Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 144. Aktifnya Formasi Sembilan Kutukan Langit


__ADS_3

Vasudev menyadari ucapannya tidak akan mengubah pendirian Gofan. Menurut Vasudev, jika mereka mundur sekarang, pasti akan ada kesempatan lain di masa mendatang. Tapi, keinginan Gofan tidak bisa dirubah lagi, Gofan tidak mau menunda mendapatkan kedua kunci itu.


Dengan berat hati, tanpa berkata apa-apa, Vasudev keluar dari ruangan itu. Vasudev berdiri di luar, tepat di depan pintu batu yang terbuka.


Mendengar langkah kaki Vasudev yang pergi meninggalkan ruangan, Gofan bangkit dan memberi hormat kepada Vasudev, “Terima kasih Guru.”


Vasudev tidak membalas ucapan Gofan. Dia hanya diam berdiri menatap ke arah Gofan.


Gofan membalik badannya dan melangkah mendekati patung batu serigala.


*Bruaak* Gofan mengayunkan tongkatnya dan menghancurkan setengah badan patung batu serigala itu.


*Trek Tek Tek Tek* Suara seperti roda gigi yang berputar terdengar saat lantai di bawah patung batu serigala yang baru saja setengah dihancurkan Gofan itu tiba-tiba meninggi, setinggi empat kaki.


‘Mekanisme tersembunyi?! Ternyata patung ini berfungsi sebagai penahan aktifnya mekanisme tersembunyi di ruangan ini’ Batin Gofan saat dirinya melompat sedikit untuk meraih kedua kunci Gerbang Dewi Ruyi.


*Grooog* Satu hela napas kemudian, pintu batu ruangan itu tertutup dengan sendirinya.


*Sriingg* Bersamaan dengan pintu batu yang tertutup, cahaya merah menyala terang saat ukiran Formasi Sembilan Kutukan Langit aktif.


*Sruug* Tekanan gravitasi yang kuat tiba-tiba menekan tubuh Gofan. Seketika seluruh Energi di dalam tubuhnya lenyap. Gofan terjatuh cukup keras hingga menghantam tanah.


Tekanan gravitasi itu tidak berlangsung lama. Saat tekanan gravitasi itu menghilang, sesuatu yang menyakitkan serasa menghantam bagian dalam tubuh Gofan.


“Ukh....” Gofan memuntahkan segumpal darah usai menyimpan kedua kunci yang berhasil diambilnya.


Setelah memuntahkan darah, tubuh Gofan kehilangan tenaga dalam. Seluruh Energi di dalam tubuhnya seperti disegel oleh sesuatu. Kini Gofan tidak ubahnya seperti manusia biasa tanpa tenaga dalam.


Setelah Formasi itu aktif, hawa keberadaan Haiwa dan yang lain seketika menghilang. Haiwa, Julala, Urore, Xiaobai, dan trah Naga di dalam Kalung Kerang Ajaib, semua mendadak kehilangan kesadaran.


Hal itu membuat Gofan disudutkan pada pilihan untuk mengandalkan dirinya sendiri, ketika satu demi satu Mayat Hidup di hadapannya mulai membuka mata.


“Grooahhh!!”


Melihat dan mencium aroma darah yang dimuntahkan Gofan, mayat-mayat itu menerjang ke arah Gofan.


‘Sial... Aku terlalu gegabah. Tidak ku sangka, tubuhku akan menjadi selemah ini’ Batin Gofan saat dia menghindar dari terkaman beberapa Mayat Hidup.


“Grooahhh!!” Beberapa Mayat Hidup lainnya ikut menerjang, menyerang ke arah Gofan.


*Trang* Gofan menangkis cakaran para Mayat Hidup yang menyerangnya.


“Sial... Semuanya sudah bangkit!.” Ucap Gofan setelah memukul mundur beberapa Mayat Hidup yang sebelumnya menyerang dirinya.


“Grooahhh!!”

__ADS_1


“Grooahhh!!”


“Grooahhh!!”


Lebih dari ratusan Mayat Hidup itu maju menerjang ke arah Gofan.


Beruntung ruangan itu cukup luas, sehingga masih ada celah bagi Gofan untuk menghindar. Gofan berlari ke arah pojok ruangan dan memanjat naik di pojok ruangan tersebut. Kaki kirinya di sudut kiri dinding dan kaki kanannya di sudut kanan dinding lainnya. Sedikit demi sedikit Gofan memanjat naik.


‘Berapa lama aku bisa bertahan seperti ini?’ Batin Gofan sembari menahan napasnya dalam-dalam, saat dia berhasil memanjat hingga ke atas sudut ruangan tersebut.


“Grooahhh!!”


Tidak menemukan jejak napas Gofan, beberapa Mayat Hidup itu saling beradu menjilati jejak darah Gofan yang tercecer di lantai.


Sementara makhluk-makhluk itu kebingungan mencari jejak Gofan. Otak Gofan terus berputar mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah yang sedang mengancam nyawanya.


Di sisi lain, Vasudev yang mendengar suara para Mayat Hidup bangkit, segera mencoba menghancurkan pintu batu di hadapannya.


“Percuma.. Bahkan dengan jurus terkuatku sekali pun, Formasi ini tidak tergores sedikit pun.” Ucap Vasudev setelah beberapa kali mencoba menghantam dan menghancurkan Formasi Sembilan Kutukan Langit yang melapisi ruangan tersebut.


‘Semua sudah seperti ini. Kamu harus segera mencari cara mengeluarkannya atau kamu akan kehilangan muridmu satu-satunya.’ Ucap Haiwa dari dalam Payung Tangisan Surga kepada Vasudev.


“Sial.. Sepertinya aku harus bertanya pada kakek tua itu, mengenai Formasi ini.” Ucap Vasudev saat dia merobek celah ruang dimensi dan pergi menuju ke arah sebuah puncak gunung.


***


“Siapa ini? Siapa yang berani menyusup ke dalam Markas Bawah Tanah?” Kongchu terkejut ketika melihat piringan bundar yang berada di dalam Cincin Dimensinya bergetar dan memancarkan cahaya merah.


Kongchu yang tadinya sedang bersantai menghitung laba usaha kedainya, mendadak terkejut. Formasi Sembilan Kutukan Langit, mendadak aktif.


Mata Kongchu berputar ke kanan dan ke kiri, ini adalah kali pertama baginya mengalami hal semacam ini. Selama lebih dari sepuluh tahun, belum pernah ada yang menemukan letak Markas Bawah tanah divisinya. Ini juga adalah pertama kalinya Formasi Sembilan Kutukan Langit berhasil diaktifkan.


“Zhimei.. Kemarilah!.” Teriak Kongchu memanggil Guzhimei.


“Ada apa Paman?.” Tanya Guzhimei ketika tiba di hadapan Kongchu.


“Tolong Kamu antarkan token ini ke Bibi Ziyishi, katakan Paman menunggunya di rumah...”


“Paman pergi dulu, suruh Jangxiong untuk menjaga kedai.” Ucap Kongchu tergesa-gesa pergi setelah memberikan Guzhimei sebuah token kayu bergambar kepala serigala.


“Baik Paman.” Sahut Guzhimei usai menerima token kayu tersebut.


Guzhimei segera bergegas pergi, dia pergi ke arah Paviliun Bunga Indah setelah membiarkan seorang pelayan kedai lainnya yang bernama Jangxiong untuk menjaga Kedai tersebut.


Sementara itu, Kongchu bergegas pergi ke arah belakang Penginapan Bintang Timur.

__ADS_1


***


[Di Belakang Penginapan Bintang Timur]


Sesaat setelah tiba di belakang Penginapan Bintang Timur, Kongchu segera melepas penyamarannya dan menerbangkan sebuah boneka burung pembawa pesan.


‘Semoga saja pesan ini akan sampai padanya.’ Batin Kongchu.


Kongchu kemudian berbelok ke arah sebuah celah sempit di belakang Penginapan Bintang Timur. Setelah beberapa hela napas berlalu, Kongchu masuk ke dalam sebuah lorong gelap yang tertutup semak belukar.


Berjalan ratusan langkah dari ujung lorong tersebut, Kongchu pun akhirnya tiba di Ruang Bawah Tanah.


**


Kongchu yang baru saja tiba di dalam Markas itu, tertawa puas melihat Formasi Sembilan Kutukan Langit masih utuh melindungi ruangan berpintu batu di hadapannya.


“Hahaha... Orang gila mana yang berani-beraninya mencoba menghancurkan Formasi Dewa ini? Hahaha... Mari kita lihat, siapa orang gila ini..” Ucap Kongchu usai mengeluarkan sebuah piringan bundar setebal tiga jari tangan dengan ukiran yang serupa dengan ukiran Formasi Sembilan Kutukan Langit yang ada di dinding ruangan tersebut.


Dengan tangan kanannya, Kongchu membentuk sebuah segel, “Harta rahasia. Sembilan arah mata angin, Sembilan Dewa penguasa arah mata angin, dengan darah abadi dalam perjanjian, tunjukkan kekuatanmu!”


*Zplash* Cahaya merah terang memancar dari piringan bundar tersebut.


Dari sebuah lubang kecil di tengah piringan tersebut muncullah gambaran tentang situasi yang tengah terjadi di dalam ruangan dimana Formasi Sembilan Kutukan Langit aktif.


“Hmm... Dia!? Sepertinya dia ini adalah si Iblis Putih itu... Tapi kenapa rambutnya sebagian tidak berwarna putih?” Kongchu melihat gambaran Gofan yang tengah bertahan di atas sudut ruangan dari piringan bundar yang dipegangnya tersebut.


“Benar. Itu dia... Aku tidak akan melupakan wajah Iblis kecil itu... Puih.. Tidak ku sangka dia akan mengantarkan nyawanya sendiri ke tempat ini.” Sahut Ziyishi yang baru saja tiba di dalam Markas Bawah Tanah Divisi II Bandit Serigala Biru tersebut.


Setelah mendapatkan token bergambar kepala serigala dari Guzhimei, Ziyishi bergegas pergi menuju ke Markas Kongchu. Token itu merupakan penanda yang diberikan Kongchu kepada Ziyishi jika terjadi sesuatu terkait Markas bawah tanah miliknya.


“Ternyata Formasi ini benar-benar bisa merubah seorang pendekar menjadi orang biasa Hahaha...” Imbuh Ziyishi saat tangan kanannya menyentuh lapisan pelindung Formasi Sembilan Kutukan Langit yang melapisi ruangan tersebut.


“Bocah ini tampaknya cukup pintar, dia bisa mengulur waktu selama ini dan bertahan dari amukan para Mayat Hidup itu... Meskipun dia agak gila, berani membuat Formasi Dewa ini aktif... Hahaha.” Tawa Kongchu.


“Manfaatkan kesempatan ini. Kendalikan para Mayat Hidup itu dan buat mereka segera membunuhnya.” Ucap Ziyishi.


“Tidak perlu terburu-buru.. Kita lihat dulu, seberapa lama dia bisa menahan napas seperti itu... Hahaha.” Sahut Kongchu.


“Bodoh! Lihat... di dalam sana tidak ada Vasudev.. Cepat bunuh dia, sebelum Gurunya itu tiba di sini!.”


“Jangan khawatir, sekali pun Vasudev datang, dia tidak akan bisa menghancurkan Formasi ini. Sepuluh orang sekuat dirinya pun tidak akan bisa Hahaha....” Kongchu tidak ada habisnya tertawa puas melihat bagaimana sengsaranya Gofan menahan napas untuk menghindari amukan para Mayat Hidup.


*Zyuut* Ziyishi merebut piringan bundar dari tangan Kongchu.


“Biar aku saja. Aku ingin bocah ini segera mati-!.” Ucap Ziyishi saat dia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam piringan bundar tersebut.

__ADS_1


Kongchu hanya bisa mengerutkan alisnya ketika piringan bundar itu direbut oleh istrinya, “Baik... Bunuh ya bunuh saja.. Lagi pula dia telah membuat kita rugi banyak, kerja sama dengan calon putra mahkota Meghalaya pun jadi batal karena dia... Bunuh.. Lakukanlah!.” Ucapnya ketika dia mengambil sebuah kursi dan duduk dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


Bersambung...


__ADS_2