
" Hesh... hesh... Akhirnya aku sampai juga " Ucap Gofan.
Gofan akhirnya tiba di gubuk itu setelah berlari ratusan langkah. Meskipun pada akhirnya dia tiba saat hari sudah berganti malam.
*Tok Tok* Gofan mengetuk pintu gubuk.
" Leluhur, bisakah kamu memberiku sedikit air? Aku kelelahan, bisakah kamu membuka pintu ini? " Tanya Gofan namun tidak ada yang menjawabnya.
Gofan meminta air untuk melepas dahaganya karena lelah berlari. Intinya, Gofan sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
*Krieett* Suara pintu terbuka.
' Tidak dikunci? Tidak ada siapa-siapa? dimana Leluhur itu? ' Batin Gofan.
Gofan mendorong sedikit pintu gubuk ketika dia mengetuknya, tapi ternyata pintu itu memang tidak terkunci. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, mengamati semua ruangan gubuk dan tidak mendapati siapa pun di dalam ruangan itu.
Gofan melangkah masuk dan menutup kembali pintu luar gubuk. Dia berjalan menuju ke sebuah meja dan duduk di salah satu kursi di meja itu.
*Glegek Glegek*
Gofan meminum air di dalam teko yang ada di atas meja, dia meminumnya tanpa menggunakan gelas, tetapi langsung dari teko itu.
" Akh... Leganya... mm... Apa ini? "
Seusai minum dan meletakkan kembali teko air itu, Gofan menemukan sebuah kertas terlipat di atas meja. Gofan membuka lipatan kertas itu dan melihat ada beberapa baris tulisan yang tertera di dalamnya.
" Mulai besok kamu harus bangun, saat matahari mulai terbit, jika telat, sebuah bola api pijar yang akan membangunkanmu... "
" ...Kemudian, kamu harus mengisi penuh gentong air di belakang gubuk, untuk keperluanmu sendiri, ambil air dari danau, jika tidak, sebuah bola api pijar yang akan kamu minum.... "
' Apa dia kira danau itu dekat? Pikir Gofan, saat dia membaca tulisan di dalam kertas itu.
Gofan akhirnya menyadari bahwa kertas itu adalah perintah latihan yang diberikan oleh Mouhuli.
" Kamu harus memperluas halaman gubuk dengan menebang minimal satu batang pohon per hari dan menggunakan kayunya untuk keperluanmu, makanan kamu cari sendiri, ingat, jika lalai, bola api pijar yang akan menghampirimu... "
" ...Aku akan datang 30 hari lagi. Ini tahap menuju ranah Body Binding, tahap dasar pertama, asahlah sesuai dengan isi Kitab Surga Sembilan Langit " Lanjut Gofan membaca perintah latihan itu.
' Ternyata leluhur ini tidak hanya asal hajar, dia benar-benar menuntunku... Baiklah, sekarang aku pasti berhasil, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, aku harus berhasil ' Gofan benar-benar bertekad, dia tidak ingin mengalami kegagalan seperti dahulu.
Gofan sudah pernah berlatih untuk mencapai tahap itu, tahap untuk mencapai ranah Body Binding, sebelas tahun lalu, ketika dia masih bersama kedua orang tuanya. Tetapi Gofan gagal karena tidak tahan dengan siksaan dalam tahap itu, dia sering kali mangkir dari latihan.
Sebelas tahun lalu, Gofan-Lenfan- masih berusia sepuluh tahun.
Saat itu Lenfan muda, lebih senang menghabiskan waktunya dengan bermain di dalam ruang obat milik Pamannya, Lenchan.
__ADS_1
Lenfan ingin membuat sebuah pil obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibunya, Qimoruong.
" Lenfan. Apa kamu membolos lagi dari pelajaran bela diri ayahmu? " Tanya Lenchan yang berdiri meracik obat dengan mencampurkan beberapa rempah dan tanaman herbal.
" Tidak... Hari ini ayah pergi. Ayah bilang, dia mau ke hutan bambu, Oh..ya, Paman. Apa campuranku ini sudah benar ? " Tanya Lenfan. Lenfan saat itu juga sedang meracik obat, dia berdiri di seberang Lenchan.
Obat yang ingin dibuat Lenfan adalah obat penyehat badan. Lenfan seringkali datang dan membuat obat di ruangan khusus milik Lenchan itu. Di ruangan itu, tersedia berbagai jenis bahan-bahan herbal yang berguna untuk kesehatan.
Lenchan berbalik dan menghampiri Lenfan. Lenchan melihat apa saja yang digunakan Lenfan untuk meracik obat buatannya itu. Lenchan kagum melihat bakat Lenfan dalam meracik obat. Bakat Lenfan lebih hebat jika dibandingkan dengan bakat Lenchan saat di usia yang sama.
" Benar... Itu sudah benar. Ini ku beri untukmu. Karena kamu pintar dalam membuat obat... Terimalah ini " Ucap Lenchan usai menjawab pertanyaan keponakannya itu.
Lenchan mengeluarkan sebuah kitab dari dalam saku bajunya dan memberikannya kepada Lenfan.
" Kitab apa ini paman? " Lenfan menerima kitab itu dan membolak-baliknya, tidak ada nama judul di depan kitab itu.
" Paman menamainya Kitab 100 Kehidupan. Baca saja dan hafalkan... Kelak mungkin isi kitab itu akan berguna untukmu " Sahut Lenchan.
Lenchan telah menuangkan semua pengetahuannya tentang obat dan makanan kesehatan di dalam kitab itu. Kitab 100 Kehidupan adalah kitab yang ditulis oleh Lenchan sendiri.
" Baik. Aku pasti akan menghafalnya... Aku akan mempelajarinya dengan baik. Terima kasih Paman " Sahut Lenfan dengan bersemangat.
Lenfan berharap dengan mempelajari kitab dari Lenchan, dia akan berhasil meracik obat untuk menyembuhkan penyakit ibunya.
Itu adalah sepenggal kenangan Lenfan-Gofan- sebelas tahun lalu.
' Benar... Ada sup nutrisi tenaga, itu bisa membantuku untuk memulihkan tenaga karena kelelahan dan menambah staminaku, itu pasti akan membantuku menyelesaikan latihan fisik ini, baik..., besok, aku akan membuat sup itu ' Batin Gofan.
***
Keesokan paginya, Gofan terbangun tepat sebelum matahari pagi mulai menyinari pulau. Gofan segera membasuh mukanya dan mempersiapkan dua buah ember kayu yang sebelumnya sudah tersedia di belakang gubuk.
Gofan memikul dua ember kayu itu, menuruni bukit menuju ke arah danau untuk mengangkut air.
Sepanjang jalan Gofan memperhatikan ke sekitar untuk melihat apakah ada tanaman herbal yang bisa dia temukan untuk meracik sup nutrisi tenaga. Dia juga membaca Kitab Langkah Kilat saat menuruni bukit.
Ketika sampai di danau, Gofan mengisi penuh kedua ember dan meletakkan Kitab Langkah Langit ke dalam saku bajunya. Saat naik, dia akan sesekali berhenti untuk memetik herbal yang berhasil ditemukannya.
Gofan berjalan menaiki bukit hingga meletakkan air di ember ke dalam gentong air di belakang gubuk.
Gentong air itu, sangat besar, tingginya bahkan hampir dua kali tinggi Gofan dan lebarnya adalah lima kali tubuh Gofan, sehingga untuk mengisinya hingga penuh bukanlah perkara mudah.
Gofan melakukan kegiatan mengisi gentong air itu, bolak-balik menuruni bukit sebanyak hampir ratusan kali, hingga akhirnya gentong itu terisi penuh.
*Byuurr* Suara air tertuang.
__ADS_1
" Akhirnya selesai juga... Hari sudah hampir sore dan aku masih harus menebang pohon, tapi aku lapar sekali... Mm, aku buat sup saja dulu, besok aku harus bekerja lebih cepat " Gumamnya pelan.
Setelah mengisi penuh gentong air, Gofan memakai kayu bakar yang tersedia untuk membuat sup sebelum melanjutkan menebang pohon.
' Menurut Kitab 100 Kehidupan, resep sup nutrisi tenaga ini adalah resep yang mudah, mmm... Aku tinggal mencampurkan ini, lalu akar ini, dan potongn umbi ini...hehe, terima kasih Paman ' Pikir Gofan.
Gofan mengaduk-aduk sup buatannya, sambil membolak-balik membaca Kitab Langkah Kilat.
' Jadi, aku harus mengalirkan tenaga dalam ke arah tumit kedua kaki dan... Aku harus terbiasa melatih ketahanan dan kekuatan kakiku... Baik, aku akan mengumpulkan tenaga dalam yang cukup untuk menggunakannya '
Akhirnya, setelah puluhan hela napas. Sup buatan Gofan matang, dia menuangkan semangkuk dan memakannya hangat-hangat.
" Mmm... Enak juga, padahal aku tidak mencampur kaldu daging, tapi ini enak juga... Resep makanan paman Chan memang top, Hehe "
*Sruput*
*Sruput*
Gofan meletakkan mangkuk setelah mencucinya sehabis makan, kemudian dia melangkah mengambil sebuah kapak yang tersandar di dinding gubuk dan mulai melangkah menuju ke arah sebuah pohon, bersiap untuk menebang pohon.
' Sial, Kenapa pohonnya besar-besar sekali?, hari sudah sore, apa aku bisa memotong bahkan hanya sebatang sebelum malam? Bagaimana ini?...akh, sudahlah, potong saja dulu....'
Gofan memilih pohon dengan batang yang paling kecil yang ada di sekitar halaman gubuk, untuk ditebang. Gofan mulai menebang pohon itu sedikit demi sedikit, dia terus mengayunkan kapaknya, tapi batang pohon masih jauh dari tumbang.
" Hesh...hesh.... Sial, tebal sekali, kedua tanganku mulai mati rasa, aku harus membuat api unggun dulu... Terlalu dingin menebang sekarang " Keluh Gofan.
Hari sudah malam, tetapi Gofan hanya menebang hampir mencapai setengah batang pohon itu, karena gelap dan dingin, dia memutuskan membuat api unggun di sebelah pohon yang ditebangnya itu.
*Bhuurr*
Api unggun menyala dan Gofan melanjutkan kembali menebang pohon itu, hanya saja karena kelelahan, tiba-tiba dia tertidur ketika kapak yang digunakannya untuk menebang pohon masih tersangkut di pohon, Gofan terjatuh dan tertidur di sebelah api unggun dan batang pohon itu.
*Tyuung*
Sebuah bola api pijar datang mendekat ketika Gofan tengah tertidur lelap karena kelelahan
*Duuaarr*
Bola api pijar itu, tepat mengenai Gofan, dia terpental jauh, jatuh berguling-guling menuruni bukit, tubuhnya gosong karena ledakan, terdapat luka bakar dan luka goresan akibat benturan dengan bola api pijar.
Ketika sampai beberapa ratus langkah di bawah bukit, Gofan berhenti berguling-guling, dia tersentak dan tersadar.
" Arrggh.. Aduh... Leluhur ini benar-ben...."
*Gedeblug*
__ADS_1
Gofan tidak sempat menyelesaikan kata-katanya dan dia jatuh tidak sadarkan diri. Kali ini Gofan pingsan, bukan tertidur seperti sebelumnya.
Bersambung...