Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 32. Satu Minggu Lagi


__ADS_3

Sementara Mogui terus mengejar Guxiu yang mencoba kabur, Yubing duduk bersila mengontrol racun di dalam tubuhnya, dia tidak bergerak, dia menenangkan diri agar racun tidak menyebar semakin cepat.


Yanse kini bertarung sendiri melawan Jingwu, tentu saja Yanse terdesak, dia kalah tangguh dari Jingwu. Untung saja Moyo berhasil memukul mundur Ligong hingga tidak mampu bertarung lagi, Moyo berhasil menyarangkan serangan tombaknya tepat ke arah perut Ligong, sehingga Moyo memiliki kesempatan untuk langsung beralih membantu Yanse menghadapi Jingwu.


Nian membalas serangan Putuo dengan menggunakan serangan jurus meringankan tubuhnya dipadukan dengan jurus tebasan ranting berlapis baja, membuat Putuo terluka dan mundur puluhan langkah.


-Sial, Orang tua itu malah kabur, dasar tidak berguna !-


*Trang*


*Trang*


Jingwu kesal dengan tindakan Guxiu yang kabur begitu saja tanpa membantu mereka menyelesaikan tugas.


Jingwu terus mengeluarkan jurus untuk menghadapi serangan Yanse dan Moyo, dia mencari kesempatan untuk menyerang Yubing yang bersila tak jauh dari tempatnya bertarung menghadapi Yanse dan Moyo.


Di sisi lain Daksa berhasil mendesak Hanbo mundur, beberapa tebasan pedang Daksa bersarang di tubuh Hanbo. Sementara serangan tongkat besi Hanbo dengan mudah dihindari dan ditangkis oleh Daksa.


"Tebasan Pedang Sabit"


Daksa mengeluarkan jurus pamungkasnya, jurus tebasan pedang sabit, jurus ini adalah jurus yang dipelajari Daksa ketika dia masih berada di Benua Meghalaya.


Jurus ini membuat tebasan pedang Daksa menghembuskan angin melengkung seperti bulan sabit, menyerang dari jarak jauh, angin yang tercipta dari tebasan itu tajam, setajam serangan langsung dari pedang itu sendiri.


Daksa mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya dan menyatukan angin dari tebasan pedang dengan tenaga dalam ketika dia menyerang.


*Spalsh*


*Cruaatt*


"Ukh.... Arrgghh...!!!"


Hanbo gagal menahan serangan tebasan angin itu, tubuhnya terluka parah, darahnya menetes berceceran karena luka dari tebasan angin itu cukup dalam dan lebar.


Tongkat besi di tangan Hanbo terjatuh dan dia jatuh berlutut ke tanah, Hanbo sudah tidak sanggup lagi bertarung, matanya mulai buram dan dia jatuh tertelungkup ke tanah.


"Mati Setan Betina !!!"


Teriak Daksa dengan geram, Daksa mengabaikan Hanbo yang tidak sadarkan diri dan menyerang maju ke arah Yubing.


Sekali lagi, Daksa menyerang dengan serangan pamungkasnya.


"Tebasan Pedang Sabit"


Nian melihat apa yang dilakukan Daksa, dia segera menengahi serangan Daksa. Tetapi serangan itu adalah serangan angin tajam yang diserang dari jarak jauh, meski Nian menangkis serangan itu dengan pedangnya, serangan angin itu masih menembus tangkisan pedang Nian dan melukainya cukup parah.


"Mati kalian....!!"


teriak Daksa yang marah melihat serangannya dihalangi Nian.


Daksa mengayunkan lagi pedangnya, kali ini dia mengerahkan banyak tenaga dalam, sehingga tebasan angin yang terbentuk tampak lebih padat, empat kali tebasan dan empat tebasan angin tajam tercipta menuju ke arah Nian yang menghadang serangan itu.


"Tebasan Ranting Berlapis Baja"


Nian tidak tinggal diam, karena sebelumnya telah gagal menangkis serangan Daksa, Nian mengerahkan jurus andalannya untuk menghadapi serangan Daksa, gerakan serangan pedang Nian itu tampak rapuh dan mudah dikalahkan, namun ketika dia mengayunkan pedangnya, tebasan yang dihasilkan sangat kuat seperti sekeras baja.


*Trang*


*Trang*


*Cruuaatt*


*Cruuaatt*


"...Ukh.... Heuft... Arrgghh....!!!"


Nian hanya berhasil menangkis dua serangan dari empat serangan Daksa, itupun dia masih terluka meski berhasil menangkis dua serangan itu.


Dua serangan lain gagal ditangkis Nian, dia terluka parah terkena serangan itu, bahkan topeng yang dikenakannya terbelah dua. Nian langsung jatuh tertelungkup ke tanah, tidak sadarkan diri.


"Haha... Mati !!!"


Mata Daksa tampak sangat merah, dia benar-benar ingin membunuh Yubing.


Setelah mengalahkan Nian, Daksa menerjang ke depan dan menebas langsung ke arah Yubing.

__ADS_1


Xionan sebelumnya ikut mengejar ke arah Guxiu, namun karena Guxiu dan Mogui terlalu cepat, dia berhenti dan kembali melihat keadaan Yubing. Saat Xionan tiba kembali ke tempat Yubing, dia melihat Daksa yang menyerang dengan ganas ke arah Yubing.


Melihat itu, Xionan sekali lagi mengerahkan serangan panah jiwa, Xionan membentuk segel tangan, dan sebuah cahaya putih berbentuk panah keluar dari ujung-ujung jarinya.


"Selama aku masih ada di sini, jangan harap kamu bisa membunuhnya"


*Zyuut*


Xionan mengarahkan panah jiwa ke arah Daksa, panah jiwa itu masuk dan menusuk jiwa Daksa, namun dia tidak langsung mati di tempat. Jiwa Daksa terluka parah dan dia pingsan, tidak sadarkan diri.


"Sial, tenaga jiwaku sudah terkuras banyak, aku hanya bisa membuatnya terluka parah"


Xionan menggerutu, mendapati Daksa hanya terluka parah dan tidak sadarkan diri, dia tahu serangannya tidak membunuh Daksa.


Jingwu terkejut, melihat Daksa yang tiba-tiba jatuh tertelungkup, sama seperti dua anggota lain yang sebelumnya tiba-tiba mati, tetapi dia melihat masih ada gerakan bernapas pada tubuh Daksa, sehingga dia meyakini Daksa hanya tidak sadarkan diri.


-Sepertinya memang ada Senior lain yang diam-diam melindungi mereka, sial, kalau begini, kami bisa habis di sini-


Pikir Jingwu panik.


"Putuo, bawa Ligong, kita pergi... !"


Perintah Jingwu kepada Putuo untuk segera kabur, dia mengerahkan serangan terakhir dan berhasil memukul mundur Yanse dan Moyo, kemudian Jingwu mengambil tubuh Daksa dan pergi sekencang mungkin ke arah luar Hutan Bambu Kemarau.


Putuo mengangguk menanggapi perintah Jingwu dan langsung mengangkat tubuh Ligong yang masih terluka parah dan pergi mengikuti Jingwu ke arah luar Hutan Bambu Kemarau.


"Kurang ajar !... Beraninya kalian kabur..."


Moyo bangkit setelah sempat jatuh terkena serangan Jingwu dan bersiap untuk mengejar Jingwu dan anggotanya yang kabur.


*Zyuut*


"Berhenti! Biarkan saja"


Mogui tiba-tiba muncul dan menghentikan langkah Moyo.


Mogui baru saja kembali dari mengejar Guxiu, Mogui berhenti mengejar Guxiu setelah mendapatkan penawar lima racun, dan kembali ke tempat Moyo dan kelompoknya.


"Tapi Kek..?!"


"Lihat sekitarmu dan Lihat kondisimu, untuk sekarang biarkan saja dulu,"


Kata Mogui menenangkan Moyo, dia menyuruh Moyo memperhatikan keadaan sekitarnya dan keadaannya sendiri yang sudah cukup babak belur.


Keadaan sekitar Moyo memang sangat kacau, tiga orang meninggal, Hanbo dan Nian terluka parah hingga tidak sadarkan diri, Yubing keracunan, sementara dia dan Yanse benar-benar babak belur, banyak luka di tubuh mereka.


Moyo diam dan tidak lagi berkata-kata, dia menghampiri mayat kedua juniornya dan menutup mayat mereka dengan sebuah jubah yang dia keluarkan dari kantung ruangnya,


air mata Moyo menetes, dia diam di sebelah kedua mayat itu.


-Maafkan aku, aku tidak bisa melindungi kalian-


Tangan Moyo mengepal erat, dia benar-benar kecewa pada dirinya yang gagal melindungi dua juniornya itu.


Yanse menghampiri mayat pendekar muda yang sebelumnya ikut datang bersamanya, dia menutupi mayat pendekar muda itu dengan sebuah kain yang dia miliki.


Yanse kemudian menghampiri Moyo dan menepuk pundaknya,


"Pendekar Moyo, Mari kita makamkan dulu mereka, hari sudah mulai malam"


Moyo menghapus air matanya dan mengangguk menanggapi kata-kata Yanse, kemudian mereka berdua segera menyiapkan lubang makam.


Sementara Moyo dan Yanse mempersiapkan pemakaman, Mogui mengobati luka Hanbo dan Nian,


"Aih... Kalian cukup beruntung, untung saja nyawa kalian masih selamat, jurus ini lumayan kuat"


Mogui menggeleng-gelengkan kepalanya saat membalut luka di tubuh Hanbo dan Nian, dia melihat bekas luka itu cukup membahayakan nyawa, menurut Mogui serangan yang mereka terima bukanlah serangan biasa.


"Nona, ambil ini, ini mungkin bukan penawar, tapi aku yakin itu bisa menunda racun di tubuhmu"


Mogui melemparkan botol obat ke arah Yubing, dia sudah memeriksa obat yang diberikan Guxiu, dia sedikit kesal, karena obat yang diberikan Guxiu ternyata hanya penunda racun dan bukan penawarnya.


*Tap*


"Terima kasih Penatua"

__ADS_1


Yubing menangkap obat itu dan menangkupkan kedua tangannya, mengucap terima kasih atas bantuan yang diberikan Mogui.


"Sudahlah, minum dulu obat itu, itu mungkin hanya memberimu waktu satu minggu lagi, kau harus menemukan penawarnya selama satu minggu nanti "


Sahut Mogui, sambil memberikan pil luka dalam kepada Hanbo dan Nian.


Yubing mengangguk dan menelan pil yang ada di botol obat itu. Dia sedikit kecewa mendapati kemungkinan hidupnya hanya satu minggu lagi, tapi Yubing tidak putus asa, dia akan berusaha menemukan penawar racunnya. Kemudian Yubing kembali memejamkan mata dan mulai memulihkan dirinya.


Mogui berjalan ke arah dua mayat anggota Jingwu, dia memeriksa kedua mayat itu dan mendapati token Bandit Serigala Biru, ada di saku kedua mayat itu,


-Bandit Serigala Biru? beraninya mereka menyerang murid perguruan kami, aku akan membahas ini dengan penatua lain-


Yanse yang baru saja selesai memakamkan ketiga mayat bersama Moyo, menghampiri Mogui.


"Penatua Mogui, terima kasih atas bantuan anda, jika anda tidak muncul saat Guxiu memberi kami racun jantung, mungkin kami sudah mati, terima kasih Penatua"


Yanse mengatupkan kedua tangan dan membungkuk di hadapan Mogui.


"Bukan masalah, aku memang sengaja datang untuk memastikan keamanan kalian"


Sahut Mogui.


Mogui memang khawatir akan keselamatan nyawa cucunya, setelah mendapat kabar bahwa Moyo dan beberapa pendekar muda mencari pertemuan beruntung di Hutan Bambu Kemarau, Mogui khawatir dan menyusul kelompok Moyo tersebut, dan dia tiba tepat saat Guxiu hendak memberi racun jantung pada cucunya itu.


"Sayang sekali si Punuk Tua berhasil lolos, lain kali akan ku pastikan dia mati"


Imbuh Mogui sambil melipat kedua tangannya ke belakang punggung.


"Kek, Siapa mereka ?"


Tanya Moyo, dia yakin kakeknya sudah tahu identitas dua mayat yang sebelumnya diperiksa oleh kakeknya itu.


"mereka bandit, Bandit Serigala Biru... Tapi kenapa mereka menyerang kalian ?"


Setelah memberi jawaban kepada Moyo, Mogui bertanya kembali, ingin memastikan apa tujuan para bandit itu menyerang cucu dan teman-teman cucunya itu.


"Mereka ingin membunuh Pendekar Bunga Kamboja"


Sahut Moyo sambil menatap ke arah Yubing yang sedang memulihkan diri.


Mendengar perkataan Moyo, Yubing terkejut dan membuka kedua matanya, dia berdiri dan menghampiri Moyo, Yanse dan penatua Mogui.


"Aku benar-benar meminta maaf, aku telah membawa bencana ini kepada kalian"


Yubing menunduk dihadapan ketiganya sambil menghaturkan permintaan maaf.


Setelah mendengar kata-kata Moyo, Yubing sadar bahwa penyerangan bandit ini pasti berkaitan dengan kematian Bulga, Kapten ke-13 Bandit Serigala Biru yang dibunuhnya hampir sebulan yang lalu.


"Apa kamu yang sudah membunuh kapten ke-13 mereka ?"


Tanya Mogui, dia sudah mendengar kabar kematian Kapten ke-13 Bandit Serigala Biru, dari kabar yang didengarnya bahwa Kapten ke-13 itu mati dibunuh oleh seorang pendekar muda.


"Benar Penatua, aku sudah membunuh Bulga, Kapten ke-13 mereka, saat aku menolong para tahanan yang akan mereka jual menjadi budak tambang"


Sahut Yubing.


Moyo dan Yanse hanya diam mendengar jawaban Yubing. Moyo berpikir Yubing sedikit terlalu berlebihan, membuat musuh hanya demi nyawa beberapa orang biasa, sementara Yanse sedikit kagum akan tindakan Yubing yang berani membuat permusuhan dengan kelompok bandit yang sudah sangat terkenal di Benua Penda itu.


"Bukan masalah, semua sudah terjadi, sekarang kau hanya punya waktu satu minggu lagi untuk mendapatkan penawar lima racun itu, jika tidak, nyawamu tidak akan terselamatkan"


Mogui menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak menanggapi tindakan Yubing pada kelompok bandit itu, dia hanya mengkhawatirkan racun yang diderita Yubing, satu minggu lagi Yubing mungkin akan mati jika tidak menemukan penawar lima racun itu.


Yubing hanya diam mendengar kata-kata penatua Mogui, dia tidak memikirkan racun yang kini ada ditubuhnya, tetapi dia sedikit kecewa dengan dirinya, karena dia, orang-orang disekitarnya harus tertimpa masalah penyerangan para bandit.


"Jangan terlalu dipikirkan pendekar Yubing, masih ada pertemuan beruntung di gua di barat, siapa tahu di sana akan ada penawar untuk racunmu"


Yanse berkata menenangkan Yubing, dia melihat raut mata Yubing tampak sedih, Yanse mengira Yubing sedih karena racun yang kini dideritanya.


Yubing masih menunduk diam, tidak menanggapi kata-kata Yanse.


"Kalian menjauhlah sedikit !"


Seru Mogui, tiba-tiba menyuruh Yubing, Moyo dan Yanse untuk sedikit menjauh dari dirinya.


Mereka bertiga mengangguk dan bergerak menjauh dari Mogui.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2