Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 169. Lukisan Lengyue


__ADS_3

###


Urutan Ranah Budidaya.


Masing-masing ranah melalui tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.


Ranah Budidaya Alam Kecil (Benua Penda dan Benua Lainnya)--> Body Binding--> Holy Body--> Big Master--> Great Master--> Grand Master--> Saint Master--> Holy Saint--> Human God.


Ranah Budidaya Alam Besar (Alam Langit Pertama)--> Saint God--> ????--> ????.


*Budidaya di Alam Besar, sejauh ini hanya diceritakan sampai di ranah Saint God.


*Saat ini, Gofan berada di ranah Grand Master tahap akhir.


 


WARNING!


 


Jika menyukai Novel ini, silahkan dukung Penulis asli untuk terus berkarya dengan Like, Vote, Favorite dan Comment.


Saat seorang Penulis mendapat tanggapan baik atas karyanya, maka dia akan fokus untuk menulis.


Selamat Membaca dan Semoga Terhibur.


___________________+++____________________


Di salah satu sudut di area penonton, seorang Pria kurus bertudung hitam menatap heran ke arah Fanjia, “Ada yang aneh dengan manusia ini” Batinnya.


Jika dilihat lebih dekat, maka akan terlihat bahwa pria kurus itu memiliki wajah yang berbeda dengan wajah manusia pada umumnya. Wajah pria kurus itu, memiliki rambut-rambut tipis berwarna kuning keemasan di sekitar pipinya dan yang paling jelas berbeda adalah telinganya. Telinga pria kurus itu sangat mirip dengan telinga anjing.


“Aku tidak merasakan ada jiwa kehidupan di tubuhnya...” Gumam Pria kurus bertelinga anjing itu, dia menoleh ke sisi kanannya, ke arah seorang pemuda yang terlihat ketakutan padanya, “Siapa nama pemuda yang terluka itu?” Tanyanya pada pemuda itu.


Pemuda di sebelahnya menjawab ketakutan, tidak berani menatap langsung wajah si Pria kurus bertelinga anjing itu, “Di-dia... Per-perwakilan Partai Tongkat Sakti... Na-namanya Gofan.” Jawabnya terbata-bata.


“Partai Tongkat Sakti?” Pria kurus bertelinga anjing menoleh sekilas ke arah tempat kibaran bendera Perguruan Tunjung Putih dan kemudian kembali menatap ke arah Fanjia, “Kenapa aku merasa sedikit ketakutan setiap melihat wajah pemuda itu? Apa aku mengenalnya?” Dia penasaran. Dari kemarin, setiap melihat Fanjia, dia akan merasa ketakutan, seakan dia sudah pernah bertemu dengan Fanjia.


Tentu saja, Pria kurus bertelinga anjing itu seharusnya mengenali Gofan. Dia adalah Gukguko, si Anjing Taring Penyanyi yang dikalahkan Gofan dan terlempar ke anak Sungai Kuning.


Dia kehilangan ingatannya setelah berhasil selamat dari Sungai Kuning. Dia juga mendapat kemampuan baru yang akhirnya membuatnya menjadi Siluman yang mengolah Budidaya Kematian. Dia kemudian menamai dirinya Ling Guo.


Sekarang Ling Guo adalah Ketua dari Partai Sejuta Jiwa dan pemuda yang dia tanyai sebelumnya, adalah salah satu murid di Partainya.


Kemampuan utama Ling Guo adalah sangat memahami hal-hal seputar roh dan alam kematian. Itu membuatnya yakin, bahwa Fanjia bukanlah makhluk hidup. Dia tidak melihat adanya roh di tubuh Fanjia. Tapi dia juga tidak bisa memastikan, apa sebenarnya Fanjia itu.


Semakin Ling Guo menatap Fanjia, yang sekarang diketahuinya bernama Gofan, semakin kencang detak jantungnya. Dia ketakutan, tapi tidak bisa mengetahui alasan ketakutannya itu.


“Biarkan aku memberimu kehidupan... Mari kita lihat apa yang akan dilakukan, pemuda bernama Gofan yang asli saat melihatmu seutuhnya bernyawa.” Batin Ling Guo sembari memperhatikan pertarungan yang masih berlangsung di dalam Ring Tarung.


**


“Tarian Feniks Petir”


Tidak membuang waktu. Sekali lagi, Tianxian menyerang, mengerahkan serangan Tarian Feniks Petirnya.


Setelah melompat tinggi, dibantu oleh dorongan kilatan-kilatan sayap petir, Tianxian melayang sesaat di udara. Kali ini, dia membuang pedangnya dan menciptakan pedang dari petir. Dia mengerahkan semua Mental Saint miliknya untuk menciptakan pedang petir tersebut.


“Mati-!” Teriaknya.


*Zyuut* Tianxian menukik ke arah Fanjia, pedang yang terbuat dari petir menghunus ke arah Fanjia.

__ADS_1


Sementara Fanjia, mengumpulkan tenaga dalam di tumit kaki kanannya, setelah sedikit membungkuk, dia melompat menerjang ke arah serangan Tianxian. Fanjia menghadang langsung serangan tersebut.


“Pukulan Api Penakluk Iblis”


Api merah keemasan menyelimuti Tongkat Emas Naga Kembar saat Fanjia mengayunkannya untuk menghadang serangan pedang petir Fanjia.


*Duaar*


Ledakan benturan terjadi dan asap putih tebal menyelubungi keduanya. Kilatan cahaya ungu terlihat memancar sesaat dari asap putih tebal tersebut. Tidak berselang lama, Tianxian terpukul mundur. Tubuhnya terdorong melayang hingga membentur dinding pembatas Formasi Tameng Harimau Naga.


“Ukh...” Tianxian memuntahkan segumpal darah, mata merahnya menatap ke arah Fanjia yang berdiri tidak jauh darinya, “Apa itu? Ayunan tongkatnya, hanya biasa saja, tapi cahaya apa di matanya itu?” Dia ketakutan mengingat mata Fanjia yang sesaat tadi memancarkan cahaya ungu.


Hanya sesaat tadi, Fanjia mengaktifkan Mata Surga ketika ayunan tongkatnya terdorong mundur saat benturan terjadi.


Tianxian tidak mengetahui cahaya apa itu, tapi Raja Penda dan Pemuda bermata satu yang juga merupakan peserta di Turnamen itu mengetahui dengan jelas cahaya ungu yang memancar sesaat di mata Fanjia itu. Itu Energi Surga. Litaihwang dan Gumulryong merasakannya, merasakan Energi Surga yang diaktifkan Fanjia.


“Energi Surga!?... Tidak... Ini hanya sebagian kecil... Pemuda itu seperti sebuah saluran untuk Energi Surga. Pemiliknya ada di dekat sini” Batin Gumulryong.


Sesaat setelah Fanjia mengaktifkan Mata Surga, Gumulryong dengan cepat bisa menebak, bahwa Fanjia hanyalah sebuah boneka, aliran Energi di tubuh Fanjia hanyalah sebuah saluran, sumber Energi itu berasal dari tempat lain.


Gumulryong melakukan sebuah gerakan segel tangan, mencoba melacak sumber Energi yang menggerakkan Fanjia.


Saat Gumulryong selesai melacaknya, matanya membelalak, dia bisa merasakan bahwa ada Energi Surga dalam jumlah besar yang berasal dari bawah tanah. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Energi Surga itu, Gumulryong beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke arah sumber Energi Surga berasal.


Di sisi lain, Vasudev dan Mouhuli terus mengawasi Gumulryong, terus mengawasi pergerakannya. Satu-satunya peserta yang memiliki luka di matanya, hanya Gumulryong. Jadi, mereka berdua tahu, bahwa Gumulryong adalah orang yang dimaksudkan Lengyue dalam ramalannya. Orang yang diramalkan akan membunuh Gofan.


“Celaka-! Sepertinya dia mengetahuinya” Ucap Mouhuli kepada Vasudev, ketika melihat Gumulryong pergi ke Area belakang Turnamen Pulau.


Xionan, sudah memberitahu kedua guru Gofan itu, bahwa yang bertarung mewakili Gofan adalah sebuah boneka manusia tanah dan Gofan masih berada di terowongan bawah tanah untuk mendapatkan Pertemuan Beruntung di Pulau Api.


“Tenanglah, biar aku yang mengatasinya.” Sahut Vasudev. Dia terbang, pergi ke arah yang sama dengan yang dituju Gumulryong. Dia menyusulnya.


Tianfuzi tidak lagi memiliki pecahan Batu Bertuah, Batu Hasrat miliknya terpaksa dia serahkan kepada seseorang, itu pun dengan pengorbanan yang besar, hampir saja dia mati karena mempertahankan batu itu. Dia tidak kuasa menolaknya. Karena itu, dia tidak bisa merasakan apa-apa saat Fanjia mengaktifkan Mata Surganya.


Selain mengawasi Gofan, Vasudev dan Duan Tianlang adalah dua orang yang terus diawasi oleh Tianfuzi. Hubungan keduanya dengan Gofan, membuat Tianfuzi juga mengawasi gerak-gerik mereka.


Tianfuzi berbisik kepada seorang Pria paruh baya yang duduk di sebelah kirinya dan meminta Pria itu untuk mengikuti Vasudev secara diam-diam.


Xunialiang melirik sesaat, ketika melihat Vasudev tiba-tiba saja terbang. Meski penasaran, Xunialiang tidak mengejarnya, dia sedang sibuk menyalurkan tenaga dalam untuk mengobati Cangmok. Cangmok mengalami cedera yang cukup parah, dia adalah peserta Nomor 05 dan yang dihadapinya adalah Burka.


“Guru. Maafkan aku. Belum juga aku sempat bertarung dengan Junior Gofan, tapi aku sudah di...”


“Sudah. Diamlah. Konsentrasi saja pada penyembuhanmu. Bocah Meghalaya itu sungguh keterlaluan.” Ucap Xunialiang menyela ucapan Cangmok. Matanya kini melihat ke arah Burka yang tengah menatap ke arah Perguruan Lembah Bunga Kamboja.


Di tempat Perguruan Lembah Bunga Kamboja, Nian menatap takut ke arah Xionan. Dia sudah dikalahkan oleh Xionan, hanya dengan sekali serang, “Untung saja dia mengenal Gofan, jika tidak, aku tidak tahu bagaimana pertandingan tadi akan berakhir?” Batin Nian, masih merasakan takut dari serangan yang dilancarkan Xionan.


Xionan sendiri juga ikut menyusul pergi. Melihat kepergian Gumulryong yang disusul oleh Vasudev, Xionan bisa menebak apa yang sedang terjadi.


“Kemana dia? Apa dia pergi menemui Fanfan?” Batin Shiyuxin usai melihat kepergian Xionan. Meski hatinya gelisah, ingin ikut menyusul, tapi dia tidak bisa beranjak pergi. Setelah ini adalah gilirannya untuk bertanding.


“Sial-!” Keluh Shiyuxin saat kedua tangannya mengepal erat.


Sementara itu, Raja Penda, Litaihwang, hanya tersenyum tipis ketika menyadari Energi Surga di tubuh Fanjia. Dia juga menyadari bahwa Fanjia hanyalah sebuah boneka. Namun, dia enggan mengungkapkannya dan ingin menyaksikan lebih jauh, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dari atas Ring Tarung, Fanjia melirik sesaat ketika melihat Gumulryong, Vasudev, dan Xionan pergi ke area belakang Turnamen. Dia sadar, kecerobohannya tadi, saat mengaktifkan Mata Surga sudah membuat semua hal itu terjadi.


“Mata Surga”


Sudah terlanjur basah, lebih baik diteruskan. Akhirnya, Fanjia memutuskan untuk mengerahkan seluruh kekuatan Mata Surga.


“Pukulan Api Penakluk Iblis”

__ADS_1


“Jejak Kaki Menyapu Angin”


Sekali lagi, Fanjia mengayunkan tongkatnya yang sudah dilapisi cahaya ungu terang. Cahaya ungu itu menyelimuti seluruh tubuh Fanjia, sehingga ketika dia melesat maju, dia tampak seperti kilatan cahaya berwarna ungu.


Tak kuasa menahan kekuatan penuh dari serangan Mata Surga, hanya sekali pukul, Tianxian terkapar tidak sadarkan diri. Tubuhnya dilalap api berwarna merah keunguan. Namun, karena budidayanya yang lebih tinggi dari Fanjia, dia berhasil menyelamatkan nyawanya meski dengan keadaan mengenaskan. Dia terkapar tidak sadarkan diri dalam keadaan gosong.


***


Pulau Api, Kaki Gunung Berapi, di dalam sebuah Gua...


Tidak jauh dari lokasi Ring Tarung. Di dalam sebuah Gua. Seorang Gadis dikurung dalam sebuah kurungan besi. Kedua kaki dan tangannya diikat dengan rantai. Bukan rantai biasa, itu rantai yang dibuat dari tenaga dalam. Masing-masing rantai itu terhubung langsung ke dinding-dinding Gua yang dilapisi tenaga dalam.


Di luar kurungan besi, duduk seorang anak kecil yang terus menjilati permen bertangkai yang dia bawa. Sesekali, anak kecil itu akan tertawa sendiri saat menatap sebuah lukisan yang ada di sebelahnya. Dia adalah Yuwenhuai, si Siluman Mimpi dan Gadis yang terkurung itu adalah Lengyue.


“Nona. Ternyata kamu benar-benar seorang peramal yang hebat, jika tahu bahwa kamu bisa dimaanfaatkan dengan semudah ini, seharusnya sudah dari dulu, Tuanku bisa mengumpulkan seluruh pecahan Jiwanya.. Haha” Tawa Yuwenhuai.


Lengyue tidak menjawab, dia seperti seseorang yang tengah kerasukan, seluruh bola matanya berwarna putih terang. Meski matanya terlihat seperti cahaya putih, tapi sesungguhnya Lengyue tengah melihat sesuatu, dia tengah melihat masa depan. Lengyue terus melukis hal-hal yang dilihatnya di masa depan ke dalam tumpukan kertas di hadapannya. Di atas meja kecil di hadapan Lengyue, kini berisi banyak tumpukan lukisan tentang masa depan.


“Hmm... Ini? Bukankah ini bocah yang mengacaukan tugasku di Paviliun Bunga Indah?” Ucap Yuwenhuai saat dia melihat salah satu hasil lukisan Lengyue.


“Siapa ya namanya?.... ”


“Ah.. Benar. Gofan...”


“Kenapa bocah ini bertarung dengan dirinya sendiri?” Gumam Yuwenhuai sembari memeriksa lukisan-lukisan lainnya.


“Hei Nona. Bisa tidak? Lukiskan saja hal-hal yang penting. Lihatlah dimana lagi, pecahan Jiwa Tuanku berada... Kenapa dia malah melukis Bocah kurang ajar ini?” Yuwenhuai berjongkok di hadapan kurungan besi dan mengambil lagi sebuah lukisan lainnya.


“Ini... Siapa pemuda kurus ini? Kenapa dia... Bukan... Yang satu ini bukan manusia, ini Siluman Anjing, perubahan bentuknya masih belum sempurna. Apa kaitan Siluman Anjing ini dengan Tuanku?...”


“Ah... Benar... Ini pasti pecahan Jiwa Tuanku yang lainnya. Aku harus segera mengabari ini kepada Tuan.”


Baru hendak bergegas meninggalkan Gua, Yuwenhuai berhenti sesaat dan kembali lagi, dia mengambil lagi lukisan Gofan yang dilihatnya bertarung dengan dirinya sendiri.


“Mungkin lukisan ini, akan berguna... Siapa tahu, Tuan akan menemukan petunjuk dari lukisan ini juga.” Yuwenhuai menoleh ke arah Lengyue, “Nona teruslah melukis. Aku akan kembali sesaat lagi.” Ucapnya, meski tahu Lengyue tidak akan menjawab ucapannya.


**


Setelah beberapa saat berlalu, Yuwenhuai yang bergegas pergi menyerahkan lukisan-lukisan Lengyue, tiba di hadapan sebuah batu besar. Dia berdiri menatap sebuah batu besar agak kemerahan.


“Tuan bilang. Untuk saat ini, aku tidak boleh menemuinya secara langsung, jadi aku harus meletakkan lukisan-lukisan ini di sini.” Yuwenhuai melukai sedikit ibu jari tangannya dan menorehkan darah dari ibu jarinya itu ke atas batu besar tersebut.


*Grudug* Batu besar itu bergeser.


Sebuah lubang berbintang terlihat berada tepat di bawah batu besar tersebut. Lubang berbintang itu mirip seperti sebuah portal dimensi, hanya saja, ukurannya tidak terlalu besar, hanya selebar dua bahu manusia dewasa.


“Tuan. Aku harap Tuan akan menemukan petunjuk dengan dua lukisan ini... Aku akan menyuruh Gadis itu untuk melukis lebih baik lagi.” Setelah memasukkan lukisan-lukisan itu ke dalam lubang berbintang. Batu besar itu kembali menutup. Yuwenhuai pergi kembali ke arah Gua.


Satu hal yang tidak disadari Yuwenhuai, seseorang secara tidak sengaja melihat apa yang sedang dilakukannya dan orang itu mengira bahwa ada semacam harta berharga di bawah batu besar tersebut.


“Aku jelas melihat anak aneh itu menorehkan darahnya di atas batu ini. Aku sudah melakukan hal yang sama, tapi kenapa batu besar ini tidak bergeming?” Keluh orang tersebut. Mengikuti langkah yang dilakukan Yuwenhuai, dia gagal membuat batu besar itu bergeser.


Dia berusaha mengangkat, mendorong, memukul, menendang, membelah, dan menghancurkan batu besar kemerahan tersebut, tapi semua sia-sia. Batu itu kokoh sekali, tidak tergores sedikit pun.


“Sialan-! Batu Bre****ek! Kenapa susah sekali dihancurkan?...” Orang itu bersandar kelelahan di depan batu besar, “Kertas apa yang tadi dia masukkan ke dalamnya? Apa itu peta Pertemuan Beruntung?”


Setelah beristirahat selama beberapa hela napas, orang itu beranjak bangun dan pergi ke arah Turnamen Pulau berlangsung.


“Terpaksa, aku harus membagi berita ini dengan Tuan Muda. Aku yakin, dia pasti punya cara untuk menggeser batu besar itu.” Batin Orang itu dengan wajah cemberut saat dia meneruskan langkahnya, semakin mendekat ke Area Turnamen Pulau diadakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2