
Kembali ke awal cerita, ketika Alam terbentuk, Surga sebagai pemilik seluruh Alam, menciptakan Cahaya dan Kegelapan. Cahaya dan Kegelapan yang selalu bertentangan menciptakan dua Dewa Besar yaitu Dewa Cahaya dan Dewa Gelap. Alam Besar diciptakan sebagai tempat tinggal mereka, alam itu terdiri dari sembilan lapisan alam langit.
Kedua Dewa Besar itu melalaikan tugas dan membuat Surga kecewa. Surga kemudian menciptakan para Dewa Kecil, salah satunya yang paling hebat adalah Dewa Naga. Dewa Naga memimpin para Dewa Kecil lainnya dan berhasil menciptakan sebuah Alam baru yang disebut Alam Kecil. Alam Besar dan Alam Kecil itu dipisahkan oleh kehampaan tak berujung yang gelap dan amat sangat dingin.
Alam Kecil berisi kehidupan baru yang disebut sebagai manusia. Pemujaan bagi Surga dan para Dewa dilakukan oleh manusia, membuat Surga merasa senang dan menganugerahi Dewa Naga gelar Kaisar Langit.
Hal itu menimbulkan ketidaksenangan dua Dewa Besar. Bersama dengan pecahan diri mereka, yaitu Dewa Malam dan Dewa Pheonix, dua Dewa Besar merencanakan siasat untuk memberantas Dewa Naga beserta seluruh Suku Naga. Sebuah Pil Darah Abadi dicuri oleh Dewa Tidur untuk diberikan kepada Dewa Malam. Dewa Malam menggunakan Pil Darah Abadi dan membuat Binatang Langit mengacau di semua kesembilan alam langit.
Kekacauan pun terjadi dan Dewa Naga dituduh oleh Dewa Phoenix sebagai pelaku pengendali Binatang Langit. Dewa Naga dan Suku Naga pun akhirnya diserang oleh Dewa Malam dan Dewa Phoenix bersama dengan sekutu Dewa Kecil lainnya. Peperangan para Dewa pun akhirnya terjadi, yang di kemudian hari dikenal sebagai Era Dewa Jatuh.
Pada akhirnya, Dewa Naga dikutuk menjadi manusia, keabadiannya dimusnahkan, bersama Suku Naga terusir dari Alam Besar. Semenjak itu, Alam Besar yang terdiri dari sembilan bagian alam tidak dihuni lagi oleh seekor Naga pun.
Setelah Dewa Gelap dan Dewa Cahaya juga dikutuk dan diusir dari Alam Besar. Alam itu akhirnya dikuasai oleh Dewa Phoenix, dia menjadi Kaisar Langit, hingga saat ini. Di bawah kepemimpinannya, Alam Besar yang terdiri dari sembilan alam langit dibagi menjadi tiga bagian inti.
Bagian Pertama, terdiri dari dua alam langit. Alam Langit Pertama dan Alam Langit Kedua. Keduanya dikenal sebagai Tanah Surgawi Kecil.
Bagian Kedua, terdiri dari tiga alam langit. Alam Langit Ketiga, Keempat dan Kelima. Ketiganya dikenal sebagai Tanah Abadi Surgawi.
Bagian Ketiga, terdiri dari empat alam langit. Alam Langit Keenam hingga Kesembilan. Keempatnya dikenal sebagai Kekaisaran Surgawi Abadi.
**
Di kehampaan yang luas, yang memisahkan antara Alam Kecil dan Alam Besar.
Terdapat sembilan sungai yang terbuat dari gugusan bintang-bintang, berkedip-kedip di tengah kehampaan yang gelap dan dingin, sungai itu disebut sebagai Sungai Bintang Kehampaan, merupakan penghubung antara Alam Kecil dan Alam Besar. Semua cabang dari sungai itu bermuara di sebuah Laut yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang tidak terhitung banyaknya, Laut Sembilan Bintang namanya.
Saat ini, di salah satu aliran Sungai Bintang Kehampaan, sesosok makhluk tengah tertidur di atas sebuah bongkahan besar batuan langit. Dia terombang-ambing terbawa arus sungai berbintang. Tubuhnya sudah membeku, tertutup es yang tercipta dari dinginnya kehampaan. Tidak bisa memastikan apakah itu Dewa, Manusia, atau Binatang Langit, bentuknya mirip gabungan ketiganya.
Kuku-kuku jari tangannya hitam dan sangat tajam, serupa dengan bilah sebuah pedang. Rambutnya putih seputih salju. Setengah tubuh makhluk itu berbulu seperti Kera dan ekornya bersisik seperti ekor Naga. Tubuhnya juga besar, dengan kulit tebal seperti seekor Gajah. Sebuah Tongkat Emas bercahaya berdiri di sebelah Makhluk itu, menancap dalam ke dalam batuan langit.
Tongkat Emas itu adalah Tongkat Emas Naga Kembar dan Makhluk itu adalah Gofan. Mereka berdua sudah mengarungi Sungai Bintang Kehampaan selama beberapa puluh tahun. Jarak antara Alam Kecil dan Alam Besar sangat besar, tidak heran jika membutuhkan waktu selama itu hingga keduanya sampai di Laut Sembilan Bintang.
Mereka terombang-ambing begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi, jika tidak beruntung mungkin akan menghabiskan lebih dari ratusan atau bahkan ribuan tahun untuk sampai ke Laut Sembilan Bintang.
Saat Gofan mendekat, terlihat dua orang tengah berdiri di atas sebuah Kapal Langit. Keduanya mengawasi setiap aliran Sungai Bintang Kehampaan. Keduanya adalah Penjaga garis depan, Laut Sembilan Bintang.
“Hei lihat!... Cahaya apa itu?.” Salah seorang penjaga yang berdiri di atas geladak Kapal Langit melihat cahaya yang mendekat ke arah keduanya.
“Cahaya itu... Itu Tongkat Emas?! Itu pasti senjata yang berharga. Mari kita lihat!.” Seru seorang penjaga lainnya dengan mata berbinar.
Satunya kurus dan satunya lagi gemuk. Keduanya memakai Pakaian serba putih, dan ada gambaran sebuah bintang emas di masing-masing kerah baju mereka. Keduanya terlihat sebaya, seperti baru berusia 20an tahun, tapi untuk memastikan berapa usia asli keduanya, tidak bisa dipastikan. Bagaimana pun, keduanya adalah seorang Dewa Kecil.
__ADS_1
*Zyuut* Keduanya meluncur bersama dengan Kapal Langit itu. Di Lautan berbintang, Kapal Langit terlihat bercahaya seperti sebuah komet kecil. Dalam sekejap mata, mereka tiba di depan Gofan.
Keduanya meluncur turun dari Kapal dan mendarat di atas permukaan batuan langit.
“Ini!? Apakah ini kuburan Styx? Kenapa ada seekor Styx membeku di sini?.” Tanya yang bertubuh gemuk, menatap heran melihat Gofan di dalam lapisan Es.
“Makhluk ini mungkin bukan dari Alam Besar. Styx ini tidak memiliki Aura Surga, dia pasti bukan dari Tanah Surgawi Kecil. Sepertinya dia sudah mati.” Sahut yang lebih kurus.
Si gemuk menggelengkan kepalanya, “Terserah... Mau dia Styx dari sini atau bukan. Tongkat ini pastinya bukan senjata biasa.” tatapnya penuh keserakahan.
“Wuya.. Sebaiknya kita lupakan saja.” Sahut si Kurus, setelah melihat bentuk tubuh Gofan yang menakutkan, rasa takut membuatnya ragu.
“Tengfei. Apa kamu takut dengan bangkai Styx ini? Dia sudah mati.. Ini kesempatan besar. Dengan senjata ini, aku Song Wuya, tidak akan lagi menjadi Petugas Penjaga Garis Depan.” Si Gemuk menepuk dadanya dengan keras, dengan bangga menyebut namanya, Song Wuya.
Si Kurus hanya mendesah pelan, keduanya berasal dari Klan yang sama, yaitu Klan Song. Namanya Song Tengfei.
Song Wuya mengepalkan tinju dan memukul keras lapisan Es yang mengurung Gofan dan Tongkat Emas.
Ledakan terjadi! BANG!! Lapisan Es pecah dan hancur berkeping-keping.
“Lihat...” Tunjuk Song Wuya ke arah Gofan yang tidak bergerak setelah ledakan Es terjadi, “Makhluk ini sudah menjadi bangkai.. Apa yang kamu takutkan? Hahaha.” Tawanya, bergegas menggenggam Tongkat Emas Naga Kembar, berusaha menariknya keluar dari dalam batuan langit.
BOOOMMMMM!!!
“KURANG AJAR!! Beraninya menyentuhku dengan tangan kotormu itu.” Suara Haiwa menggelegar, suara itu muncul dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar dan menghentak udara. Membuat sebuah serangan kejut muncul dan menghantam Song Wuya.
Song Wuya terdorong jatuh, dia berguling-guling di batuan langit. Tubuhnya yang gemuk membuatnya terlihat seperti roti isi daging yang menggelinding di batuan langit.
Sementara, Song Tengfei terkejut dan mundur beberapa puluh langkah, “Se-Sebuah Roh Senjata?!.” pikirnya, “Se-Senior. Maafkan kami. Kami tidak-.”
“Tengfei!!.” Teriak Song Wuya menyela ucapan Tengfei, “Itu hanya Roh Senjata.. Apa yang perlu ditakutkan?, kita taklukan dan buat dia menjadi milik kita! Tuannya sudah menjadi BANGKAI, dia hanya benda tanpa pemilik!.” Teriak Wuya sembari menghapus darah di sudut bibirnya.
Meski terluka, Song Wuya masih percaya diri, lukanya hanya terjadi karena dia tidak siap menghadapi serangan kejut mendadak itu. “Jika aku lebih siap. Kamu bahkan tidak akan bisa melukaiku.” Imbuhnya dan meluncur ke arah Haiwa.
“Wuya....” Ucap Tengfei berusaha mencegahnya. Tapi semua itu terjadi begitu cepat, suaranya bahkan tidak dihiraukan Song Wuya.
Bang! Bang! Bang!
Song Wuya bertarung mati-matian melawan sebuah Tongkat Emas. Tongkat Emas dan Pria Gemuk bertarung maju mundur melayang di atas batuan langit. Suara ledakan menggema di dalam kehampaan.
Setelah hitungan untuk membakar sebatang dupa, wajah Song Wuya mulai menunjukkan ekspresi tidak enak dipandang, wajahnya pucat. “Tengfei! Apa kamu hanya akan menonton saja?! KEMARI! bantu aku!!.” Raung Wuya sembari terus menerus menahan pukulan keras dari Tongkat Emas Naga Kembar.
__ADS_1
Mendengus dingin, Tengfei menggelengkan kepala dan dengan terpaksa melesat ke kehampaan, membantu Wuya menaklukkan Tongkat Emas.
**
“Sial! Sial! Sial!... Roh Senjata itu begitu gigih. Tuannya sudah mati, tapi dia berkeras tidak ingin ditaklukkan.” Keluh Song Wuya, seluruh badan gemuknya berhias memar dan bengkak, dia terluka parah, bahkan beberapa tulang rusuknya patah.
“Kamu terlalu gegabah.. Jika kita tidak memiliki Kapal Langit, kita mungkin tidak bisa kabur dari serangan Tongkat Emas itu.” Sahut Song Tengfei, keadaannya tidak berbeda jauh, tangan kanannya bahkan patah karena berusaha melarikan diri saat dikejar Haiwa.
Setelah keduanya bergabung dan menyerang Haiwa, tidak satu pun dari keduanya memiliki kekuatan yang cukup untuk menaklukkannya. Hingga pada akhirnya keduanya memutuskan kabur dan meninggalkan batuan langit.
“Masalah ini belum selesai. Tunggu saja, aku sudah mengabarkan berita ini pada Tetua Klan, dia pasti akan datang untuk menaklukkan senjata sialan itu.” Geram Song Wuya saat Song Tengfei hanya bisa mendesah mendengar amarah saudara satu Klannya itu.
Kembali ke batuan langit... batuan langit itu kini melayang di atas hamparan Laut Sembilan Bintang.
Haiwa merasa beruntung, kedua Dewa Kecil itu telah membebaskannya dari lapisan Es yang membuatnya tertidur. Dia menyalurkan Energi Kehidupannya untuk membangunkan Gofan. Ketika Gofan terbangun, Haiwa menjelaskan semua yang telah terjadi termasuk kedatangan dua Dewa Kecil itu.
Gofan menghela napas mendengar penjelasan itu, dia bahkan tidak menyadari dirinya telah mati di tangan Dewa Gelap. Kekuatan gabungan Mata Surga dan Mata Iblis masih saja membuatnya kehilangan kesadaran, “Terima kasih Dewa... Jika bukan karena Pohon Bencana yang menyerap Energi Surgaku... Aku mungkin masih bisa hidup kembali setelah meledak...” Batin Gofan berterima kasih atas bantuan Tianyuan dan Tian Baixiang.
“Tuan. Sekarang kita berada di Alam Besar, di Bagian Pertama dari tiga bagian inti langit, Tanah Surgawi Kecil.” Ucap Haiwa.
“Alam Besar..Tanah Surgawi Kecil...” Batin Gofan sembari memperhatikan semua kemegahan bintang-bintang di Laut Sembilan Bintang.
Gofan benar-benar terpukau melihat semua pemandangan di sekitarnya. Semuanya, sejauh dia memandang hanya ada kehampaan yang tidak berujung, sangat dingin dan gelap kecuali di beberapa tempat yang diterangi oleh sinar bintang-bintang yang berasal dari Matahari.
Baik Alam Besar dan atau Alam Kecil berbagi Matahari dan Bulan yang sama, tapi Matahari dan Bulan di Alam Besar terlihat jelas, seperti batuan besar yang maha agung, sangat dekat jika dibandingkan dengan penampakan mereka di Alam Kecil, keduanya melayang jauh di kehampaan, menerangi bagian gelap di sana dengan cahaya keunguan.
Tidak ada langit biru berawan seperti di Alam Kecil, hanya batuan-batuan langit dan cahaya keunguan terang yang terlihat membentuk langit awan ilusi, sehingga langit di Alam Besar terlihat seperti langit ungu yang disebut sebagai Langit Violet.
Berkat penjelasan Haiwa, Gofan tahu tentang Kehampaan, Sungai Bintang Kehampaan, Laut Sembilan Bintang dan Tanah Surgawi Kecil yang merupakan gabungan dua alam langit. Dia akhirnya menyadari bahwa Gerbang Dewi Ruyi ternyata tidak mengantarkannya langsung ke kediaman Dewi Ruyi.
“Ini lebih baik daripada langsung muncul di kediaman Dewi itu.” Pikir Gofan sembari menatap sedih pada bentuk tubuhnya yang menakutkan. Sekarang dia bisa bergerak dan tidak perlu terbaring kesakitan di atas tempat tidur seperti sebelumnya, tapi dia masih dipusingkan dengan cara untuk mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula.
“Haiwa. Kita akan kemana? Apa kita akan terus mengikuti kemana batuan ini membawa kita?.”
“Tidak Tuan. Dengan bentuk tubuhmu saat ini, yang terbaik adalah pergi ke Hutan Iblis Langit. Di sana ada kehidupan yang mirip dengan bentuk Tuan sekarang, mereka disebut Styx.” Sahut Haiwa dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar.
Dengan begitu, satu Tongkat Emas dan seekor Makhluk mirip Styx, pergi melintasi Laut berbintang menuju ke sebuah Hutan di Tanah Surgawi Kecil.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca (Musim II) Pendekar Sembilan Langit. Like jika kalian suka.
__ADS_1