
Daerah Pinggiran Gurun Tinta.
“Kita akan mendirikan kemah di sini malam ini, besok pagi kita akan mulai menjelajahi Gurun Tinta. Siapkan tenda kalian!.” Seru Chen Feng pada anggota kelompok lainnya.
“Baik Ketua.”
Kurang lebih seminggu perjalanan, Gofan akhirnya tiba di luar Gurun Tinta.
Jiang Mulan mendatangi Gofan tiga hari sebelumnya. Dari tiga tetua Serikat Dewa Obat, Jiang Mulan menerima kabar bahwa Gofan pergi untuk menjelajah Gurun Tinta, karena itu, kini dia juga berada di pinggiran Gurun Tinta, bersama dengan kelompok Chen Feng.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah menyelesaikan pembuatan obatnya?.” tanya Jiang Mulan. Dia berdiri di sebelah Gofan yang sedang mendirikan tenda.
“Seharusnya besok aku sudah bisa menyelesaikannya.” sahut Gofan usai mendirikan tenda miliknya, dia menoleh ke arah Jiang Mulan, “Nannan. Kamu tidak ada tenda, apa kamu ingin tidur bersamaku? jika kamu memintanya, aku akan mengizinkanmu. Aku sama sekali tidak keberatan.” senyum Gofan.
“Entah kenapa bocah ini memaksa memanggilku dengan sebutan 'Nannan'? jika saja dia bukan Alkimia Master, aku pasti akan menghajarnya... Tapi kenapa panggilan itu terdengar akrab di telingaku?.” Mata Jiang Mulan sedikit melebar, “Huh... Aku di sini untuk Pil Penangkal Iblis, bukan untuk menghiburmu, aku bisa tidur dimana saja, kamu tidak perlu khawatir... Kenapa juga kamu harus berpergian bersama kelompok kecil ini? Sungguh merepotkan, aku sampai harus mengejarmu kemari.”
“Chen Feng itu teman yang baik, lagi pula tidak ada salahnya aku mencoba mencari peruntungan di Gurun ini. Bukankah Cabang Klan Jiang juga mendirikan kemah di barat sana? Apa kamu akan pergi bersama mereka?.”
“Aku tidak tertarik. Aku pergi dulu, besok pagi aku akan mencarimu untuk meminta penawarnya.” Jiang Mulan berbalik dan menghentak kakinya, dia melesat terbang ke arah barat.
“Jelas-jelas dia pergi ke arah perkemahan Cabang Klan Jiang, tapi masih bilang tidak tertarik... Haih....” Gofan menggeleng pelan dan masuk ke dalam tenda.
**
Di dalam Tenda...
“Menurut informasi dari Paviliun Pedang Surgawi. Hari ini seharusnya Tuan bisa menyelesaikan ekstraksi Kerang Ajaib ini. Tuan hanya perlu menambahkan setetes darah keturunan Suku Naga untuk menyelesaikannya. Tapi kenapa Tuan menghentikannya?” Haiwa melihat Gofan menyimpan kembali Menara Dewa Naga yang sudah hampir jadi.
“Paviliun Pedang Surgawi ini sangat mencurigakan, mereka memiliki catatan lengkap tentang semua hal yang berkaitan dengan Menara Dewa Naga. Banyak keuntungan yang bisa mereka dapatkan jika mereka mencarinya... Tapi lihat, mereka menjual informasi ini, bukankah itu aneh?.”
“Maksud Tuan. Mereka sedang mematai-matai Tuan? dan seandainya Tuan berhasil menyelesaikan Menara Dewa Naga, mereka akan menyergap dan mengambilnya?.”
__ADS_1
Gofan mengangguk, beberapa hari belakangan dia terus merasakan ada mata yang mengintainya dalam gelap. Tapi karena ranah budidayanya yang rendah, dia tidak bisa memastikannya.
“Demi menghindari mata-mata Paviliun Pedang Surgawi, aku akan menyimpan dulu Menara Dewa Naga. Setelah aku lebih kuat, aku baru akan menyempurnakannya...”
Kemudian, Gofan mengeluarkan sebuah tungku yang rusak. Itu Tungku Arcana, yang sebelumnya berhasil disimpan kembali oleh Gofan sesaat sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri saat tubuhnya diserap oleh Raja Iblis 'Kekacauan Utama'.
“...Untuk sekarang, sebaiknya aku menyiapkan obat yang diminta Xionan.”
Beberapa ramuan herbal muncul satu demi satu, masuk ke dalam Tungku Arcana.
Dengan menggunakan Seni Tiga Api Aneh, Gofan memanfaatkan Api Samadhi pemberian Xionan untuk menyuling semua herbal tersebut.
*Bhuurrr* Api menyala-nyala.
Haiwa menatap nyala Api Samadhi yang digunakan Gofan, “Nona Xionan sepertinya sudah bukan orang yang sama lagi. Dia bahkan mampu mendapatkan Api Samadhi tingkat satu seperti ini. Belum lagi budidayanya berkembang dengan sangat pesat. Sepertinya, tidak lama lagi Tuan akan tertinggal jauh di belakangnya.”
Gofan menghela napas pelan, “Benar. Dia sepertinya tidak memandang kemampuanku. Bahkan dia pergi sendiri untuk mendapatkan Api Samadhi ini... entah Binatang Langit seperti apa yang dia hadapi untuk mendapatkannya. Untungnya dia bisa kembali dengan selamat.”
Setelah ratusan hela napas berlalu, Gofan berhasil membuat 30an Pil berwarna merah kehitaman.
“Tuan. Benarkah ini Pil Penangkal Iblis?.”
Gofan tersenyum, seperti menahan tawa, “Tidak ada Pil semacam itu... Ini hanyalah Pil Penguat Jiwa yang aku tambahkan beberapa tetes darah Gu Bai. Sebenarnya menggunakan darah Iblis adalah penangkal untuk Kemampuan Ilahi itu.” dengan kibasan tangan, Gofan menyimpan semua Pil tersebut ke dalam tiga buah botol obat.
“Tuan memang jenius... berarti sisa herbal itu memang dia siapakan untuk meningkatkan budidaya tubuhnya.. Haih... Ini salah tapi tidak juga, budidaya tubuhnya menuntut harga yang tinggi.” Haiwa tersenyum sedikit masam sembari menatap Buah Persik Surgawi yang mulai dimakan Gofan.
“Kenapa? Apa kamu berpikir aku ini licik?.” Gofan heran melihat senyum aneh di wajah Haiwa.
“Tidak... Tidak... Ini hanya sedikit tidak manusiawi, selama tiga hari ini Tuan sudah memakan lebih dari 10.000 buah Persik itu, tapi belum ada tanda-tanda penerobosan.”
“Ini juga membuatku sedikit pusing. Semua energi buah ini memang diserap oleh tubuhku, aku merasakan sensasi energinya memenuhi seluruh tubuhku. Tapi kemudian energinya menyebar dan menghilang di dalam tubuh ini. Sepertinya aku perlu mencari cara lainnya? Setidaknya aku mungkin perlu sebuah Pil setingkat Pil Abadi.” Gofan menggaruk kepalanya dan sedikit menghela napas lalu melanjutkan menghabiskan buah persik di tangannya.
__ADS_1
Haiwa menggangguk setuju. Memang untuk menerobos ke tahap yang lebih tinggi akan lebih cepat jika mengkonsumsi Pil berkualitas tinggi. Di alam pengajaran Alkimia, dikenal enam tingkatan Pil. Terdiri dari dua tingkat kualitas rendah, dua tingkat kulaitas menengah, dan dua tingkat kualitas tinggi. Tapi dengan kemampuan Alkimia Gofan saat ini, dia hanya mampu membuat Pil dengan kualitas menengah.
Malam pun berlalu. Keesokan harinya, seorang utusan yang dikirim Jiang Mulan tiba pagi-pagi sekali untuk meminta Pil Penangkal Iblis. Utusan itu bergegas kembali ke Cabang Klan setelah menerima dua buah botol Pil dari Gofan.
Gofan sempat medesah kecewa, yang datang ternyata bukanlah Xionan.
***
Di Gurun Tinta.
“Seharusnya, di depan sana adalah lokasi yang kita tuju.” tunjuk Chen Feng ke arah barat Gurun Tinta, “Saudara Fan tenang saja, jika nanti ada Binatang Gurun, serahkan saja pada kami. Aku pasti akan melindungi keselamatanmu.”
Di antara semua anggota yang direkrut Chen Feng, Gofan adalah yang terlemah dalam ranah budidaya, karena itu Chen Feng begitu memperhatikan keselamatan Gofan. Seorang pemimpin yang baik.
“Saudara Feng. Apa yang kita cari di sana?.” Gofan terus melihat kelompok-kelompok lain yang juga menuju ke arah yang sama. Itu membuatnya penasaran.
“Di depan ada sebuah jurang, orang-orang menyebutnya Jurang Sastra.”
Jurang Sastra itu adalah tempat dimana dulu seorang Dewa Sastra, ahli Totem Dewa dan Formasi Langit meninggal. Gurun ini tercipta dari cipratan tinta kuas milik Dewa Sastra itu.
“Jadi memang ada pertemuan beruntung.” gumam Gofan pelan.
“Bukan sekedar pertemuan beruntung, ada warisan yang ditinggalkan oleh Dewa Sastra itu... Putri Suci, Li Yuan adalah orang pertama yang menemukan tempat ini. Katanya dia sedang mencari seekor Styx aneh, tapi siapa sangka dia akan menemukan Kuas Suci Bulu Angsa milik mendiang Dewa Sastra di dekat jurang, lalu setelah dia mengintegrasikan Jiwanya dengan Senjata Dewa itu dia menerima petunjuk tentang warisan ini.”
“Li Yuan?! Sial... Dia masih belum menyerah mencariku.” batin Gofan sesaat sebelum kembali bertanya kepada Chen Feng, “Kenapa Li Yuan harus membagi informasi warisan itu pada semua orang ini? Bukankah lebih baik jika dia mengambil semua untuk dirinya?.”
Mendengar itu, Chen Feng tertawa, Hahaha.... “Benar... Aku juga sempat berpikir demikian. Tapi pada kenyataannya, ketika Li Yuan mengambil Senjata Dewa itu, seekor Binatang Langit, Kelabang Mata Empat, yang menjaga senjata itu bertarung dengannya selama beberapa hari dan penduduk sekitar Gurun menyimak hal itu. Dari sanalah berita mengenai Kuas Suci Bulu Angsa menyebar. Kemudian Kerajaan Xingchen Dansheng menuntut pembagian yang adil, jadi demi keadilan bersama, selain Kuas Suci Bulu Angsa, warisan lainnya akan diperoleh berdasarkan keberuntungan masing-masing.”
“Siapa yang mengatur semua ini?.”
“Siapa lagi kalau bukan Aliansi Pendalaman Musim.”
__ADS_1
Bersambung...