
Setelah Yubing, Moyo, dan Yanse menjauh beberapa langkah dari Mogui.
Mogui merogoh kantong ruangnya dan mengeluarkan sebuah cairan berwarna merah yang ada di dalam sebuah botol kaca bening. Cairan merah itu adalah cairan api, cairan yang bisa mengeluarkan api jika diberikan sedikit tenaga dalam.
Mogui menuangkan beberapa tetes cairan api ke mayat dua orang anggota Jingwu, kemudian dia menembakkan aliran tenaga dalamnya ke arah cairan api itu.
*Bhuurr*
Seketika cairan merah itu mengeluarkan api yang langsung merambat membakar kedua mayat anggota Jingwu.
Sesaat setelah menjauh, Yanse memindahkan tubuh Lingzi dan Canglini yang masih tidak sadarkan diri ke sebelah Hanbo dan Nian, sebelumnya Yanse telah melepaskan ikatan tali di tubuh keduanya, saat mempersiapkan pemakaman bersama Moyo.
Kemudian Yanse berdiri di sebelah Moyo dan Yubing yang memandangi Mogui membakar kedua mayat bandit.
Usai membakar kedua mayat itu, Mogui berbalik dan menghampiri ketiga orang yang sebelumnya bergerak menjauh dari dirinya.
"Beristirahatlah, hari sudah malam"
Kata Mogui singkat kepada ketiganya, lalu Mogui duduk bersila dan memejamkan matanya.
Yanse dan Moyo melakukan hal yang sama, mereka duduk bersila di sebelah Mogui, dan memejamkan mata mereka.
Yubing bersandar pada rumpun bambu di sebelah Lingzi, Canglini, Nian dan Hanbo yang masih tidak sadarkan diri.
-Jika saja aku tidak terkena racun, aku pasti bisa melindungi diriku sendiri, maaf Nian, kau harus menanggung sakit ini karena aku-
Raut wajah Yubing benar-benar suram memandangi Nian yang terluka parah dan tidak sadarkan diri, dia merasa menyesal membuat Nian terluka separah itu.
Yubing tahu bahwa Nian terluka parah karena menghadang serangan Daksa, saat itu dia sadar, dirinya akan diserang oleh Daksa, tetapi karena racun yang masih berkecamuk di dalam dirinya, Yubing hanya bisa diam dan pasrah akan apa yang terjadi, dia tidak mengira Nian akan menghadang serangan Daksa untuk melindunginya.
-Andai, aku sudah meminum pil ini pada saat itu, setidaknya aku akan bisa bergerak untuk menghindari serangan bandit itu-
Pikir Yubing saat mengingat kembali racun yang berkecamuk di dalam dirinya sebelum dia menerima pil penunda racun dari penatua Mogui.
Setelah menelan pil obat, lima racun di tubuh Yubing kini seperti membeku, obat penunda racun yang diminum Yubing membuat racun-racun itu tidak menyebar, tetapi efek obat itu hanya menunda bukan menghilangkan racun.
-Sudahlah...-
Yubing sadar tidak ada pengandaian di dunia ini, semua yang harus terjadi pasti akan terjadi, tidak ada akibat tanpa sebab, semua ini terjadi karena dia membunuh Bulga. Oleh karena itu, Yubing berhenti memikirkan semua yang sudah terjadi, dan mulai berpikir bagaimana cara menyembuhkan dirinya.
-Apa aku harus mencari tabib ajaib? Di dunia bela diri ini, hanya dia yang paling mungkin memiliki obat racun ini, tapi dimana dia sekarang? Masih hidup atau sudah mati tidak ada yang tahu-
Sambil merebahkan badannya, Yubing berpikir untuk meminta bantuan pada tabib ajaib, seorang tabib yang mumpuni, yang mampu mengobati berbagai macam penyakit.
Tabib ini pernah amat terkenal karena ilmu pengobatannya, setiap pasien yang dia tangani pasti bisa sembuh, namun setahun sebelum perang tiga perguruan terjadi, tabib itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak, tidak pernah muncul kembali di dunia bela diri Benua Penda.
Yubing menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa mustahil untuk bisa menemui si tabib ajaib, dia kemudian menghela napas pelan lalu memejamkan kedua matanya dan mulai tertidur.
-Aku terlalu lambat untuk mencegah si tua bungkuk itu... Kasihan gadis ini, jika dia mati, Fanfan mungkin akan sangat bersedih-
Xionan merebahkan badannya yang masih melayang, dia menatap ke arah Yubing, merasa sedih dengan apa yang terjadi. Xionan kemudian memandang ke langit dan memikirkan apa yang kini dilakukan Gofan di dalam dunia dimensi Mouhuli.
-Fanfan..ku harap kau akan semakin tangguh, dunia bela diri ini terlalu kejam jika kau lemah-
Melihat apa yang terjadi pada Yubing dan pendekar muda lainnya, Xionan mengkhawatirkan masa depan Gofan sebagai pendekar di dunia bela diri, hanya yang kuat yang mampu bertahan, dia berharap Gofan akan menjadi semakin kuat agar dia bisa melindungi dirinya.
Saat semua orang di kelompok Yanse tertidur, Julala memindahkan harta berharga di gua miliknya ke gua Mouhuli. Julala tidak ingin melawan, dia tidak ingin membunuh Yanse dan kelompoknya, sebab dia takut akan kemarahan Mouhuli.
*Julala, kenapa kamu memindahkan hartamu kemari ?*
Tanya Uroro pada Julala dalam bahasa makhluk buas saat dia tiba-tiba melihat Julala muncul dari lubang bawah tanah dan memuntahkan beberapa tumpuk harta berharga di dalam gua Mouhuli.
__ADS_1
*Aku sudah mendengar pesanmu, kamu meminta semua beruang lain untuk melindungi para manusia itu saat mereka akan merampok gua milikku, mana mungkin aku akan diam saja tanpa bertindak !!*
Julala tampak kesal pada Uroro, dia ingin membunuhnya dan juga membunuh Yanse serta kelompoknya, tapi Julala tidak berdaya, dia tidak bisa melawan karena gelang jiwa yang melingkar di lehernya. Jadi, dia memutuskan untuk mengungsikan harta berharganya secepat mungkin dari gua miliknya.
*Kami hanya membantu permintaan Senior kami, tapi kalau kamu mengosongkan gua milikmu, bukankah para manusia itu akan curiga? mereka mungkin akan menemukan jalan bawah tanahmu ini dan akhirnya bisa sampai kemari*
Urori menyampaikan pendapatnya saat melihat Julala berulang kali keluar masuk dari lubang bawah tanah dan memuntahkan beberapa tumpuk harta berharga.
*Tenang saja, aku hanya memindahkan harta yang dititipkan tuanku, sisanya hanya harta yang tidak berharga, aku sisakan untuk mengalihkan perhatian mereka*
Kata Julala saat kepalanya menyembul keluar dari lubang bawah tanah itu.
*Tapi bisa saja mereka menemukan jalan bawah tanahmu ini*
Uroro berkata sambil memperhatikan lubang bawah tanah buatan Julala itu, Uroro tahu, Julala membuat lubang bawah tanah yang menghubungkan gua miliknya dan gua milik Mouhuli itu agar dia bisa dengan cepat menghadap Mouhuli jika sewaktu-waktu dipanggil oleh Mouhuli.
*Kamu pikir aku tidak memikirkan itu, aku sudah menutup ujung lubang di gua milikku dengan sebongkah batu besar, mereka tidak akan mencurigai itu*
Julala memang sudah menutup lubang di gua miliknya dengan sebuah batu besar sebelum memindahkan beberapa harta berharga terakhir yang penting baginya.
*Julala, kapan tuanmu akan datang? kamu sudah tiga tahun menjaga hartanya tapi dia tidak muncul*
Tanya Urori pada Julala yang kini telah keluar dari lubang bawah tanah dan diam melingkar di sebelah tumpukan harta berharganya.
Urori ingat tiga tahun lalu, Julala muncul dan membawa banyak harta berharga, saat Julala memindahkan harta-harta berharganya ke dalam gua di barat Hutan Bambu Kemarau itu, dia bertemu segerombolan anak-anak Beruang Bambu yang tinggal di dalam gua.
Waktu itu, Julala diserang energi mental yang kuat, dia hampir tidak bisa mengalahkan gerombolan anak-anak Beruang Bambu itu, namun karena sisiknya yang kuat, anak-anak itu tidak bisa berbuat banyak untuk membunuh Julala.
Julala menyerang balik ketika anak-anak Beruang Bambu itu kelelahan menyerangnya dan memakan anak-anak Beruang Bambu yang menyerangnya itu. Pertahanan sisik naga Julala memang sangat tangguh, berkat sisik-sisik itu, dia bisa selamat.
Julala yang merasa tidak terkalahkan di Hutan Bambu Kemarau dengan pertahanan sisiknya yang tidak mampu dilukai oleh para Beruang Bambu, mulai berkeliling menelusuri hutan itu, dia membunuh beberapa anak Beruang Bambu dan melukai banyak Beruang Bambu dewasa.
Hingga akhirnya, Julala tiba di hadapan gua Mouhuli, melihat gua Mouhuli yang lebih besar daripada gua miliknya, Julala memiliki niat untuk menguasai gua Mouhuli.
*Tuanku tidak akan pernah datang, beliau sudah meninggal sepuluh tahun lalu, kini aku hanya menunggu keturunannya,*
Sahut Julala menimpali pertanyaan Urori.
***
Hari akhirnya berganti, Yanse, Yubing dan Moyo yang telah memulihkan diri mereka, memutuskan untuk segera pergi ke barat bersama penatua Mogui.
Sementara Lingzi dan Canglini yang sudah tersadar memutuskan untuk menjaga Hanbo dan Nian yang masih belum membaik meski mereka sudah siuman.
"Kami pergi dulu, kami pasti akan membawakan kalian harta berharga yang bisa kami temukan, kita akan membaginya merata"
Kata Yanse kepada Lingzi, Canglini, Hanbo dan Nian.
Keempat orang itu mengangguk mengiyakan kata-kata Yanse, dan memandang kepergian Yanse, Yubing, Moyo, dan penatua Mogui, menuju ke arah barat, tentu saja Xionan juga mengikuti mereka ke arah barat.
Setelah berlari beberapa ratus langkah ke arah barat, Yanse, Yubing, Moyo, penatua Mogui dan juga Xionan yang melayang-layang mengikuti mereka, akhirnya tiba di depan gua Julala.
"Akhirnya kita sampai juga, Ayo, Masuk ke dalam !"
Seru Moyo yang tampak sangat senang, dia sudah tidak sabar untuk menjarah pertemuan beruntung di dalam gua tersebut, meskipun dia belum tahu apa pertemuan beruntung itu.
"Ayo !!"
Kata Yanse yang juga tampak bersemangat. Sementara Yubing dan penatua Mogui hanya mengangguk pelan sebelum mengikuti Moyo dan Yanse melangkah masuk ke dalam gua, Xionan melayang mengikuti keempat orang itu memasuki gua Julala.
Mereka berjalan menelusuri gua, sekitar dua puluhan langkah setelah memasuki gua, mereka berhenti di hadapan tumpukan harta berharga.
__ADS_1
"Hahaha... Ini dia, akhirnya kita mendapatkannya Hahaha"
Moyo tertawa lepas saat melihat tumpukan harta berharga di depan matanya, dia segera menerjang ke tumpukan harta itu dan mencari-cari pertemuan beruntung yang bisa dia temukan.
Yanse dan Yubing hanya tersenyum kecil, mereka mengikuti Moyo memilah-milah mencari pertemuan beruntung di antara tumpukan harta tersebut.
"Aneh, kenapa semua hanya harta bagi orang biasa? Pendekar Yanse, Apa kamu menemukan sesuatu ?"
Tanya Moyo pada Yanse, dia heran, dari semua benda di dalam tumpukan harta itu, semuanya hanya harta bagi orang biasa.
Ada banyak kepingan emas, kepingan perak, batu giok, lukisan, kalung mutiara, gelang, batu permata, dan harta lain yang semuanya tidak berguna bagi seorang pendekar, tidak ada satu pun pertemuan beruntung yang bisa meningkatkan budidaya bela diri di dalam tumpukan harta itu.
"Ini, aku menemukan pedang dan satu set baju tempur, tapi ini semua benda biasa,"
Yanse menunjukkan apa yang dia temukan, meskipun dia menemukan pedang dan satu set baju tempur, semua itu bukanlah pertemuan beruntung, itu hanya berguna bagi orang biasa, biasanya berguna bagi para prajurit yang bukan seorang pendekar bela diri.
"Bagaimana denganmu pendekar Yubing ?"
Kini Moyo bertanya pada Yubing, dia berharap akan ada pertemuan beruntung yang bisa diperoleh dari tumpukan harta itu.
"Aku menemukan sebuah kitab, tapi ini hanya kitab untuk para sastrawan"
Yubing memperlihatkan sebuah kitab yang ditemukannya, kitab itu adalah sebuah karya sastra yang memuat hal-hal mengenai aliran kepercayaan, biasanya kitab semacam itu adalah kitab yang dipelajari oleh kaum sastrawan.
"Aneh, Kenapa tidak ada satu pun pertemuan beruntung? Pendekar Yanse, Apa kamu membohongi kami ?"
Moyo curiga, Yanse membohonginya ketika dia mendapati semua harta yang ada di hadapannya hanyalah harta benda bagi orang biasa.
"Tidak pendekar Moyo, mana mungkin aku akan membohongimu, aku sendiri belum mendapatkan apa-apa dari perjalanan ini, jadi apa untungnya aku membohongimu ?"
Yanse agak sedikit kesal mendengar tuduhan Moyo, dia dengan tulus telah mau berbagi informasi tentang pertemuan beruntung, tetapi dia malah dituduh berbohong.
"Pendekar Moyo, sebaiknya jangan asal menuduh, terkadang memang terjadi hal seperti ini dalam pencarian pertemuan beruntung, ini mungkin hanya salah informasi atau mungkin peta itu palsu, kita tidak bisa memastikan sebelum berhasil melihatnya sendiri, seperti sekarang ini "
Yubing berusaha memberi penjelasan kepada Moyo, bahwa tidak semua informasi mengenai pertemuan beruntung akan menghasilkan kebenaran yang mutlak, terkadang memang ada salah informasi, dan mungkin kejadian yang sedang mereka alami adalah sebuah kesalahan informasi.
"Tenanglah, kakek merasakan ada benda yang mungkin akan berguna bagimu"
Mogui menenangkan cucunya agar tidak membuat konflik dengan teman-temannya, dia kemudian melangkah ke sebelah kiri tumpukan harta, Mogui berjongkok dan mengambil sesuatu di bawah tumpukan harta itu.
" Ini...!? "
Mogui sedikit terkejut melihat benda yang dia temukan setelah mendeteksi tumpukan harta itu dengan persepsinya.
"Apa itu Kek?"
Tanya Moyo yang segera menghampiri kakeknya setelah melihat kakeknya menemukan sesuatu.
"Ini Mutiara Siluman, cepat kumpulkan !, Ini akan berguna untuk meingkatkan budidaya kalian"
Sahut Mogui kepada cucunya, dia menemukan puluhan mutiara siluman.
Mutiara siluman adalah mutiara yang bisa diperoleh di dalam tubuh makhluk buas, setiap makhluk buas yang berbudidaya akan memiliki mutiara siluman di dalam tubuhnya, mutiara itu adalah akumulasi budidaya si makhluk buas.
Akumulasi kekuatan di dalam mutiara siluman bisa dibedakan melalui warna dari mutiara siluman itu, dari yang terlemah hingga yang terkuat yaitu, warna putih, warna merah, warna jingga, dan warna hitam.
Kebetulan di antara mutiara siluman yang ditemukan Mogui ada tujuh mutiara siluman yang berwarna hitam, inilah yang membuat dia sedikit terkejut.
"Baik Kek"
Moyo bergerak cepat dan mengumpulkan semua mutiara siluman yang ada di antara tumpukan harta itu.
__ADS_1
Bersambung...