
" Ta-tadi ada seorang murid di sini, di belakangku... " Ucap Wujingping ketika membalik badan.
' Kemana anak itu? ' Pikir Wujingping kebingungan mencari keberadaan Gofan yang menyamarkan namanya sebagai Zhao Feng.
Wujingping tidak menaruh curiga sedikit pun bahwa Gofan akan menghilang, sebab sedari tadi, selama perjalanan menuju ke Gudang Harta, suara Gofan masih terdengar di telinganya.
Gofan tidak menghilang, dia masih ada di antara Wujingping, Vasudev, dan Duan Tianlang. Hanya saja mereka tidak bisa melihatnya. Gofan merubah wujudnya menjadi seekor lalat.
'Ternyata begini rasanya menjadi makhluk kecil. Cara seekor lalat melihat dunia memang berbeda, tidak hanya dari satu sudut pandang...' Pikir Gofan yang telah berubah wujud menjadi seekor lalat.
Saat ini, mata Gofan memiliki ribuan lensa kecil atau disebut dengan ommatidia yang membentuk mata atau penglihatan bagi seekor lalat. Mata itu disebut sebagai Mata majemuk yang bahkan mampu melihat ke belakang punggungnya tanpa perlu menoleh.
*Nguung Nguung* Suara kepakan sayap lalat mendengung.
Gofan terbang berputar-putar di antara mereka bertiga. Gofan benar-benar sedang menikmati rasanya menjadi seekor lalat. Gofan merasa sangat senang saat dia terbang.
" Apa mungkin murid itu diam-diam pergi? Memangnya kenapa dengan murid itu? " Tanya Duan Tianlang heran melihat tingkah laku Wujingping.
*Nguung Nguung*
Tanpa sadar Gofan terbang berputar-putar mengeliling kepala Wujingping.
' Sialan dari mana datangnya lalat ini.. ' Batin Wujingping saat dia merasa risih dengan dengungan lalat yang berputar di sekitar kepala dan wajahnya.
" Begini Mahaguru. Tadi ada seorang murid yang mencurigakan keluar dari ruangan budidaya Gofan. Murid itu menyebut dirinya Zhao Feng... "
" Dia juga bi... Sial, lalat ini... " Ucap Wujingping kesal ketika dia mencoba mengusir lalat itu.
" Ah... Ma-maaf Mahaguru. Zhao Feng itu bilang, dia murid yang dibawa kemari oleh Senior Vasudev " Imbuh Wujingping.
Wujingping terus melambaikan kedua tangannya berusaha mengusir Gofan yang masih terbang memutari wajah dan kepalanya.
*Nguung Nguung*
Gofan benar-benar lupa diri. Dia sungguh menikmati terbang dan bertingkah layaknya seekor lalat sungguhan. Gofan terus berputar-putar di sekitar Wujingping, hingga membuat Wujingping kesal bukan main.
' Apa Penatua Kedua belum mandi? Kenapa lalat kecil itu, terus mengelilinginya? ' Batin Duan Tianlang sembari tersenyum kecil melihat Wujingping masih berusaha keras mengusir lalat.
" Ehem... Vasudev benarkah yang dikatakan Penatuan Kedua bahwa kamu membawa seorang murid kemari? " Tanya Duan Tianlang.
Duan Tianlang mengabaikan tingkah Wujingping yang masih berusaha keras mengusir lalat yang mengelilingi kepalanya.
Vasudev sedari tadi menahan tawa melihat atraksi yang dilakukan Wujingping di hadapannya.
Ketika Vasudev mendengar pertanyaan Duan Tianlang dan ingin menjawab pertanyaan itu, Vasudev justru tertawa. Vasudev menertawai Wujingping.
Seorang Pendekar Saint Master dan Penatua Kedua Perguruan Tunjung Putih kini tengah kesulitan mengusir seekor lalat kecil yang terbang berputar-putar di kepalanya.
" Hahaha... Haha... "
" Vasudev! " Tegur Duan Tianlang, menghentikan tawa Vasudev.
" Ehem... Sepertinya Penatua Wujingping, telah ditipu seseorang. Aku kemari hanya bersama dengan Gofan dan kawan-kawannya, tidak ada selain mereka " Sahut Vasudev setelah berhasil mengendalikan dirinya.
" Penatua Kedua. Mung... " Duan Tianlang menghentikan ucapannya.
Saat ini di depan mata Duan Tianlang, sedang terlihat adegan yang sedikit konyol.
Wujingping mengeluarkan senjata tongkat miliknya dan menggunakan tongkat itu untuk mengusir seekor lalat. Wujingping bergerak berputar-putar menyerang lalat yang ada di atas kepalanya.
' Kenapa dengan lalat ini? Aku sudah mengusirnya baik-baik, tapi dia masih saja memutari kepalaku... '
' Ini pasti siluman. Siluman Lalat... ' Wujingping menyerang ke udara dengan tongkatnya, tapi Gofan selalu bisa menghindar.
' Eh.. Apa yang aku lakukan? Sial... Aku terbawa suasana ' Gofan hampir saja terkena pukulan tongkat Wujingping. Hempasan angin dari tongkat itu, menyadarkan lamunan bahagia Gofan.
Gofan sungguh bahagia ketika terbang mengelilingi Wujingping, seperti ada aroma tertentu yang menarik dirinya untuk melakukan itu.
Melihat si Lalat itu terbang menjauhi dirinya, Wujingping berhenti menyerang dan menyimpan kembali senjatanya.
Wujingping tidak melanjutkan pertarungannya dengan si Lalat. Karena pada akhirnya, Wujingping menyadari tingkah konyolnya. Hanya demi mengusir seekor lalat kecil, dia terpaksa mengeluarkan senjata miliknya.
" Maaf Mahaguru. Maaf Senior. Kalau memang begitu adanya, aku permisi. Aku akan menyelidiki siapa penipu itu " Wujingping memutuskan untuk segera pergi, karena terlalu malu mengingat tingkahnya saat mengusir lalat.
__ADS_1
Setelah berucap demikian, Wujingping segera bergegas pergi dengan wajah malu dan marah. Wujingping kembali ke ruangan budidaya Gofan untuk mencari Zhao Feng.
Duan Tianlang dan Vasudev diam terpaku selama beberapa saat, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak saat Wujingping benar-benar tidak terlihat lagi di pandangan mata mereka berdua.
*Nguung Nguung*
Gofan terbang dan hinggap di atas kepala Vasudev.
" Paman Vasudev. Ini aku Gofan. Ayo kita pergi ke Ibu Kota. Dengan bantuan Paman, aku yakin, itu sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan teman-temanku " Ucap Gofan yang hanya bisa di dengar oleh Vasudev.
" Go-gofan?! Dimana? Kamu dimana? " Vasudev menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang, tapi tidak menemukan Gofan.
" Kamu kenapa? Kenapa mencari Gofan di sini? Dia sedang berada di ruangan budidaya. Bukannya kamu tahu itu? " Tanya Duan Tianlang saat melihat tingkah aneh Vasudev.
" Tapi.. Aku benar-benar mendengar suara anak itu... "
" Haih... Karena urusan di sini sudah selesai. Aku pergi dulu " Duan Tianlang menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergegas pergi ke Aula Utama perguruan.
Baru saja seorang Penatua perguruannya bertingkah aneh, sekarang Vasudev juga ikut-ikutan bertingkah aneh.
' Apa bertingkah aneh sedang menjadi budaya? Kenapa mereka berdua bertingkah aneh? ' Batin Duan Tianlang sembari terus melangkah pergi meninggalkan Vasudev.
" Gofan dimana kamu? Keluarlah! " Seru Vasudev sembari memeriksa sekelilingnya.
' Apa Paman Vasudev sedang bercanda? Dia tidak bisa merasakan keberadaanku? '
Dari apa yang Gofan alami sekarang, Gofan menarik kesimpulan bahwa ketika dia mengubah wujudnya menjadi binatang biasa, bahkan seorang pendekar Human God seperti Vasudev tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Selain itu, jika Gofan terbawa suasana saat dia berubah wujud, dia bisa lupa diri dan bertingkah seperti binatang biasa tersebut.
" Paman ini aku Gofan " Gofan terbang dan hinggap di ujung hidung Vasudev.
Vasudev melotot melihat seekor lalat kecil berbicara dan hinggap di ujung hidungnya.
' Gofan?! Baru tiga hari mengolah budidaya energi sihir tapi sudah bisa merubah diri menjadi seperti ini? ' Vasudev diam setelah menyadari bahwa lalat yang tadi mengerjai Wujingping, ternyata adalah Gofan.
Vasudev mengangkat tangan kanannya, dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Hidung. Gofan berpindah dan hinggap di ujung jari telunjuk tangan kanan Vasudev.
" Jangan bilang, bahwa murid bernama Zhao Feng yang dimaksud Wujingping itu adalah kamu? " Tanya Vasudev penasaran.
" Benar Paman, itu Aku. Aku baru menguasai satu tingkatan dari Ilmu 72 Perubahan Abadi. Aku bisa mengubah wujud menjadi beberapa bentuk, termasuk menjadi lalat " Sahut Gofan dari ujung jari telunjuk tangan kanan Vasudev.
" Gofan. Apalagi yang bisa kamu lakukan, setelah menguasai tingkat satu ilmu itu? " Tanya Vasudev.
" Entahlah Paman. Tapi yang pasti Ilmu sihir ini tidak sehebat sihir ruang dan waktu milik Paman... "
" Paman. Ayo, kita pergi ke Ibu Kota. Aku ingin segera pergi ke Paviliun Bunga Indah dan menyelamatkan teman-temanku " Ucap Gofan yang masih berwujud seekor lalat.
Vasudev mengangguk setuju sembari menghela napas pelan, " Kamu mau ke sana dengan wujud lalat ini? Orang-orang di Ibu Kota mungkin akan melihat aku seperti orang gila yang berbicara dengan lalat jika kamu terus begini "
Gofan tertawa kecil mendengar ucapan Vasudev. Dia terbang dan melakukan perubahan wujud kembali.
*Blazh*
Gofan kembali ke wujud pemuda gemuk bertubuh pendek, yang sebelumnya dia namai Zhao Feng.
" Hmm.. Bagus. Bagus. Inikah yang dipanggil Zhao Feng oleh Wujingping tadi? " Tanya Vasudev sembari merobek udara dan membuat sebuah celah ruang dimensi terbuka di hadapannya.
Gofan mengangguk menjawab pertanyaan Vasudev dan melangkah masuk ke dalam celah ruang mengikuti langkah Vasudev yang telah mendahului memasuki celah ruang dimensi tersebut.
Dalam hitungan puluhan napas, mereka berdua tiba di Alun-alun Kota Langit Cahaya.
Setibanya di Kota Langit Cahaya, Ibu Kota Kerajaan Penda. Gofan dan Vasudev memutuskan untuk pergi ke sebuah kedai makan kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari Paviliun Bunga Indah.
[Kota Langit Cahaya - Kedai Kongchu]
" Gofan. Kenapa kamu memilih kedai ini? Kita bisa menunggu malam tiba, di Restoran Lumbung Parta " Ucap Vasudev.
Saat ini Gofan dan Vasudev tengah duduk menunggu malam hari tiba di sebuah kedai kecil bernama Kedai Kongchu. Mereka menunggu malam, karena Paviliun Bunga Indah hanya beroperasi saat malam hari tiba hingga pagi menjelang.
" Makanan di kedai ini tidak kalah lezat dari restoran itu. Paman tenang saja, Paman pasti tidak akan kecewa. Selain itu aku juga mengenal pemilik kedai ini " Sahut Gofan.
Vasudev merapikan caping bambu yang dia kenakan saat mendengar jawaban Gofan. Vasudev sengaja mengenakan caping bambu karena tidak ingin identitasnya sebagai Vhala diketahui.
Gofan melambaikan tangannya dan memanggil seorang pelayan yang tengah sibuk melayani pengunjung kedai yang lain.
__ADS_1
Meski kedai itu kecil tetapi tidak pernah sepi pengunjung. Banyak pendekar yang juga datang dan makan ke kedai kecil itu.
' Kawan lama. Ternyata kamu masih ada di kedai ini ' Gofan mengenali pelayan yang dipanggilnya tersebut.
Pelayan itu adalah seorang gadis berkulit cukup gelap bernama Guzhimei. Gadis berusia 20 tahun itu adalah teman Gofan ketika bekerja di kedai kecil tersebut.
Kedai Kongchu adalah tempat Gofan bekerja saat masih hidup mengembara setelah diusir dari kediaman Keluarga Gu. Saat itu Gofan-Lenfan bekerja sebagai pelayan di kedai itu bersama dengan Guzhimei yang sering dipanggilnya dengan Gugu.
' Gugu... Kamu tidak banyak berubah. Masih semanis dulu ' Batin Gofan saat Guzhimei tiba di hadapannya.
Melihat sosok gadis itu kembali, membuat kenangan Gofan saat masih bekerja di kedai itu terlintas dalam ingatannya.
Enam tahun lalu, setelah Gofan-Lenfan- hidup menggelandang selama hampir dua tahun. Lenfan tiba di Ibu Kota Kerajaan Penda. Lenfan berusaha keras menuju ke Ibu Kota untuk mengadu nasib di Kota Langit Cahaya tersebut.
[Enam Tahun Sebelumnya - Masa Lalu Lenfan]
" Tuan. Bisakah aku bekerja di penginapan ini? Pekerjaan apapun akan aku lakukan. Aku bisa mengurus kuda para pengunjung atau menjadi tukang bersih-bersih di penginapanmu " Ucap Lenfan yang saat itu masih berusia 15 tahun.
Lenfan mengunjungi satu demi satu tempat usaha yang ada di Kota Langit Cahaya, demi mendapatkan pekerjaan.
Saat ini, dia tiba di sebuah penginapan kecil di dekat Kedai Kongchu. Penginapan yang beberapa tahun kemudian jatuh bangkrut dan berganti menjadi sebuah rumah pelacuran, Paviliun Bunga Indah.
" Pergi! Kami tidak membutuhkan pegawai baru... Pergi.. Pergi! " Usir Pemilik penginapan tersebut sembari mendorong Lenfan hingga terjatuh.
" Tuan. Aku mohon tuan. Aku akan bekerja dengan rajin. Aku akan bekerja keras dan memajukan penginapanmu " Ucap Lenfan benar-benar sudah putus asa.
Sebelumnya, sudah lebih dari 20an tempat usaha dikunjungi Lenfan dan semuanya menolak menerima dirinya sebagai pegawai baru.
Mereka menolak dengan sopan dan memberi Lenfan beberapa makanan.
Berbeda dengan si Pemilik penginapan ini, dia mengusir Lenfan dengan kasar dan bahkan mendorong Lenfan menjauh dari penginapannya.
Meski sudah terjatuh karena dorongan itu, Lenfan masih memohon meminta pekerjaan kepada pemilik penginapan kecil tersebut.
" Nak. Dimana harga dirimu? Berhentilah memohon seperti itu. Apalagi memohon kepada orang yang tidak berhati sepertinya " Ucap seorang pria paruh baya bernama Kongchu.
Kongchu muncul setelah melihat perlakuan yang diberikan si Pemilik penginapan itu kepada Lenfan.
" Apa kamu bilang? Kongchu jangan pikir karena kamu lebih lama tinggal di distrik ini, aku akan takut padamu... "
" Gembel ini jelas-jelas memaksa. Makanya aku mengusirnya, dimananya salahku? " Sahut Pemilik penginapan itu.
Pemilik penginapan itu berusia sekitar 40an, namanya Cangren. Cangren belum lama mengelola penginapan itu. Dia baru mulai mengelola penginapan itu sepeninggal Ayahnya beberapa bulan yang lalu.
Cangren banyak memecat pegawai-pegawai lama penginapan itu dan mengganti mereka dengan pegawai-pegawai baru. Hari ini, saat Lenfan datang melamar, dia justru ditolak. Padahal pengumuman lowongan pekerjaan masih terpampang di jendela penginapan tersebut.
" Cangren. Karena aku menghormati mendiang Ayahmu, tingkahmu ini akan aku lupakan... "
" Nak. Bangunlah dan ikut aku. Kamu bisa bekerja dan tinggal sementara di kedai milikku" Ucap Kongchu sembari pergi menuju ke arah kedai kecil miliknya.
' Harga diri? Masihkah aku perlu memikirkan itu, di saat aku kelaparan? ' Lenfan bangun dan mengikuti Kongchu.
Bersambung...
Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pembaca setia Novel Pendekar Sembilan Langit.
Hari ini setelah menghitung satu per satu komentar yang ada (karena jumlahnya masih bisa saya hitung) Tiga Komentar Terbanyak. (Episode 01-100), adalah:
Jo Surya, terima kasih atas komentar-komentar Anda. Jika Anda membaca ini, saya sampaikan banyak terima kasih. Sedikit cerita, Anda adalah pembaca pertama yang satu demi satu mengomentari setiap Episode yang saya upload. Jujur, saya bingung harus membalas apa saat itu. Ini karya pertama saya dan saya tidak tahu harus membalas apa saat itu. Hari ini, melalui ini, dengan komentar sebanyak 23 kali itu, saya mengucapkan terima kasih. terima kasih banyak.
Hamsih Anchie Ismaya, terima kasih banyak, setelah saya hitung ternyata Anda memberikan belasan komentar yang membangun untuk saya. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Saya hitung beberapa kali, jumlah komentar Anda yaitu 17 komentar.
Di peringkat ketiga saya menemukan dua pembaca yang jumlah komentarnya sama, yakni Gusni Hermayunita Aminullah dan Tengku Amir, sama-sama 9 komentar. Untuk Anda berdua, saya sampaikan banyak terima kasih. Komentar yang Anda sampaikan sangat berarti untuk saya.
Sekali lagi, Bukan berarti Pembaca yang lain tidak saya ucapkan terima kasih. Hanya saja pengumuman ini akan menjadi sangat panjang, jika satu demi satu saya sebutkan nama Anda. Jadi tiga besarnya saja yang saya sampaikan.
Intinya, Saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Anda semua. Kepada semua pembaca Pendekar Sembilan Langit, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Terima kasih sudah membaca.
Semoga menikmati.
__ADS_1
____________________________________________