Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 129. Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba


__ADS_3

Gofan terkejut mendengar ucapan Haiwa. Dalam sehari dia bertemu dengan dua pemilik Senjata Dewa lainnya.


"Tidak perlu Putri, aku.."


*Zyuut* Seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai kain penutup wajah muncul.


Ucapan Gofan terhenti saat dia terkejut melihat pria berpakaian serba hitam tersebut. Pria yang tiba-tiba muncul itu, bergerak cepat dan merebut Cermin Cahaya Bulan dari tangan Shiyuxin.


"Siapa kamu?! Kembalikan Cermin Cahaya Bulan milikku!" Shiyuxin bangkit dari tempat duduknya. Dia terkejut mendapati cermin di tangannya telah direbut oleh seorang penyusup.


Pria berpakaian serba hitam itu tidak memberi jawaban kepada Shiyuxin. Dia membalik badan dan segera bersiap untuk melompat keluar dari jendela ruangan.


Shiyuxin geram dan melancarkan serangan. Shiyuxin mencegah pria penyusup itu melarikan diri.


"Cakar Malam Kematian"


Shiyuxin menerjang maju dan mengarahkan serangan cakarnya ke arah penyusup tersebut. Kuku jari Shiyuxin mendadak tumbuh memanjang dan berubah warna menjadi kehitaman. Kuku jarinya mengeras seperti terbuat dari logam.


*Trang* Cakar dan Kipas lipat besi berbenturan.


*Trang*


*Trang*


'Kipas itu! Tianyekwang...' Batin Gofan saat dia bangkit dari tempat duduknya dan membentuk segel tangan.


Ketika melihat kipas yang digunakan pria berpakaian hitam itu, Gofan langsung menyadari bahwa pria penyusup itu adalah Tianyekwang.


"Pancaran Mata Iblis"


"42 Dimensi Sihir...Waktu Berhentilah!"


*Blazh* Pancaran Energi Mental dan Energi Sihir memancar dari tubuh Gofan.


Gofan membekukan gerakan Shiyuxin dan Tianyekwang dengan jurus dari Energi Mental miliknya. Kemudian Gofan menggunakan sihir waktu miliknya untuk menghentikan waktu di seluruh kediaman Shijie.


"Pucuk dicinta Ulam pun tiba... Ternyata kamu memang mengikuti kontes pencarian jodoh ini hanya untuk mengambil Cermin milik Putri" Ucap Gofan di hadapan Tianyekwang yang mematung.


Saat melihat salah satu dari Sepuluh Berkah Langit ada di tangan Shiyuxin, Gofan menebak tujuan Tianyekwang mengikuti kontes jodoh Shiyuxin. Gofan menyadari bahwa tujuan Tianyekwang adalah untuk merebut Cermin Cahaya Bulan.


*Blazh* Gofan membuat sebuah cermin yang mirip dengan Cermin Cahaya Bulan milik Shiyuxin.


"Kamu ambil yang ini... Yang asli, biar aku yang pegang." Gofan menukar cermin asli dengan cermin sihir buatannya.


"Haiwa.. Benarkah ini cermin yang kamu maksud?, Coba periksa!" Imbuh Gofan saat dia menggenggam Cermin Cahaya Bulan.

__ADS_1


"Benar. Itu dia.. Kamu berencana untuk mengambil keuntungan dari kejadian ini?" Tanya Haiwa seusai menjawab.


Gofan tersenyum dan mengangguk sekali, "Selanjutnya Kipas ini..." Gofan membuat sebuah kipas yang serupa dengan kipas milik Tianyekwang dari sihir miliknya, "Bagaimana dengan kipas ini?" Tanya Gofan kepada Haiwa.


"Benar.. Itu juga asli." Sahut Haiwa sembari tersenyum dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar yang berada di dalam Cincin Dimensi.


"Cincin ini juga lumayan.. Aku ambil ya?" Gofan mengambil cincin di jari Shiyuxin dan menukarnya dengan cincin buatan dari Energi Sihirnya.


Usai melakukan hal itu, Gofan membuat sebuah boneka tanah yang menyerupai Yanse dan menyalurkan Energi Mentalnya untuk membuat boneka tanah itu bisa terlihat hidup.


Gofan pergi keluar ruangan, "Kemana perginya Paman itu?", Gofan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Lujiang, namun dia tidak berhasil menemukannya.


Gofan menyebarkan Energi Mentalnya ke seluruh kediaman Shijie untuk menemukan keberadaan Lujiang.


'Apa!? Apa dia sudah gila?' Gofan mendapati Lujiang tengah berada di sebuah ruang baca di kediaman itu.


"Langkah Kilat"


Sekejap kemudian, Gofan tiba di sisi Lujiang.


***


[Ruang Baca-Kediaman Shijie]


"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Lujiang terkejut mendapati Gofan yang tiba-tiba muncul.


"Nanti aku ceritakan. Kita harus segera pergi... Ayo!"


"Tunggu. Aku harus mencari sesuatu di ruangan ini." Sahut Lujiang menolak ajakan pergi dari Gofan.


"Apa yang Paman cari?" Tanya Gofan.


"Itu... Aku mencari Kitab..."


"Sudahlah... Kita ambil saja semua!" Melihat Lujiang yang ragu mengungkapkan apa yang dia cari di ruangan itu, Gofan mengibaskan lengannya dan mengambil semua buku, gulungan, dan kitab yang ada di ruang baca itu.


"Kamu?! Ba-bagaimana kalau mereka tahu?" Wajah Lujiang segera memucat ketika melihat ruang baca itu menjadi kosong seketika.


Semua buku, gulungan, dan kitab yang ada di sana sudah berpindah isinya ke dalam Cincin Dimensi milik Gofan.


"Kalau Paman ingin selamat. Ayo pergi!" Gofan merobek udara dan membuat sebuah celah dimensi.


Gofan masuk ke dalah celah dimensi buatannya tersebut.


"Ayo!" Seru Gofan dari dalam celah dimensi ketika menyadari Lujiang masih berada di ruang baca kediaman Shijie.

__ADS_1


'Sial.. Kenapa malah jadi kacau begini? Sudahlah...kalau sudah begini, sekalian saja...' Lujiang menjatuhkan lilin-lilin yang berada di ruang baca itu saat dia masuk ke dalam celah dimensi Gofan.


***


[Di Luar Kota Hantu]


"Apa yang Paman lakukan? Kenapa lama sekali?" Tanya Gofan saat dia dan Lujiang muncul di luar pintu masuk Kota Hantu.


"Tidak ada.. Oh ya.. Berikan padaku isi ruang baca itu!" Lujiang menggaruk kepalanya saat dia berbohong menjawab pertanyaan Gofan.


"Di sini masih belum aman. Kita akan pergi ke tempat lain dulu." Sahut Gofan.


Lujiang menoleh ke sekeliling dan melihat keadaan sekitarnya, 'Benar juga, ini masih terlalu dekat dengan kediaman Shijie.. Siapa Bocah ini? Dia tidak hanya menguasai sihir perubahan tetapi juga sihir ruang dan waktu'


Lujiang menyadari sihir waktu milik Gofan saat dia menjatuhkan lilin-lilin di ruang baca. Meski lilin-lilin itu jatuh, namun api yang menyala di setiap lilin itu tidak bergerak, seperti membeku dalam waktu.


*Blazh* Gofan dan Lujiang kembali ke penampilan mereka yang asli.


"Eh... ini?!" Lujiang terkejut.


"Aku kehabisan Energi Sihir... Sepertinya mulai dari sini, kita harus berjalan kaki mencari tempat yang aman." Ucap Gofan dengan wajah yang terlihat kelelahan.


"Kita akan kemana?"


"Perguruan Tunjung Putih."


'Aku tidak mengingat dimana kediaman Bibi Guru Xunialiang, satu-satunya tempat yang bisa kupikirkan hanya Perguruan Tunjung Putih. Lagi pula Leluhur masih ada di sana...' Batin Gofan.


"Tidak. Tidak. Tidak. Kita tidak akan berjalan kaki sejauh itu..." Ucap Lujiang saat dia mengeluarkan Sangkar Gaib dari kantong ruang miliknya, "Segel ruang, buka sangkar, dengan darah memerintahkan... Keluarlah yang dalam perjanjian!"


*Duarr*


Usai Lujiang melempar Sangkar Gaib, seekor kuda besar bersayap muncul dari ledakan sangkar gaib itu.


'Kuda Sayap Baja... Menarik... Ini seperti Boger milik Yubing... Aku rasa aku perlu memiliki peliharaan seperti ini di masa depan' Batin Gofan saat dia menumpang terbang bersama Lujiang.


Dengan Kuda Sayap Baja milik Lujiang, mereka melanjutkan perjalanan, terbang menuju Perguruan Tunjung Putih.


Sementara Gofan terbang bersama Lujiang, kebakaran besar terjadi di kediaman Shijie.


Shiyuxin tidak berhasil menangkap Tianyekwang, dan semua kesalahan yang terjadi di malam itu akhirnya dilimpahkan kepada Tianyekwang. Tianyekwang menjadi buronan Kota Hantu.


Beberapa puluh hela napas setelah kepergian Gofan, seluruh atribut sihir yang dia ciptakan berubah menjadi butiran-butiran cahaya merah muda yang menghilang dalam terpaan angin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2