Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 86. Pertemukan Aku Dengan Iblis Putih


__ADS_3

Sementara Gofan masih penasaran dengan banyak hal yang menimpa dirinya. Duan Tianlang akhirnya tiba di Aula Tamu Perguruan Tunjung Putih.


Di dalam Aula Tamu tersebut telah hadir Lixiayo beserta Jangxi dan Yilanren dari Pasukan Taizongbudui, juga Suezilu, Xiongmeng, dan Wuling dari Partai Tongkat Sakti. Terlihat juga Lengjing dan Qingyue dari Partai Gunung Angkasa di dalam Aula tersebut.


Mereka semua telah duduk di kursi masing-masing yang terdapat di dalam Aula Tamu tersebut dan Duan Tianlang serta wakilnya duduk di kursi paling ujung di tengah-tengah mereka.


" Aku sungguh tidak menyangka, akan bertemu dengan dua orang ketua partai di kunjunganku kemari... " Ucap Lixiayo kepada Suezilu dan Lengjing setelah mereka saling menyapa.


" Aku tentu bisa menebak alasan Ketua Suezilu ada di sini. Tapi untuk Ketua Lengjing, kalau boleh tahu, kenapa Anda kemari? " Imbuh Lixiayo bertanya kepada Lengjing dari tempat duduknya.


Seperti yang Lixiayo tahu, bahwa Partai Tongkat Sakti yang dipimpin Suezilu adalah cabang sementara dari Perguruan Tunjung Putih.


Partai itu sengaja dibuat oleh Duan Tianlang sebagai perwujudan penyesalannya atas Perang Tiga Perguruan yang terjadi di dunia Bela diri sepuluh tahun silam. Saat itu, Perguruan Tunjung Putih memutuskan untuk tidak ikut andil dalam permasalahan apapun yang terjadi di dunia Bela diri Benua Penda.


Itu membuat Lixiayo tidak begitu penasaran dengan alasan keberadaan Suezilu di Perguruan Tunjung Putih, sebab dari awal, Suezilu memang bagian dari Perguruan Tunjung Putih.


Lengjing tertawa pelan sebelum menjawab pertanyan Lixiayo, " Aku kemari karena ingin melihat Sen.... "


" Ketua Lengjing datang karena undangan kami. Kami berencana untuk melakukan latih tanding bagi para murid sebelum Turnamen Pulau berlangsung, benar begitu bukan, Ketua Lengjing? " Tanya Duan Tianlang menyela kata-kata Lengjing.


' Lengjing, Aku tahu tujuanmu kemari untuk melihat Senjata Dewa Perang, tapi ini masih rahasia. Ku harap kamu tidak akan mengatakan ini kepada siapa pun ' Duan Tianlang mengirimkan suara batinnya kepada Lengjing.


' Aku mengerti. Aku tidak akan mengatakan ini kepada siapa pun, asalkan Senior mengizinkan ku melihat Senjata Dewa itu ' Sahut Lengjing melalui pikirannya.


' Jika hanya melihat, tidak jadi masalah. Bisa diatur. Aku pastikan, kamu akan melihat senjata itu ' Kata Duan Tianlang melalui pikirannya.


' Baik. Aku akan merahasiakan ini ' Sahut Lengjing sembari melihat ke arah Lixiayo.


" Be-benar. Untuk itu. Aku datang untuk membahas itu " Sahut Lengjing kepada Lixiayo mengiyakan kata-kata Duan Tianlang.


Lengjing tadinya hanya mengantarkan istrinya, Qingyue, untuk melihat perubahan yang terjadi pada Hutan Bambu Kemarau.


Tetapi setelah Lengjing mengetahui bahwa perubahan itu terjadi karena Tongkat Emas Naga Kembar. Lengjing memutuskan untuk berkunjung langsung ke Perguruan Tunjung Putih.


Lengjing adalah seorang kolektor senjata, dia adalah ahli bertarung menggunakan beragam jenis senjata. Mulai dari tombak, tongkat, pedang, pisau, dan lain sebagainya.


Meski demikian, di antara semua senjata yang dia miliki, dia belum pernah menggunakan Senjata Dewa, itulah yang membuat Lengjing begitu penasaran pada Tongkat Emas Naga Kembar.


" Oh jadi, Perguruan Tunjung Putih akan kembali ikut andil dalam dunia Bela diri di Benua Penda? " Tanya Lixiayo kepada Duan Tianlang.


" Bukan. Kami tetap tidak akan ikut campur dalam urusan apapun di Benua ini. Termasuk juga dengan Turnamen Pulau. Partai Tongkat Sakti yang aku maksud akan melakukan itu " Sahut Duan Tianlang.


" Jadi begitu... Aku sungguh tidak mengerti. Anda memutuskan untuk memindahkan perguruan ini ke daerah terpencil dan memutuskan mengunci diri dari pergaulan Bela diri di Benua Penda. Apa sebenarnya tujuan Anda melakukan itu? " Tanya Lixiayo.

__ADS_1


" Kami hanya tidak ingin ikut campur dalam pertarungan antar perguruan yang kelak mungkin akan terjadi lagi " Sahut Duan Tianlang ketika kenangan sepuluh tahun lalu terbersit di dalam ingatannya.


Sepuluh tahun lalu, Perguruan Tunjung Putih adalah perguruan bela diri tingkat Bintang Emas. Saat itu, Duan Tianlang sudah menjabat sebagai Mahaguru di Perguruan Tunjung Putih.


Duan Tianlang berteman baik dengan Lenming, kakek Gofan. Saat mendengar Lenming meninggal dunia, Duan Tianlang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa serta mengundang Lenhao untuk bertandang ke perguruannya.


Singkat cerita, Lenhao akhirnya berkunjung ke Perguruan Tunjung Putih. Beberapa hari setelah kunjungan Lenhao ke Perguruan Tunjung Putih, Duan Tianlang mendapat kabar bahwa Lenhao beserta seluruh Perguruan Tanah Terlarang telah lenyap dari Benua Penda.


Duan Tianlang marah besar mengetahui berita tersebut. Duan Tianlang memerintahkan murid terbaiknya yang bernama Fengming untuk mencari tahu dalang di balik kehancuran Perguruan Tanah Terlarang.


Fengming akhirnya datang dengan sebuah berita bahwa Aliansi Perguruan Tangan Merah dan Perguruan Kaki Baja adalah pelaku di balik kehancuran Perguruan Tanah Terlarang.


Setelah mendengar perkataan Fengming. Duan Tianlang memutuskan untuk menghabisi dua perguruan Bintang Perak tersebut demi membalaskan kematian Lenhao dan kehancuran Perguruan Tanah Terlarang.


Perang Tiga Perguruan pun akhirnya terjadi dan Perguruan Tunjung Putih pulang dengan membawa kemenangan besar.


Namun beberapa minggu setelah pembantaian dua aliansi perguruan tingkat Bintang Perak tersebut, Duan Tianlang mengetahui bahwa dalang yang sebenarnya bukanlah dua perguruan tersebut, melainkan sebuah organisasi rahasia bernama Kultus Abu-Abu.


Duan Tianlang benar-benar menyesali keputusan gegabahnya. Saat itulah Duan Tianlang memutuskan untuk mundur dari pergaulan Bela diri di Benua Penda bersama dengan Perguruan Tunjung Putih.


Duan Tianlang kemudian mendirikan Partai Tongkat Sakti sebagai permintaan maafnya kepada sisa-sisa murid dan penatua Aliansi Perguruan Tangan Merah dan Perguruan Kaki Baja yang selamat dari Perang Tiga Perguruan.


Suezilu yang saat itu adalah penatua di Perguruan Tunjung Putih, diberikan tugas oleh Duan Tianlang untuk memimpin Partai Tongkat Sakti tersebut.


Setelah menjabat sebagai Ketua Partai Tongkat Sakti selama hampir sepuluh tahun, Suezilu sudah merasa memiliki Partai tersebut. Saat mendengar kemunculan si Pewaris, Suezilu sempat khawatir bahwa Partainya itu akan segera dibubarkan.


Suezilu khawatir dengan kemunculan si Pewaris baru maka Perguruan Tunjung Putih akan kembali lagi ke dunia Bela diri dan membubarkan Partai Tongkat Sakti.


Tetapi alih-alih dibubarkan, ternyata Duan Tianlang akan mendukung Partai Tongkat Sakti dalam Turnamen Pulau yang akan datang. Itu membuat Suezilu merasa lega. Selama ini dia sudah mengkhawatirkan nasib dari Partainya itu.


" Kakak Tianlang. Jendral Lixiayo datang untuk bertemu dengan si Bocah berambut putih " Bisik Guru besar Perguruan Tunjung Putih, yang duduk di sebelah kiri Duan Tianlang.


Wakil Duan Tianlang itu bernama Kangkai. Kangkai sebelumnya telah menjemput Lixiayo dan mengantarnya ke dalam Aula Utama, pada saat itu Lixiayo memberitahukan tujuan kedatangannya kepada Kangkai.


Lixiayo datang mengunjungi Perguruan Tunjung Putih untuk bertemu dengan Gofan. Ternyata seorang Pasukan Taizongbudui yang membuntuti kelompok Duan Tianlang ketika kembali ke Perguruan Tunjung Putih adalah orang suruhan Lixiayo.


" Jendral. Maafkan aku. Aku tidak bisa mempertemukanmu dengan Bocah berbut putih. Dia tidak ada di sini. Aku tidak tahu, darimana kamu mendapat kabar bahwa buronan Kerajaan itu ada di sini. Ini pasti salah paham " Ucap Duan Tianlang setelah mendengar bisikan Kangkai.


" Salah paham? Senior mohon jangan berbohong. Mata-mataku jelas mengatakan bahwa Iblis Putih ada di sini... "


" Senior tidak perlu khawatir. Aku dan semua Pasukan Taizhongbudui yang datang kemari bukan bertujuan untuk menangkap Iblis Putih. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Ada yang ingin aku bicarakan " Sahut Lixiayo.


" Haih... Sekali lagi, aku sampaikan, Bocah itu tidak ada di sini. Aku tidak mungkin mempertemukannya denganmu. " Duan Tianlang masih berbohong dan menolak keinginam Lixiayo untuk bertemu Gofan.

__ADS_1


" Begitukah? " Lixiayo beranjak dari tempat duduknya.


Semua orang di Aula Tamu tersebut terkejut ketika melihat Lixiayo mendadak bangkit dari kursinya. Suasana mendadak tegang. Mereka mengira Lixiayo akan melancarkan serangan kepada Duan Tianlang.


" Senior. Tahukah kamu apa ini? " Ucap Lixiayo ketika sebuah kunci diperlihatkannya kepada Duan Tianlang.


Melihat Lixiayo hanya bangkit untuk memperlihatkan sebuah kunci, suasana yang tadinya terasa tegang, kini berangsur normal. Suezilu menghela napas panjang. Tadinya Suezilu mengira akan terjadi pertempuran di Aula Tamu tersebut.


" Bukankah itu sebuah kunci? Siapa pun yang melihat itu pasti akan tahu bahwa itu adalah kunci. Tapi apa maksudmu memperlihatkan itu? " Tanya Duan Tianlang.


" Benar. Ini memang kunci. Tapi bukan kunci biasa, ini adalah Kunci Gudang Harta perguruan ini. Bukkankah begitu Guru besar Kangkai? " Ucap Lixiayo sembari tersenyum.


" Kamu!? Apa maksudmu dengan itu? Kunci itu jelas-jelas ada di.... " Kangkai memeriksa Kantong Ruang miliknya dan tidak menemukan kunci Gudang Harta perguruannya di dalam kantong miliknya itu.


" Jendral. Jangan membuat perkara. Kembalikan kunci itu ! " Bentak Kangkai ketika menyadari kunci Gudang Harta yang sebelumnya ada padanya, kini berada di tangan Lixiayo.


Suasana kembali menegang, ketika Kangkai membentak Lixiayo dari tempat duduknya. Suezilu kini membayangkan akan ada pertarungan demi memperebutkan kunci.


' Bagaimana dia mencuri kunci itu dari Kantong Ruang ku? ' Batin Kangkai penasaran.


Lixiayo tertawa pelan sebelum menjawab kata-kata Kangkai, " Guru besar Kangkai, kamu benar-benar teledor. Kunci seperti ini saja bisa jatuh dengan mudah ke tanganku "


" Ini... Aku kembalikan " Lixiayo melempar kunci itu ke arah Kangkai.


Suezilu menghela napas panjang ketika melihat kunci Gudang Harta sudah kembali ke tangan Kangkai.


Sementara itu Lixiayo masih berdiri sembari memainkan sebuah Cincin Dimensi di genggaman tangannya.


Duan Tianlang mengernyitkan alis matanya ketika melihat perbuatan aneh Lixiayo tersebut. Sebelum akhirnya Duan Tianlang berkata kepada Lixiayo.


" Jendral. Kembalikan juga isi dari Gudang Harta kami " Ucap Duan Tianlang setelah beberapa saat memandangi Cincin Dimensi yang dimainkan oleh Lixiayo.


'Apa!? ' Suezilu, Kangkai, dan yang lain, kembali terkejut setelah mendengar perkataan Duan Tianlang. Suasana mendadak kembali menegang.


Permasalahan kunci itu, ternyata tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Jika mengikuti apa yang dikatakan oleh Duan Tianlang, berarti Jendral Lixiayo telah merampok Perguruan Tunjung Putih secara diam-diam.


Lixiayo mengayunkan tangannya dan Cincin Dimensi yang sebelumnya dia mainkan, mendadak menghilang dari genggaman tangannya.


" Berhentilah berbohong. Mata-mataku tidak mungkin salah informasi. Seharusnya Senior akan mengerti, apa maksudku bukan? "


" Pertemukan aku dengan Iblis Putih dan semua akan baik-baik saja " Sahut Lixiayo ketika dia kembali ke tempat duduknya.


" Lancang ! Mahaguru kami sudah mengatakan bahwa Bocah yang kamu cari tidak ada di sini. Kembalikan harta perguruan kami ! " Kangkai bangkit dari tempat duduknya dan mengacungkan tongkat miliknya ke arah Lixiayo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2