
Saat itu juga seorang Pria gendut dengan Gada di tangannya berlari kencang ke arah Ning Rui.
Pria gendut itu berlari menyusul Ning Rui yang sedang berlari untuk menyerang Gofan, “Nona cantik, Lari... Ada ular-ular kecil yang sedang menuju kemari!.” ucap Pria gendut itu sembari mengerdipkan satu matanya ke arah Ning Rui.
Belum sempat Ning Rui mencerna kata-kata Pria gendut genit yang terus berlari semakin jauh, sebuah guncangan hebat terjadi.
Tanah bergemuruh, es yang membekukan Gofan dan dua lainnya perlahan retak. Bersamaan dengan gemuruh itu, Ning Rui merasakan tekanan mematikan dari arah belakangnya. Dia berbalik dan melihat dua Ular Phyton raksasa bertubuh besi mendekat ke arahnya.
“Ular-ular kecil!?... Ini jelas-jelas Ular Phyton Naga Sisik Besi! Apanya yang kecil?!.” batin Ning Rui. Bola api dingin yang sebelumnya hendak dia arahkan ke arah Gofan, kini terpaksa dia lempar ke arah dua Ular raksasa yang semakin dekat ke arahnya.
BOOOMMM!!!
*ROOOOAAARRR* Kedua Ular Phyton itu menyemburkan api panas yang melelehkan serangan bola api dingin Ning Rui.
Bola api dingin Ning Rui seakan-akan tidak ada apa-apanya untuk semburan api kedua Ular raksasa itu.
Ning Rui berbalik dan berusaha kabur, tapi salah satu dari kedua ular itu terlanjur telah berada cukup dekat dengannya. Ular Phyton Naga itu mengibaskan ekornya dan memukul Ning Rui jatuh.
DUAGH!!! Tidak hanya Ning Rui, Gofan yang berada di dekatnya juga ikut terhempas oleh serangan ekor ular raksasa tersebut.
Beruntung hawa panas dari serangan api ular raksasa sebelumnya telah melehkan sebagian es yang membekukan Gofan. Gofan awalnya hendak menyerang balik Ning Rui saat dia sudah berada dekat dengan dirinya, tapi kedatangan dua ular raksasa itu mengacaukan rencananya.
Gofan menggunakan Lompatan Besar-Kecil dan segera menyelamatkan Len Hui dan Len Ruye. Di sisi lain, Ning Rui bertarung dengan salah satu dari dua ular tersebut.
“Ini!? Kenapa bisa ada dua Ular Phyton Naga Sisik Besi di area ini?.” ucap kaget Len Ruye saat Gofan berhasil memecahkan es yang mengurungnya. Tubuhnya tampak masih menggigil kedinginan.
*ROOOAAAARRR* Satu ular lainnya menyemburkan api panas ke arah Gofan dan Len bersaudara.
“Mundur!.” Gofan mendorong keduanya mundur dia maju dan menghadangan serangan semburan api.
“Tubuh Gajah Naga Sejati! Perisai Tubuh Emas.”
Sriiinggg!! tubuh Gofan memancarkan cahaya emas, kulit luar tubuhnya berubah menjadi berwarna emas. Gofan kini terlihat seperti sebuah patung yang terbuat dari emas.
“Bocah itu seorang Pembudidaya tubuh?.” Ning Rui menggunakan dua buah bilah pedang pendek dan terus menerus menahan amukan Ular Phyton Naga yang menyerangnya.
BANG!! Api panas menghantam perisai cahaya emas yang memancar di hadapan Gofan.
__ADS_1
“Aku tidak bisa lama dalam mode tubuh ini, aku harus segera pergi dari sini.” Gofan membentuk segel tangan.
“Lompatan Besar-Kecil! Peningkatan Akselerasi!.”
Gofan menggabungkan ketangguhan tubuh emas miliknya dan menyatukannya dengan langkah meringankan tubuh Lompatan Besar-Kecil, dengan demikian kecepatan lari Gofan meningkat 50%.
Tubuh emas miliknya mengeluarkan asap-asap berwarna kehitaman, saat kedua kakinya melangkah dengan cepat menghindari serangan Ular Phyton Naga Sisik Besi.
“Ayo!!.” Gofan menarik pergelangan tangan Len Hui dan Len Ruye. Mereka tidak sempat menanggapi ucapan Gofan, kecepatan Gofan menarik mereka secara mendadak. Keduanya tersentak, terseret dalam hembusan angin.
Gofan sengaja memilih berlari ke arah Ning Rui, denfan demikian Ular Phyton Naga yang mengejarnya juga mengarah ke arah Ning Rui.
“Bocah busuk! Jangan kemari!! Berhenti!.” menghadapi satu monster ular itu saja Ning Rui sudah sangat kewalahan, belum lagi seekor lainnya yang kini diarahkan Gofan ke arahnya.
Gofan menyeringai, “Baik. Aku berhenti.” saat Gofan berada beberapa puluh langkah dari Ning Rui, dia berhenti. Tapi satu hela napas setelah jawaban itu diucapkan Gofan, dia menghilang bersama dengan dua lainnya.
Ular Phyton Naga Sisik Besi yang mengejar Gofan mendadak kebingungan melihat Gofan yang tiba-tiba saja menghilang. Tapi semenjak yang ada dihadapannya kini adalah Ning Rui yang tengah bertarung melawan ular lainnya, Ular Phyton Naga itu secara langsung menyerang Ning Rui.
“KEPAR*T!!!” Ning Rui tidak henti-hentinya berteriak kesal. Dengan hilangnya Gofan, kini dia sendirian menghadapi kedua ular monster tersebut.
Setengah hari kemudian...
“Jadi inikah tempat yang kalian maksud?” Gofan mengayunkan tongkat emasnya dan memukul kepala seekor cacing hingga hancur.
*Cruuaattss* Cacing besar itu adalah Binatang Langit terakhir yang harus mereka hadapi sebelum mencapi tempat dimana sebuah tugu batu berada.
Berkat arahan Len bersaudara Gofan tiba di dekat tugu batu besar. Itu terlihat begitu kuno, ada banyak rerumputan menjalar yang mengelilingi tugu batu tersebut. Bata-bata yang menyusunnya sudah terlihat memiliki banyak retakan. Hanya ada satu pintu yang terbuat dari baja hitam di bawah tugu tersebut.
“Ini bukan tugu batu biasa... Tugu ini disebut dengan Menara Enam Pilar Binatang. Hal terbaik yang dimiliki oleh Dimensi ini, semua ada di dalam Menara Enam Pilar Binatang ini.” ucap Len Hui.
Menurut penjelasan Len Hui, Menara Enam Pilar Binatang terdiri dari enam tingkatan, dengan masing-masing dua penjaga di setiap tingkatan. Jika seseorang masuk ke dalamnya maka dia akan menghadapi 12 Penjaga Menara.
“Ke-12 Penjaga Menara adalah Binatang Langit terkuat yang terpilih... Sebelum Perang Para Dewa terjadi hanya satu orang yang bisa mencapai puncak Menara ini. Adapun leluhur kami, hanya berhasil sampai tingkat ke empat.” Len Hui mencoba membuka pintu baja hitam di hadapannya, tapi sekuat apa pun dia mencoba membukanya, pintu itu tidak bergeming.
“Jadi kalian datang untuk mencapai puncak Menara ini? Apakah Menara ini ada kaitannya dengan cara kita keluar dari Dimensi ini?.” Gofan bertanya.
Mendengar itu, Len Hui menghela napas dan menatap ke arah Gofan, “Awalnya, kami mencari Menara Enam Pilar Binatang ini untuk mencari tempat aman, para Binatang Langit tidak akan mengacau di tempat ini.... Tapi setelah melihat kemampuanmu, kami berharap kamu bisa mencapai puncak Menara ini. Kami tidak tahu apakah ini ada kaitannya dengan jalan keluar dari sini. Tapi apa pun yang ada di puncak Menara ini layak untuk diperjuangkan.”
__ADS_1
Len Ruye yang sebelumnya diam menatap ke puncak Menara berkata, “Menurut analisaku, jalan keluar dari dimensi ini pasti ada kaitannya dengan Boneka Manusia yang kita temukan di setiap lorong. Beruntung kami berhasil menyimpan satu.” dengan ayunan tangannya, sebuah Boneka Manusia yang mirip dengan yang diperoleh Gofan sebelumnya muncul di hadapan ketiganya.
“Jika saja aku bisa mengerti sedikit tentang Totem dan Formasi, mungkin kita bisa menemukan petunjuk tentang Boneka ini.” imbuh Len Ruye sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Gofan sudah menebak, bahwa kemungkinan dari setiap lorong akan berisi Boneka seperti yang dia temukan. Dia juga sempat berpikir Boneka itu mungkin ada kaitannya dengan warisan Dewa Sastra. Hanya saja semua yang dilakukan Gofan sebelumnya adalah hanya mengambil alih tubuh Boneka dengan kesadarannya bukan membangkitkan Boneka itu dengan mekanisme Totem dan Formasi.
Tanpa mekanisme Totem dan Formasi, Gofan tidak menemukan petunjuk apapun dari Boneka Manusia miliknya. Ditambah lagi, setelah ledakan perpindahan Dimensi terjadi, kesadarannya terputus dengan Boneka miliknya.
“Mungkin sekarang, Boneka itu sudah jatuh ke tangan orang lain. Terlebih lagi, terakhir kali, dia jatuh ke tempat yang tidak jauh dari tempat jatuhnya Mo Yun. Jika aku mencari Boneka itu, aku harus menghadapi orang itu lagi.” pikir Gofan saat dia bersandar di dinding Menara Enam Pilar Binatang.
“Ka... Kakak Fan. Tato di tanganmu bersinar!!.” ucap Len Ruye setengah terkejut ketika tanpa sengaja melihat Formasi Sembilan Kutukan Langit di punggung tangan Gofan bercahaya redup.
Sentak Gofan tersadar dari pemikirannya dan melihat ke arah punggung kedua tangannya, benar saja, keduanya memancarkan cahaya redup.
“Mo Fan. Aku tahu kamu tidak mengerti tentang gambar Totem Formasi di tanganmu itu, jadi jelas kamu tidak secara sengaja mengaktifkannya bukan? Jika benar demikian maka dengan bersinarnya Totem Formasi milikmu itu, itu pasti ada kaitannya dengan Menara Enam Pilar Binatang ini.” tunjuk Len Hui ke arah Menara Enam Pilar Binatang.
Gofan berdiri menjauh dari dinding Menara, tiba-tiba cahaya redup di gambar Formasi Sembilan Kutukan Langit menghilang.
“Hilang?!.” Gofan menatap ke arah dinding Menara, dia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuhkan telapak tangan kanannya ke dinding Menara... *Blazh* cahaya putih terang bersinar dari gambar Formasi Sembilan Kutukan Langit, bahkan cahaya itu terasa begitu hangat.
“Jadi benar... Formasi ini menyala jika aku bersentuhan langsung dengan tugu batu ini...” Gofan menoleh ke arah Len Hui, “Sepertinya dugaanmu benar. Menara Enam Pilar Binatang ini ada kaitannya dengan Totem dan Formasi.” senyumnya ketika dia menempelkan tangan lainnya ke dinding Menara. Keduanya kini bersinar terang.
“Kita akan masuk ke dalam. Mungkin kita akan menemukan petunjuk tentang Totem dan Formasi di puncak Menara ini.” Gofan memutuskan. Dia melangkah ke hadapan pintu baja hitam dan menarik gagang pintu tersebut... *Kriiieeettt* dengan mudahnya, pintu baja hitam itu terbuka.
Melihat hal itu, kedua mata Len Hui mengernyit, “Ternyata begitu, pintu ini hanya bisa dibuka dengan Totem Formasi. Pantas saja, aku tidak bisa membukanya... Siapa sebenarnya Mo Fan ini? ranah budidayanya dibawah kami tapi sebagian besar Binatang Langit yang kami temui dibunuh olehnya... Dia juga Alkimia Master. Meskipun dia berkata tidak tahu tentang Totem Formasi, tapi dengan beruntungnya dia bisa memiliki tato itu di tangannya...”
Semenjak bertemu dengan Gofan, Len Hui dan Len Ruye tidak henti-hentinya dikejutkan dengan berbagai kemampuan aneh yang dikuasai Gofan. Itu membuat keduanya mengagumi kemampuannya.
“Apa yang kalian lakukan? Ayo... Kita masuk!.”
Bersambung...
“Adik... Kamu tidak kenapa? Kenapa wajahmu begitu merah? Apa kamu tidak akan masuk ke dalam?.” tanya Len Hui di ambang pintu baja hitam.
“Tidak... Tidak ada apa-apa. Aku... aku baik-baik saja.” Len Ruye yang sedari tadi menatap punggung Gofan, tiba-tiba tersadar dari lamunannya, “Minggir! Biarkan aku lebih dahulu masuk!!.” Len Ruye menyimpan Boneka Manusia miliknya dan bergegas masuk mendahului Len Hui.
“Ada apa dengannya? Aku menanyakannya karena ingin membiarkannya masuk terlebih dahulu. Kenapa dia marah begitu?!.” Len Hui menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
__ADS_1