
' Ah.. Benar! Aku bisa menggunakan Lentera Jiwa sebagai alasan. Kenapa aku tidak bisa memikirkannya dari tadi? ' Batin Xionan.
Setelah sekian lama berada di luar gubuk, akhirnya Xionan menemukan alasannya dan melesat masuk ke dalam gubuk.
Bukannya Xionan tidak bisa memikirkan alasan yang tepat, namun dia sedang tidak bisa berpikir jernih. Perasaan Xionan semakin tidak tenang setelah melihat Gofan menggendong Meiling masuk ke dalam gubuk tersebut, membuat Xionan tidak bisa berpikiran jernih.
Xionan melesat masuk dengan senyuman terukir di wajahnya. Namun ketika Xionan muncul di dalam gubuk. Xionan disuguhkan dengan sebuah adegan yang membuatnya kaget. Senyuman di wajah Xionan langsung menghilang dan berganti dengan sebuah raut wajah kesedihan.
Tepat di depan mata Xionan, kedua tangan Gofan sedang menggenggam kedua pergelangan tangan Meiling dengan posisi Gofan dan Meiling berdiri begitu dekat di dinding gubuk. Wajah Gofan dan Meiling terlihat begitu dekat.
' Fanfan!! Aa-pa... ' Xionan tidak menyelesaikan apa yang dia ucapkan di dalam pikirannya.
Sebelum Gofan sempat menyadari kehadiran Xionan di dalam gubuk. Xionan sudah menghilang dan melayang pergi menjauh dari gubuk Gofan. Perasaan Xionan semakin tidak menentu setelah melihat adegan tersebut.
' Ada apa denganku? Kenapa aku tidak tenang saat melihat Gofan bersama dengan gadis itu? ' Pikir Xionan ketika dia sudah melayang jauh dari gubuk Gofan.
Xionan hanyalah salah paham, semua adegan di dalam gubuk yang dilihat Xionan bukanlah seperti yang dia bayangkan. Gofan tidak sedang melecehkan Meiling, melainkan sedang melindungi dirinya dari serangan diam-diam yang dilakukan Meiling.
Sebelum itu, sewaktu Gofan meminta Meiling mengatakan isi pesan dari token suara Tianfuzi, Meiling menjawab dengan mengatakan bahwa dia tidak bisa berbahasa Meghalaya. Pesan di dalam token suara itu menggunakan bahasa Meghalaya.
" Mm... Tapi aku bisa menuliskan kata-katanya. Aku hanya tidak tahu bagaimana melafalkannya " Ucap Meiling.
Karena ucapan tersebut, Gofan memberikan Meiling secarik kertas dan sebuah kuas bertinta. Meiling akhirnya dilepaskan dan diizinkan Gofan untuk menuliskan kata-kata Bahasa Meghalaya yang dia ingat dari pesan token suara Tianfuzi.
Usai menuliskan pesan token suara di atas kertas, Meiling menyerahkan kertas itu kepada Gofan. Namun ternyata Meiling diam-diam menaburkan bubuk pelemah saraf di atas kertas, saat dia menuliskan isi token suara ayahnya.
Gofan hampir saja menghirup bubuk beracun itu saat dia sedang membaca tulisan Meiling di kertas tersebut.
Beruntung Gofan adalah murid tidak langsung dari Sang Tabib Ajaib, sehingga Gofan telah terbiasa dengan bau racun dan bau obat. Saat Gofan menyadari keberadaan bubuk tersebut, Gofan melapisi kertas yang dibacanya dengan tenaga dalam, sehingga bubuk pelemah saraf itu tidak berhasil meracuni Gofan.
' Aneh. Seharusnya sekarang dia sudah lumpuh dan seperti orang idiot. Tapi kenapa dia masih biasa-biasa saja? ' Pikir Meiling.
Tepat seperti yang dipikirkan Meiling, memang seharusnya bubuk pelemah saraf akan bekerja sangat cepat. Saat bubuk pelemah saraf masuk ke dalam pernapasan seseorang, racun yang terkandung di dalamnya akan memasuki pembuluh darah ke otak dan menghentikan sementara kinerja sel-sel saraf otak.
Tetapi sayang sekali, yang ingin diracuni Meiling adalah murid dari Tabib Ajaib, tentu saja Gofan akan menyadari racun tersebut.
Gofan tidak terlalu ambil pusing dengan racun yang dibubuhkan Meiling di kertas tersebut, sebab Gofan lebih tertarik dengan apa yang ditulis Meiling.
'Sepertinya Meiling memang tidak bisa berbahasa Meghalaya. Beberapa kata salah ditulisnya, tapi.. ini cukup mengejutkan, ternyata Tianfuzi memang merencanakan sesuatu di Turnamen Pulau nanti ' Batin Gofan setelah membaca tulisan Meiling.
Gofan sudah terbiasa dengan lima bahasa di Enam Benua, kecuali Bahasa Valinor dari Benua Valinoira. Gofan mempelajari bahasa-bahasa itu dari perpustakaan Perguruan Tanah Terlarang.
*Zyuut*
Ketika Gofan melipat kertas yang ditulis Meiling, tiba-tiba sebilah pisau kecil menerjang ke arahnya.
*Cruaat*
Bahu kiri Gofan tepat terkena tusukan pisau kecil itu. Gofan lengah dan gagal menghindari serangan diam-diam yang dilakukan Meiling. Gofan mundur beberapa langkah sambil memegang pisau kecil yang masih menancap di bahu kirinya.
" Ka-Kamu!? " Ucap Gofan saat tiga buah pisau kecil lain muncul dari tangan kiri Meiling.
'Cincin Dimensi!' Pikir Gofan.
Meiling tersenyum kecil setelah melihat serangan diam-diam yang dia lakukan berhasil melukai Gofan. Meiling melemparkan satu demi satu pisau kecil yang baru saja dikeluarkannya dari Cincin Dimensinya ke arah Gofan.
__ADS_1
Karena tempat yang sempit, Gofan tidak bisa bergerak leluasa untuk menghindari lemparan pisau Meiling. Gofan mengaktifkan kembali Energi Mentalnya untuk melumpuhkan serangan Meiling tersebut.
" Mata Iblis "
*Klentang*
Satu demi satu pisau yang dilempar Meiling jatuh ke lantai, tidak berhasil mengenai Gofan.
Gofan tertawa dan mencabut pisau kecil yang menancap di bahu kirinya, " Nona Meiling. Sudah ku bilang, jangan melakukan hal yang aneh-aneh, selagi aku masih bersabar! "
Tubuh Meiling sudah kaku bersamaan dengan jatuhnya pisau-pisau yang melayang ke arah Gofan. Kekuatan Mata Iblis milik Gofan sudah mengambil kendali tubuh Meiling. Meiling hanya bisa mengumpat di dalam hatinya, saat menyadari, dirinya tidak bisa bergerak lagi.
Gofan mendekati Meiling. Tangan kanan Gofan menggenggam pergelangan tangan kanan Meiling dan tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kiri Meiling. Lalu, Gofan mendesak dan mendorong Meiling hingga terdorong ke arah dinding gubuk.
Gofan mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Meiling, " Serahkan penawarnya atau aku tidak akan segan-segan melahap jiwamu! "
Pada waktu itulah, Xionan muncul dan terkejut melihat adegan di dalam gubuk. Gofan tidak menyadari kedatangan dan kepergian Xionan. Sementara Xionan sudah salah paham dengan apa yang dilihatnya.
Sebenarnya Gofan hanya ingin mendesak Meiling agar menyerahkan penawar racun dari pisau kecil yang berhasil melukainya. Gofan menyadari pisau kecil tersebut telah dilumuri oleh racun. Gofan hanya berniat meminta penawar racun, tidak berniat lebih dari itu.
Meiling gemetar ketakutan. Kekuatan mental Gofan benar-benar menjatuhkan mental Meiling. Meiling merasakan ketakutan hingga ke sumsum tulangnya. Cahaya hijau di mata Gofan seakan-akan hendak melahap jiwanya.
Meiling menyesali tindakannya. Meski telah menyadari Gofan memiliki Energi Mental yang kuat namun, Meiling masih memutuskan untuk menyerang Gofan diam-diam dan berharap serangannya akan berhasil.
Gofan melepaskan serangan mentalnya dan membiarkan Meiling menjawab ancamannya. Meiling hanya mengangguk, tidak sanggup berkata-kata akibat ketakutan.
'Aku tidak akan membuat masalah lagi dengan Bocah ini, dia monster, pasti bukan manusia!! ' Batin Meiling saat dia memberikan obat penawar kepada Gofan.
*Zyuut*
Gofan menyerang Meiling dengan kekuatan Mata Iblis dan membuat Meiling tidak sadarkan diri, setelah dia menerima obat penawar.
Sehabis meminum penawar racun, Gofan memulihkan diri sejenak dengan tenaga dalamnya, kemudian menggendong Meiling keluar dari gubuk.
" Langkah Kilat "
Gofan berlari cepat di tengah malam, menuju ke Penginapan Bintang Timur. Setengah perjalanan kemudian, Gofan meletakkan Meiling di sebuah dipan di depan rumah pemukiman seorang penduduk Ibu Kota dan melanjutkan kembali perjalanannya.
" Aneh. Kenapa tidak ada Pendekar Pengawal Kerajaan di sekitar sini? Apa yang terjadi? " Gumam Gofan ketika menyadari, sepanjang perjalanannya, dia belum melihat satu pun Pendekar Pengawal Kerajaan.
Gofan menghentikan langkahnya dan menaiki sebuah pohon beringin yang cukup besar. Di atas salah satu cabang pohon, Gofan berdiri dan mengamati sebuah tempat yang bercahaya.
Dari semenjak tadi, Gofan melihat kepulan asap dan api yang sangat besar di arah tenggara. Karena penasaran Gofan memanjat pohon untuk melihat lebih jelas yang sedang terjadi.
'Pasti karena itu, para Pendekar Pengawal Kerajaan tidak ada di sini... Aku harus melihat lagi, apa yang terjadi'
" Mata Iblis "
*Zyuut*
Gofan mengirimkan Energi Mentalnya menuju ke arah sebuah bangunan yang terbakar di arah tenggara Ibu Kota.
Ketika Energi Mental Gofan mencapai lokasi bangunan yang terbakar itu, sayup-sayup suara riuh terdengar di telinganya.
" Kebakaran! Kebakaran! Cepat padamkan apinya atau Dewa akan murka kepada kita...!! " Suara para penduduk yang panik karena bangunan itu terbakar terdengar di telinga Gofan melalui Energi Mentalnya.
__ADS_1
Melalui Energi Mentalnya, Gofan melihat puluhan Pendekar Pengawal Kerajaan dan penduduk Ibu Kota bergotong royong berusaha memadamkan api. Gofan juga melihat dua orang yang tidak asing baginya, sedang bersembunyi di atap sebuah bangunan.
' Apa kebakaran itu ulah mereka? Aku harus ke sana untuk memastikannya' Pikir Gofan ketika dia menarik kembali Energi Mental miliknya.
***
Puluhan hela napas selanjutnya, Gofan tiba di atas atap bangunan tiga lantai tempat dua orang yang tidak asing baginya sedang bersembunyi. Kedua orang itu adalah Mouhuli dan Bailaohu.
" Leluhur. Huhi. Apa kebakaran itu ulah kalian ? " Tanya Gofan setelah dia menyapa kedua siluman tersebut.
" Bukan. Itu ulah Bianselong. Dia ingin mengalihkan perhatian para Pendekar Pengawal Kerajaan itu " Sahut Mouhuli.
" Ayo... Mumpung Bianselong juga sudah kembali.. Ayo kita segera ke Penginapan Bintang Timur ! " Imbuh Mouhuli.
" Leluhur. Apa maksudmu? Dimana Senior Bianselong, kenapa aku tidak melihatnya? " Tanya Gofan kebingungan mendengar ucapan Mouhuli.
" Sudah... Sambil jalan akan ku ceritakan. Ayo...!! " Ucap Bailaohu.
Bailaohu dan Mouhuli baru saja mengetahui kembalinya Bianselong melalui suara pikiran yang dikirimkan Bianselong kepada mereka, beberapa hela napas sebelum Gofan tiba.
Mereka pun bergegas menuju ke arah timur Ibu Kota, menuju ke Penginapan Bintang Timur. Penginapan itu ada di sisi timur Ibu Kota, tepatnya di sebuah distrik bernama Distrik Bintang Timur.
Di dalam perjalanan menuju ke timur, akhirnya Gofan tahu apa yang telah dilakukan oleh ketiga siluman senior itu. Mereka dengan sengaja pergi ke arah tenggara untuk membakar kuil pemujaan Dewa Cahaya dan Dewa Gelap. Kuil pemujaan itu bernama Kuil Cahaya Kegelapan.
Sebenarnya, itu adalah ide dari Bianselong. Sesaat ketika Gofan berhasil membuat beku para Pendekar Berpedang Kerajaan Meghalaya, Bianselong mengajak dua siluman lainnya untuk pergi ke arah tenggara. Dengan tujuan untuk membakar Kuil Cahaya Kegelapan.
" Aku membakar kuil itu hanya untuk mengalihkan perhatian mereka " Ucap Bianselong yang telah usai berkamuflase.
Gofan kini mengetahui kalau selama ini, dia tidak melihat Bianselong karena kemampuan Bianselong dalam berkamuflase.
Ketiga Siluman Senior itu tidak henti-hentinya tertawa di sepanjang perjalanan. Mereka sangat bangga karena telah berhasil membakar Kuil Cahaya Kegelapan. Gofan ikut tersenyum dan tertawa kecil mendengar ulah ketiganya.
Namun ketika mereka hampir tiba di Penginapan Bintang Timur. Empat Pendekar Muda menghentikan langkah mereka. Keempat Pendekar Muda itu adalah perwakilan terpilih Turnamen Pulau dari Benua Meghalaya, yaitu Burka, Shadev, Rajhu, dan Shingha.
" ¥^°\=÷\= {}]\∆¶.... !!! " Teriak Shadev kepada Gofan dan kelompoknya.
" Aku tidak mengerti bahasamu, Kalau mau bertarung... Langsung maju saja !! " Tantang Bianselong yang tidak mengerti perkataan Shadev.
" Tunggu Senior. Biar aku yang tangani " Ucap Gofan mencegah Bianselong.
Gofan maju dan membalas perkataan Shadev dalam bahasa Meghalaya, " Aku sudah membebaskannya, dia ada di barat daya, di depan pemukiman seorang penduduk... Cepatlah selamatkan dia, aku menaruh kejutan di sana. Jika, kalian terlambat, dia mungkin akan kehilangan nyawanya ! "
" Kamu pikir aku akan percaya! Cepat katakan, dimana Meiling !! " Teriak Shadev sekali lagi. Itulah kata-kata yang tadi diucapkan Shadev, ketika baru tiba di hadapan Gofan dan kelompoknya. Kata-kata yang tidak dimengerti oleh Bianselong.
*Zyuut*
" Terserah. Jika kamu tidak percaya. Jangan salahkan aku jika dia akhirnya mati ! " Kata Gofan sembari mengirimkan sebuah kilasan ingatan kepada keempat pendekar muda tersebut.
Melihat kilasan ingatan yang terlintas di pikiran mereka, keempat Pendekar Muda itu mengurungkan niat mereka untuk menangkap Gofan dan kelompoknya. Mereka langsung mundur dan melesat pergi ke arah barat daya.
" Ini hanya sementara. Setelah kami menyelamatkan Meiling, kami pasti akan membunuhmu Bocah ! " Teriak Shadev ketika dia bergerak menuju ke arah barat daya Ibu Kota bersama ketiga pendekar lainnya.
" Aku menunggumu ! Silahkan bunuh aku, kalau bisa Hahaha... " Teriak Gofan, membalas ancaman Shadev.
Bersambung...
__ADS_1