
Fanjia melayang tinggi sebelum menukik ke arah Gofan. Sementara, Ling Guo membalik badan dan ikut menyerang ke arah Gofan, dia masih tertawa. Dalam batinnya, Ling Guo merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gofan. Dia ingin menyingkirkannya.
Shiyuxin menghadang serangan Ling Guo, tapi... belum sampai serangannya mengenai Ling Guo, dia terdiam kaku. Ling Guo telah melumpuhkannya secara mental, dalam pengelihatan Shiyuxin hanya tampak seekor anjing raksasa, dia ketakutan dan mengurungkan niatnya untuk menghadang Ling Guo. Melihat hal itu, Mouhuli membantunya, dia mengerahkan kekuatan Mental Saintnya untuk menghadapi Ling Guo.
Gofan berhasil menghindari serangan tongkat Fanjia, tapi topi bundar besar yang dia kenakan terbelah dua. Wajahnya pun akhirnya terlihat jelas. Terlihat jelas dua Gofan sedang bertarung.
Orang-orang yang tadinya bertanya-tanya kenapa mereka bertarung? Kini bertanya-tanya, kenapa ada dua Pewaris Baru Perguruan Tunjung Putih?.
Hal itu bahkan tidak bisa dijawab oleh Duan Tianlang dan semua Penatua Perguruan Tunjung Putih dan Partai Tongkat Sakti. Mereka tidak tahu kenapa bisa ada dua Gofan. Mereka hanya bisa menebak, salah satunya pasti palsu. Meski demikian, Xiongmeng terlihat bahagia dengan pertarungan dua Gofan tersebut. Dia sudah tidak peduli lagi dengan permasalahan penghancuran Partai Gunung Angkasa, dia tidak peduli lagi dengan keselamatan Qingyue. Selama dendamnya terpenuhi, dia bahagia. Bagaimanapun, dialah yang memberitahu Keluarga Gu mengenai Gada Penghancur Bumi.
Saat melihat dua 'Gofan' bertarung, tubuh Litaihwang bergetar pelan, raut wajahnya berubah. Adegan pertarungan Gofan melawan Gofan membuatnya menyadari sesuatu. Bukan dia seutuhnya tapi seseorang yang melihat melalui mata Litaihwanglah yang sebenarnya terkejut. Litaihwang hanyalah pecahan raga, tubuh aslinya berada jauh di luar Pulau Api, di sebuah Paviliun di Puncak Gunung Perguruan Dunia Gelap.
Tubuh aslinya kurus kering, duduk bersila. Hanya sedikit darah yang terlihat mengaliri tubuh itu, tapi masih hidup. Seperti sudah bersila selama beratus-ratus tahun lamanya. Pakaiannya lusuh dan banyak debu melapisi tubuhnya. Matanya yang sayu terbuka lebar, melihat lukisan-lukisan yang dikirimkan Yuwenhuai.
Lubang berbintang tempat Yuwenhuai melemparkan lukisan Lengyue terhubung ke ruangan tubuh asli Litaihwang berada. Seorang pria tua, kurus kering, yang dulunya dijuluki Dewa Gelap.
Melihat lukisan-lukisan itu, tubuh Dewa Gelap bergetar, dan lonceng besar yang berada di Aula Utama Perguruan Dunia Gelap berdentang kencang.
*Dong*
*Dong*
Suara Longceng itu memenuhi seluruh Perguruan Dunia Gelap, hingga 900 ribuan kaki melewati jajaran Pegunungan yang mengitari Ibu Kota Kerajaan Penda. Semua Pendekar yang mendengar Lonceng itu segera menyadari hal besar telah terjadi. Lautan manusia melesat ke Perguruan Dunia Gelap. Tapi mereka ditolak untuk berkunjung.
Di dalam Perguruang Dunia Gelap, Para Penatua yang tersisa bergegas pergi ke Paviliun di Puncak Gunung.
“Bagaimana situasi di luar? Jangan biarkan Perguruan lain dan Pendekar lain memasuki wilayah ini. Cegah mereka semua di Gerbang depan.” Ucap seorang pria paruh baya.
__ADS_1
Namanya Dongfang, Penatua keenam di Perguruan Dunia Gelap. Penatua pertama dan lainnya sedang berada di Pulau Api. Hanya dia dan Penatua Kesembilan yang tersisa untuk menjaga Perguruan tersebut.
Usai mengarahkan para murid senior, Dongfang dan Penatua Kesembilan melintas pergi menuju ke Puncak Gunung, tempat Paviliun berada.
“Salam Mahaguru Abadi.” Dongfang dan Penatua Kesembilan memberi salam di luar Paviliun.
Hening. Tidak ada jawaban.
“Kakak Senior, Apakah akan terjadi sesuatu lagi yang membangunkan Meditasi panjang Mahaguru Abadi?.” Tanya Penatua Kesembilan, berbisik.
Dongfang mengangguk, “Pasti. Pasti seperti itu, tapi Mahaguru ini terlalu misterius, selain bermeditasi tidak ada lagi yang dia lakukan... Hanya 20an tahun lalu, dia keluar sebentar...”
“20an tahun lalu?.” Tanya Penatua Kesembilan. Dia baru di Perguruan ini, dia belum tahu tentang kisah 20an tahun lalu, yang dia tahu hanya ada seorang sesepuh yang bermeditasi panjang di dalam Paviliun di hadapannya.
“Benar. Lebih dari 20 tahun lalu, lonceng ini juga berbunyi, tiga hari setelah itu sebuah cahaya ungu memancar jatuh dari Alam Besar dan mendarat di Benua ini... Mahaguru Abadi mengejarnya, namun sesuatu menghalangi langkahnya.” Ucap Dongfang berbisik.
“Persiapkan Ritual Sesembahan Darah. Dalam hitungan satu batang dupa, kalian harus menyelesaikannya.” Gumpalan asap hitam itu membentuk wajah, wajah itu menyerupai wajah Dewa Gelap, dia berbicara kepada semua yang ada di depan Paviliun.
Raut wajah Dongfang dan Penatua Kesembilan, berubah total, mereka terkejut. Ritual Sesembahan Darah, sebuah Ritual keramat bagi Perguruan Dunia Gelap. Ritual itu mengharuskan Perguruan mempersembahkan 30 Pendekar di bawah Ranah Saint Master untuk dijadikan tumbal.
“Ba-Baik. Baik. Mahaguru. Baik.” Sahut keduanya terbata-bata.
Hanya para Penatua dan petinggi Perguruan yang tahu tentang Ritual ini. Setiap kali Dewa Gelap bangun dari meditasi panjangnya, dia akan memerlukan banyak nutrisi untuk menyegarkan tubuhnya, dan itu dilakukan dengan mengorbankan 30 Pendekar di bawah Saint Master.
Ada satu hal yang pasti di Perguruan Dunia Gelap, kata-kata orang yang bermeditasi di dalam Paviliun harus dituruti atau kehancuran akan terjadi bagi mereka. Mereka hanya tahu bahwa orang yang bermeditasi di dalam Paviliun adalah sesepuh tua berusia lebih dari seratus tahun. Hanya itu.
Mereka tidak mengetahui bahwa sesepuh tua, Mahaguru Abadi itu adalah Dewa Gelap yang telah berusia puluhan ribu tahun.
__ADS_1
“10.000 tahun setelah pengkhianatan itu... Akhirnya aku menemukan mereka semua.” Tawa menggema di dalam Paviliun saat Dongfang dan Penatua Kesembilan mengumpulkan para murid di bawah ranah Saint Master.
**
[Perguruan Dunia Gelap - Paviliun Tanah Tua]
Tidak berselang lama, Dongfang dan Penatua Kesembilan datang membawa 30 orang murid, yang semuanya memiliki budidaya di bawah ranah Saint Master.
“Penatua Keenam. Penatua Kesembilan, untuk apa kami berkumpul di depan Paviliun Tanah Tua ini?.” Tanya seorang murid yang usianya hampir 40 tahun. Salah satu yang paling senior.
Mereka berkumpul, karena mendapat panggilan dari kedua Penatuan itu untuk datang ke Paviliun di Puncak Gunung tanpa tahu alasannya. Selama ini, tidak ada satu pun murid yang diperbolehkan memasuki area Paviliun Tanah Tua tersebut.
Dengan raut wajah terpaksa, Dongfang menghela napas “Kalian semua adalah Murid Senior, sudah lama kalian terhambat di ranah Great dan Grand Master. Tapi meski demikian, Perguruan telah merawat kalian dengan baik selama ini bukan?.”
Ke-30nya mengangguk, “Benar.. Benar.”
Dongfang melanjutkan, “Untuk itu, kalian harus menunjukkan rasa terima kasih kalian kepada Perguruan. Hari ini adalah hari itu. Kalian mendapat misi penting untuk menjaga keselamatan Perguruan.”
“Kalian semua, masing-masing akan dihadiahi 1000 biji Batu Darah.” Imbuh Dongfang. Tangannya mengibas dan puluhan kantong ruang melesat keluar menuju ke masing-masing murid.
Suara riuh senang terdengar.
Mereka kebanyakan adalah murid yang sudah lumayan berumur. Budidaya mereka sudah bertahun-tahun lamanya terhambat dan harapan untuk maju ke ranah selanjutnya sangat tipis. Alih-alih diusir, selama ini, Perguruan masih memberi mereka dukungan dan menugaskan beberapa di antara mereka sebagai Penjaga Gerbang ataupun Penjaga Perpustakaan. Jarang sekali ditugaskan untuk misi. Kali ini, mendapat tugas untuk menyelesaikan misi penting, tentu mereka senang. Ditambah dengan hadiah di muka, mereka sangat senang.
“Penatua. Misi penting apakah ini?.” Tanya murid itu lagi, matanya berbinar setelah memeriksa isi Kantong Ruang di tangannya.
Bersambung...
__ADS_1