
GEMURUUUUHHHHH!!
Langit kembali bergejolak, gelombang kejut dari benturan serangan keduanya menghentak langit. Gelombang kejut itu membentuk lingkran cahaya yang menghampar ke berbagai arah. Itu bahkan mendorong mundur Boudhia dan lainnya yang masih melayang di udara.
Dewa Gelap meraung lebih keras, saat kilatan petir emas dan asap hitam yang berkedip di tubuhnya menghilang, seluruh tentakel darah melayang dan menyatu dengan tubuhnya.
“Perisai Darah Abadi.”
Tentakel darah berubah menjadi jubah pelindung, itu mirip dengan baju besi yang terbuat dari padatan darah. Sekarang tubuhnya dilindungi oleh baju darah tersebut.
Dewa Gelap tertawa, “Hahaha.. Percuma, cakaranmu tidak akan bisa lagi melukaiku!!.” teriaknya. Meski dia sadar Gofan sedang tidak memiliki akal sehat, dia tetap bicara dengan bangganya. Sekarang setiap cakaran Gofan, tumpul, bahkan tidak bisa melukai kulit terluarnya sekali pun.
Bang! Bang! Bang! Tinju bilah darah berkali-kali mendorong Gofan mundur. Luka semakin bertambah di tubuhnya, kondisinya jauh dari baik.
Setelah ribuan serangan kemudian, Gofan terpelanting, dia melayang berputar-putar di udara seperti layangan tanpa tali, dua helaan napas setelahnya, BOOMMMM! Gofan jatuh menghantam sebongka batu besar berapi, batu itu terlihat baru saja dimuntahkan oleh mulut Gunung berapi.
“Uhk...” Dia muntah enam suap darah. Cahaya hijau ungu di tubuhnya berkedap-kedip seakan-akan hampir menghilang.
Gofan mengusap darah di ujung bibirnya, matanya masih menunjukkan bahwa dia masih menggila, fia masih kehilangan kesadaran. Dia meraung keras, seperti binatan buas yang mengamuk.
ROOOAAARRRRRRR!!! Kedua lututnya menekuk sebelum membuat lompatan tinggi ke udara, Bang! tanah di tempatnya berpijak langsung runtuh. Tanpa jeda, Gofan melesat ke arah Dewa Gelap.
“Ayo.. Ayo.. Hahaha... Tunjukkan semua amukanmu Bocah!” Dewa Gelap mengepalkan tangannya, asap hitam membentuk sarung tangan dengan kilatan petir emas berderak di antaranya.
“Tinju Dewa Kegelapan.”
Dewa Gelap melepaskan tinjunya, angin menderu dan pecah, seperti terdorong kencang ke arah Gofan. Angin itu membentuk sebuah kepalan dengan asap hitam dan kilatan petir emas. Itu tinju yang dia ciptakan sendiri, tinju yang dia ambil dari gelarnya sebagai Dewa, Tinju Dewa Kegelapan. Tinju yang sangat dia banggakan.
ROOAAARRR!! Kedua mata Gofan memancarkan cahaya pantang menyerah, sejenak terlihat senyuman kecil muncul di wajahnya. Dia tidak mundur, dia berputar di udara. Ekor bersisik Naganya menghantam Tinju Dewa Kegelapan... Bang! Ledakan terjadi, gelombang kejut menggema lagi. Tinju Dewa Kegelapan berhasil ditepis.
“Kamu?!!!...” Dewa Gelap tertegun, serangan tinju kebanggaannya baru saja ditepis dengan ekor. Itu PENGHINAAN, benar-benar penghinaan. Sebuah tinju setidaknya harus dihadapi dengan tinju atau cakaran, seperti yang biasa dilakukan Gofan sebelumnya, “Kamu... Beraninya!!! Sambil tersenyum kecil, kamu mengibaskan buntut baumu itu.. Akan aku POTONG! Akan aku HANCURKAN!!!.” Raung Dewa Gelap marah, merasa terhina.
Dewa Gelap mengangkat kaki kanannya, dia menghentak udara, BOOMMM! Lapisan udara beku terbentuk di tenpat kakinya menghentak. Itu melayang di udara. Es beku itu berwarna hitam pekat. Kemudian dengan segel tangan dia mengarahkan Es Hitam itu untuk meluas menuju ke arah Gofan.
“Tingkat Pertama: Duri Salju Hitam!!”
“Tingkat Kedua: Sulur Benih Pohon Bencana!!”
“Tingkat Ketiga: Wujud Pohon Bencana!!”
Jurus Dewa Gelap ini terdiri dari tiga tahapan, dimulai dari Duri Hitam yang muncul di lempengan Es Hitam, Duri-duri itu kemudia melesat bagai peluru, berdesing menyerang Gofan, Desing! Desing! Desing! Lebih dari puluhan duri es tajam berwarna hitam melesat.
*Cruuaaattt* Darah bercucuran dari tubuh Gofan yang tertancap duri, sebagian kecil berhasil dia tepis, tapi lebih banyak lagi yang berhasil melukainya. Bahkan satu Duri hitam yang tampak lebih besar daripada yang lain menebas ekor Gofan hingga putus.
ROOOAAARRRR!!! Gofan meraung kesakitan.
Tahap selanjutnya, Duri Hitam itu mencair dan masuk, menyusuk ke dalam luka, itu bergerak menjalar keseluruh tubuh. Cairan itu memadat kembali dan membentuk sulur-sulur tanaman berwarna hitam. Itu menjerat semua organ dalam penting di tubuh Gofan.
ROOOAAARRRR!!! Gofan kembali meraung kesakitan. Tubuhnya goyang, dan terhuyung-huyung, hampir jatuh kembali ke tanah.
Tahap terakhir, dari semua sulur hitam itu, tumbuh akar, dari akar muncul batang, batang membesar membentuk ranting, ranting meluas membentuk daun, daun lebat mewujudkan sebuah Pohon. Pohon itu hitam pekat, ada lebih dari puluhan yang tumbuh dan mengakar di dalam semua organ dalam penting tubuh Gofan.
Untuk tumbuh lebih jauh, pohon akan memerlukan nutrisi, dan nutrisi itu diserap dari organ-organ penting itu. Pohon hitam itu menyerap unsur kehidupan dari Jantung, Ginjal, Hati, Paru-Paru, Perut, Usus, Otak, dan semua lainnya. Perlahan semua pohon hitam itu menghancurkan semua organ dalam Gofan. Pohon yang membawa bencana, Pohon Bencana, membunuh Gofan dari dalam.
Cahaya hijau ungu meredup, bahkan hanya terlihat seperti nyala lampu di ekor kunang-kunang jauh kalah daripada Cahaya ungu yang memancar secerh matahari di tubuh Dewa Gelap.
__ADS_1
Gofan jatuh.... DUUUUUAAAARRRRRR!!!!
Ketika tubuhnya menyentuh tanah, tubuhnya meledak, BAAANNNGGGGG!!! darah berhamburan, bertebaran ke seluruh permukaan tanah tempat Gofan terjatuh. Dia hancur. Tubuhnya meledak. Gofan mati.
HAHAHAHAHAHAHA!!
HAHAHAHAHAHA!!
Dewa Gelap tertawa puas, dia tidak melihat apa pun tersisa dari tubuh Gofan, kecuali darah, dan tentunya beberapa batang Pohon Bencana yang membuat tubuh Gofan meledak. Pohon-pohon hitam itu menancap di tanah. Masing-masing dari mereka sebesar tubuh Pria dewasa. Itu besar dan rimbun. Ada sembilan di antaranya.
Saat tawanya terhenti, Dewa Gelap membentuk segel dengan kedua tangannya.
“Seni Penuai: Intisari Kehidupan!!”
Di udara, tangan Dewa Gelap membentuk sebuah genggaman, seperti menggenggam sesuatu. Di saat yang sama, di bawah, semua, kesembilan Pohon Bencana bergetar dan melayang ke atas. Pohon-pohon itu melesat dengan cepat ke arah Dewa Gelap.
Kesembilan pohon itu mengandung semua Energi Surga milik Gofan. Semuanya berubah menjadi cairan hitam, sembilan cairan hitam bergabung dan membentuk sebuah gumpalan besar cairan hitam, itu melayang di atas tangan Dewa Gelap.
Bersamaan dengan itu, Badai angin besar tiba-tiba muncul menyerang di luar dinding hitam pembatas, badai itu muncul entah dari mana. Aroma air laut yang kental tercium terangkat bersama dengan terjangan badai mengelilingi Pulau Api, menerjang masuk ke arah dinding hitam pembatas.
Petir ungu menderu-deru, memancar dari Badai besar itu, tidak terhitung berapa makhluk hidup dari laut yang telah terangkat masuk ke dalam Badai.
Empat ekor jelmaan Siluman, yang tadinya baru saja berhasil keluar dari Pulau Api, ikut terseret masuk ke dalam Badai. Keempatnya, adalah seekor Bunglon, dua ekor Kucing putih, dan seekor Kelelawar merah.
“Sialan!! Dari mana datangnya Badai petir ungu ini? kurang ajar!!!” Pekik Kelelawar merah, dia meringis kesakitan. Dalam terjangan Badai petir ungu itu, salah satu sayapnya patah dan itu sangat menyakitkan.
Hal senada juga diteriakkan oleh kedua Kucing putih, “Kenapa ini? Kita tidak bisa berubah wujud, bahkan Energi kita disegel..” ucap bingung salah satu Kucing yang bertubuh lebih besar daripada Kucing lainnya.
Si Bunglon mendengus dingin, “Tenanglah. Ini Badai Kesengsaraan Surgawi, seseorang pasti sedang memicu kemunculannya... Tapi siapa yang ada di Alam Kecil bisa memanggail Badai ini?” ucapnya tenang. “Buatlah cahaya pelindung diri dan tunggu dengan sabar sampai Badai ini berlalu.” imbuhnya.
Badai Kesengsaraan Surgawi, datang karena panggilan perwujudan kelahiran kembali. Seseorang telah memicu kedatangannya.
“Sialan.. Pantas saja kamu sudah membentuk cahaya pelindung saat pertama kali Badai ini menerjang. Bianselong! Kenapa kamu baru memberi tahu kami sekarang? Lihat sayapku.. Sialan!!!” Kelelawar merah marah dengan tatapan mencaci maki sembari terus melihat ke arah salah satu sayapnya yang patah. Itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh sempurna, seperti sedia kala.
Kedua Kucing putih juga menggeram kesal dengan Bunglon itu. Meski tidak ada bagian tubuh mereka yang patah, tapi mereka terluka ringan.
Keempat jelmaan Siluman itu adalah Bianselong, Hexuan, Bailian, dan Bailaohu. Mereka berhasil kabur dari kekacauan perang Pulau Api.
“Aku pikir kalian sudah tahu. Kalian tidak bertanya... Kenapa itu jadi salahku?” Sahut Bianselong ketus.
Ketiganya menghela napas dan menatap kesal ke arah Bianselong. Mereka tidak bisa membalas ucapan Bianselong. Kata-katanya benar, itu salah mereka, karena kurang pengetahuan. Ketiganya akhirnya membentuk cahaya pelindung dan menutup mata, seperti yang dilakukan Bianselong.
Keempatnya pasrah mengikuti arus putaran Badai Kesengsaraan Surgawi. Menunggu dengan sabar, sampai Badai itu menghilang. Hanya satu pertanyaan yang tersirat di benak keempatnya, Siapa yang memanggil Badai Kesengsaraan Surgawi? Siapa yang mengalami kelahiran kembali?
**
Jedar! Jedar! Petir ungu terus menerus menerjang dinding hitam.
DUUUAAAARRRRRR!! Ledakan besar menggema. Setelah Lima puluh satu kali bantingan petir ungu, akhirnya dinding hitam pembatas Pulau Api hancur berkeping-keping.
Dewa Gelap yang masih tertawa lepas melihat gumpalan cairan hitam tiba-tiba terkejut. Dia memuntahkan seteguk darah, sebagai akibat serangan balik dari hancurnya dinding hitam pembatas Pulau, “Tidak mungkin!... Badai Kesengsaraan Surgawi?!!?”
BANG! Belum sempat menilai lebih jauh, sebuah pukulan keras menerjang ke arah Dewa Gelap. Petir ungu dari Badai itu menghantamnya. Dia terpelanting mundur, jauh ke belakang, berputar-putar di udara mirip layang-layang putus.
“Uhk....” Dewa Gelap muntah darah, sekali setiap putaran, “Siapa ini? Siapa yang memanggil Badai ini?!!” Teriak Dewa Gelap sembari terus berputar-putar mirip salto di udara. Semakin lama semakin menjauh.
__ADS_1
Dalam putaran itu, Dewa Gelap mencengkeram erat gumpalan cairan hitam sebesar kepala manusia itu. Dia perlahan mulai menyerapnya, “Dengan ini... Semua Energi Surga Bocah itu akan menjadi milikku... Kemuliaanku akan kembali lagi... Phoenix sialan... tunggu aku!!”
Kegembiraan mendapatkan Energi Surga membuat Dewa Gelap mengabaikan Badai yang baru saja memukulnya mundur. Meski sempat berpikir, Badai itu muncul karena Gofan, tapi dengan cepat dia membuang jauh-jauh pikiran itu, dia masih meremehkan Gofan. Hanya Junior, tidak mungkin memanggil Badai Kesengsaraan Surgawi.
**
Di tempat yang sama dimana Gofan meledak, sebuah cahaya keemasan berbentuk manusia kecil melayang dua jengkal dari tanah. Jika kita melihat lebih dekat, cahaya keemasan itu memiliki rupa seperti Gofan. Itu adalah bentuk Jiwanya. Meski tubuhnya hancur, tapi Jiwanya masih utuh. Dewa Gelap tidak sempat menyadari itu, dia terlanjur terpukul menjauh oleh serangan petir ungu.
Badai Kesengsaraan Surgawi berputar mengelilingi bentuk Jiwa Gofan. Sebuah cahaya putih berbentuk seorang Pria yang tidak terlalu tinggi muncul di hadapan bentuk Jiwa Gofan.
“Ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan untuk membantumu. Dewa Pelindung telah memberiku satu kesempatan untuk menolongmu. Sekarang belum waktunya bagimu untuk mengahadapinya, tapi akan tiba waktunya suatu saat nanti.” Ucap Pria yang tidak terlalu tinggi itu.
Jika saja bentuk Jiwa Gofan bisa tersadar, jika saja tubuhnya masih utuh, dia pasti akan mengenali Pria itu. Pria itu, Tianyuan. Percikan terakhir jiwanya bersemayam jauh di dalam Batu Surga yang dia berikan kepada Gofan, dengan berkat dari Tian Baixiang, dia bisa bangkit sekali lagi. Dia berharap, Gofan tidak akan pernah membangkitkan percikan jiwa terakhirnya. Tapi, kini itu terjadi. Dialah yang memanggil kemunculan Badai Kesengsaraan Surgawi, membantu Gofan, untuk hidup kembali.
Tianyuan membentuk segel tangan, dia mengirimkan seuntai pesan pikiran ke dalam Tongkat Emas Naga Kembar.
“Tuan. Anda datang?” ucap Haiwa dari dalam tongkat.
Tianyuan mengangguk, “Ini yang terakhir kali, Tian Baixiang, memberiku sedikit kekuatan untuk memberi pertolongan kepada Gofan... Haiwa. Setelah aku membentuk kembali tubuhnya, dia akan tetap kehilangan Batu Bertuah dan pecahan Batu Surga yang pernah aku berikan, dia tidak akan memiliki Energi Surga lagi...”
Mendengar itu, Haiwa memandang jauh keluar ke arah Dewa Gelap yang telah menyerap Energi Surga dari dua Batu Bertuah dan satu pecahan Batu Surga milik Gofan. Dia mengangguk dan mendesah pelan. Asal Gofan bisa hidup kembali, itu tidak masalah, itulah yang dia pikirkan.
“Bawa dia pergi. Buka Gerbang Dewi Ruyi. Dia memiliki Tulang Tingkat Rendah dan juga Tubuh setara Dewa Kecil. Setelah aku merekonstruksi tubuhnya, bawalah dia pergi. Di sini, di Alam Kecil, dia sudah mati.” Imbuh Tianyuan sembari mengibaskan lengannya, membuat Badai Kesengsaraan Surgawi menyusut, hingga seukuran lima kali Pria dewasa.
Saat Badai itu menyusut, Bianselong dan ketiga lainnya didorong keluar dari dalam pusaran Badai. Meski mereka senang bisa terbebas dari Badai, tapi pada akhirnya mereka menderita banyak luka dalam. Tidak ada satu pun di antara keempatnya yang menyadari tentang keberadaan bentuk Jiwa Gofan atau pun kemunculan Tianyuan.
“Baik Tuan.” Sahut Haiwa saat Badai Kesengsaraan Surgawi menyapu sisa-sisa pecahan tubuh, tulang, dan darah Gofan yang berserakan di permukaan tanah.
Jedar! Jedar! Petir ungu berkali-kali menyambar dan di setiap sambarannya, serpihan pecahan tulang emas mulai menyatu membentuk kerangka tubuh, sebuah Kerangka emas. Setelah kerangka emas terbentuk, darah mulai menyelimuti kerangka, di dalamnya mulai tumbuh semua organ dalam yang penting. Jantung, Ginjal, Paru-paru, Hati, Otak dan semua lainnya mulai terbentuk.
Petir ungu terus menyambar, setelah semua organ dalam penting terbentuk, daging mulai menggumpal melapisi darah dan membentuk kulit. Kemudian, rambut mulai tumbuh dan udara mulai mengisi tubuh itu. Tubuh itu mirip sekali dengan Lenfan hanya saja itu lebih muda.
Ketika tubuh telah terbentuk secara utuh, Tianyuan melambaikan tangannya dan meletakkan bentuk Jiwa Gofan di dalam Titik Pusat Jiwa di tubuh baru itu. Titik Pusat Jiwa itu tidak lagi berbentuk Kubus, itu berbentuk hamparan kekosongan dan di sanalah bentuk Jiwa Gofan melayang-layang.
GEMUUURRRUUUHHHH!!!!
Guncangan besar melanda Pulau Api saat Gofan dihidupkan kembali. Ketika bentuk Jiwanya menempati tubub baru itu, tubuh itu bergetar pelan. Kemudian berubah lagi menjadi bentuk mirip Makhluk buas seperti sesaat sebelum meledak.
Haiwa menatap heran, “Tuan... Ini?” Tanyanya bingung.
Tianyuan menggeleng pelan, “Transformasi yang terbentuk dari gabungan Mata Surga dan Mata Iblis akan tetap seperti itu, hingga dia menemukan cara sendiri untuk kembali ke wujud manusianya. Jika dia beruntung, dia mungkin akan menemukan Pil Pemurnian Energi seperti sebelumnya...” sahut Tianyuan.
Sebelumnya Gofan pernah mengalami perubahan bentuk seperti sekarang dan berkat Pil Pemurnian Energi dari Lixiayo, dia bisa kembali ke wujud manusianya.
“Sekarang pergilah.” Ucap Tianyuan.
Haiwa mengangguk pelan dan membungkuk hormat ke arah Tianyuan. Dia membentuk segel tangan dan menarik keluar dua Kunci Gerbang Dewi Ruyi dan mulai merapalkan sesuatu yang tidak jelas.
BOOM! Letusan kecil terwujud, membuat kedua Kunci berubah menjadi sebuah Pintu, tidak terlalu besar, hanya seukuran tinggi seorang Pria dewasa.
Di dalam Pintu bisa dilihat sungai yang terbuat dari barisan bintang-bintang. Sungai itu berkerlap-kerlip di tengah kehampaan yang tidak berujung. Sungai Bintang Kehampaan!, pikir Haiwa saat dia membawa tubuh Gofan memasuki Pintu menuju ke Sungai Bintang Kehampaan. Keduanya pergi dan menghilang. Semua itu terjadi sangat cepat tapi perlu waktu untuk dijelaskan.
Dalam diam, Tianyuan memandang kepergian mereka. Dia menghilang perlahan bersamaan dengan menghilangnya Badai Kesengsaraan Surgawi.
Tamat.
__ADS_1
(Musim I) telah berakhir. Dengan ini, Pendekar Sembilan Langit, akan memulai (Musim II) Jika kalian setuju, Like yang banyak... Di tunggu ya... Like yang banyak ya... 😁
Terima kasih sudah membaca. Semoga terhibur.