Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 151. Tulang Emas


__ADS_3

Tiga hari sebelumnya. Saat Vasudev kembali dari Puncak Gunung Indrakila. Dia tiba puluhan napas setelah Kongchu dan Ziyishi pergi meninggalkan Markas bawah tanah tersebut.


Meski sempat terkejut, ketika mendapati genangan darah di depan pintu batu, Vasudev tidak langsung menyimpulkan bahwa darah itu adalah darah Gofan.


*Groogg* Vasudev membuka pintu batu ruangan tersebut.


“Gofan!? Sadarlah... Apa yang terjadi?.” Vasudev menemukan Gofan tergeletak di depan pintu batu yang terbuka.


Vasudev memeriksa dan menekan bagian bawah hidung Gofan, kemudian dia memeriksa nadi di tangannya.


“Syukurlah... Dia hanya pingsan....” Vasudev memperhatikan ke sekeliling, “Apa yang sudah dilakukan Gofan? Kenapa dia bisa menghapus Formasi dan membunuh semua Mayat Hidup ini?.” Vasudev menghela napas panjang, sembari menggelengkan kepalanya.


Dia bangkit dan memapah tubuh Gofan, “Sial. Percuma saja aku bertanya kepada Senior.. Bocah ini bahkan bisa mengatasinya sendiri.” Gumamnya kesal sembari melangkah pergi ke kediaman Xunialiang.


***


[Desa Luiyang-Bukit Sembilan Batu-Kediaman Xunialiang]


“Semenjak kamu punya murid, kamu jadi rajin kemari. Kenapa kamu terus membawa orang terluka kemari?....” Xunialiang mengobati Gofan yang terbaring di atas tempat tidur, “Aku bahkan tidak mendapat apa-apa dari mengobati semua orang terluka yang kamu bawa.”


Vasudev tertawa kecil, memang benar, selama ini, dia jarang mengunjungi Xunialiang. Bahkan jika Xunialiang mengundangnya secara khusus, dia jarang bisa hadir.


“Maaf... Maaf... Bagiku kamulah Tabib yang paling hebat di Benua ini. Selain itu, aku tidak bisa membiarkan muridku untuk diobati oleh Tabib lain yang tidak ku percaya.” Vasudev menyodorkan sesuatu.


“Apa ini?.”


“Di dalamnya banyak emas dan perak, meski tidak terlalu berguna untuk Budi daya, tapi setidaknya Senior bis menggunakannya untuk berbelanja di Ibu Kota.” Maksud Vasudev, untuk berbelanja kebutuhan yang dijual oleh dan untuk orang biasa.


Xunialiang mengangguk dan menerimanya.


“Bagaimana? Apa Gofan baik-baik saja?.” Tanya Vasudev.


“Dia sehat. Bahkan sehat sekali. Tulangnya jauh lebih kuat dari tulang seorang Pendekar Human God, mungkin bisa dibilang ini Tulang Dewa.”


Vasudev terkejut.


“Selain itu Tubuhnya juga lebih sehat daripada pendekar setara Human God... Apa yang dia lakukan? Selain itu, tanda di punggung kedua telapak tangannya ini, apa?” Imbuh Xunialiang sembari menoleh ke arah Vasudev yang masih terkejut.


Vasudev pun menceritakan apa yang sebelumnya mereka berdua kerjakan. Semua kejadu di Markas Divisi II Bandit Serigala Biru, diceritakan oleh Vasudev.


“Tanda di tangannya itu, sangat mirip dengan ukiran Formasi Sembilan Kutukan Langit di dinding ruangan itu.” Ucap Vasudev usai memeriksa tanda yang terlihat di kedua telapak tangan Gofan.


“Bukannya mati. Tapi, muridmu justru bertambah kuat... Tapi bagaimana dia melakukannya? Bagaimana dia bisa menyerap Formasi Dewa ke dalam tubuhnya?.” Ucap Xunialiang menyimpulkan bahwa Gofan telah menyerap Formasi di ruangan itu dan meminsahkannya ke dalam tubuhnya.


“Uh... Guru? Bibi Guru?.” Gofan tersadar.


Ketika Gofan bertanya tentang apa yang terjadi, Vasudev menceritakan hal yang dia ketahui saja. Selebihnya Vasudev bertanya kepada Gofan. Namun Gofan sendiri kebingungan, Gofan tidak ingat apa pun.


“Hal terkahir yang aku ingat, hanyalah aku kehabisan tenaga untuk menghadapi mereka... Aku kira aku akan mati. Tapi apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Gofan.


Xunialiang menepuk pundak Gofan, “Fanfan.. Jangan terlalu dipikirkan, tujuan kalian sudah tercapai dan tulang serta tubuhmu bahkan menjadi lebih kuat. Beristirahatlah dulu.”


Xunialiang dan Vasudev pergi meninggalkan Gofan untuk beristirahat.


*Zplash* Haiwa keluar dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar.

__ADS_1


“Haiwa..!?.”


“Gofan.. Ah tidak.. Tuan. Aku tahu apa yang terjadi saat itu.” Ucap Haiwa yang masih belum terbiasa memanggil Gofan dengan sebutan Tuan. Gofan tidak terlalu memikirkan sebutan itu.


“Kamu tahu?.”


Haiwa mengangguk.


“Ceritakan.. Apa yang terjadi saat itu.”


“Saat itu, aku terbangun berkat sebuah cahaya putih yang tampaknya keluar dari Cincin Dimensi Tuan... Cahaya itu berasal dari sebuah Gading Putih.”


“Gading Putih?.” Gumam Gofan pelan.


“Benar Tuan... Gading itu keluar dari dalam Cincin Dimensimu dan membunuh semua Mayat Hidup serta menyerap habis seluruh kekuatan Formasi yang sebelumnya membuatku tidak sadarkan diri.” Imbuh Haiwa.


Selanjutnya Haiwa menceritakan bahwa, Gading Putih tersebut masuk ke dalam tubuh Gofan. Sesaat kemudian tubuhnya memancarkan cahaya keemasan.


‘Sepertinya Gading yang ku ambil dari sisa jiwa Tian Baixiang telah melindungiku...’ Batin Gofan.


Saat Haiwa telah kembali ke dalam Tongkat Emas Naga Kembar, Gofan duduk bersila dan melakukan sebuah segel tangan.


Kesadarannya masuk untuk memperhatikan perubahan tulang, seperti yang dikatakan Xunialiang.


‘Tulang Emas!?.’ Seluruh tulang di dalam tubuh Gofan berwarna emas.


‘Sepertinya, Gading Tian Baixiang hanya merubah tulangku saja... Darahku masih mengandung setengah darah Dewa Naga... Efek dari Pil Teratai Racun Pelangi, sepertinya semakin menguat. Kekuatan mentalku semakin melemah... Apa yang harus ku lakukan?.’ Batin Gofan.


Semalaman Gofan memikirkan cara untuk meningkatkan kekuatan Mentalnya. Namun, setiap Kitab pengolahan Energi Mental yang sempat terpikirkan olehnya, tidak akan sekuat Ilmu Raja Siluman.


**


“Sepertinya kamu sudah tidak sabaran untuk menyelamatkan Gadis hantu itu.” Ucap Vasudev dengan sedikit nada canda.


Gofan tidak membalas, dia hanya tersenyum, “Guru. Saat ini, kekuatan Mentalku sangat lemah.. Dan sepertinya, untuk kedepannya pun, aku tidak akan bisa meningkatkannya lagi. Apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi ini?.”


“Bukankah kamu memiliki Ilmu Raja Siluman? Kenapa Kamu tidak mempelajari itu lagi?... Sebenarnya apa yang terjadi padamu?.” Vasudev merasa ada sesuatu yang dirahasiakan Gofan usai dia keluar dari Rawa Bairawa.


Setiap kali Gofan ingin jujur, dia tidak bisa mengatakannya. Gofan tidak bisa menceritakan tentang pertemuannya dengan Tian Baixiang dan Pil Teratai Racun Pelangi.


Gofan menggeleng pelan.


“Haih... Baik. Baik. Jika memang kamu tidak bisa mempelajari Energi Mental maka kamu hanya perlu menguatkan Jiwamu. Jika jiwamu cukup kuat, serangan Mental tidak akan berpengaruh banyak.”


Vasudev menyimpan kedua kunci Gerbang Dewi Ruyi.


“Kita akan menjemput teman-teman yang lain. Mouhuli mengabariku, bahwa dia menunggu di luar Rawa Bairawa. Ayo-!” Vasudev melangkah keluar dari kediaman Xunialiang.


“Sudah mau pergi?.” Xunialiang muncul, “Sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan.”


Vasudev berhenti, “Benar. Kami akan melanjutkan perjalanan.. Apa yang ingin kamu sampaikan? Katakanlah...”


“Cangmok mengatakan, Tianfuzi menerima sebuah pesan dari seorang Kapten Bandit bahwa mereka menemukan keturunan Siluman Harimau Putih... Sepertinya dia berniat untuk menangkapnya.” Ucap Xunialiang.


“Vasudev. Muridku itu juga mengatakan, Kediaman Tian di Tanah Halimun mulai membuat gerakan.” Imbuh Xunialiang sembari berbisik.

__ADS_1


“Benarkah?...” Bisik Vasudev.


Xunialiang mengangguk.


“Baiklah... Tenang saja. Akan aku selidiki.” Bisik Vasudev sebelum menoleh ke arah Gofan, “Gofan. Bukankah kamu memiliki seorang teman yang merupakan siluman harimau. Apa mungkin dia yang diincar Tianfuzi?.” Tanya Vasudev.


“Sepertinya memang dia. Sebelum ini, Bailaohu sempat melakukan kontak dengan anggota Bandit Serigala Biru.” Sahut Gofan.


Setelah berterima kasih kepada Xunialiang atas informasinya, Vasudev dan Gofan bergegas pergi ke tempat Mouhuli dan yang lainnya menunggu.


***


[Di Luar Rawa Bairawa-Di Sebuah Kuil Terlantar]


Mouhuli, Bianselong, dan Bailaohu akhirnya bertemu kembali dengan Gofan.


Gofan mengabari Bailaohu tentang informasi yang diberikan Xunialiang kepadanya.


“Sepertinya Tianfuzi ini berencana untuk menangkapmu.” Ucap Gofan.


“Terima kasih untuk informasinya, tapi, Tianfuzi ini bukanlah masalah. Dia tidak akan bisa mengalahkanku... Puih!.” Sahut Bailaohu sombong.


“Bailaohu.. Bukankah kamu baru saja datang dari Tanah Halimun? Apakah kamu melihat sesuatu yang aneh terjadi di sana?.” Tanya Vasudev.


“Maksudmu?”


“Di Tanah itu ada sebuah Kediaman keluarga Tian. Apakah ada sesuatu yang aneh dengan mereka?.” Sahut Vasudev, kembali bertanya.


“Mana aku tahu.. Untuk apa aku mengawasi kehidupan keluarga manusia? Tanah Halimun kami berbeda dimensi dengan Tanah Halimun kalian, lagi pula, aku jarang keluar dari Dimensi Siluman.” Sahut Bailaohu sedikit agak kesal. Dia sangat tidak menyukai manusia, untuk apa dia mengawasi dan mematai-matai mereka.


‘Para Siluman ini memang memisahkan dimensi mereka dengan alam ini, bahkan aku pun tidak tahu dimana letaknya pintu masuk dimensi mereka.’ Batin Vasudev ketika mengingat, beberapa kali mengitari Tanah Halimun tapi tidak menemukan jalan masuk ke Tanah Halimun di Dimensi Siluman.


“Ini hanya saranku saja. Jika benar Tianfuzi ingin menangkapmu, maka kamu perlu mengawasi pergerakan kediaman Tian di Tanah Halimun.” Ucap Vasudev saat Bailaohu hanya menganggap kata-katanya sebagai peringatan tidak penting.


Sementara itu, Mouhuli melihat ada sesuatu yang berubah pada diri Gofan, “Apa yang terjadi padamu? Aku merasa kamu sedikit lebih tinggi? Dan gambar apa di kedua tanganmu itu?”


Mouhuli mendekati Gofan dan meraba bahu serta lengan kanannya, “Hmm... Sepertinya tulang ditubuhmu mengalami perubahan... Tulangmu jauh lebih kuat dari tulang milikku” Ucapnya.


“Benar Leluhur... Tulang di tubuhku memang menguat jauh daripada sebelumnya. Aku juga baru mengetahuinya kemarin, sekarang, seluruh tulang di tubuhku berubah menjadi Tulang Emas.”


“Tulang Emas!?” Mouhuli, Vasudev, Bailaohu, dan Bianselong terkejut.


Mendengar ucapan itu, mereka segera memindai tulang di tubuh Gofan. Mereka pun terkejut melihat kenyataan itu.


Setahu mereka hanya Dewa yang memiliki Tulang Emas dan itu pun hanya pernah diceritakan dalam naskah kuno. Tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Gofan juga menceritakan tentang Formasi Sembilan Kutukan Langit yang kini ada di kedua punggung telapak tangannya.


“Aku sudah berusaha menghapus gambar-gambar ini, dan dengan tenaga dalam sekali pun, tidak ada yang terjadi. Jadi aku membiarkannya saja.” Imbuh Gofan.


Sementara Gofan menjawab dengan santai, keempat Senior yang ada bersamanya, hanya bisa berpikir bahwa Gofan adalah orang yang paling beruntung, yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki tulang yang dimiliki oleh para Dewa.


Keempatnya menghela napas panjang, sedikit iri dengan tulang yang dimiliki Gofan. Mereka tidak begitu memperhatikan cerita Gofan mengenai gambar Formasi Sembilan Kutukan Langit yang kini ada di kedua punggung telapak tangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2