
Dalam delapan hari perjalanan melintasi lembah dan hutan, keduanya akhirnya sampai di gerbang luar menara tersebut. Tertulis jelas tiga kata yang terbuat dari cat berwarna merah "Perpustakaan Dunia Langit", melihat itu, senyum cemerlang tampak di wajah Li Yuan.
"Dengan ini, kami bisa merangkak naik, dan mengalahkan empat besar lainnya." gumam Li Yuan tampak sangat gembira dan bergegas ingin masuk.
Gofan tidak mengerti apa yang dimaksud Li Yuan dengan empat besar lainnya, tapi dia menarik lengan Li Yuan yang hampir saja masuk melewati gerbang.
"Apa-apaan ini, apa lagi yang kita tunggu? Ayo masuk..." belum selesai Li Yuan berkata, Gofan merangkulnya dan menutup bibir Li Yuan, sambil berbisik dia berkata, "Stt... Diamlah kalau masih ingin hidup."
Li Yuan yang awalnya terkejut dan berpikir Gofan adalah pria yang mesum tiba-tiba menyadari ada aroma amis dari dalam gerbang.
Melihat Li Yuan mengangguk, Gofan melepaskannya dari pelukannya, "Ada lima serigala merah di sudut sana, sepertinya mereka menjaga pintu masuk ke dalam menara, mungkin mereka diperintahkan seseorang, lihat.." tunjuk Gofan ke arah tumpukan mayat yang dikumpulkan oleh para serigala merah.
"Serigala Haus Darah..!!" ucap Li Yuan.
Li Yuan menjelaskan, "Serigala Haus Darah adalah keturunan turunan dari Serigala Bulan Merah, seekor binatang langit yang telah musnah di era peperangan para Dewa. Dikatakan, mereka adalah turunan yang cacat karena tidak memiliki kesadaran dan bertindak begitu biadab, terutama jika mereka mencium aroma darah.. Tapi turunan cacat itu telah lama dimusnahkan oleh Serigala Bulan Merah bahkan sebelum peperangan dimulai."
Itu menjelaskan kenapa mayat-mayat yang tertumpuk itu tampak kering tanpa setetes darahpun yang tersisa di tubuh mereka.
"Tidak peduli mereka telah musnah atau tidak, tapi sekarang ada lima diantara mereka di sana, itu membuktikan seseorang telah berhasil membiakkan dan mengendalikan mereka." ucap Gofan menimpali cerita Li Yuan.
"Aku akan memancing mereka, dengan kemampuan kita sekarang, jika kita berdua menerobos masuk, itu sama saja menyerahkan nyawa..." Li Yuan mengambil belati emas kecil dan bersiap untuk melukai tangannya, dengan aroma darah dari lukanya dia berniat memancing para Serigala Haus Darah.
Gofan menahan tangan Li Yuan yang memegang belati, "Biar aku saja, kemampuan lariku lebih cepat darimu. Aku akan segera menyusul setelah mengalihkan mereka." ucapnya.
Tanpa menunggu, Gofan meraih belati kecil dan berlari ke depan gerbang, kemudian dia melukai telapak tangannya... tes... tes... darah menetes dari telapak tangan Gofan.
__ADS_1
Para serigala menatap lapar ke arah Gofan, perhatian mereka teralihkan oleh aroma segar dari darah Gofan.
"Haha... Ingin ini.." Gofan memperlihatkan telapak tangannya yang penuh darah ke arah para serigala, "Kejar aku kalau bisa..." teriaknya dan bergegas berlari ke arah dalam hutan.
Wauuuuu...
Wauuuuu...
Sambil meneteskan air liur, para serigala berlari mengejar Gofan.
***
Gofan berlari sekencang yang dia bisa, dia melompat melewati cabang-cabang pohon yang tinggi. Kecepatannya lumayan tinggi, membuat kawanan serigala itu kesulitan mengejarnya.
Setelah sampai di sebuah genangan lumpur di depan danau, Gofan merendam dirinya di dalam lumpur, membuatnya terlihat seperti manusia lumpur..."Tiga hari yang lalu, aku hampir mati oleh makhluk aneh di dalam danau ini..." Gofan mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke dalam danau, lalu dia berteriak, "Hei...Kodok busuk, aku datang lagi... Sini keluar makan aku, Hahaha..."
Rooaarrr... amuk kodok raksasa tersebut.
Tiga hari sebelumnya, Gofan dan Li Yuan hampir terbunuh oleh Kodok raksasa tersebut, ketika dia kehausan dan hendak meminum air di danau. Untung Li Yuan tanggap dan mengetahui kelemahan Kodok itu.
Namanya, Kodok Tanah Jarang, merupakan binatang langit yang kelemahannya terletak pada indra penciumannya. Dia sangat membenci aroma tanah, terutama lumpur yang ada di sekitar danau, karena itu, Kodok raksasa itu jarang keluar dari dalam Danau. Tapi meski begitu dia memiliki lidah yang panjang, mirip sulur yang bisa merambat, bahkan panjangnya bisa ratusan kaki.
Saat Kodok itu muncul Gofan kembali bersembunyi ke dalam lumpur. Para serigala yang baru saja sampai terkejut melihat kemunculan Kodok Tanah Jarang. Tapi aroma darah dari dalam lumpur membuat mereka mengabaikan kemunculan kodok tersebut.
Wauuuuuu.... Para serigala mengaum dan berlari ke arah lumpur.
__ADS_1
Roaarrr... Sementara Kodok Tanah Jarang yang diabaikan itu marah, lalu mengeluarkan lidahnya yang panjang dan besar, dalam sekali libas dia menelan kelima serigala itu sekaligus. Syuuut... Gluukkk... Tanpa basa-basi kelimanya ditelan hidup-hidup.
Gofan bangkit berdiri, Kodok Tanah Jarang menatap Gofan dengan marah dan jijik. Tapi dia tidak melakukan apa-apa pada Gofan, selain mengaum keras sebelum kembali masuk ke dalam danau.
"Terima kasih saudara kodok... Dengan ini, aku tidak akan menaruh dendam atas apa yang telah kamu lakukan sebelu.." Byuuurrrr.... Air kencang memuncah keluar dari dalam danau membawa serta tulang belulang para Serigala Haus Darah. Gofan terpental oleh tekanan kencang air danau tersebut, "Hahaha... Terima kasih sekali lagi saudaraku, kamu membantuku membersihkan diri..." Tapi segera setelah itu, Gofan langsung berbalik dan berlari kencang menjauhi danau sejauh mungkin. Menyadari dirinya yang bersih dari lumpur, Gofan tidak berani berlama-lama di dekat danau.
Saat Gofan pergi, kepala kodok itu muncul dari dalam danau dan menatap marah ke arah tempat Gofan menghilang.
***
Gofan perlu waktu empat hari bolak-balik tanpa istirahat untuk kembali lagi ke depan gerbang Perpustakaan Dunia Langit.
Tapi ketika dia tiba di depan gerbang, dia melihat lebih banyak orang yang kini berada di depan pintu masuk menara tersebut, tampak belum menyadari kedatangan Gofan.
Kini ada lima orang lainnya yang berdiri bersama Li Yuan di sana. Dua diantaranya adalah pemuda berjubah emas dengan pedang besar di punggung mereka, satu orang wanita bercadar dengan gaun berwarna ungu, dan dua pemuda lainnya dengan topi kerucut hijau di kepala mereka.
"Li Yuan, ini sudah empat hari dan rekanmu itu belum kembali jadi kenapa bersikeras menunggunya?..." ucap seorang pemuda berjubah emas.
"Benar Putri, mungkin saja orang itu juga sudah mati di..." imbuh pemuda lain yang juga menggunakan jubah emas, tapi dia menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan marah Li Yuan.
"Jika kalian ingin masuk, masuk saja, kenapa ikut menunggu bersamaku di sini, tidak ada yang memaksa kalian melakukannya bukan?" Li Yuan melipat kedua tangannya dan menyandarkan dirinya ke samping pintu masuk Perpustakaan Dunia Langit tampak acuh terhadap permintaan keduanya.
"Senior Li, kami tahu, kita semua bersaing untuk keunggulan, tapi sekarang kita harus bersatu untuk mendapatkan warisan ini, jadi kenapa bersikeras untuk menunggu. Lagi pula, jika senior sendiri dan tanpa kekuatan belum tentu mampu menghadapi siapa saja yang telah menaruh para serigala itu bukan?" ucap gadis bergaun ungu.
"Benar. Setelah kita mengalahkan orang tersebut, kita bisa membagi warisan itu diantara kita dengan adil." imbuh pemuda bertopi hijau.
__ADS_1
Tapi, sebelum mendapatkan tanggapan dari Li Yuan, kedua sorot mata Li Yuan tampak berbinar, dan dia bergegas berlari ke arah gerbang... "Mo Fan!! kamu kembali!!"
Bersambung...