Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 89. Tujuh Hari Sebelumnya bg. 2


__ADS_3

Debu-debu putih tersebut menutupi seluruh batu berwarna perak yang sebelumnya ditinggalkan Burka. Setelah debu-debu putih itu menutupi seluruh permukaan batu perak tersebut, debu putih kembali berterbangan. Batu berwarna perak tersebut menghilang bersamaan dengan debu putih yang berterbangan.


Debu putih tersebut terbang beberapa puluh langkah kaki ke arah utara dan masuk ke dalam celah ventilasi sebuah gubuk kecil. Setelah masuk ke dalam gubuk, debu putih itu masuk ke lengan jubah seorang pria yang ternyata adalah Xiong Ma.


" Putri. Pendekar Meghalaya itu meninggalkan batu perak ini di sana " Ucap Xiong Ma sembari menyerahkan batu tersebut kepada Lixiayo.


Xiong Ma baru saja menggunakan salah satu jurusnya untuk mengambil batu berwarna perak itu dari depan Paviliun Lumbung Parta tanpa diketahui oleh para Pendekar Berpedang yang sedang menyamar.


Jurus milik Xiong Ma tersebut, dapat membuat seluruh atau sebagian anggota tubuhnya berubah menjadi serpihan debu halus berwarna putih, sebagai seorang Siluman Pasir Putih, tidak sulit bagi Xiong Ma melakukan hal tersebut.


Di dalam gubuk tersebut, ada empat orang yang sedang duduk sembari mengawasi Meiling. Meiling terikat dalam keadaan tidak sadarkan diri di atas ranjang di dalam gubuk tersebut.


Empat orang tersebut yaitu Lixiayo, Xiong Ma, seorang pria tua yang merupakan jelmaan Siluman Kodok Punguk bernama Qingwahong dan seorang pria berambut putih dari Benua Filantropia bernama Gennai Dadoros.


Lixiayo tertawa setelah melihat batu berwarna perak tersebut kini ada di telapak tangannya " Aku tidak menyangka, akan semudah itu menggertak mereka. Gen, apa yang kamu tulis di kertas itu? Kenapa mereka menurutinya begitu saja? " Tanya Lixiayo kepada Gennai Dadoros.


" Bukan apa-apa, aku hanya menulis asal-asalan di kertas itu. Siapa yang menyangka mereka akan meletakkan batu perak itu dengan semudah itu. Tapi, apa benar batu perak itu adalah setengah bagian dari Batu Mahkota? " Ucap Gennai Dadoros dari tempat duduknya.


" Benar Putri. Aku juga sedikit mencurigai kalau batu ini kemungkinan palsu " Ucap Xiong Ma menimpali ucapan Gennai Dadoros.


" Ini asli. Aku punya setengah bagian lainnya... Ini lihatlah. Sama bukan? " Lixiayo mengeluarkan setengah bagian lain dari Batu Mahkota dari Cincin Dimensi miliknya dan memperlihatkan batu itu kepada ketiga anak buahnya.


Mereka mengangguk setelah melihat bahwa batu berwarna perak itu memang sama persis dengan setengah bagian Batu Mahkota yang diperlihatkan Lixiayo.


" Kenapa batu itu masih kelihatan tidak utuh Putri? Bukankah setelah Putri mendapatkan sisanya, seharusnya Batu Mahkota itu menjadi utuh kembali? " Tanya Qingwahong.


" Benar. Batu ini belum utuh sepenuhnya. Sedikit bagian lain ada di tangan Raja Kerajaan Penda... "


" Batu Mahkota awalnya terbagi menjadi dua bagian, setengahnya ada di tangan Ayahku sementara setengah lainnya ada di tangan Raja Kerajaan Penda terdahulu... "


" Aku dengar, sebagian dari batu milik Raja terdahulu diberikan kepada seorang sahabatnya. Inilah batu yang diberikan oleh Raja terdahulu itu " Sahut Lixiayo sembari memasukkan batu-batu itu kembali ke dalam Cincin Dimensinya.


" Jadi maksud Putri, sahabat Raja terdahulu itu adalah Tianfuzi? " Tanya Qingwahong kembali.


" Bukan... Aku sendiri tidak tahu siapa sahabat Raja itu, tapi yang aku tahu, pada akhirnya batu yang dimiliki sahabat Raja terdahulu berakhir di tangan Tianfuzi "


" Sudah jangan bertanya lagi. Gen, lakukan bagianmu, sebelum gadis itu sadarkan diri... Kalian juga bersiaplah ! " Seru Lixiayo ketika dia menggunakan penutup wajah dan hendak beranjak pergi.


Gennai Dadoros mengusap-usap wajahnya usai mendengar perintah Lixiayo. Sementara Qingwahong dan Xiong Ma juga mengenakan kain penutup wajah berwarna putih yang serupa dengan yang dipakai oleh Lixiayo.

__ADS_1


" Beginikah wajah bocah itu? Apakah sudah sama persis? " Gennai Dadoros menunjukkan wajahnya kepada Lixiayo dan rekan-rekannya itu.


" Benar-benar mirip. Pantas saja Putri meminta bantuanmu " Puji Qingwahong setelah melihat perubahan wajah Gennai Dadoros.


" Hahaha... Bukan apa-apa, ini hanya masalah kecil... " Sahut Gennai Dadoros menerima pujian yang dilontarkan Qingwahong.


Gennai Dadoros merubah wajahnya menjadi menyerupai wajah Gofan. Dengan demikian semua kesalahan pada akhirnya akan dituduhkan kepada Gofan dan kelompoknya.


" Kerja Bagus. Lakukan sesuai rencana. Aku akan pergi sekarang juga. Xiong Ma, Qingwahong, Ayo ! " Seru Lixiayo sembari membuka pintu gubuk.


*Tyuung*


*Duagh*


Sebuah tombak melayang masuk dari luar pintu gubuk ketika baru saja dibuka oleh Lixiayo.


" Hampir saja !? "


" Kurang ajar ! Siapa di sana? Keluar !! " Teriak Lixiayo.


Lixiayo terkejut bukan main saat tombak itu menyerang ke arahnya. Hampir saja Lixiayo terkena serangan tombak tersebut, beruntung dia mampu menghindari tombak tersebut dengan jurus meringankan tubuh miliknya. Tombak itu kini menancap di dinding tembok yang menghadap langsung ke pintu gubuk.


*Tyuung*


*Zyuut*


*Traang*


" Mundur Putri. Biar aku saja yang mengatasi ini ! " Seru Xiong Ma setelah maju dan menangkis tombak tersebut dengan pedang miliknya.


" Ba****an ! Pengecut ! Keluar kalau berani !! " Teriak Xiong Ma yang kini berdiri di luar gubuk.


*Zyuut*


*Zyuut*


Puluhan pendekar berpakaian serba hitam muncul dan mengepung gubuk kecil tersebut. Xiong Ma terkejut melihat puluhan pendekar itu muncul dan mengepung mereka.


" Gen. Lakukan sesuai rencana... Kami akan mengulur waktu untuk sementara waktu. Lakukan dengan cepat ! Qingwahong, Ayo... ! " Lixiayo keluar dari dalam gubuk bersama dengan Qingwahong.

__ADS_1


Melihat begitu banyaknya pendekar yang mengepung mereka. Lixiayo memutuskan untuk ikut terjun bertarung dan mengulur waktu membantu Xiong Ma bersama dengan Qingwahong.


' Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah mereka empat Pendekar Meghalaya itu? ' Batin Xiong Ma ketika melihat Burka, Shadev, Shingha, dan Rajhu ada di antara puluhan pendekar yang mengepung gubuk itu.


" Xiong Ma. Apa-apaan ini? Mengapa mereka berempat bisa mengetahui tempat ini? " Bisik Lixiayo yang juga mengetahui tentang Burka dan rekan-rekannya.


" Aku tidak tahu Putri. Jelas-jelas sebelumnya mereka sudah pergi ke arah Penginapan Bintang Selatan " Sahut Xiong Ma sambil berbisik.


Shadev tertawa melihat ekspresi keterkejutan Lixiayo dan kedua anak buahnya, " Kalian pikir kami ini kumpulan orang-orang bodoh ! Mana mungkin kami akan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan... Batu itu palsu.. Lihat lagi batu yang kami berikan itu Hahaha "


Xiong Ma, Qingwahong, dan Lixiayo terkejut mendengar kata-kata Shadev yang diucapkannya dalam bahasa Meghalaya itu. Mereka bertiga mengerti kata-kata Shadev, karena itu mereka terkejut.


Sebelumnya Lixiayo telah dengan jelas mengatakan bahwa batu perak yang ditinggalkan Burka di depan Paviliun Lumbung Parta itu adalah asli, tapi kini Shadev menertawai mereka karena batu yang mereka terima itu palsu.


Lixiayo segera mengeluarkan kembali batu berwarna perak tersebut dari dalam Cincin Dimensinya, untuk memastikan kata-kata Shadev.


" Tidak Mungkin ! Bagaimana bisa !? " Lixiayo kaget sejadi-jadinya.


Ketika Lixiayo mencoba mengeluarkan kembali batu berwarna perak tersebut dari Cincin Dimensi, yang keluar hanyalah batu biasa. Tidak hanya sampai di sana, bahkan semua benda dan harta yang disimpan Lixiayo di dalam Cincin Dimensinya berubah menjadi batu dan pasir.


' Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Harta benda di dalam Cincin ku semuanya berubah menjadi sampah ' Batin Lixiayo.


" Putri. Sepertinya kita telah masuk ke perangkap mereka " Bisik Qingwahong sembari menunjuk ke arah seorang gadis kecil bergaun biru yang tersembunyi di belakang para pendekar berpakaian serba hitam tersebut.


' Xiolingling !? ' Batin Lixiayo ketika dia melihat ke arah gadis yang ditunjuk oleh Qingwahong.


" Xiolingling ! Kembalikan Batu Mahkota dan seluruh isi Cincin Dimensiku !! " Bentak Lixiayo setelah menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.


Lixiayo sempat curiga ketika Burka dan kelompoknya dengan mudah mengikuti instruksi di dalam surat yang ditulis oleh Gennai Dadoros, tetapi karena batu yang diperolehnya adalah batu yang asli, Lixiayo menepis hal tersebut.


Kini Lixiayo dengan jelas mengerti alasan Burka dan rekan-rekannya itu dengan mudah menyerahkan bagian lain dari Batu Mahkota. Itu semua dikarenakan ada Xiolingling di belakang mereka.


Gadis kecil bernama Xiolingling itu tertawa setelah Lixiayo membentak dirinya, " Aku tidak menyangka bahwa aku masih seterkenal dulu... Padahal sudah hampir 40 tahun aku tidak terjun ke dunia Bela diri... "


" Senang sekali rasanya, ada orang yang masih mengenali diriku Hahaha "


Xiolingling melangkah maju sehingga kini dia berdiri di depan para pendekar berpakaian serba hitam berdampingan dengan keempat pendekar muda Meghalaya. Jari-jari kecil tangan Xiolingling terlihat memegang sebuah Cincin Dimensi yang kemudian ditunjukkannya cincin tersebut ke arah Lixiayo.


" Sini ambil sendiri kalau bisa Hahaha " Tawa Xiolingling ketika memperlihatkan cincin yang berisi semua benda dan harta milik Lixiayo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2