hesh.. hesh.. " Tanya Gofan terengah-engah.
Xionan melihat ke arah belakang Gofan. Kini beberapa lubang tampak muncul di jalanan yang dilalui Gofan sebelumnya, semua itu karena serangan bola api pijar dari Mouhuli.
" Mm... Beberapa ratus langkah lagi, sudah dekat, sebaiknya kau cepat, lihat kehancuran yang kau tinggalkan " Sahut Xionan sembari menoleh sebentar ke arah gubuk lalu menunjuk ke arah belakang Gofan.
' Aku harus segera mempelajari Kitab Langkah Kilat, aku tidak mau harus merasa waspada seperti ini terus-terusan, untung ini hanya latihan, jika sungguhan, aku rasa, Leluhur itu tak akan semudah ini padaku'
Pikir Gofan.
Gofan terus berlari ke arah sebuah bukit kecil, di puncak bukit itulah ada sebuah gubuk, dari seberang danau gubuk itu tampak menonjol, berdiri sendirian di puncak bukit itu.
" Nannan, kenapa kamu tidak mengajariku sesuatu? Aku mengenalmu lebih lama daripada Leluhur " Tanya Gofan, berharap Xionan mau mengajari ilmu meringankan tubuh miliknya.
" Hihihi, kamu mau aku mengajari ilmu meringankan tubuh? Hihihi aku bisa menebakmu.... "
" Baik, aku akan mengajarimu tapi tidak sekarang, setidaknya, tidak di saat aku masih roh seperti ini " Jawab Xionan.
Xionan menjawab dengan sedikit raut sedih ketika menyebut kata ' roh '. Jika saat ini, Xionan memaksakan diri untuk mengajari Gofan, dia takut rohnya akan benar-benar hancur dan hilang.
Xionan menjadi roh seperti sekarang, karena Xionan mengutuk dirinya sendiri dengan menggunakan jurus terlarang dari perguruannya.
Xionan menggunakan jurus terlarang itu karena terdesak situasi yang dia alami saat itu. Jurus terlarang itu menyelamatkannya, namun juga membuat dia kehilangan tubuhnya.
Dia mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan dirinya, namun jiwanya dikutuk menjadi roh dan dikurung di kuburan itu, di sebuah gundukan tanah besar.
Gundukan tanah besar tempat pertemuan pertama Goli, Lenfan, dan Xionan, yang secara tidak sengaja melepaskan roh Xionan dari ikatan kuburan itu.
Kini Xionan memiliki kesempatan selama 49 hari untuk menemukan tubuh yang mati pada hari yang sama dengan hari saat dia menggunakan jurus terlarang itu, agar dia bisa hidup sekali lagi.
" Baiklah, akan ku tunggu janji itu, Oh ya, aku minta maaf, tidak ada apa-apa di warisan ayahku, hanya ada kitab itu... Apa ada hal lain yang bisa menghidupkanmu kembali ? " Sambil terus berlari Gofan bertanya tentang bagaiman cara memulihkan kembali Xionan.
" Aku tidak tahu, nanti coba kamu tanyakan kepada siluman tua itu, aku yakin, dia tahu banyak hal " Xionan menggeleng-gelengkan kepalanya saat dia terus melayang lurus menuju ke arah atas bukit, ke arah sebuah gubuk.
*Duuaarr*
*Duuaarr*
Berkali-kali suara ledakan terdengar, mengejar dan memburu Gofan.
Tetapi Gofan mengabaikan ledakan-ledakan itu dan terus berlari maju. Gofan menyadari setelah beberapa kali dia diserang oleh bola api pijar, itu hanya untuk memotivasi dirinya agar tidak malas-malasan dan sesegera mungkin mencapai gubuk.
" Nannan. Apa menurutmu Yubing dan yang lain akan baik-baik saja ? "
Tiba-tiba ketika melihat situasi yang kacau dan penuh ledakan di belakangnya, Gofan teringat pada Yubing dan yang lainnya. Gofan khawatir, mereka akan menghadapi maut karena harus melawan Julala.
" Entah... Jangan terlalu dipikirkan... mm... Aku merasa waktu di dunia dimensi ini sedikit berbeda... Jadi manfaatkanlah, fokuslah, kamu harus benar-benar belajar di sini, di dunia dimensi ini... " Sahut Xionan.
" Aku akan keluar memastikan apakah Yubing dan yang lainnya selamat, lagi pula sudah ada para Beruang Bambu yang akan menolong mereka, aku hanya akan memeriksa sesuatu, kamu tunggulah kabar baikku " Imbuh Xionan sebelum melesat pergi.
*Zyuut*
Mendengar pertanyaan Gofan, di tengah jalan tiba-tiba Xionan memutuskan untuk meninggalkan dunia dimensi dan keluar dari portal.
Xionan sebenarnya ingin melihat harta berharga yang ada di gua Julala, yang mungkin akan berguna baginya.
__ADS_1
Gofan mengangguk melihat Xionan yang pergi meninggalkannya, Gofan melanjutkan perjalanannya menuju ke gubuk di puncak bukit.
Bersambung...