
Pertanyaan yang sama juga diajukan oleh orang-orang lainnya. Mereka sebagian besar penasaran dengan Sosok bercahaya. Di saat itu, Cincin Dimensi Gofan bergetar pelan. Kesadarannya ditarik masuk ke dalam Cincin Dimensi, ke dalam sebuah Menara setengah jadi, Menara Dewa Naga. Ketiga orang yang berada di dalam Menara Dewa Naga setengah jadi itu tampak gelisah. Mereka bertiga, tentu saja kelompok Trah Naga, Longwang, Longwei, dan Longyun.
Gofan terkejut, kesadarannya dipaksa masuk ke dalam Menara Dewa Naga setengah jadi. Matanya terperangah ketika melihat ekspresi ketiga orang itu. Ketika dia bertanya ada apa?, ketiganya tampak saling pandang. Ada keraguan di mata mereka. Gofan tentu bisa menebak, kemungkinan ketiganya mengenali Sosok bercahaya.
Dua hela napas berlalu, Longwang menghela napas lainnya sebelum berucap, “Gawat! Ini pasti dia... Ternyata dia masih ada di Alam Kecil!???.”
Longwei melangkah maju, “Tapi... Bukankah seharusnya dia sudah lama mati.. Ini mustahil.”
“Benar Ayah. Ini tidak mungkin dia.” Sambung Longyun.
Mereka menarik kesadaran Gofan hanya untuk melihat mereka bertiga berdebat? tentu saja tidak. “Paman... Ada apa ini? Bisakah kalian menjelaskannya kepadaku?.”
“Dia Dewa...”
“Dewa Gelap.”
Sahut Longwang satu demi satu, kata demi kata. Dia melihat jauh ke layar, di depan mereka sebuah layar cahaya membentang menampilkan situasi di luar. Di layar itu jelas sekali terlihat wajah Sosok bercahaya.
Dahi Gofan mengerut, alisnya menekuk, dan tubuhnya sedikit bergetar. Sekarang dia mengerti semua. Pantas saja Mouhuli juga ketakutan dengan Sosok bercahaya itu. Itu karena dia salah satu Dewa Lalim, Dewa Gelap yang telah memusnahkan Trah Naga di Alam Kecil.
“Tidak mungkin.” Gumam Gofan.
“Memang dia lebih lemah daripada yang diceritakan, tapi ini jelas-jelas Aura Dewa, kekuatan di atas Human God....” Longwang mendesah pelan, “Tapi. Bagaimana bisa dia masih hidup? Bagaimana bisa dia masih ada di Alam Kecil?.”
Banyak yang sudah mengetahui, bahwa kedua Dewa Lalim, Dewa Gelap dan Dewa Cahaya telah pergi ke Alam Besar. Meski pada kenyataannya, mereka telah lama mati. Sisa-sisa Trah Naga tahu hal itu, bahwa mereka gagal melanjutkan tahap budidaya ke Langit Pertama. Bahkan setelah Leluhur Trah Len berhasil, mereka telah lama mati sebelum itu. Jauh sebelum Siluman Kera, Dewa Perang Tianyuan menjadi Dewa, menembus Sembilan Langit. Meski Longwang ragu, tapi dia melihat jelas pedang yang tersemat di pinggang Sosok bercahaya itu, ada karakter 'Kegelapan' mirip gambar bulan terbelah dua. Itu membuatnya menebak, itu... Sosok itu, Dewa Gelap.
__ADS_1
“Tidak penting siapa dia... Kekuatannya jelas menjadi masalah, dan jelas bukanlah teman. Jika benar, dia Dewa Gelap, apa yang dia lakukan sekarang? Apa tujuannya?.” Gofan melihat ke layar, pandangannya beralih pada Lengyue. Kondisi Gadis itu, tidak baik-baik saja. Terlihat sangat pucat. Jika bukan seorang Pendekar, dia mungkin telah lama mati. Setiap hari, sepanjang hari, matanya terbuka seperti orang kesurupan. Melihat itu, tanpa sadar tangannya mengepal erat, ingin sekali membunuh Yuwenhuai yang terlihat senang sekali menghipnotis Lengyue. Siluman mimpi itu duduk bersandar di sebelahnya.
“Lengyue....” Gofan melihat ke arah tumpukan kertas bergambar yang dilukis Lengyue. Tapi dia tidak bisa melihat apa yang dilukis Gadis itu. “Paman.. Apakah mungkin, untuk melihat apa yang dilukis Lengyue?” Tanyanya sembari menunjuk ke arah layar bercahaya.
Saat itu Longwang dan dua lainnya masih ragu dengan tebakan mereka, ketika Gofan memintanya melakukan itu. Longwang mengangguk pelan, tidak menjawab. Dia menjentikkan jarinya dan fokus layar berpindah. Kini, lebih dekat ke arah Lengyue.
“Paman.. Tolong fokuskan pada lukisan di tangan Yuwenhuai.” Tunjuk Gofan ke arah Yuwenhuai. Di layar, Siluman Mimpi itu tampak tersenyum-senyum memilah satu demi satu hasil lukisan Lengyue.
“Ini!????.” Keempatnya terkejut. Apa yang mereka lihat di lukisan yang dipegang Yuwenhuai lebih mirip sebuah perang, tepatnya sebuah pembantaian. Ada gambaran peperangan yang terjadi di dalam kurungan Formasi Tameng Harimau Naga, Area Turnamen Pulau.
“Ini masa depan...” Ucap Gofan.
Gofan memperhatikan sekali lagi dan dia menyadari, ada sekelompok Pendekar lain yang mengepung Area Turnamen Pulau dari sisi luar Formasi. Dia memperhatikan lambang kepala serigala di jubah orang-orang itu. Dia mengenali mereka, “Bandit Serigala Biru...”
Tidak berhenti di sana, dalam lukisan yang dipegang Yuwenhuai, juga terlihat sekelompok Pendekar berdiri di atas tiga buah Alat Terbang. Alat Terbang itu mirip bunga yang melayang-layang di udara.
“Teratai Beku Langit Utara.” Ucap Longwei, “Alat terbang itu ternyata masih ada... Bukan hanya satu. Itu tiga. Bagaimana mungkin!!??”
Teratai Beku Langit Utara, terkenal sebagai Alat transportasi udara di masa Trah Naga masih berjaya. Tapi setelah pertempuran tiga Dewa, alat terbang itu sudah tidak pernah terlihat lagi. Tidak ada yang pernah menggunakannya lagi, sehingga disimpulkan bahwa semua alat terbang itu sudah musnah. Siapa sangka sekarang, ada tiga. Meskipun baru terlihat di lukisan itu. Tapi itu lukisan Lengyue. Lukisan tentang masa depan, pasti terjadi, jika tidak ada elemen lain yang merubah alurnya.
“Siapa orang-orang itu?.” Tanya Longwei tanpa sadar.
Gofan mengetahui mereka, orang-orang yang berdiri di Teratai Beku Langit Utara itu... “Mereka itu... Kultus Abu-Abu.”
Kultus Abu-Abu, organisasi bawah tangan, organisasi rahasia. Sedikit yang tahu tentang mereka, tentang keberadaan mereka. Sekalipun ada yang tahu, biasanya mendapat berita secara rahasia, untuk kerjasama dan tentunya mereka punya kaitan besar dengan kedua Perguruan Trah Darah Murni. Ini tidak sama dengan yang terjadi pada Trah Len. Saat itu, Tianfuzi dan Kultus Abu-Abu memang sengaja mendekati Xinglau dan Xingjiang, demi melancarkan rencana mereka untuk memusnahkan Trah Len. Karena itulah Xinglau dan Xingjiang menjadi tahu tentang organisasi itu, Kultus Abu-Abu.
__ADS_1
Melihat perempuan yang berdiri di atas Alat terbang itu, mata Gofan memancarkan rasa dendam. Dia yang sudah merelakan masa lalu, kini terbakar amarah melihat kemunculan perempuan bergaun merah.
Di lukisan itu, Perempuan itu mengenakan gaun yang sebagian besarnya terbuka, terutama di bagian dada, terlihat angkuh dan sombong. Rambutnya terurai diterpa hembusan angin saat Teratai Beku Langit Utara mengudara. Wajahnya cantik, saat cahaya bulan purnama terlihat menerpanya. “Tungdie.” Gofan menggumamkan nama perempuan itu.
Tungdie, orang yang telah membunuh Ayahnya dan Pamannya. Masih terlihat persis sama dengan penampilan yang diingat Gofan saat dia mengalami ujian di Alam Ilusi Haiwa.
Tidak berhenti di sana, satu demi satu, dia mulai mengenali sosok-sosok yang ada di lukisan itu. Terutama si pengkhianat Trah Len. Orang yang telah membunuh ibunya. Pria paruh baya itu, kini terlihat lebih muda, tubuhnya lebih kekar, tapi ciri-ciri fisiknya sebagian besar masih sama. Tentu Gofan masih mengenalinya.
“Xingmou.” Geram Gofan, tangannya mengepal dan urat-urat hijau terlihat di sana.
Gofan bisa menebak, bagaimana enaknya hidup Xingmou setelah mengkhianati Trah Len. Terlihat jelas di lukisan itu, pakaiannya mewah, banyak ornamen-ornamen Harta Rahasia melingkar di leher dan tangannya, bahkan pedang yang dia bawa, itu bukan barang murah. Menjual dan mengorbankan orang lain untuk kepentingannya sendiri, seperti itulah gambaran hidup Xingmou di mata Gofan. Tubuhnya yang lebih muda tentu berkaitan dengan upah yang dia terima, pasti ada kaitannya dengan tingkat budidayanya. Sayang, itu hanya gambar. Tidak memperlihatkan tingkatan ranah budidaya yang dilukis.
Melihat mereka, membuat amarah yang telah lama diikhlaskan Gofan kembali bangkit. Gofan melihat ke arah ketiganya, “Ini akan terjadi, pada Purnama, Enam hari dari sekarang.” Imbuhnya.
Ketiga lainnya terperangah, mereka tidak menyangka, hanya dari melihat lukisan itu, Gofan bisa menebak kapan akan terjadinya pertumpahan darah itu. Mereka bertiga hanya fokus pada gambar pertempuran yang tergambar di lukisan itu, pertempuran di dalam Area Turnamen Pulau.
“Lihatlah bulan Purnama dibalik awan itu.” Ucap Gofan.
Barulah jelas, dari mana tebakan Gofan itu berasal. Mereka baru memperhatikan gambar bulan purnama yang sebagian tertutup awan gelap di lukisan itu. Enam hari dari sekarang. Pembantaian di dalam kurungan Formasi akan terjadi. Tapi kenapa harus menunggu Enam hari lagi???
Bersambung...
Xinglau dan Xingjiang, anggota Trah Len yang berencana menguasai Trah Len dan menggulingkan kekuasaan Lenhao, Ayah Lenfan-Gofan-. [Episode 39-41].
Tungdie dan Xingmou pertama diceritakan saat Gofan mengalami tiga taruhan, ujian di Alam Ilusi Haiwa untuk menghancurkan segel kutukan Hutan Bambu Kemarau. [Episode 54-60].
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan Semoga Tuhan memberkati.