
Gofan mengabaikan perasaannya yang saat ini bingung. Bagaimana pun, itu adalah Perguruan masa lalu Xionan. Sudah berlalu 700 tahun dan semua orang yang mungkin dikenal oleh Xionan di Perguruan Awan Langit, mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini.
-Tapi kenapa Xionan mengatakan Kultus Abu-Abu itu jahat? Ini berarti Xionan juga pernah bertentangan dengan Kultus itu?-
Pikir Gofan.
Di benak Gofan, jika benar Xionan adalah anggota inti Pasukan Phoenix seharusnya dia akan menganggap Kultus Abu-Abu sebagai sekutu dan bukan menyebut mereka sebagai orang-orang yang jahat. Itu membuat Gofan menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang membuat Xionan memusuhi Kultus Abu-Abu.
Sementara Gofan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Akhirnya Xioming dan Zuena menjadi jelas dengan situasi yang telah terjadi. Mereka sadar bahwa mereka sudah melewati 700an tahun masa hidup mereka sebagai seekor Makhluk buas, seekor Beruang Bambu.
"Kak, Dialah orang yang telah membebaskan kalian dari segel kutukan Hutan Bambu Kemarau...Dia juga yang sudah membebaskanku dari kutukan jurus terlarang. Namanya Gofan dan dia bisa melihatku tanpa perlu menggunakan tetes mata itu"
Xionan menunjuk ke arah Gofan setelah dia menceritakan semua yang sebenarnya telah terjadi selama ini.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadanya"
Ucap Xioming yang ditimpali dengan anggukan oleh Zuena. Mereka kemudian berjalan mendekat ke arah Gofan.
"Gofan! Lihat... Kedua orang itu berjalan kemari, sepertinya mereka ingin menemuimu"
Julala yang masih melingkar di leher Gofan melihat Xioming dan Zuena yang berjalan mendekat ke arah Gofan.
Ucapan Julala itu membuat lamunan Gofan seketika menjadi buyar.
-Oh... Benar... Sepertinya ada yang ingin mereka bicarakan denganku... Kenapa leherku jadi kaku begini?-
Gofan yang tersadar langsung melihat kedua pria itu melangkah ke arahnya.
"Xiashe... Bisakah, kamu tidak melingkar di leherku? Meski kamu sudah mengecilkan tubuhmu, tetap saja bobot aslimu tidak berubah"
Gofan merasakan lehernya menjadi kaku akibat digelayuti oleh Julala.
Gofan menyadari bahwa bobot asli Julala tidak berubah, meskipun sekarang Julala sudah menjelma menjadi seekor ular kecil.
"Ma-maaf. Aku lupa menciutkan bobot badanku... Sebentar akan ku lakukan sekarang!"
*Blazh*
Sebuah asap putih keluar dari tubuh Julala, seketika itu juga, bobot badan Julala menjadi sama seperti ukuran tubuhnya sekarang.
Namun Julala masih menggelayut bagaikan kalung di leher Gofan dan Xiaobai masih asik memainkan ekor Julala. Gofan hanya bisa menghela napas panjang karena hal itu.
"Salam Pendekar muda, terima kasih karena sudah membebaskan kami dari kutukan"
Ucap Zuena dan Xioming saat mereka tiba di hadapan Gofan.
Mereka saling memperkenalkan nama dan akhirnya saling memuji dan berbincang-bincang mengenai perkenalan Gofan pada Zuena dan Xioming yang masih berwujud Beruang Bambu.
Gofan juga mengembalikan Kipas Lipat Besi Dewi Kipas kepada Zuena atas arahan Xionan. Karena hal itu pula Gofan jadi mengingat Yubing yang sudah memberikannya kipas itu beserta dengan pertemuan beruntung lainnya.
"Leluhur, dimanakah Yubing dan Nian?"
Tanya Gofan, ketika dia menyadari bahwa Yubing dan Nian tidak berada di sana.
*Zyuut*
Mouhuli menghampiri Gofan dan kembali memijakkan kakinya ke tanah.
"Sepertinya mereka masih di dalam ruang dimensiku"
Sahut Mouhuli saat tiba di hadapan Gofan dan yang lainnya.
Xioming dan Zuena masih sedikit marah kepada Mouhuli, mereka masih belum bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Namun mereka tidak mendebat atau pun menantang Mouhuli bertarung kembali. Mereka hanya bersikap waspada ketika Mouhuli datang mendekat.
"Bisakah Leluhur membukakan kembali portal dimensinya?"
__ADS_1
Tanya Gofan ketika menyadari portal dimensi di dalam gua sudah menghilang bersamaan dengan runtuhnya gua.
"Tidak perlu dibuka kembali, seharusnya portal itu masih ada di antara puing-puing itu!"
Tunjuk Mouhuli ke arah bebatuan runtuhan gua yang terlihat menggunung.
Gofan melangkah menuju ke arah bebatuan yang ditunjuk Mouhuli. Saat Gofan tiba di depan batu paling besar dari semua batu reruntuhan gua, Julala masih melingkar di lehernya dan Xiaobai masih di dalam dekapan Gofan.
"Xiashe. Bisakah kamu membantuku mengangkat batu besar ini?, Tenaga dalamku belum pulih. Aku tidak cukup kuat untuk mengangkat batu ini"
Ucap Gofan jujur saat dia hendak mengangkat batu besar itu.
"Ssh... Serahkan saja padaku. Kamu menjauhlah sedikit"
Sahut Julala menawarkan diri untuk mengangkat batu tersebut.
Gofan mengangguk mengikuti perkataan Julala dan bergerak mundur menjauh dari Julala.
Sementara Julala mengangkat batu besar itu, yang lain berjalan mendekat menghampiri Gofan dan Xiaobai. Saat itu Gofan memperkenalkan Xiaobai kepada yang lain karena Mouhuli menanyakan mengenai teman baru Gofan itu. Gofan juga akhirnya berkenalan dengan Bianselong.
*Duagh*
Julala yang sudah kembali ke ukuran aslinya, mengibaskan ekornya untuk menghantam batu besar itu. Batu besar itu berhasil terangkat dan terpental terbang menjauh. Batu besar itu melayang menjauh ke arah selatan.
Sebuah portal terlihat di atas permukaan tanah setelah batu besar itu berhasil disingkirkan Julala. Portal itu berwarna hitam gelap dan terlihat seperti sebuah lubang sumur yang berbintang.
"Aa-pa ini?"
Mereka semua terkejut melihat lubang portal hitam berbintang itu.
"Ini mungkin portal dimensi alami, tapi dulu bentuk dan warnanya tidak seperti ini"
Celetuk Xioming yang mengingat tujuannya dulu memasuki Hutan Tanpa Malam adalah untuk melewati portal dimensi alami.
Pikir Gofan.
Gofan sebenarnya ingin memastikan hal itu dengan Haiwa, hanya saja sekarang itu sudah tidak mungkin sebab Haiwa masih tertidur.
"Leluhur. Apa ini portal Lorong Masa atau portal Dimensi Alami?"
Gofan akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Mouhuli.
"Ini sepertinya portal Dimensi Alami, namun telah menyatu dengan portal ruang dimensiku..."
"Aku merasakan sisa Kekuatan Rule dari ruang dimensiku sekarang berada di sekitar tempat portal Dimensi Alami ini menuju... Itu berarti, kemungkinan besar kedua gadis itu ada di Kota Langit Cahaya"
Sahut Mouhuli menjelaskan teori yang dia bisa pikirkan dari bentuk portal dan rasa kekuatan Rule yang tersisa dari ruang dimensi buatannya.
"Jadi, kalau kita memasuki lorong dimensi ini, kita akan tiba di Kota Langit Cahaya, Ibu Kota Kerajaan Penda?"
Tanya Gofan sekali lagi.
"Benar. Kemungkinan besar seperti itu"
Ucap Mouhuli sebelum melakukan sebuah segel tangan.
"Rule"
*Wuuzz*
Angin yang tidak terlalu kencang berhembus melewati semua orang yang berada di sekitar Mouhuli. Angin itu masuk ke dalam portal dan seakan-akan menjadi satu dengan protal yang berada di permukaan tanah itu.
Setalah angin itu berada di dalam lorong dimensi portal, Mouhuli membuat gerakan segel tangan lainnya.
"Rule Ijochte Magy"
__ADS_1
*Blazh*
Sebuah cahaya terang terbentuk dari putaran angin di dalam lorong dimensi portal tersebut. Cahaya terang itu membungkus seluruh sudut portal. Seketika tanah sedikit bergetar dan sebuah Gerbang Dimensi yang terbuat dari bebatuan muncul dari cahaya terang itu.
Gerbang Dimensi itu bercahaya kerlap-kerlip seperti kunang-kunang. Bebatuan yang menyusun gerbang itu terlihat berkilau seperti batu permata. Warna-warni pelangi terlihat berputar-putar di dalam gerbang batu itu. Sungguh indah dan memukau.
"Ii-ni..!?"
Semua orang terkejut, setelah bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Mouhuli sebelumnya.
-Inikah kekuatan Rule? Ini mirip dengan sihir dari Suku Telinga Runcing yang diceritakan di Kitab Kompilasi Bela diri-
Gofan benar-benar kagum melihat kekuatan Rule yang dipraktikan oleh Mouhuli.
Jantung Gofan berdebar-debar ketika melihat keseluruhan proses energi sihir Mouhuli yang bersatu dengan alam dan menciptakan sebuah Gerbang Dimensi alami yang baru.
-Aku harus mempelajari Rule ini-
Ini adalah pertama kalinya dalam seumur hidup, Gofan merasa benar-benar tertarik dengan sebuah ilmu bela diri.
Rule adalah sebuah perwujudan kekuatan yang bisa dimiliki, ketika seseorang memahami cara kerja kekuatan alam. Kekuatan alam dimanfaatkan dan dipadukan dengan energi budidaya yang dimiliki orang tersebut. Perpaduan antara energi miliknya dan kekuatan alam itulah yang disebut sebagai Rule.
Ada berbagai macam Rule. Salah satunya adalah Rule Ijochte Magy yang baru saja diperagakan Mouhuli. Rule Ijochte Magy adalah perpaduan energi sihir dan kekuatan alam. Mouhuli mengerahkan energi sihir miliknya dan menyatukannya dengan kekuatan alam yang ada di sekitarnya.
-Aku tidak menyangka, serigala tua ini sudah menguasai Rule, sampai sehebat ini-
Pikir Bailaohu dengan sedikit perasaan iri.
Biasanya akan dibutuhkan tiga sampai empat orang penguasa Rule untuk membangun sebuah Gerbang Dimensi yang baru. Itu pun belum tentu akan berhasil, sementara Mouhuli seorang diri berhasil membuat sebuah Gerbang Dimensi dengan kekuatan Rule miliknya.
"Hebat! Hebat Ratu... Aku tidak menyangka kekuatan Rule milik Ratu sudah sampai sehebat ini"
Bianselong menepuk tangannya, dia memuji Mouhuli dengan penuh senyuman.
Mouhuli hanya tersenyum membalas pujian Bianselong.
"Gofan. Sekarang terserah padamu, silahkan... lagi pula tujuanmu tidak jauh dari Kota Langit Cahaya"
Ucap Mouhuli ketika mempersilahkan Gofan untuk memasuki Gerbang Dimensi menuju ke Kota Langit Cahaya.
Seperti yang dikatakan Mouhuli, tujuan Gofan selanjutnya tidak begitu jauh dari Kota langit Cahaya. Pulau Api berada di utara kota itu, setelah menyeberangi Rawa Bairawa dan Laut Utara.
Gofan diam sejenak, sebelum akhirnya berkata,
"Leluhur. Bagaimana dengan kalian? Manusia di Kota Langit Cahaya pasti akan memandang kalian sebagai bahaya"
*Zyuut*
Mouhuli, Bailaohu dan Bianselong berubah menjadi seorang pendekar manusia. Mereka kini berpenampilan seperti manusia pada umumnya.
"Kami sudah terbiasa menyamar di antara para manusia, yang perlu kamu khawatirkan adalah mereka, teman-teman makhluk buasmu itu...!"
Tunjuk Mouhuli kepada Julala, Urore dan Xiaobai.
Gofan hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa kepada tiga ekor makhluk buas yang ada bersamanya.
*Urore. Aku tahu kamu baru mengenalku, tapi jika kamu berkenan, maukah kamu ikut bersamaku?. Aku punya tujuan yang bagus untuk tempat tinggalmu di masa depan. Jika kamu tetap di sini, aku khawatir, akan banyak pendekar yang memburu kekuatan mata iblis milikmu*
Ucap Gofan kepada Urore, setelah Gofan diam beberapa saat.
Urore hanya mengangguk sembari menatap ke arah Zuena yang tidak mengenalinya. Urori, sudah seperti orang tua bagi Urore.
Meski kini sudah berubah menjadi manusia, Urore masih merasa bahwa Kakaknya tetaplah sama. Namun Urore tidak bisa berkata apa, kakaknya sekarang tidak mengerti bahasanya dan tidak mengingat tentang dirinya. Itu membuat Urore sangat sedih. Dia hanya mengangguk menjawab ajakan Gofan.
Bersambung...
__ADS_1