
" Semua harta bendamu ada di dalam cincin ini. Ayo... Sini ambil ! " Imbuh Xiolingling kepada Lixiayo.
Meski Xiolingling terlihat seperti seorang gadis kecil yang baru berusia sepuluh tahunan, tetapi sebenarnya dia adalah seorang nenek tua yang telah berusia lebih dari 100 tahun.
" Putri. Apa yang terjadi? Apakah benar batu yang aku ambil sebelumnya itu palsu? " Tanya Xiong Ma.
Xiong Ma tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Xiong Ma hanya kaget ketika dia melihat Lixiayo mengeluarkan batu dan pasir dari Cincin Dimensinya.
" Haih... Batu yang diterima Putri itu jelas-jelas palsu. Itu adalah ulah gadis kecil itu. Gadis kecil itu adalah si Replikan, salah satu dari Tujuh Penyihir Keajaiban... "
" Dia itu ahli replika nomor satu di seluruh Benua Penda, yang paling membahayakan dari kemampuannya adalah sihir ruang miliknya... "
" Selama benda replika buatannya ada di suatu tempat, dia akan bisa mengetahui lokasi tempat itu dan bisa merampok seluruh harta benda di tempat yang sama dengan tempat keberadaan benda replika buatannya itu " Sahut Qingwahong dengan nada sedikit pelan mirip seperti berbisik kepada Xiong Ma.
Lixiayo masih tertegun diam dia tidak menyangka, batu berwarna perak tersebut adalah replika buatan Xiolingling. Benar-bemar mirip dengan Batu Mahkota yang asli. Selain itu, karena batu replika itu adalah portal ruang, maka dengan mudah bagi Xiolingling untuk merampok semua isi Cincin Dimensi milik Lixiayo dan menukarnya dengan batu biasa dan pasir.
" Oh.. Ternyata kamu cukup berwawasan juga ya pria tua. Benar sekali, aku si Replikan dan setiap benda replika buatanku adalah portal ruang penghubung jurusku... "
" Jadi bagaimana? Mau ambil cincin ini atau tidak? Ayo... Sini Ambil ! " Tantang Xiolingling kepada Lixiayo.
*Triung*
Lixiayo yang geram segera menghunuskan pedang miliknya ke arah Xiolingling. Dia segera maju dan menyerang gadis kecil tersebut.
Xiolingling tidak tinggal diam. Melihat Lixiayo menyerang ke arahnya, dia segera mengibaskan selendang biru di pinggangnya dan melayang terbang setinggi 15 kaki dari atas permukaan tanah.
" Jangan pikir dengan terbang kamu bisa menghindar dari serangan ku ! " Lixiayo mengalihkan serangan pedangnya ke arah atas dan melompat tinggi menyerang ke arah Xiolingling.
" Wah... Kamu bisa terbang juga ya? Hebat ! Belum di ranah Human God, tapi sudah bisa terbang " Ucap Xiolingling ketika melihat Lixiayo menyusulnya terbang.
Setelah melompat Lixiayo tidak jatuh kembali, melainkan melayang terbang di hadapan Xiolingling.
Xiolingling sudah membaca tingkat budidaya Lixiayo dan kedua anak buahnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang setingkat dengan dirinya. Xiolingling baru saja berhasil mencapai ranah Human God tahap awal setelah menjalani latihan tertutup selama hampir 40 tahun.
Hanya para pendekar yang telah mencapai ranah Human God yang kemungkinan besar mampu meringankan tubuhnya hingga bisa melayang terbang, semua tergantung dari bakat dan kemampuan mereka.
" Katakan padaku.. Apa rahasiamu? Bagaimana caramu bisa terbang meski kamu masih di ranah Grand Master? " Tanya Xiolingling sembari menangkis serangan pedang Lixiayo dengan selendang biru miliknya.
' Apa-apan selendangnya ini? Selendang ini bahkan lebih keras daripada pedang milik ku ' Batin Lixiayo ketika tangannya bergetar saat pedang miliknya ditangkis oleh selendang Xiolingling.
" Ayolah... Jangan pelit-pelit. Katakan padaku, bagaimana caranya? "
" Berisik ! Kembalikan harta benda ku Nenek Sihir !! " Teriak Lixiayo sembari terus mengayunkan pedang miliknya ke arah Xiolingling.
__ADS_1
*Duagh*
" Ukh.... " Lixiayo terpukul mundur hingga memuntahkan darah, saat Xiolingling menghentakkan selendang biru miliknya.
' Hanya hentakan pelan selendangnya, bisa melukaiku seperti ini... ' Pikir Lixiayo sembari mengelus dadanya yang terasa nyeri akibat hentakan dari selendang Xiolingling.
" Kamu gadis kurang ajar. Aku tanya baik-baik tapi kamu justru menghinaku. Mati !! " Xiolingling benar-benar marah. Xiolingling paling tidak suka jika dirinya dipanggil dengan sebutan Nenek Sihir.
" Rule "
Angin kencang berputar-putar di sekitar tubuh Xiolingling bersamaan ketika dia melakukan suatu jenis tarian aneh dengan selendang biru miliknya.
*Wuzz*
Angin kencang tersebut memadat dan menjelma menjadi berbentuk seperti tubuh manusia. Beberapa manusia angin kini menari-nari mengitari Xiolingling. Mereka menari serasi dengan gerakan tarian yang dilakukan Xiolingling.
" Rule Deaduns Magy "
*Zyuut*
Satu per satu manusia angin tersebut menyerang ke arah Lixiayo. Lixiayo yang masih terbang, terombang-ambing oleh serangan para manusia angin kiriman Xiolingling.
Berkali-kali Lixiayo menebas ke arah para manusia angin tersebut, namun tidak ada yang berhasil melukai atau menghancurkan manusia angin tersebut. Setiap serangan pedang Lixiayo hanya menembus mereka. Sementara itu luka demi luka kini bermunculan di tubuh Lixiayo.
Beberapa saat setelah Lixiayo terbang menyusul Xiolingling. Burka segera menyerang Xiong Ma dan Qingwahong bersama dengan tiga rekan-rekannya dan puluhan pendekar berpakaian serba hitam yang telah mengepung gubuk tersebut.
Guna menghadapi serangan masal tersebut, Qingwahong membentuk segel tangan dan mengerahkan jurus formasi andalannya untuk mencegah pasukan Burka mengacaukan rencana mereka.
" Formasi Tanah Lumpur "
Tanah di sekitar gubuk segera berubah menjadi lumpur hisap dan menelan beberapa para pendekar berpakaian serba hitam yang hampir saja berhasil mencapai gubuk.
" Mundur ! Jangan sampai kalian menginjak lumpur itu !! " Teriak Burka ketika melihat formasi tersebut.
" Bagaimana ini? Kita tidak bisa menyerang mereka.. Lumpur ini mengelilingi mereka " Ucap Rajhu.
Sekarang Qingwahong dan Xiong Ma tepat berada di depan gubuk. Lumpur hisap mengelilingi mereka dan gubuk itu. Sehingga tidak satu pun kelompok Burka yang bisa masuk ke dalam gubuk sebelum berhasil melewati lumpur hisap buatan Qingwahong tersebut.
" Kalian ! Coba melompat dan seberangi lumpur itu ! " Seru Shingha kepada dua orang pendekar berpakaian hitam yang ada di sebelah kirinya.
Kedua pendekar itu mengangguk dan melompat setinggi yang mereka bisa.
" Percuma saja ! " Ucap Xiong Ma sembari membuat segel tangan.
__ADS_1
" Pukulan Tinju Pasir "
Xiong Ma merubah kedua tangannya menjadi debu-debu putih berbentuk tinju yang menyerang tepat ke arah kedua pendekar tersebut.
*Duagh*
"Arrgghh !"
Kedua pendekar berpakaian hitam itu terkena hantaman tinju dari serangan debu putih Xiong Ma. Mereka berdua jatuh tepat di atas lumpur hisap dan tewas terhisap ke dalam lumpur tersebut.
Xiong Ma tertawa puas melihat kematian kedua pendekar berpakaian hitam tersebut, " Melompatlah lebih tinggi dan coba rasakan kematian yang sama seperti mereka ! "
" Ba***at ! " Teriak Shingha dalam bahasa Meghalaya saat dia melemparkan tombak yang dia keluarkan dari Cincin Dimensi miliknya.
*Tyuung*
Tombak itu dialiri oleh tenaga dalam Shingha dan melesat dengan cepat ke arah Xiong Ma.
" Dinding Pasir "
Xiong Ma menyilangkan kedua tangannya kemudian kedua tangannya tersebut kembali berubah menjadi debu-debu putih. Kali ini debu-debu putih itu lebih padat daripada sebelumnya dan membentuk sebuah tameng pasir yang melindungi Xiong Ma dari serangan tombak Shingha.
Xiong Ma berhasil menangkis serangan Shingha, namun ternyata serangan itu adalah pengalih perhatian. Saat Shingha melempar tombaknya, dia juga berlari dan melompati lumpur hisap Qingwahong.
Qingwahong sendiri tidak sempat mencegah Shingha untuk melompat, karena dia merasa bahwa Xiong Ma sendiri bisa mengatasi serangan tombak tersebut. Qingwahong tidak berpikir bahwa serangan tombak itu hanyalah pengalih perhatian.
" Tapak Dewa Batu "
Shingha menyerang Xiong Ma dengan serangan telapak tangannya. Telapak tangan Shingha terlihat berubah mejadi menyerupai telapak tangan sebuah patung batu.
*Duagh*
Serangan tapak tersebut berhasil memukul mundur Xiong Ma beberapa langkah. Namun tidak sampai membuat cedera parah pada tubuh Xiong Ma.
" Nyayian Kodok Musim Dingin "
Qingwahong memposisikan tubuhnya di atas tanah mirip dengan posisi seekor kodok yang hendak melompat. Bagian bawah dagu Qingwahong mengembung dan mengempis saat dia berkali-kali menarik dan mengeluarkan udara.
*Zplash*
Qingwahong memuntahkan beberapa serangan bola udara berisi lendir hijau dari dalam mulutnya ke arah Shingha.
Bersambung...
__ADS_1