Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 187. Pertempuran Membara di Pulau Api bg. 4


__ADS_3

Gofan terus menerus ditarik masuk, semakin dalam masuk ke dalam tanah, menuju ke arah cekungan tanah tempat Kepompong Hitam berada.


Sementara itu, di dalam Menara Dewa Naga setengah jadi, ketiga Trah Naga panik, berkat perlindungan Menara Naga, mereka tidak terpengaruh oleh Energi dari Batu Kuasa.


“Gawat! Bahkan Haiwa yang berada di dalam Tongkat itu juga terkena kuasa dari Batu itu...” Ucap Longwang, di layar di depan ketiganya jelas terlihat bahwa Gofan masih terus bergerak di dalam tanah dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Kepompong Hitam.


Longwang sudah berusaha menghubungi kesadaran Gofan, tapi semua seakan terputus, kecuali Gofan sendiri menyadari apa yang terjadi, tidak akan ada yang bisa membebaskannya dari Energi Batu Kuasa.


“Paman. Kita bisa meningkatkan kekuatan Jiwanya... Saat ini, karena Tubuh Racunnya, dia belum bisa menggunakan Saint Mental. Kita kirimkan seuntai Jiwa kita untuk memperkuat Jiwanya, itu pasti cukup untuk membangkitkan kesadarannya.” Ucap Longwei.


Ide ini, sebenarnya sudah dipikirkan oleh Ketiganya, tapi mereka ragu untuk melakukannya. Sekarang, waktu telah mendesak, tidak ada pilihan lain. Akhirnya Longwang, Longwei, dan Longyun, masing-masing mengirimkan seuntai kekuatan Jiwa mereka ke dalam Kubus Titik Pusat Jiwa Gofan.


Tiga untai kekuatan Jiwa berbentuk Naga Biru melesat keluar dari Menara Dewa Naga setengah jadi, dan masuk ke dalam nadi Gofan, menyusuri aliran darahnya menuju ke Kubus Titik Pusat Jiwa Gofan.


*Zyuut*


Kubus itu bergetar, Tiga untai kekuatan Jiwa berbentuk Naga Biru melesat masuk ke dalamnya. Ketiga Naga Biru berputar-putar di dalam Kubus Titik Pusat Jiwa Gofan. Mereka meraung-raung dan membuat gumpalan Energi Jiwa berkumpul di tengah putaran mereka. Dalam hitungan tiga hela napas sebuah cahaya putih mulai muncul dari gumpalan Energi Jiwa. Cahaya itu berbentuk sosok, sosok yang mirip sekali dengan Gofan. Sosok cahaya itu adalah Benih Jiwa, dia duduk bersila dengan mata tertutup.


Awan kumpulan Energi mulai terbentuk di atas Benih Jiwa. Energi Surga, Energi Mental, Energi Elemen, Energi Sihir, semua Energi yanh dimiliki Gofan di dalam Kubus Titik Pusat Jiwanya membentuk awan warna-warni di atas Benih Jiwa.

__ADS_1


*Blazh* Benih Jiwa membuka matanya. Tiga untai Jiwa berbentuk Naga menyusut dan menyatu dengan Benih Jiwa. Disusul oleh awan warna-warni, semuanya terserap ke dalam Benih Jiwa.


Benih Jiwa Gofan mengangkat kedua tangannya dan mulutnya tampak seperti berteriak, membuat Kubus itu berguncang hebat dan menghancurkan batas dari pengaruh Batu Kuasa. Kesadaran Gofan diguncang oleh dengungan teriakan dari Benih Jiwanya dan kemudian dihisap menyatu ke dalamnya. Benih Jiwa yang awalnya berbentuk cahaya, kini terlihat lebih hidup. Kini dia mirip sebuah patung kecil dengan warna Kuning.


Di luar Gofan akhirnya tersadar dan menyadari situasi yang sedang dia hadapi. Dia meronta mencoba melepaskan diri dari jeratan tentakel darah itu. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa melepaskan dirinya dari jeratan tentakel darah.


Beberapa saat sebelum itu, di dalam cekungan tanah, sesosok manusia bertubuh emas keluar dari dalam Kepompong Hitam, di tangannya, seorang Gadis dengan mata berdarah terkulai tidak sadarkan diri. Sosok bertubuh emas itu, Dewa Gelap, dia telah menyelesaikan sebagian Kebangkitannya dan Gadis itu adalah Lengyue, dia telah kehilangan kedua matanya, tapi setidaknya dia masih bernyawa.


Sementara Gumulryong telah mati dalam tubuh dan Jiwa, tubuhnya diambil alih dan Jiwanya telah menyatu kembali dengan Jiwa Dewa Gelap. Gumulryong adalah salah satu serpihan Jiwa Dewa Gelap. Kini sosok Dewa Gelap terlihat sama persis seperti Gumulryong tetapi memiliki mata seindah mata Lengyue.


“Hebat juga. Dia bisa terbebas dari pengaruh Batu Kuasa, tapi itu.. tidak akan membebaskanmu dari cengkramanku.” Ucap Dewa Gelap. Matanya bersinar dengan kebanggaan.


Dewa Gelap mengangkat tangan kirinya dan membentuk cengkraman kuat seperti sedang meremas sesuatu.


“Aaarrgghh!...” Teriak Gofan. Rasa sakit yang teramat sangat menyerang sekujur tubuh dan Jiwanya. Unsur hidupnya terus menerus diambil paksa oleh tentakel darah. Saat tubuh Gofan mulai layu dan kulitnya menua, tentakel darah mencoba menarik keluar Pagoda Jindun.


Pagoda Jindun bergetar, retakan mulai terlihat di beberapa bagian Pagoda itu, cahaya merah yang menyelimutinya diserap habis oleh Tentakel darah. Di saat cahaya merah itu menghilang, hubungan antara Pagoda Jindun dan Gofan terputus. Pagoda itu terbang keluar dengan cepat menuju ke arah Dewa Gelap berada.


Gofan menyadari kehilangan itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa, saat ini, tubuhnya melayu, darahnya perlahan-lahan mengalir ke arah Dewa Gelap.

__ADS_1


“Lebih baik bagimu untuk mati dalam pengaruh Batu Kuasa... Tapi aku tidak menyangka, kamu bisa membebaskan diri.” Dewa Gelap meraih Pagoda Jindun yang baru saja tiba bersama dengan darah dan unsur kehidupan milik Gofan.


Tapi...


Baru saja beberapa tetes darah Gofan menyatu dengan tubuhnya, Dewa Gelap merasakan rasa sakit yang luar biasa, tubuh emasnya mendadak meredup tidak lagi memancarkan kegagahan.


“Ini?!... Teratai Racun Pelangi?” Wajah Dewa Gelap mendadak pucat. Dia tahu bahwa Gofan memiliki kemampuan terkait racun, tapi dia tidak menyangka jika itu berkaitan dengan Teratai Racun Pelangi.


“Uhk.....” Dewa Gelap batuk tiga suap darah, dan di setiap darah yang keluar itu tumbuh bunga teratai berwarna hitam. Melihat itu, wajahnya semakin pucat.


“Baj**ngan. Bocah ini... Bagaimana bisa dia memiliki Teratai Racun Pelangi?... Uhk... ” Dewa Gelap melambaikan tangan kirinya dan memotong paksa tentakel darah yang menghisap unsur kehidupan Gofan.


**


Tentakel darah yang menjerat Gofan menghilang, perlahan unsur kehidupannya mulai kembali, dia masih terkubur di bawah tanah, di dalam sebuah terowongan yang dibentuk oleh tentakel darah. Gofan menutup mata dan memutar basis budidaya Kitab Surga Sembilan Langit, berusaha untuk menyembuhkan tubuh dan Jiwanya.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia menghentikannya?...” Gofan menarik napas dan mulai menghisap Energi Langit dan Bumi, “Apa pun itu, aku bersyukur dia tidak melanjutkannya... itu....” Gofan menghela napas lega, dia bersyukur bisa selamat dari kematian. Meski dia tidak tahu apa penyebabnya. Itu terlalu mengerikan untuk dilanjutkan.


Di sisi lain, Dewa Gelap juga melakukan hal yang sama, dia juga duduk bersila dan mulai mendorong keluar semua hal yang berhubungan dengan Gofan, terutama darah Gofan yang mengandung Teratai Racun Pelangi. Dia batuk tiga sampai enam kali lagi, dan di setiap batuknya akan ada teratai hitam yang tumbuh.

__ADS_1


Puluhan hela napas selanjutnya, Dewa Gelap membuka mata dan mulai menghisap tubuh dan Jiwa Ling Guo dan Fanjia. Salah satu dari serpihan Jiwanya adalah Ling Guo. Untuk berabad-abad lamanya, serpihan jiwa itu hanyut dalam arus Sungai Kuning, sebelum akhirnya bertemu dengan Gukguko yang dalam keadaan sekarat. Serpihan Jiwa itu masuk ke dalam tubuh Gukguko dan membantunya keluar dari dalam Sungai Kuning. Itulah alasan kenapa Gukguko bisa selamat dari Sungai Kuning.


Bersambung...


__ADS_2