Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 148. Gumulryong Dan Penyerangan Partai Gunung Angkasa


__ADS_3

Tidak pernah terlintas di dalam pikirian Lengyue, bahwa dia akan diculik seperti sekarang. Seseorang yang bisa meramalkan masa depan, pastinya selalu tahu kapan bahaya akan mendatanginya.


Tapi hari ini, Lengyue tidak seberuntung itu. Meski dia bisa melihat masa depan. Seseorang lain masih bisa mengelabui penglihatannya dan membuatnya mengalami kejadian hari ini. Dia diculik oleh Dongkho.


Dongkho, seorang pria yang bertubuh gempal, usianya tidak lebih dari 30an. Saat ini merupakan Kapten Kelima dari Bandit Serigala Biru.


*Trang*


*Cruats*


*Trang*


*Cruats*


Dentuman pedang berbenturan masih terus menggema. Nenek Lengyue sedang berusaha menyelamatkannya dari tangan Dongkho.


Qimouzha, Nenek Lengyue, adalah seorang sesepuh di Partai Gunung Angkasa. Setelah menyerahkan jabatan Ketua Partai kepada anaknya, Qimouzha lebih senang menjadi pengawal pribadi Lengyue.


Semenjak Lengyue menjadi seorang cenayang, banyak pihak yang berkeinginan untuk menggunakan kemampuannya untuk menerawang masa depan mereka dan mencegah bencana yang mungkin mereka alami.


Qimouzha adalah orang yang membuat mereka takut untuk bertindak lebih kepada Lengyue. Selain itu, selama ini Lengyue selalu disembunyikan di sebuah tempat rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh keturunan trah Qimo.


Hanya saja setahun belakangan, Lengyue memilih untuk lebih aktif di dunia luar. Sebuah penglihatan masa depan tentang sebuah kekacauan besar. Lengyue pergi untuk mencari Lenfan-Gofan- dan membantunya mengatasi kekacauan yang akan datang.


“Nenek tua ini, dia gigih sekali... Sial.. Dimana orang-orang itu, bukannya mereka berjanji akan turun tangan jika aku kewalahan.” Guman Dongkho sembari masih terus menahan serangan pedang Qimouzha.


“Tapak Pemahat Jiwa”


Melihat perhatian Dongkho sedikit teralihkan, Qimouzha mendekat, dan menyerangnya dengan serangan tapak tangan kirinya.


*Duagh*


Jurus tapak Qimouzha terlihat sangat lembut. Lebih mirip sebuah tepukan pelan saat menyentuh bahu kiri Dongkho. Namun akibat dari tepukan pelan itu, separuh tangan kiri Dongkho mati rasa. Tangan kirinya lumpuh.


“Arghh....” Teriak Dongkho kesakitan. Bahu kirinua sedikit bergeser dan tangan kirinya lumpuh. Darah segar keluar dari sudut kiri bibir Dongkho.


Setelah Dongkho mundur tiga sampai empat langkah, Qimouzha kembali menyerang. Sekali lagi, dia menyerang dengan menggunakan serangan tapak yang sama.


“Tapak Pemahat Jiwa”


Tapi belum sempat serangan kedua Qimouzha mencapai tubuh Dongkho, seseorang muncul dan melindunginya.


*Zyuut*


“Tapak Angkara Geni”


*Duagh*


Dua buah serangan tapak saling berbenturan. Namun, Qimouzha terpukul mundur cukup jauh. Sementara seseorang yang melindungi Dongkho, terlihat baik-baik saja.


“Ukh....” Qimouzha memuntahkan darah sesaat setelah terpukul mundur.


“Senior tua. Mundurlah, selagi aku berbaik hati.” Ucap orang yang melindungi Dongkho.


“Kamu!? Xionghuo!?.”

__ADS_1


“Ukh... Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menolong bandit ini?.” Tatap heran Qimouzha sembari menahan sakit di pergelangan tangan kirinya.


“Haha...Ternyata kamu masih mengenaliku... Aku dan dia berteman. Jadi, kenapa tidak jika aku membantunya?....”


“Qimouzha. Berhentilah melawan dan pulang selamatkan anak, menantu, dan calon cucu barumu... Jika tidak.. kamu mungkin akan kehilangan semuanya.” Ucap orang yang melindungi Dongkho sembari tertawa pelan.


Pria bernama Xionghuo ini adalah seorang Pendekar Lepas. Meski tanpa perguruan, kesaktian dan kekuatannya diakui oleh banyak perguruan besar di Benua Penda. Saat ini, usianya hampir mencapai 50 tahun dan kekuatannya berada pada ranah Human God tahan pertengahan, setahap lebih tinggi daripada Qimouzha.


Selama ini, Xionghuo terkenal sebagai orang netral, dia tidak pernah ikut campur urusan yang terkait dengan sebuah perguruan atau pun partai bela diri. Xionghuo bahkan menolak untuk menjadi pejabat pemerintahan. Namun hari ini dia muncul dan ikut membantu penculikan putri Ketua Partai Gunung Angkasa.


“Apa maksudmu?.” Tanya Qimouzha.


“Keluarga Gu sedang menuju ke Partai Gunung Angkasa. Mereka akan merebut kembali, apa yang menjadi milik mereka... Mereka akan menyerang Partai Gunung Angkasa.” Sahut Xionghuo.


Qimouzha diam sesaat, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Xionghuo. Sejak kapan Partai yang dulu dipimpinnya itu membuat masalah dengan Keluarga Trah Gu.


“Kenapa Diam? Apa perkataanku tadi kurang jelas?.” Tanya Xionghuo setelah melihat Qimouzha terdiam.


“Omong kosong! Jangan mencoba menipuku... Menyingkirlah dan kembalikan cucuku-!.”


“Keras kepala-!.” Ucap Xionghuo, sembari mengibaskan tangan, memberi tanda bagi Dongkho untuk segera melarikan diri.


*Zyuut*


Qimouzha tidak mempercayai kata-kata Xionghuo, dia kembali menerjang maju. Serangan pedangnya terus mengarah pada Xionghuo yang selalu menghindar.


“Senior tua. Ada apa denganmu? Apa ini saja keahlian seorang keturunan Qimo?” Sindir Xionghuo saat dirinya dengan mudah menghindari serangan pedang Qimouzha.


Meski kesal dengan ucapan Xionghuo tersebut, Qimouzha tidak dapat berbuat banyak. Pria yang dihadapinya sekarang memiliki kemampuan setahap di atasnya, selain itu, pikiran Qimouzha tengah teralihkan oleh Dongkho yang telah beranjak pergi.


Mengikuti perintah Xionghuo, Dongkho mundur perlahan menuju ke ujung anjungan Kapal.


“Eit... Mau kemana? Hadapi aku dulu..” Cegah Xionghuo saat Qimouzha berusaha menyusul Dongkho.


Raut wajah tua Qimouzha semakin tidak karuan. Dia semakin geram dengan tindakan Xionghuo.


“Piuit...!.” Dongkho bersiul ketika dia tiba di anjungan Kapal tersebut.


*Groaaak* Sesaat setelah itu, seekor burung gagak seukuran dua kali pria dewasa melintas di atas Kapal tersebut.


“Senior tua. Maaf. Sepertinya aku, hanya bisa menemanimu sampai di sini... Terimalah ini sebagai hadiah perpisahan kita.”


“Tendangan Asap Kedua Belas”


Xionghuo melancarkan sebuah tendangan ke arah Qimouzha. Kedua kaki Xionghuo tampak berwarna merah seperti terbakar, asap-asap hitam mengepul keluar dari pori-pori kakinya.


*Duagh*


*Duagh*


Tendangan Xiounghuo, menjatuhkan pedang yang digenggam Qimouzha.


*Duagh*


*Duagh*

__ADS_1


Tidak hanya sekali, Qimouzha terkena dua belas kali tendangan Xiounghuo. Gerakan tendangan Xionghua berputar dengan sangat cepat. Kaki kiri dan kaki kanan Xiounghuo menendang bergantian.


“Ukh... ” Qimouzha jatuh dan memuntahkan beberapa gumpalan darah. Tubuhnya gemetaran dan rasa sakit memenuhi sekujur tubuhnya.


Perlahan pandangan mata Qimozha mulai menjadi kabur.


“Jangan salahkan aku, jika kamu kehilangan segalanya.” Samar-samar ucapan terakhir Xionghuo terdengar di telinga Qimouzha sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


***


[Partai Gunung Angkasa]


Tepat di saat Qimouzha tengah berusaha menyelamatkan Lengyue dari tangan Dongkho. Keluarga Trah Gu datang menyerang Partai Gunung Angkasa.


“Lengjing-! Pencuri! Keluarlah... Kembalikan Gada Penghancur Bumi milik kami! Atau kami akan menghancurkan rumahmu ini-!” Teriak seorang pria dari Keluarga Gu.


Saat ini, ada lebih dari puluhan orang dari Keluarga Gu yang berada di depan Gerbang masuk Partai Gunung Angkasa. Mereka semua terlihat menunggangi serigala bermata biru dengan rambut berwarna keperakan.


“Gubang. Tidak perlu memanggilnya lagi. Bunuh mereka dan hancurkan gerbang ini.” Ucap seorang Pria kurus bermata satu kepada Gubang, pria yang tadinya berteriak memanggil Lengjing.


“Baik Kak.” Sahut Gubang sebelum bilah pedang miliknya menebas mati, dua orang murid Partai Gunung Angkasa yang sebelumnya berjaga di luar Gerbang.


“Serang-! Hancurkan gerbang ini!!” Teriak Gubang.


“Berhenti!” Teriak Lengjing yang baru saja muncul di atas Gerbang Masuk Partai miliknya tersebut.


Melihat Lengjing muncul, Pria kurus bermata satu itu melambaikan tangan kanannya. Seluruh anggota Trah Gu yang telah bersiap menerjang gerbang, berhenti.


“Lengjing. Kembalikan Gada Penghancur Bumi. Setelah itu, potong lengan kananmu sebagai kompensasi.” Ucap Pria kurus bermata satu dari atas serigala tunggangannya.


“Gumulryong. Sejak satu matamu menjadi buta. Otakmu juga menjadi tumpul... Bukankah Gada Penghancur Bumi telah lama hilang, kenapa baru sekarang kamu menuduhku mencurinya?...”


“Aku bahkan belum pernah melihat Gada itu. Kenapa aku harus memberikan satu lenganku kepadamu?” Sahut Lengjing.


“Tidak pernah melihatnya? Benarkah?”


“Putrimu sendiri yang mengakui bahwa dia membantumu mencuri Gada itu dari kediaman Keluarga Gu kami.” Ucap pria bermata satu bernama Gumulryong.


“Lengjing. Berhentilah mengelak. Kembalikan Gada Penghancur Bumi dan segera potong lengan kananmu!” Imbuh Gumulryong.


Gumulryong, seorang Pria muda berusia 24 sampai 25 tahunan. Dia hanya memiliki satu buah mata yang masih berfungsi, mata kanannya terluka dan buta. Setidaknya begitulah yang terlihat. Dia hanya memiliki satu mata kiri untuk melihat.


Tubuhnya kurus dan sedikit tinggi. Meski usianya masih muda, karena tubuhnya yang kurus, dia terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya.


Gumulryong adalah seorang anak angkat dari seorang Penatua di Trah Gu. Ayah angkatnya bernama Gulangryong. Dia menemukan Gumulryong saat sedang berburu makhluk buas.


Saat itu, Gulangryong melihat seorang siluman perempuan yang tengah sekarat sembari menggendong seorang bayi. Sebelum meninggal siluman perempuan itu meminta Gulangryong untuk merawat dan membesarkan anaknya. Anak itulah, Gumulryong, yang kini memimpin penyerangan ke Partai Gunung Angkasa.


“Hahaha...” Lengjing tertawa, “Yang harusnya memberi kompensasi adalah kalian. Kembalikan dua nyawa murid perguruanku dan berhenti menuduhku yang bukan-bukan, apalagi mengatas namakan Putriku.” Ucapnya.


“Seseorang melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat putrimu mengakui, bahwa dia telah membantumu mencuri Gada Penghancur Bumi... Jika kamu masih berkilah, maka terimalah ajalmu-!” Sahut Gumulryong saat dia berdiri di atas punggung serigala tunggangannya dan melompat tinggi ke arah Lengjing.


*Zyuut*


Gumulryong tiba di sebelah Lengjing, di atas Gerbang masuk partai tersebut.

__ADS_1


“Hidup dan matiku bukan di tanganmu!” Ucap Lengjing sembari menyerang ke arah Gumulryong.


Bersambung...


__ADS_2