Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 234. Ingatlah... Ini Belum Berakhir


__ADS_3

Dengan begitu banyaknya kemudahan, mata Gofan berbinar-binar, dengan langkah mantap, dia perlahan mendekat ke arah Dewa Sastra, “Terima kasih Dewa, tapi sebelum aku memulai pertarungan dengan kedua Slime ini, ijinkan aku menanyakan hal ini... Kenapa keduanya terlihat begitu berbeda dari Slime yang pernah aku lihat?”


Dewa Sastra tersenyum mendengar pertanyaan Gofan, “Aku pikir kamu tidak akan menanyakan hal itu... Mereka memang berbeda dari Slime pada umumnya..” Dewa Sastra menunjuk ke arah Slime berwarna pelangi, “Yang ini, adalah mutasi karena seluruh tubuhnya mengandung racun, racun terkuat di Alam ini, racun yang dikenal dengan sebutan 'Teratai Racun Pelangi', karena itu warna tubuhnya seperti warna pelangi.”


Dewa Sastra menatap ke arah Gofan sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “Jangan khawatirkan racunnya... Seperti yang sudah aku janjikan padamu, kamu bisa mencoba menyerangnya terlebih dahulu, tenang saja... dia tidak akan menggunakan racunnya padamu.”


Kemudian Dewa Sastra menunjuk ke arah Slime yang kedua, “Yang ini merupakan mutasi dari Slime biasa, biasanya jika dia bisa meningkatkan lagi kemampuan miliknya, dia bisa menjadi Raja Slime... Bisa dibilang dia ini calon Raja dari para Slime.” ucapnya sembari menatap bangga pada Slime berwarna kebiruan.


Gofan sedikit terkejut menyadari tentang kemampuan kedua Slime milik Dewa Sastra, jelas saja, dua Slime itu bukan Slime biasa yang bisa diremehkan oleh siapa pun. Tapi bagi Gofan, keduanya bukanlah masalah, sekalipun Dewa Sastra tidak mempermudah ujian itu sendiri, Gofan tetap saja bisa mengalahkan keduanya.


Yang satunya memiliki tubuh beracun yang sama seperti Gofan, jadi bisa dibilang itu tidak jadi masalah, bahkan jika Slime Pelangi itu menyerang menggunakan racun miliknya, itu bukanlah masalah, justru itu hanya akan menjadi keuntungan bagi tubuh racun sempurna milik Gofan.


Sementara yang lain, sangat mirip dengan Slime berwarna biru yang pernah mencuri Cincin milik Gofan sebelumnya, jadi itu juga bukan masalah besar bagi Gofan, karena dia sudah mengetahui kemampuan dan kelemahan Slime jenis itu.


“Selain itu, Raja Slime juga memberiku sebuah catatan yang bisa menunjukkan kemampuan dari Mata Ilahi, kemampuan yang berguna untuk menundukkan para Slime.... Ini memang sebuah lelucon. Kemudahan datang padaku setelah aku harus melewati semua makhluk yang merepotkan di lantai-lantai sebelumnya.”


Gofan tidak menunjukkan raut wajah senang, meskipun dalam hati dia merasa ujian itu hanya sebuah lelucon. Bahkan dari luar wajahnya terlihat begitu serius, karena hal itu pula Kakek Jo dan Rongrong terlihat khawatir pada keputusan Gofan. Kakek Jo hanya menggoyangkan ekornya yang pendek tanpa berkomentar, sementara Gu Rong masih menatap kesal ke arah Dewa Sastra.


“Jadi, bagaimana? Apakah sekarang kamu siap untuk menerima ujianku ini?”


“Tentu Dewa. Dengan semua kemudahan dan kemurahan hatimu, bagaimana bisa aku menolaknya.” sahut Gofan sembari menangkupkan kedua tangannya.


“Baik, ayo kita mulai...” Dewa Sastra mengibaskan pelan lengan bajunya dan seketika Gofan dan kedua Slime dipindahkan ke tempat ujian, dimensi terpisah lainnya.


Sementara Gofan dan kedua Slime berada di Dimensi tempat ujian. Dewa Satra tertawa lepas sembari menatap ke arah Kakek Jo dan Gu Rong, “Bukan maksudku mempersulit dia, tapi hanya ini jalan satu-satunya untuk memberi tahu kalian hukuman atas pengkhiatan.”


“Cih... Apapun alasanmu, kamu hanya Dewa tua egois yang ingin terus memperbudak kami. Kami tidak pernah mengkhianatimu, Mo Fan bisa sampai ke sini, semua karena kemampuannya sendiri. Kami hanya memintanya untuk membantu kami keluar hidup-hidup dari penjaramu ini... sungguh Curang!!” sahut Gu Rong dengan nada meninggi.


Sementara Kakek Jo hanya menghela napas, entah dia pasrah atau dia mempercayai kemampuan Gofan, tapi kecemasan terlihat jelas di kedua bola matanya. Baginya sekarang, hidupnya bergantung dari hasil ujian Gofan.


“Hahaha... berdoa saja bahwa Mo Fanmu itu bisa membantumu keluar hidup-hi.. ” tiba-tiba ucapan Dewa Sastra terhenti, ketika robekan Dimensi Terpisah muncul tepat di hadapannya. Mulutnya menganga dan kedua bola matanya hampir melotot. Sosok Gofan keluar dari robekan udara sembari membawa tubuh kedua Slime yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“I..i...ini...” ucap Dewa Sastra terbata-bata, saat Gu Rong dan Kakek Jo terpaku tidak percaya.


Bahkam belum habis puluhan hela napas sejak ujian dimulai dan Gofan telah leluar dari tempat ujian sembari membawa kedua Slime yang telah dia buat tidak sadarkan diri.


“Ini kemenanganku Dewa.” Ucap Gofan sembari melemparkan tubuh kedua Slime ke dekat kaki-kaki singgasana kayu Dewa Sastra.


'MUSTAHIL' itulah raut wajah yang terlihat dari Dewa Sastra, Gu Rong, dan Kakek Jo.


Setelah terpaku sejenak, keduanya, Gu Rong dan Kakek Jo tertawa terpingkal-pingkal saat menyadari ekspresi wajah Dewa Sastra yang tidak bisa dia sembunyikan.


“Mo Fan... Hebat... Benar-benar hebat.” kepak sayap kecil Gu Rong saat dia kembali ke pundak Gofan.


“Bagaimana kamu melakukannya?” timpal Kakek Jo yang juga mendarat di pundak Gofan lainnya.


Masih tertawa Gu Rong melanjutkan ucapannya “Mo Fan, lihat... lihat.. Dewa tua itu bahkan tidak bisa merapatkan rahanganya Hahahaha...”


Gofan tersenyum menanggapi kegembiaraan keduanya, “Bukan masalah besar. Ini semua karena kemurahan hati Dewa Sastra, aku hanya melakukan seperti yang biasa aku lakukan, menyerang sekuat tenagaku.”


“Ya... Dewa tua!! Sampai kapan kamu akan melamun seperti itu?! Cepatlah penuhi janjimu. Berikan Orb Jiwa itu!” Teriak Gu Rong dengan nada senang, seakan-akan semua kekesalan yang selama ini dia pendam telah menghilang, kini dia berteriak dengan nada senang dan tersenyum-senyum.


“Benar Dewa. Mo Fan sudah memang, bisakah dia menerima hadiahnya dan juga... kebebasan kami.” ucap Kakek Jo dengan nada lega. Kecemasannya sudah menghilang, semua berkat kemenangan tiba-tiba Gofan. Kemenangan yang mustahil bagi dirinya, jika dia yang menghadapi kedua Slime itu.


Urat hijau menyembul di dahi Dewa Sastra, tangannya mengepal erat saat dia mengibaskan lengan bajunya dan membuat kedua Slime yang tidak sadarkan diri itu menghilang, “Tidak berguna!” teriaknya keras.


“Dewa...?” ucap Gofan sembari tersenyum tipis. Meski dia senang dengan kemenangan mudah yang dia peroleh, tapi melihat kemarahan Dewa Sastra, dia sedikit khawatir, bahwa Dewa di hadapannya akan melanggar perjanjian.


Dewa Sastra bangkit dari singgasana kayunya, dan berdiri menatap marah ke arah Gofan. Dia berdiri beberapa hela napas menatap tajam ke arah Gofan, sebelum akhirnya duduk kembali dengan helaan napas panjang.


Tanpa mengucapkan kata-kata dia melemparkan Orb Jiwa Totem Formasi ke arah Gofan.


*Zyuutt* Orb Jiwa itu melesat kencang ke arah Gofan. Itu bukan lemparan biasa, itu lebih mirip sebuah serangan.

__ADS_1


Gofan mengerutkan alisnya saat menyadari lemparan itu, dia dengan cepat mengerahkan tubuh emas dan memperkuat kedua tangannya untuk menangkap Orb Jiwa yang melesat kencang ke arahnya.


*Duaaghh*...“Ukh..” garis darah tipis muncul di pinggiran bibir Gofan setelah dia terdorong beberapa puluh langkah karena berhasil menangkap lemparan Orb Jiwa tersebut.


“Apa-apaan kekuatan ini?!” batin Gofan ketika kedua tangannya sedikit gemetaran usai menangkap Orb Jiwa yang dilempar Dewa Sastra.


“Yaa!!! Dewa tua!!! Apa kamu ingin menghadiahinya kematian?!” bentak Gu Rong usai terpelanting dari pundak Gofan, dia terbang dengan marah.


“Sudahlah... Lagi pula Mo Fan berhasil menangkap Orb Jiwa itu.” ucap Kakek Jo, berusaha menenagkan Gu Rong. Dia tidak ingin, karena hal itu Gofan bertarung dengan Dewa Sastra.


Meski Dewa Sastra yang ada di hadapan ketiganya hanyalah sisa Jiwa, itu tetaplah Dewa, mereka tidak bisa memprovokasinya, jangan sampai Gofan bertarung dengan Dewa Sastra. Bahkan jika Gofan bisa menang dengan mudah melawan kedua Slime, bukan berarti Gofan mampu menghadapi sisa Jiwa dari Dewa Sastra.


Gofan menenangkan dirinya, dia mengerti batasannya. Dia juga bukan orang bodoh yang akan mencari mati hanya karena lemparan tersebut, “Terima kasih Dewa... Kalau begitu, bisakah kami keluar dari menara ini sekarang?.” tanya Gofan sembari mengusap darah di pinggiran bibirnya, tubuhnya kembali seperti semula.


Dalam diam, Dewa Sastra berpangku satu tangan sembari masih menatap tajam ke arah Gofan.


Setelah kira-kira lima helaan napas, Dewa Sastra menjentikkan jarinya, “Ingatlah... ini belum berakhir.” ucap Dewa Sastra sesaat sebelum Gofan dan kedua teman barunya ditarik keluar dari dalam Menara Enam Pilar Binatang.


“Belum berakhir, apa maksudnya?” batin Gofan tanpa sempat menanyakan maksud ucapan Dewa Sastra tersebut.


*Blazh* Ketiganya muncul tepat di depan Menara Enam Pilar Binatang.


Trang..


Trang...


Hyaat...


Trang...


Suara pedang beradu dan teriakan perkelahian terdengar di telinga Gofan, Gu Rong, dan Kakek Jo. Ketiganya melihat hiruk pikuk perkelahian tengah berlangsung di hadapan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2