
“Guru. Benarkah itu Dewa Gelap? Bagaimana mungkin dia masih hidup?.” Ucap Seorang pria tua berambut merah menyala, wajahnya tua dan dipenuhi kerutan, tetapi tubuhnya justru terlihat kekar dan bugar. Dia terbang, duduk di atas kepala seekor Sanca Ekor Api.
Orang yang dipanggil Guru oleh Pria tua berambut merah tersebut, duduk terbang mengendari sebuah Batu yang tampak biasa saja. Pandangannya menatap lurus ke depan saat angin kencang menyibak rambut putihnya. Dalam kedua matanya bisa dilihat kedalaman kebijakan dan kesabaran, ada taburan bintang cerah di setiap pandangannya, “Benar. Dewa Bumi Tian Ji sudah memberi kabar tentang itu.” Sahut Guru itu pelan. Itu Suddha, Mahaguru dari Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan dan yang bertanya adalah Petapa Gunung Indrakila, Bharaman.
Di samping mereka, terbang seorang Gadis kecil, tidak mengendarai apa pun, tapi jelas terlihat ada pusaran angin berwarna merah muda yang membawanya terbang. Gadis itu adalah Xiolingling, sepanjang jalan dia terus mengumpat kesal, “Sial! Kalau tahu Raja itu adalah Dewa Gelap, aku tidak akan memberikan Batu itu kepadanya.”
“Sudahlah adik. Siapa juga yang akan menyangka bahwa Raja yang kita dukung adalah dia... Aiya... Nasi sudah menjadi bubur.” Ucap seorang Pria muda mengendarai seekor Rajawali Emas Bertanduk di sebelah Xiolingling. Tampilannya seperti cendikiawan, ada seruling bambu tersemat di pinggangnya, tampaknya dia adalah seorang pemusik.
Enam orang itu terbang dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata orang biasa, bagaimana pun mereka adalah tokoh ternama dari Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan.
Selain Suddha, Bharaman, Xiolingling, Pria muda pemusik, dua orang lainnya adalah seorang Pemuda gemuk dengan daging Makhluk buas di tangannya, sepanjang jalan, dia tidak berhenti makan, duduk di atas sebuah kendi arak raksasa, Pemuda gemuk itu seakan tidak terpengaruh oleh kerasnya terpaan angin.
Satu orang lainnya adalah seorang Pria tuna netra dengan telinga besar, dia terbang di atas sebuah Pedang Raksasa. Pria tuna netra ini diam dengan gagah saat angin menerpa dirinya.
“Mahaguru.. Aku mendengar suara di pesisir Pulau Api, sepertinya Dewa Bumi Tian Ji ada di sana.” Ucap Pria tuna netra. Namanya Boudhia, salah satu dari Tujuh Penyihir Keajaiban. Junior Vasudev.
“Pimpin Jalan.” Sahut Suddha.
Jika orang biasa meminta seorang tuna netra memimpin jalan, itu sungguh keterlaluan, tapi jika itu Boudia, dia bahkan tidak terlihat seperti tuna netra, pendengarannya adalah matanya. Lebih tajam dari pada pengelihatan Pendekar lainnya. Di antara ketujuh Vhala, dia adalah yang paling gesit.
“Baik Guru.” Boudhia memimpin di depan, segera mengarah ke arah tepi luar Pulau Api.
Dua puluh satu napas kemudian, mereka mendarat di tepi luar Pulau Api.
__ADS_1
Seorang Pria tua menyambut kedatangan keenamnya. Pria tua ini berpakaian lusuh dan mengenakan sebuah topi lipat berwarna hijau. Jika dilihat lagi, dia adalah Pendekar tua yang sebelumnya muncul di luar Perguruan Dunia Gelap ketika Lonceng Besar berdentang. Ketika Dewa Gelap pergi menuju Pulau Api bersama Lonceng Besarnya, Pria tua ini tersenyum dan perlahan tubuhnya masuk ke bumi. Dia Dewa Bumi Tian Ji yang disebut Suddha sebelumnya.
“Salam Dewa. Kami bergegas datang setelah Anda memberi berita. Sepertinya seluruh area dalam Pulau ini telah di segel, jika bukan berkat Dewa, kami tidak akan mengetahui apa yang terjadi.” Suddha dan lainnya membungkuk sedikit ke arah Tian Ji.
Tian Ji mengangguk pelan “Ikut aku.” Mulutnya tidak terbuka tapi suara jelas terdengar keluar dari sana. Dia menghentakkan kakinya tiga kali dan sebuah terowongan besar tercipta di depan semuanya, “Masuklah.. Segel Pulau ini tidak bisa kalian hancurkan. Hanya dengan ini aku bisa mengantar kalian ke sana. Aku hanya punya satu permintaan.”
“Sialahkan katakan Dewa.” Sahut Suddha.
“Jangan biarkan Dewa Gelap mengumpulkan semua serpihan Jiwanya. Jika tidak, Era Dewa Jatuh kedua mungkin akan terjadi lagi, Alam Besar dan Alam Kecil akan kembali dalam malapetaka besar.” Ucap Tian Ji sebelum tubuhnya perlahan-lahan masuk kembali ke dalam tanah, menghilang di telan bumi.
**
Di dalam terowongan buatan Tian Ji, Enam orang itu berjalan menyusurinya dengan penerangan dari Elemen Api Bharaman.
“Guru.. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa Dewa Bumi Tian Ji mengatakan mengenai serpihan Jiwa Dewa Gelap?.” Tanya Xiolingling penasaran. Dia ingin tahu, kenapa Raja Litaihwang bisa menjadi Dewa Gelap. Dia masih kesal mengingat Batu Kuasa yang dia serahkan kepada Litaihwang palsu.
“Terlihat akur di permukaan tapi sesungguhnya mereka masih saling bersaing, terutama untuk mendapatkan keabadian, masing-masing mereka ingin kembali ke Alam Besar. Seratus tahun setelahnya, Dewa Gelap bekerja sama dengan pecahan diri Dewa Cahaya di Alam Besar.”
“Dewa Phoenix?.” Celetuk Xiolingling.
“Benar. Ada perjanjian kerja sama di antara keduanya. Itu terkait Perang Para Dewa di Alam Besar. Dengan bantuan Dewa Gelap, Dewa Phoenix berhasil menyerap diri asli Dewa Cahaya dan memenangkan perang hingga menjadi Kaisar Langit.. Tapi dia mengkhianati Dewa Gelap, tidak membantunya menyerap pecahan dirinya di Alam Besar.”
*Krauuk* Suara gigitan, “Pecahan diri Dewa Gelap... Maksud Guru.. Dewa Malam?.” Tanya Pemuda gendut sembari terus menguyah daging yang dibawanya. Namanya Taiyang Yi.
__ADS_1
“Benar. Bukannya membantu Dewa Gelap manyatu kembali dengan pecahan dirinya, Dewa Phoenix justru melukai Titik Pusat Jiwanya. Itu membuat basis budidayanya jatuh.”
“Dia menjadi gila, berusaha menyembuhkan Titik Pusat Jiwanya dengan berbagai cara, hingga dia menemukan Kitab Hati Inti Jiwa yang dapat memulihkan basis budidayanya kembali ke puncak.”
“Kitab Hati Inti Jiwa? Bukankah itu Kitab yang dibuat oleh Leluhur besar Trah Siluman Serigala Mata Biru?.” Kali ini, Pria muda pemusik menyela cerita Suddha, namanya Songduan.
Suddha mengangguk, “Kemungkinan Perang Dunia Siluman adalah ulah Dewa Gelap untuk mendapatkan Kitab itu... Kemudian, dia membuat cerita bahwa Dua Dewa telah menjalani pelatihan abadi di Alam Besar. Kemudian melakukan pelatihan tertutup untuk mempelajari Kitab Hati Inti Jiwa.”
“Tapi di saat terakhir dia gagal. Jiwanya tercerai-berai menjadi beberapa bagian. Sepertinya sekarang dia sudah menemukan semua serpihan Jiwanya dan bersiap kembali ke puncak.” Hembusan napas pelan Suddha mengakhiri ceritanya.
“Tapi Guru.. Ini tidak ada kaitannya dengan Litaihwang? Kenapa dia menyamar sebagai Litaihwang?.” Tanya Xiolingling sedikit kesal.
“Dewa Bumi Tian Ji mengatakan, lebih dari dua puluhan tahun yang lalu sebuah cahaya ungu jatuh dari Alam Besar ke Benua Penda, tapi entah apa itu, yang pasti cahaya itu membuat Dewa Gelap keluar dari latihan tertutupnya, kemudian dia mendirikan Bandit Serigala Biru lalu mendekati Kerajaan Penda.”
“Dia tidak pernah menyembuhkan Litaihwang, melainkan membunuhnya. Semua dilakukan demi Batu Darah, setelah Jiwanya rusak, dia bertahan hidup dengan Energi dari Batu Darah. Dia memerlukan Batu Darah dalam jumlah besar dan hanya Kerajaan yang punya kuasa untuk itu. Mungkin itulah alasannya”
“Sekarang, bersiaplah....” Ucap Suddha saat suara jerit kematian mulai terdengar ketika keenamnya semakin dekat dengan ujung lain terowongan.
Kelima lainnya mengangguk.
Beberapa hela napas setelah itu, keenamnya keluar di dekat Area Turnamen Pulau yang telah menjadi cekungan genangan darah dan tumpukan mayat.
“Kita sampai. Saatnya bertarung! Pertempuran membara di Pulau Api!! Hyaaa!!!.” Raung Bharaman saat seluruh tubuhnya berkobar dengan Api Biru yang sangat amat panas, dia membara!. Raungan semangat pertempurannya membuat semua yang tengah bertarung menoleh ke arah keenamnya.
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih dukungannya. Klik Like jika kalian suka. Semoga terhibur.