Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 134. Ujian di Rawa Bairawa bg. 2


__ADS_3

Beberapa puluh hela napas setelah meninggalkan Perguruan Tunjung Putih, Bianselong mengirimkan sebuah boneka burung kayu pembawa pesan kepada Bailaohu yang sedang berada di Tanah Halimun.


Bianselong memberi kabar kepada Bailaohu bahwa dia dan yang lain sudah melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Api. Bianselong juga menyampaikan bahwa dia dan Mouhuli akan menunggu untuk bertemu di luar Rawa Bairawa.


***


[Tanah Halimun-Wilayah Kecil Kekaisaran Siluman]


Burung kayu pembawa pesan milik Bianselong akhirnya tiba di Tanah Halimun, sebuah wilayah yang hanya bisa dihuni oleh para siluman.


Tanah Halimun ini merupakan salah satu dari tiga Wilayah Kecil Kekaisaran Siluman, selain Tanah Ratapan dan Pulau Bulan Merah.


Kekaisaran Siluman merupakan dimensi yang terpisah dari Alam Kecil tempat Enam Benua berada. Kerajaan Siluman adalah satu-satunya kerajaan yang berkuasa penuh di seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran Siluman.


Wilayah dari Kekaisaran Siluman ini dibagi menjadi dua bagian wilayah, yaitu Wilayah besar tempat Kerajaan Siluman berdiri dan Wilayah kecil tempat tiga trah Siluman Elit mendirikan kerajaan mereka.


Tanah Halimun adalah tempat dimana Kerajaan Harimau Putih memimpin. Ini adalah wilayah yang dikuasai oleh keluarga Bailaohu. Meski mereka berkuasa namun kekuasaan mereka masih berada di bawah Kerajaan Siluman yang dipimpin oleh Kaisar Siluman.


“Gofan pergi Rawa Bairawa, untuk apa? Kenapa Bianselong tidak menjelaskan apa yang dicari Gofan di rawa itu?” Ucap Bailaohu saat boneka burung kayu pembawa pesan berubah menjadi debu.


“Rawa Bairawa? Gofan? Apakah itu nama dari murid Mouhuli?.” Tanya kakak Bailaohu yang bernama Bailian.


Bailian hanya berselisih usia tujuh tahun dengan Bailaohu. Dia merupakan Putra tertua dari Raja Harimau Putih, Bailuxiang. Dia juga sudah diangkat sebagai Putra Mahkota Kerajaan Harimau Putih.


Saat ini, Bailian sedang bersama dengan Bailaohu di kediaman khusus Putri Harimau Putih. Bailian menghampiri Bailaohu ketika melihat boneka burung kayu pembawa pesan datang dan masuk ke kediaman Bailaohu.


“Iya Kak. Gofan itu adalah murid Mouhuli... Tapi untuk apa Gofan pergi ke rawa terkutuk itu?” Sahut Bailaohu.


“Tentu saja untuk Pertemuan Beruntung. Dia pasti berencana untuk mendapatkan benda yang selama ini membuat trah Siluman takut mendekati rawa itu... Dia menerima undangan Kaisar, dia pasti akan mempersiapkan diri sebelum menginjakkan kaki di wilayah Kekaisaran kita ini.” Ucap Bailian mengungkapkan kemungkinan yang bisa dia pikirkan tentang tujuan Gofan ke Rawa Bairawa.


‘Apakah benar Gofan mencari benda itu untuk mempersiapkan diri sebelum pergi menghadap Kaisar?.’ Batin Bailaohu usai mendengar pendapat Kakaknya.


Sedikit berbeda dengan kenyataan. Nyatanya Gofan pergi tidak untuk mendapatkan benda yang membuat para siluman ketakutan setengah mati, tapi untuk mendapatkan Mata Ilahi.


Meski begitu, tidak menutup kemungkinan Gofan akan menemukan benda tersebut. Hanya saja, sekarang Gofan sedang disibukkan oleh serangan dari para Kesatria Naga Batu.


***


[Di Dalam Celah Dimensi Rawa Bairawa]


*Trang*


*Trang*


“Hesh.. Hesh... Hesh...” Napas Gofan memburu saat dia berlari menghindari kepungan 512 Kesatria Naga Batu.


Setelah melihat kemunculan 512 Kesatria Naga Batu, Gofan memutuskan untuk menyerah membunuh mereka. Gofan hanya melukai mereka sembari berusaha menghindari serangan yang mengarah padanya.


‘Ini.. Tidak ada jalan lain, kalau aku membunuh mereka maka jumlahnya akan menjadi lebih dari 1000 Kesatria Naga Batu, Sial... Aku harus bagaimana?!.’ Batin Gofan ketika dia terpojok oleh kepungan para Kesatria Naga Batu.


Sekarang Gofan sudah dikepung, tidak ada ruang baginya untuk kabur dan menghindar. Gofan berdiri di ujung jurang kawah gunung berapi, sedikit saja dia salah melangakah dia akan jatuh ke dalam lava gunung tersebut.


*Trang*


*Trang* Gofan bertahan dengan menangkis setiap serangan.


‘Entah kenapa Haiwa, Paman Longwang dan Longyun, bahkan Julala tidak ada yang merespon pertanyaanku...’ Batin Gofan ketika dia mencoba menghubungi semua teman yang selalu ikut bersama dirinya.


“Manusia kecil... Apa kamu menyerah? Aku akan membiarkan kamu hidup jika kamu menyerah sekarang. Teman-temanmu tidak akan bisa memberi bantuan, semenjak kamu memutuskan masuk ke dimensi ini, teman-temanmu telah hilang kesadaran. Ingat! Kamu hanya bisa bergantung pada kemampuanmu sendiri. Bagaimana?” Suara si Raksasa muncul dan menggema di celah dimensi tersebut.


*Trang*


*Trang*


“Terima kasih untuk kebaikanmu Tuan.. Tapi aku tidak akan menyerah...” Sahut Gofan.


“Baiklah.... Jadilah kalian seribu atau dua ribu! Akan ku bunuh kalian semua!!” Teriak Gofan saat dia menerjang maju dan membunuh satu demi satu Kesatria Naga Batu yang memojokkan dirinya.


*Trang*


*Trang* Pertarungan berlanjut, hingga ratusan hela napas kemudian.


Gofan terus menyerang, dia masih terus berpikir untuk menemukan cara agar 1024 Kesatria Naga Batu yang muncul di hadapannya sekarang dapat dia kalahkan dengan mutlak.

__ADS_1


‘Julala? Pagoda Jindun... Bisakah Pagoda itu menahan ke-1024 Kesatria Naga Batu ini?’ Sebuah ide muncul di benak Gofan saat dia memikirakan Julala yang pernah terkurung di dalam Pagoda Jindun.


*Zyuut* Gofan melompat menjauh.


*Blazh* Pagoda Jindun muncul di telapak tangan kirinya.


Gofan menyimpan kembali Tongkat Emas Naga Kembar dan membentuk segel tangan.


“Pagoda Jindun Tujuh Lapisan”


Gofan mencoba menggunakan kekuatan Pagoda Jindun untuk mengurung ke-1024 Kesatria Naga Batu, namun tiga hela napas setelah dia membentuk segel tangan, tidak ada yang terjadi.


Pagoda Jindun tidak menyerap dan mengurung ke-1024 Kesatria Naga Batu. Pagoda itu hanya bergetar pelan sebelum memancarkan cahaya merah dan meliputi seluruh tubuh Gofan.


‘Tidak berfungsi,...Pagoda ini hanya bisa menjadi pelindung tubuhku saja, sepertinya memang harus bergatung pada kemampuanku sendiri... Baik. Semuanya akan ku kerahkan!’ Pikir Gofan saat dia menyadari cahaya merah dari Pagoda Jindun melindunginya dari serangan para Kesatria Naga Batu.


Gofan menyimpan kembali Pagoda Jindun. Dia membentuk segel tangan lainnya dan mengeluarkan semua Saripati Energi di kubus titik pusat jiwa miliknya. Gofan mengubah semua Saripati Energinya menjadi Energi Elemen Tanah.


Sebuah ide lain muncul di benaknya saat Gofan memutuskan untuk mengerahkan semua tenaga dalam yang dia miliki.


‘Ini aneh... Setelah kedua kubus oktagon itu bergabung.. Kenapa Saripati Energiku seakan berkurang... Tapi ini sudah cukup, Energi Sihir tidak berpengaruh kepada mereka, Energi Mental tidak bisa digunakan, hanya Energi Tanah yang bisa ku andalkan..’


“Penjara Seribu Boneka Tanah”


Gofan mencoba membuat jurus baru dari Energi Elemen Tanah miliknya. Jurus yang dia dapatkan dari hasil pemikiran saat membuat boneka manusia tanah.


Gofan berencana untuk mengurung ke-1024 Kesatria Naga Batu di dalam lapisan tanah. Sehingga ke-1024 Kesatria Naga Batu itu akan membeku diam seperti patung tanah.


*Duarr*


*Duarr* Ledakan tanah yang keluar dari dasar gunung berapi.


Tanah-tanah tersebut merambat dan melapisi seluruh tubuh dari ke-1024 Kesatria Naga Batu. Ke-1024 Kesatria Naga Batu kini terkurung di dalam lapisan tanah. Saat tanah-tanah itu mengering, hanya ada 1024 patung tanah Kesatria Naga Batu yang mengelilingi Gofan.


“Berhasilkah?” Gumam Gofan saat dia duduk lemas akibat kehabisan tenaga dalam. Seluruh Saripati Energi miliknya sudah dia kerahkan.


“Selamat Manusia Kecil! Kamu berhasil lolos di ujian pertama. Sekarang saatnya menuju ke ujian kedua!” Suara si Raksasa terdengar lagi ketika Gofan berusaha memulihkan dirinya.


*Blazh*


“Ini adalah Kolam Terarai Tujuh Warna. Masuklah ke dalamnya dan seberangi kolam ini hingga ke ujung kolam. Itulah ujian kedua.” Suara si Raksasa.


Gofan mengangguk, meski dia masih belum memulihkan semua Saripati Energinya, dia bangun dan melangkah masuk ke dalam Kolam Terarai Tujuh Warna.


*Cepluk* Suara air kolam yang beriak ketika Gofan masuk ke dalam kolam.


*Zyuut*


*Blazh* Air kolam yang tadinya tidak berwarna tiba-tiba berubah warna menjadi warna-warna pelangi.


“Arrgghhh!!.” Teriak Gofan saat dia merasakan sakit yang mendalam menghujam jantung dan kepalanya.


Di tengah jernih dan indahnya air kolam ternyata menyimpan sesuatu yang membuat Gofan begitu kesakitan. Air berwarna pelangi itu seperti racun yang meresap masuk ke dalam pori-pori kulit Gofan dan menyerang otak serta jantungnya.


Semakin Gofan melawan, semakin sakit yang dia rasakan. Setiap dia melangkah, semakin banyak air kolam yang meresap ke dalam tubuhnya. Rasa sakitnya terus bertambah.


Kolam itu sepanjang 2000 kaki. Sementara Gofan baru melangkah sebanyak 10 kaki dan sudah merasakan sakit yang luar biasa hebat.


Beruntung Gofan telah mempelajari Ilmu Tubuh Tulang Abadi, sehingga dia masih bisa bertahan meski sakit yang teramat sangat menyerang tubuhnya. Semua otot di tubuhnya telah disempurnakan, sehingga setiap kali menderita luka, otot-otot itu akan pulih dengan cepat.


Selain itu berkat Tubuh Naga Sejati dari setengah Tablet Dewa Naga, daging dan darah di tubuhnya sudah setengah diperkuat. Seandainya saja Gofan sudah mendapatkan seluruh tablet dan ilmu lengkap dari Tubuh Naga Sejati, maka dia akan dengan mudah menelusuri Kolam Terarai Tujuh Warna tersebut.


Bagaimana pun tidak ada seandainya di dunia ini. Sekarang Gofan hanya bisa terus bertarung melawan rasa sakit yang menyerang otak dan jantungnya.


“Arrgghhh!!.”


“Arrgghhh!!.”


Setiap langkah menambah rasa sakit. Seperti sebuah pedang yang menghujam jantung dan merobek kepala.


Ketika Gofan melangkahkan kakinya yang ke-100 langkah, darah keluar dari hidungnya. Setelah melangkah sebanyak 200 langkah, darah keluar dari kedua telinganya dan ketika Gofan menginjakkan langkah yang ke-500, dia mulai memuntahkan darah.


Gofan berhenti di langkah ke-500. Dia membentuk segel tangan dan mulai membudidayakan Kitab Surga Sembilan Langit. Gofan memutuskan untuk memulihkan diri sebelum melanjutkan perjalanannya menelusuri kolam tersebut.

__ADS_1


***


[Benua Penda-Dermaga Laut Timur]


Sementara Gofan bertarung melawan rasa sakit, berita tentang Turnamen Pulau sudah menggema di seluruh Benua Penda.


Perguruan-perguruan dan Partai-partai Bela diri, semuanya sudah mulai bergerak menuju ke Pulau Api. Rombongan Perguruan dan Partai Bela diri dari seluruh Benua Penda terlihat di sepanjang jalan menuju ke Pulau Api.


Mereka semua berangkat bersama dengan para pendekar muda yang mereka jagokan untuk menjadi pemenang di Turnamen Pulau. Sebuah Turnamen berskala besar yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi.


Di antara semua Perguruan itu ada dua rombongan perguruan yang terlihat begitu santai dan sombong. Mereka adalah dua Perguruan tingkat darah murni yang telah berturut-turut memenangkan Turnamen Pulau, yaitu Perguruan Awan Langit dan Perguruan Dunia Gelap.


“Mahaguru. Sepertinya Penatua Tiandufu dari Perguruan Awan Langit akan kemari.” Bisik Wuling saat dia dan Rombongan Perguruan Tunjung Putih tengah berjalan menyusuri sebuah jalan besar menuju ke sebuah dermaga.


Duan Tianlang mengangguk saat dia melihat seorang pria paruh baya berpakaian serba biru bernama Tiandufu datang menghampirinya.


“Haha... Senior Tianlang. Lama tidak berjumpa... Ada apa ini? Sudah lebih dari satu dekade perguruanmu menghilang, tapi tahun ini kalian tampaknya begitu bersemangat mengikuti Turnamen Pulau.” Ucap Tiandufu.


Tiandufu mengahampiri rombongan Duan Tianlang karena penasaran. Ini adalah pertama kalinya rombongan Perguruan Tunjung Putih terlihat kembali setelah mengasingkan diri.


“Haha... Benar. Lama tidak berjumpa. Tentu saja kami bersemangat, tahun ini kami akan memberikan dukungan khusus untuk Partai Tongkat Sakti. Kami berharap partai kami bisa menjadi pemenang tahun ini.” Sahut Duan Tianlang sembari menunjuk ke arah Suezilu.


“Jadi ini hanyalah rombongan penonton? bukan peserta?... Haih, sangat disayangkan, bakat-bakat tangguh dari Perguruan Tunjung Putih tidak bisa berpartisipasi.” Tiandufu menggelengkan kepala pelan.


“Benar. Kami hanya rombongan penonton, sama seperti para Pendekar Lepas lainnya.” Sahut Duan Tianlang.


Duan Tianlang menyebut para pendekar yang tidak terikat Perguruan atau Partai Bela diri sebagai Pendekar Lepas.


‘Tianlang.. Mana mungkin kamu datang dengan persiapan seperti ini hanya untuk menonton, apa sebenarnya tujuanmu?’


“Pendekar Lepas juga bisa mendaftarkan diri sebagai peserta, haruskah aku membantumu untuk mendaftarkan salah satu muridmu?” Tiandufu tersenyum meremehkan.


“Tidak perlu. Saudara Tiandufu tidak perlu repot-repot, semua murid kami yang berbakat sudah didaftarkan atas nama Partai Tongkat Sakti.” Sahut Duan Tianlang menolak tawaran Tiandufu.


“Oh jadi begitu... Berarti tahun ini akan menjadi tahun yang benar-benar dihujani banyak bakat muda Haha...”


“Oh ya, bagaimana kalau aku menawarkan tumpangan. Perguruan kami baru saja menyiapkan Kapal Nyanyian Samudra, kapal itu terlalu besar kalau hanya untuk rombongan kami, bagaimana?” Ucap Tiandufu sembari menunjuk ke arah dermaga.


Sebuah kapal laut berukuran sangat besar terlihat terparkir di dermaga tersebut. Bendera Perguruan Awan Langit membentang dan berkibar tepat di ujung anjungan kapal. Kapal besar itulah yang dimaksud Tiandufu sebagai Kapal Nyanyian Samudra.


Untuk menuju ke Pulau Api, rombongan para peserta harus melewati Rawa Bairawa lalu menyeberangi Laut Utara, atau menyeberang memutar melalui Laut Timur lalu ke Laut Utara.


Kebanyakan dari rombongan ini memilih untuk menggunakan jalur memutar daripada harus melewati Rawa Bairawa yang terlalu beresiko. Mereka tidak ingin kehilangan peserta atau peserta mereka terluka karena melewati jalur rawa yang terkesan bau tersebut.


“Terima kasih untuk tawaranmu. Tapi kami juga sudah menyiapkan sebuah kapal, selain itu, kami berencana singgah sebentar di Pulau Duyung.” Duan Tianlang sekali lagi menolak tawaran Tiandufu.


“Pulau Duyung? Apa Senior berencana untuk mengunjungi Perguruan Yin Biru?” Tanya Tiandufu.


“Benar. Kami berencana berangkat bersama menuju ke Pulau Api.” Sahut Duan Tianlang saat dia tiba di depan dermaga.


“Saudara Tiandufu, jika tidak ada lagi keperluan, kami permisi. Sampai jumpa lagi di Pulau Api.” Imbuh Duan Tianlang sembari berpamitan menuju ke arah sebuah kapal bersama dengan semua Rombongan Perguruan Tunjung Putih.


Tiandufu mengangguk, “Baik Senior, Sampai jumpa lagi di Pulau Api.”


***


[Laut Timur-Pulau Duyung-Perguruan Yin Biru]


“Mahaguru. Untuk apa kita meminta tumpangan dengan Perguruan Tunjung Putih?” Tanya seorang gadis belasan tahun berpakaian merah muda dengan rambut teruari kepada seorang wanita paruh baya yang menjabat sebagai Mahaguru Perguruan Yin Biru.


“Lingbai. Kamu ingat apa yang kamu katakan kepadaku usai mendapat pesan dari murid kita yang menghadiri Upacara Pewaris Dewa Perang?” Tanya Mahaguru itu kepada si gadis yang ternyata bernama Lingbai.


“Ingat Mahaguru. Dalam pesan itu, dikatakan kalau Pewaris baru itu berambut putih dan berusia 13 tahun, namanya Gofan, dia juga dikatakan mengenakan kalung kerang yang mirip dengan kalung kerang yang Mahaguru kenakan.” Sahut Lingbai.


“Itulah sebabnya. Karena kalung kerang itulah, aku ingin memastikannya sendiri, karena itu aku ingin melihat Pewaris itu secara langsung.” Ucap Mahaguru Perguruan Yin Biru.


“Jadi Mahaguru menggunakan alasan menumpang untuk bisa menemui Pewaris itu?”


“Benar.”


‘Jika benar, dia mengenakan kalung yang sama, mungkinkah itu juga Kalung Kerang Ajaib?’ Batin Mahaguru itu saat dia melihat ke arah kalung yang dia kenakan.


Bersambung...

__ADS_1


Sambil menunggu kelanjutan PenSiL (Pendekar Sembilan Langit) *Singkatannya agak maksa* 😂... yuuk mampir ke author sebelah... Ceritanya tentang petualangan seorang bocah 10 tahun bernama Widura yang menjalani kehidupan baru untuk melawan iblis "Legenda Pendekar Garuda". Sudah ada tiga episode loh.... Jangan lupa Klik Vote, Favorit, Like, dan Komen sesudah membaca.


Terima Kasih Dan Semoga Terhibur.


__ADS_2