Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 57. Menghancurkan Segel Kutukan bg. 4


__ADS_3

Jiwa Gofan terpaksa keluar dari tubuh Xingmou, karena dibunuh oleh ibunya sendiri.


Meskipun itu hanya sebuah kesalahpahaman, tetap saja, mati di tangan ibunya sendiri adalah hal yang menyakitkan. Bahkan di saat jiwa Gofan ditarik keluar dari tubuh Xingmou, air mata menetes dari kedua belah mata mayat Xingmou.


Jiwa Gofan tanpa sadar ditarik keluar dan memasuki sebuah dimensi ruang hampa. Di dalam dimensi ruang hampa itu hanya ada dirinya, hanya ada jiwa Gofan saja,


"Dimana ini?...Kemana lagi aku dibawanya...?"


"Sialan! Apa maunya Haiwa itu, dia ingin aku membunuh ibuku?... Lagi pula taruhan macam apa ini?"


"Haiwa!! Keluar kamu!!, Kita bertarung saja... Sini kalau berani....!!"


Teriak Gofan.


Gofan merasakan rasa sakit yang teramat dalam, sesaat sebelum mati di dalam tubuh Xingmou, dia menatap mata ibunya.


Mata Qimoruong menunjukkan mata yang penuh kebencian. Semua kenangan tentang tatapan mata ibunya yang penuh kasih dan sayang menjadi hancur karena momentum sesaat tersebut.


Tawa Haiwa terdengar menggema di dimensi ruang hampa, namun hanya suaranya saja, Haiwa tidak muncul menampakkan diri,


"Kamu mau bertarung?... Baiklah..."


*Zyuut*


Tongkat Emas Naga Kembar, muncul di hadapan Gofan.


*Duaagh*


"...Ukh..."


Tongkat emas itu memukul mundur jiwa Gofan hingga puluhan langkah ke belakang.


-Ukh... Kuat sekali, padahal itu hanya ayunan kecil..-


Meskipun saat ini Gofan tidak memiliki tubuh, hanya jiwa, dia merasakan rasa sakit yang amat sangat dari pukulan pelan Tongkat Emas Naga Kembar, pukulan itu membuat Gofan merasakan jiwanya seperti disayat-sayat oleh sebuah benda tajam.


*Zyuut*


Tongkat Emas Naga Kembar, kembali berdiri diam di hadapan Gofan.


Suara tawa Haiwa sekali lagi terdengar menggema,


"Bagaimana? Mau lagi?... Itu tadi hanya sekedar contoh... "


"Gofan... Kamu sudah gagal sekali, kamu masih punya dua kesempatan lagi, kembalilah dan selesaikan taruhan ini"


*Zyuut*


Tanpa menunggu jawaban dari Gofan, sekali lagi jiwa Gofan ditarik pergi dan dibawa kembali ke tempat dimana hatinya masih memiliki belenggu masalah, kembali ke Perguruan Tanah Terlarang sepuluh tahun lalu.


Di kesempatan kedua ini, jiwa Gofan berakhir merasuki tubuh Tungdie.


Saat dia sampai di tubuh Tungdie, Ketua kecil itu sedang sibuk bertarung melawan ayahnya, Raja Gelap, Lenhao.


*Trang Trang Trang*


-Haiwa sialan!!, sekarang dia bahkan ingin aku menghabisi nyawa ayahku... Apa yang harus aku lakukan?...akh... sudahlah...-


Pikir Gofan saat menggerakkan tubuh Tungdie untuk menangkis serangan pedang ayahnya.


"Tunggu...Sebentar!! Ayah... Ayah... Ini aku Lenfan..."


Gofan memutuskan untuk langsung mengungkapkan dirinya.


Gofan tidak terlalu berharap Lenhao akan langsung mempercayai kata-katanya, namun tidaklah salah untuk mencoba. Oleh sebab itu Gofan terus mengulang kata-kata, bahwa dia adalah Lenfan, sembari menangkis serangan pedang ayahnya.


"Ayah... Percayalah... Ini aku Lenfan"


Begitulah kata-kata yang diucap Gofan berulang kali selama bertahan dari serangan ayahnya.


Beberapa hela napas kemudian Lenhao menarik serangan pedangnya dan mundur beberapa langkah, membuat jarak antara dirinya dan Gofan yang merasuki Tungdie.


Lenhao memperhatikan cara berdiri Tungdie saat ini, memang ada perubahan, jika sebelumnya Tungdie akan berdiri dengan sedikit merapatkan kakinya, kini Tungdie berdiri dengan posisi sedikit terbuka, paha kakinya terlihat tersingkap dari gaun merah yang memang sedikit pendek.


"Bukti..."


Kata Lenhao singkat sambil mengacungkan pedangnya ke arah Tungdie.


-Bagus, sepertinya ayah mulai percaya... Bukti... Apa ya?... Oh ya-


"Ayah pasti masih ingat,  bukan? Saat aku berusia lima tahun, ayah sengaja menghukumku karena mengira aku memukul Guxiong..."


"Saat itu, ayah mengikatku di bawah pohon Kakao yang berisi sarang para Semut Rangrang... Ayah salah mengira, di pohon itu tidak ada semut, tetapi kemudian karena aku menangis kesakitan, ibu mengetahui hal itu dan menghukum ayah tidur diluar selama satu minggu..."


"Aku benar-benar tidak memukul Guxiong saat itu, dia terjatuh karena kalah dariku saat kami berlatih tanding, dia menangis dan mengadukanku telah memukulnya..."


Gofan berhenti melanjutkan ucapannya, karena Lenhao tiba-tiba tertawa.


Lenhao tertawa terpingkal-pingkal seperti mengingat suatu kejadian yang lucu,


"Benar... Benar... Waktu itu wajah anakku sampai tidak bisa dikenali, Hahaha... wajahnya bengkak, bibirnya juga menebal, Hahaha"

__ADS_1


Tawa Lenhao terasa aneh di suasana yang masih penuh dengan dentangan senjata dan dentuman ledakan.


-Aku tidak menyangka, meskipun sudah dihukum ibu, ternyata ayah masih menganganggap sakit yang aku alami sebagai sebuah lelucon-


Gofan sedikit berdecak saat Lenhao berhenti tertawa dan berjalan mendekat ke arahnya, lalu berkata pelan,


"Ternyata kata-kata kakek tua itu benar. Kamu akan kemari,... Nak, dengarlah baik-baik,... Tablet Dewa Naga, ada dua bagian, bagian pertama ayah tanam di gunung belakang kediaman murid inti Perguruan Tunjung Putih"


"Bagian lainnya, ayah titipkan pada Mahaguru Suddha di Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan, perguruan para penyihir satu-satunya di benua ini"


"Dan jangan sekalipun kamu mengatakan kepada siapa pun bahwa kamu melatih budidaya Kitab Surga.... Ada yang ingin kamu tanyakan? Kesempatan seperti ini mungkin hanya sekarang saja bisa kamu miliki"


Ucap Lenhao sembari menyarungkan pedangnya kembali.


"Jadi, ayah sudah tahu, bahwa ini akan terjadi?, Kakek siapa yang ayah maksud?"


Gofan heran mendengar kata-kata ayahnya yang sudah mengetahui bahwa hal semacam itu akan terjadi. Gofan ingin tahu, siapa kakek yang dimaksud oleh ayahnya itu.


Lenhao mengangguk-angguk sebelum memberi jawaban,


"Kakek yang ayah maksud adalah Pendekar Sembilan Langit, Lenzhufu"


"Dia adalah leluhur kita, satu-satunya leluhur trah Len yang bisa menembus ke alam besar. Tapi sayangnya, enam tahun lalu, dia terluka parah dan terpaksa turun ke Alam Kecil"


"Bukankah kamu juga pernah melihatnya? Dialah yang memberi ayah Tablet Dewa Naga dan Kitab Surga Sembilan Langit"


Lenhao menggambar sebuah garis melingkar yang mengurung Gofan.


Gofan tidak menyadari apa yang dilakukan Lenhao, Gofan hanya mengira itu adalah kebiasaan lama Lenhao, bercerita sambil berjalan mondar mandir.


-Jadi, karena itu aku sering melihatnya mengunjungi ayah,...-


"Jadi maksud ayah, Kakek Leluhur Lenzhufu belum menjadi Dewa?"


Tanya Gofan.


"Belum, dia masih manusia, dia hanya berhasil menembus alam langit pertama,... Hanya dengan budidaya yang menembus sembilan langit, baru seseorang bisa menjadi Dewa dan memperoleh keabadian"


"Sayangnya, karena luka dalam yang dia derita... Kakek leluhur Lenzhufu akhirnya meninggal setahun yang lalu, saat itulah dia memberitahukan bahwa kamu akan kemari dengan keadaan seperti ini dari masa depan"


"Hahaha... Saat itu ayah hampir tertawa mendengarnya berkata demikian, tapi... ternyata kamu memang datang. Kakek tua itu memang penuh dengan kejutan"


Lenhao berhenti tertawa, dia berdiri sedikit menjauh dari Gofan, lalu tangannya membentuk sebuah segel.


"Formasi Garis Pengurung"


*Zyuut*


Gofan terkejut mendapati ayahnya melakukan segel tangan dan membentuk sebuah formasi pembatas, mengurung Gofan di dalam lingkaran garis yang sebelumnya digambar Lenhao.


"Lenfan, dengar... Tahap terakhir dari ranah Human God bukanlah akhir, di alam langit pertama, ranah di atas itu disebut Saint God, capailah itu demi kami"


*Triung*


Lenhao menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya ke arah Gofan yang kini berada di tubuh Tungdie.


"Maaf...nak, Ayah harus membunuhnya..."


*Jleb*


" ...Akh.... Hai.. wa.. si.. al... "


Ucap Gofan terbata-bata melalui mulut Tungdie, saat pedang Lenhao menusuk ke jantung Tungdie.


Tungdie yang terkurung di dalam Formasi Garis Pengurung, ditusuk hingga mati oleh Lenhao, membuat Jiwa Gofan sekali lagi ditarik keluar dan dibawa kembali ke dimensi ruang hampa.


*Blazh*


Gofan kembali lagi ke tempat dimana dia sebelumnya berada, yaitu di hadapan Tongkat Emas Naga Kembar. Tongkat emas itu masih berada di dalam dimensi ruang hampa.


"Cih... Haiwa!!! keluar kamu!!... Taruhan macam apa ini?"


Teriak Gofan, dia benar-benar marah.


Haiwa sudah membuat Gofan dibunuh oleh kedua orang tuanya. Ayahnya bahkan membunuhnya sembari tersenyum, meskipun ayah Gofan sudah menyadari bahwa Gofan ada di dalam tubuh Tungdie, tetapi tetap saja ayahnya melakukan itu.


Suara tawa Haiwa terdengar menggema di seluruh dimensi ruang hampa itu, namun lagi-lagi dia tidak muncul secara langsung,


"Gofan, bukankah kamu seharusnya senang? Ayahmu mempermudah dirimu, akan lebih menyakitkan, jika kamu yang membunuh ayahmu bukan?"


"Kamu gagal lagi. Setelah ini adalah kesempatan terakhir, jika kamu gagal, ucapkan selamat tinggal pada tubuhmu yang duduk di luar sana...."


"Akan ku beri kamu sedikit petunjuk, ini semua adalah belenggu hatimu, jika kamu bisa terbebas dari belenggu ini, maka kamu menang dalam taruhan ini,... Pergilah dan selesaikan kesempatan terakhirmu!"


*Zyuut*


Sama seperti sebelumnya, Haiwa tidak menghiraukan tanggapan Gofan.


Haiwa langsung mengirimkan Gofan kembali ke tempat dimana hatinya masih memiliki belenggu masalah.


***

__ADS_1


_Di dalam Kalung Kerang Ajaib_


"Ayah, bagaimana?, Apa yang ayah temukan di dalam tubuhnya ?"


Longyun sedari tadi sudah menunggu ayahnya kembali tersadar.


Longwang baru saja melepaskan energi mentalnya untuk masuk dan memeriksa tubuh Gofan, itu membuatnya sempat kehilangan kesadaran.


Beberapa saat setelah jiwa Gofan keluar dari dalam tubuhnya, kedua ayah dan anak itu terkejut melihat bentuk jiwa Gofan yang ternyata berbeda dengan tubuhnya. Hal itu membuat Longwang memutuskan untuk melakukan pemeriksaan pada tubuh Gofan, yang sudah kosong ditinggalkan jiwanya pergi ke dalam batang bambu.


"Ini takdir... Benar-benar takdir, Dia sudah berganti raga,... Ayah memeriksa ingatannya, yang bisa ayah lihat hanya dia yang sudah berganti raga, selebihnya tidak bisa... ada Energi Surga yang melindunginya"


Ucap Longwang ketika dia tersadar setelah selesai memeriksa tubuh Gofan.


Longwang akhirnya mengetahui bahwa selama ini Gofan telah menggunakan tubuh lain.


"Energi Surga!?"


"Ma-maksud Ayah, batu bertuah? Dia sudah menyerap energi batu bertuah?"


Longyun terkejut mendengar ucapan ayahnya, ternyata batu bertuah yang dikabarkan langka dan entah dimana keberadaannya, ada di dalam tubuh Gofan.


"Iya, dia sudah menyerap energi batu itu..."


"Tubuhnya yang baru ini pun bukan tubuh biasa, darahnya sangat murni, kemungkinan besar merupakan keturunan dari salah satu Dewa jatuh"


Longwang bangkit berdiri dan duduk di sebelah Longyun.


"Ayah. Apa ini berarti darah naga dalam dirinya sudah hilang?"


Tanya Longyun.


"Iya... Benar. Dia hanya memiliki darah murni dari keturunan Dewa lain, tapi ayah tidak tahu, Dewa apa itu"


Sahut Longwang sambil menggeleng-geleng.


"Dia sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan trah Naga, dengan Suku Naga kita"


Imbuh Longwang, sebelumnya Longwang dan Longyun sangat berharap bahwa Gofan adalah orang di dalam lukisan, orang yang diramalkan akan menjadi pemimpin suku naga untuk membalaskan dendam mereka.


"Ayah. Bukankah masih ada cara itu, cara yang tertulis di Tablet Dewa Naga"


Longyun mengingat sebuah cerita yang dulu sangat terkenal di antara suku naga, yaitu Tablet Dewa Naga, sebuah batu berukir yang mencantumkan Tujuh Perintah Surga, tujuh jalan menuju surga, menuju keabadian.


Konon bahkan, ketika manusia biasa yang tidak memiliki titik pusat jiwa pun bisa menjadi dewa dengan memanfaatkan cara di dalam tablet itu. Pada tablet itu juga tercantum cara menempa tubuh dewa naga, bagi kaum suku naga.


"Aih... Keberadaan tablet itu saja tidak ada yang tahu. Bagaimana kita akan membantunya membentuk tubuh Dewa Naga..."


Longwang hanya mengetahui bahwa Tablet Dewa Naga, ada di tangan Dewa Naga, tetapi setelah kematiannya, tablet itu menghilang entah kemana.


"Berarti tidak ada cara lain lagi. Dia bukanlah orang yang diramalkan, dia sudah mengetahui keberadaan kita, haruskah kami membunuhnya?"


Gumam Longwang.


***


Melalui Lorong Masa, Gofan dikirim kembali oleh Haiwa ke Perguruan Tanah Terlarang.


Kali ini, Gofan merasuki tubuh seorang pria bertubuh gempal, pria ini sedang berlari mengikuti dua orang berpakaian hitam yang berlari mendahuluinya.


"Hesh... Hesh... Ah.. Apa Ini, Aku..."


-Sial, untuk bernapas saja susah... Kali ini aku merasuki tubuh siapa? Pria ini gemuk sekali..., Kenapa dia memaksakan diri berlari sekencang ini?-


Pikir Gofan ketika dia baru saja dibawa kembali ke masa lalu, ke sepuluh tahun yang lalu oleh Haiwa.


"Woi... Cangu! Apa yang kamu lakukan?, Cepat sini...! Kita harus mengejarnya"


Teriak salah satu pria berpakaian hitam kepada Gofan yang ternyata adalah Huangkong.


"Cangu!?... Aku Cangu?"


-Huangkong?.. Dia memanggilku Cangu... I-itu Quila?-


Gofan sedikit terkejut mendapati bahwa dua orang di depannya ternyata adalah Huangkong dan Quila.


-Quila,.. aku... Cangu?... Bukankah kata Xionan mereka anggota Kultus Abu-Abu. Apa hubungan mereka dengan trah Darah Murni?-


"Oh.. Ii-iya...."


Gofan berlari pelan mendekati Huangkong dan Quila.


*Duuaarr*


Sebuah ledakan tiba-tiba terjadi tidak lama setelah Gofan sampai di tempat Huangkong dan Quila.


"Gawat!! Kitabnya....!!"


Teriak Huangkong dan Quila bersamaan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2