Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 174. Kemunculan Musuh Sebenarnya bg. 2


__ADS_3

Dongfang dan Penatua Kesembilan menyembunyikan wajah sedih mereka, beberapa di antara ke-30nya ada yang sudah begitu akrab dengan mereka.


“Ka....” Ucapan Dongfang terhenti, dia mendesah pelan, “Kalian hanya perlu masuk ke dalam Paviliun Tanah Tua ini dan berdiam di dalam selama mungkin, setelah itu kalian akan tahu apa yang harus dilakukan. Misi dimulai dari sekarang. Masuklah.” Ucapnya saat Pintu Paviliun itu terbuka lebar.


Di dalamnya kosong, tidak ada apa-apa, tidak terlihat siapa pun ada di dalam Paviliun itu. Ke-30 murid itu masuk, tanpa bertanya lebih lanjut.


“Kenapa Ruangan ini begitu gelap?, Kamu. Yongshui, hidupkan lampu-lampu di dinding itu.” Perintah murid senior yang sebelumnya bertanya pada Dongfang


Yongshui berjalan ke dinding. Berusaha menyalakan Lampu di dinding.


“Ini... Senior Chen. Lampu-lampu ini tidak bisa ku nyalakan.” Ucap Yongshui. Setelah beberapa kali mengarahkan Energi Apinya untuk menyalakan lampu minyak di dinding.


“Bodoh. Bagaimana mungkin? Bukankah kamu pengendali Elemen Api?...Sudah-sudah gunakan saja tenaga dalammu, terangi tempat ini.”


*Zyuut* Sekelebat asap hitam melesat lewat. Dalam gelap, tidak ada yang bisa melihatnya.


“Yongshui... Apa kamu tuli?.” Bentak Senior Chen. Ruangan itu masih gelap dan Yongshui tidak menjawab pertanyaannya.


“Dimana dia?.” Ucap seorang murid lainnya, dia berada di dekat Yongshui, “Se-senior Chen. Sepertinya Yongshui menghilang.” Imbuhnya ragu. Tadinya dia merasakan bahwa Yongshui masih ada di sebelah kanannya, setelah rasa dingin melintas, dia merasa Yongshui sudah pergi dari sebelahnya.


“Yongshui berhentilah bermain-main....” Tidak mendapat jawaban, Chen, si Murid yang paling senior itu, mencoba mendekati murid lainnya, “Siapa lagi yang bisa mengendalikan Api di sini?, Cepat terangi tempat ini.” Perintahnya.


Dalam gelap semua menggeleng. Tidak ada jawaban, berarti tidak ada selain Yongshui.


“Aku punya beberapa Dupa Api, cobalah gunakan ini.” Sahut seorang murid lainnya.


*Blazh* Beberapa batang Dupa Api, mirip obor kecil, menyala menerangi ruangan itu.


Chen melihat ke sekeliling, mencoba mencari Yongshui, ingin memberinya pelajaran. Tapi matanya membelalak lebar, di lantai, dia melihat kulit kering tanpa darah... “I-itu Yongshui...” Tidak menyelesaikan ucapannya, sesuatu berkelebat menghampiri Chen.


“Arrggghhh!.” Tidak tahu apa yang menyerang, satu demi satu ke-30 murid itu mati tanpa daging, tulang, dan darah. Hanya tersisa kulit kering bertaburan di lantai Paviliun.


Di luar Paviliun, Kedua Penatua merasa bersalah. Mereka hanya bisa berdiam, gemetaran, saat mendengar beberapa teriakan. Hanya beberapa. Kebanyakan mati tanpa sempat berteriak.


**


Dalam hitungan dua batang dupa, seorang pria muda, sekitar 20an tahun keluar dari Paviliun Tanah Tua. Siapa lagi kalau bukan Dewa Gelap. Setelah menyerap habis esensi kehidupan ke-30 Pendekar di bawah Saint Master, dia pulih dan menjadi muda kembali. Hanya saja, budidayanya hanya di tingkat Grand Master tahap akhir. Jika diperhatikan lebih dekat, wajahnya mirip Litaihwang, tapi lebih muda.


“Bagus. Kerja bagus. Kalian berdua terimalah ini.” Dewa Gelap melemparkan 30 Kantong Ruang berisi Batu Darah, “Itu imbalan untuk kalian. Kalian tahu bukan, harus berbuat apa?.” Tangannya menengadah seperti meminta sesuatu.


Dongfang dan Penatua Kesembilan tidak berani menatapnya langsung, meski tahu ke-30 Kantong Ruang itu dari awal berasal dari Perguruan, mereka berdua tetap mengucap terima kasih kepada Dewa Gelap.


“Tentu. Tentu kami tahu Mahaguru Abadi.” Sahut Dongfang, menoleh ke arah Penatua Kesembilan, “Tianrui, cepat serahkan.. Cepat berikan...” Bisiknya kepada Penatua Kesembilan yang bernama Tianrui.


Tangan Tianrui sedikit gemetar. Pria muda di hadapannya, terlalu menakutkan. Suaranya tua, tapi wajahnya muda, tekanan tenaga dalamnya kuat tapi ranah budidayanya rendah. Belum lagi kedua matanya seakan memancarkan lubang hisap yang kelam, “I-Ini... Silahkan diterima, Mahaguru Abadi.”


Tainrui menyerahkan sebuah gagang pedang yang terbuat dari batu kepada Dewa Gelap. Hanya gagang, tidak ada bilah pedangnya.


“Tianrui... Oh, kamu keturunan siapa? Apa kamu keturunan dari si Ba***at Cahaya itu?.” Ucap Dewa Gelap setelah menerima gagang pedang batu.


“Bu-bukan Mahaguru.. Bukan. Saya keturunan Keluarga Tian dari Tanah Halimun.” Sahut Tianrui terbata-bata, jantungnya hampir lepas saat mendengar Pria muda bersuara tua itu menanyainya.


Senyuman melengkung di wajah Dewa Gelap, “Seharusnya memang begitu. Tidak satu pun keturunannya yang berhak hidup di daratan ini.” Dia berjalan melewati keduanya. Jelas terlihat kakinya melayang dua jengkal dari tanah.

__ADS_1


Saat melihat itu, Dongfang dan Tianrui tidak bisa tidak kagum. Ranahnya hanya di Grand Master tahap akhir tapi dia bisa melayang.


Dewa Gelap mengangkat tangannya setinggi bahu, kemudian mengalirkan tenaga dalam ke dalam gagang pedang batu yang ada di genggaman tangannya.


*Blazh* Pancaran cahaya keemasan dengan asap hitam keluar memancar dari gagang pedang batu.


“Haiwa.. Sudah saatnya kamu bangkit.” Gumam Dewa Gelap pelan.


Cahaya emas berasap hitam itu melayang menuju ke sebuah celah di kawah Gunung yang membeku.


Puncak Gunung mengalami gempa kecil *Grudug*


*Zyuut* Cahaya emas berasap hitam lainnya melesat keluar dari dasar kawah Gunung. Di dalam asap itu ada sebuah bilah pedang tajam tanpa gagang.


*Triung* Dentangan bilah pedang terdengar saat sebuah bilah pedang tajam menyatu di gagang pedang batu tersebut.


“Tuan. Selamat datang kembali.” Ucap Roh Senjata di dalam bilah pedang tajam tersebut kepada Dewa Gelap.


Dewa Gelap tertawa, “Haiwa... Aku sudah menemukan mereka, aku menemukannya. Setelah ini, aku akan menyusul ke Neraka dan menyatukan semua Jiwaku.”


“Selamat Tuan. Penantian kita, tidak sia-sia.” Sahut Roh Senjata bernama Haiwa, yang ada di dalam bilah pedang.


Tanpa menoleh ke belakang, Dewa Gelap terbang melesat ke arah Utara, menuju ke Pulau Api. Kecepatannya bukan main, sosoknya tidak terlihat lagi saat melesat terbang di antara awan, dia terlihat seperti kilatan cahaya.


Meninggalkan dua orang Penatua, yang menatap ke langit dalam diam. Rahang mereka hampir jatuh melihat kecepatan terbang Mahaguru Abadi itu.


*Dong* Lonceng besar yang berada di Aula Utama Perguruan Dunia Gelap melayang sendiri dan terbang mengikuti arah kilatan cahaya. Terbang mengikuti Dewa Gelap menuju ke Pulau Api.


Semua Pendekar yang berkerumun di dekat Gerbang masuk Perguruan Dunia Gelap bisa melihat kilatan cahaya dan Lonceng besar itu. Mereka penasaran dan mengikuti arah keduanya.


Pendekar yang tersenyum itu terlihat begitu tua, dia menjauh dari keramaian. Saat kepalanya menatap ke langit, perlahan tubuhnya, sedikit demi sedikit masuk ke dalam tanah. Menyatu dengan bumi.


***


[Pulau Api - Turnamen Pulau]


Litaihwang beranjak bangun, dia melakukan segel tangan dan mengucap beberapa kalimat yang tidak terdengar.


Setelah itu, Empat buah tiang besar yang sama seperti tiang di Ring Tarung muncul di setiap sudut di Area Turnamen Pulau, mengelilingi area tersebut.


“Ini-!?.” Lixiayo dan semua yang lain terkejut melihat munculnya Empat Tiang Harimau Naga.


“Lixiayo... Lihat! Ini ulahnya, sepertinya dia sudah lebih dulu mengambil langkah.” Ucap seorang Kakek tua yang duduk di belakang Lixiayo. Dia mantan Raja Siluman Tengkorak Putih, Tuogui, “Kita tidak perlu lagi meminta Bocah itu untuk menolong mengungkapkan wajah asli Raja ini.” Bisiknya terkekeh senang.


Mata Lixiayo berputar, dia melihat sekilas gerakan segel tangan Litaihwang, dia juga memperhatikan pertarungan dua Gofan serta Siluman Anjing yang tiba-tiba saja muncul. Terlalu banyak variabel lain yang membuat semua rencananya menjadi gagal.


“Tapi, ini tidak cukup untuk menyatakan bahwa dia bukan Raja yang asli.” Sahut Lixiayo berbisik.


Alis Tuogui menekuk seperti menyatu oleh kulit keriputnya, kata-kata Lixiayo masuk akal. Jika hanya seperti ini, belum bisa membuktikan bahwa Litaihwang ini palsu. Harus menunggu lebih lama, pasti ada maksud di balik munculnya Empat tiang di luar Area Turnamen itu.


Tidak jauh dari sana, “Surga membantu kita.” Gumam Gennai Dadoros. Dia terlihat senang dengan apa yang dilakukan Litaihwang.


Jika Litaihwang akan mengungkapkan jati dirinya, berarti rencana untuk meminta bantuan Gofan, tidak diperlukan lagi. Terlebih lagi, Turnamen sudah kacau balau karena kedatangan Qimouzha.

__ADS_1


Di sisi lain, di sudut bawah, di antara Pasukan Taizongbudui, seekor Kodok hijau kecil berlendir, menatap lurus ke arah langit, “Percuma. Bahkan setelah Gen menolongnya lolos di putaran pertama, sekarang dia justru bertarung dengan kloningannya.” Batin Kodok kecil itu. Kodok itu, Qingwahong, dalam wujud kodoknya, dia menggerutu dalam hati.


Dua hari, selama dua hari dia menyamar menjadi seekor Kodok kecil, semua hanya demi terlaksananya rencana Lixiayo. Tapi melihat situasi sekarang, sepertinya semua persiapan akan sia-sia.


“Putri ingin menggunakan tangannya saat dia menerima hadiah juara dari Litaihwang, tapi sekarang... Jangankan juara, Turnamen ini akan selesai pun tidak ada kejelasan.” Qingwahong mengingat rencana yang sudah disusun Lixiayo dan kelompoknya untuk dilaksanakan Gofan.


Kemunculan keempat tiang itu hanya mengejutkan sesaat, setelah tidak terjadi apa-apa, hampir semua dari mereka kembali fokus pada pertarungan acak yang terjadi di Area Turnamen Pulau itu.


**


Ledakan! *Bang*


Gofan dan Fanjia.... Ling Guo dan Mouhuli.... masih bertarung.


Ling Guo dan Mouhuli sebenarnya bukan pertarungan yang berimbang. Sebagian besar pertarungan menggunakan Kekuatan Mental, jika saja Mouhuli memiliki Energi Mental sekuat Ling Guo, maka tidak memerlukan waktu selama ini bagi Mouhuli untuk melenyapkannya.


Di sisi lain, pertarungan Gofan melawan Fanjia, bisa dibilang seri. Jurus apa pun yang dikeluarkan Gofan, bisa dikeluarkan Fanjia. Membuat pertarungan keduanya berlangsung hingga lebih dari ratusan gerakan.


“Tinju Sembilan Kutukan Langit.”


Gofan menggunakan Formasi Sembilan Kutukan Langitnya untuk menghentikan gerakan Fanjia.


“Tinju Sembilan Kutukan Langit.”


Fanjia menggunakan jurus yang sama. Tapi, tanpa gambar formasi di punggung kedua tanggannya, jurus tinjunya itu terlihat berbeda.


Yang satu bercahaya merah keemasan dan yang lain bercahaya kehijauan. Tinju Gofan sepenuhnya memanfaatkan ukiran Formasi di tangannya, sementara Fanjia meniru ukiran itu dengan Energi Mental yang diserapnya dari sepihan Jiwa Ling Guo.


*Bang!* Dua tinju dengan gerakan yang sama saling berbenturan.


*Duaarr*


*Duaarr* Riak gelombang benturan membuat ledakan-ledakan kecil di antara keduannya.


Gofan terpelanting, dia terpukul mundur enam langkah. Darah menetes di sudut bibirnya, dan tangannya meneteskan banyak darah.


Fanjia terdorong mundur, hanya tiga langkah, tidak ada luka terlihat, semua berkat perlindungan Energi Mental.


Senyum melengkung di wajah Fanjia, “Ternyata dugaanku benar. Kamu memang belum menguasai sepenuhnya jurus dan Energi lain, selain Energi Mental. Dari awal kamu sudah bergantung pada Kekuatan Mata Iblis, bagaimana rasanya kehilangan kekuatan Mentalmu?.”


Mata Fanjia menatap tajam, saat cahaya hijau pekat memancar dari keduanya, “Mari akhiri ini dengan kekuatan yang selalu menyelamatkanmu.”


“Mata Iblis.”


Gofan terperangah, dia tidak menyangka, kekuatan Mental yang dimiliki Fanjia akan sekuat ini. Sudah pasti Fanjia juga memiliki racun dari Teratai Racun Pelangi di dalam tubuhnya, di dalam darahnya. Tapi dia masih bisa menggunakan Kekuatan Mata Iblis.


“Apa ini karena dia hanya memiliki setetes darahku?.” Batin Gofan saat kedua matanya memancarkan cahaya ungu.


“Mata Surga.”


Tentu saja Gofan akan mengandalkan Mata Surga, dia memiliki banyak Energi Surga. Selain Energi Mental, Energi Surga adalah kekuatan andalannya. Kedua kekuatan itu bisa dikatakan berimbang.


Dalam batinnya, Gofan hanya menyesali, kedua jurus yang selalu menolongnya dalam pertarungan itu, sekarang justru saling menghancurkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2