Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 81. Mouhuli Mengamuk bg. 1


__ADS_3

Sinar matahari menyinari tubuh Mouhuli yang telah bertransformasi ke wujud Silumannya. Kini Mouhuli terlihat seperti manusia serigala.


Taring panjang terlihat muncul di giginya, serta sebagian tubuhnya ditumbuhi rambut serigala berwarna cokelat dan berwarna putih.


Penduduk yang berada di sekitar tempat pertarungan antara kelompok Gofan dan kelompok Kerajaan Penda telah mengungsi semalam tadi, semenjak terdengar suara dentangan senjata dan teriakan pertarungan.


Sekarang area itu menjadi sepi penduduk dan hanya diramaikan oleh pertarungan Gofan dan kawan-kawannya itu.


Suara angin berhembus terdengar di telinga semua orang, saat semuanya terdiam ketika melihat perubahan wujud Mouhuli.


" Dia ! Dia ternyata juga siluman ! " Ucap Shanhu dari dalam kubah empat warna.


" Bukan hanya siluman biasa. Dia siluman ribuan tahun. Lihat alis peraknya ! " Kata Chengsui kepada ketiga saudaranya yang lain.


Alis perak akan muncul pada para siluman yang sudah berusia di atas 1000 tahun. Alis perak itu sebagai tanda kematangan dan kekuatan. Juga sebagai tanda bahwa para siluman harus bersiap untuk pergi ke tahapan yang lebih tinggi atau bersiap untuk mati saat usianya mencapai 1500 tahun, jika gagal mencapai tahapan yang lebih tinggi.


" Cepat ! Habisi dulu Setengah Siluman ini ! Selama kubah empat warna ini melindungi kita. Dia tidak akan bisa berbuat banyak ! " Seru Heiwuya.


" Baik Kak " Sahut ketiga adik seperguruan Heiwuya itu.


" Auuuu " Mouhuli melolong saat melesat maju ke arah kubah empat warna.


*Crash*


Mouhuli mencakar kubah empat warna itu, berusaha keras membebaskan Gofan. Ratusan kali cakaran dari kedua tangannya, tidak berhasil mengoyak kubah empat warna. Kubah itu masih utuh, Formasi Kamapat Empat masih terus menghisap budidaya energi Gofan.


" Hyaaaa... !! " Mouhuli berteriak marah saat melihat Gofan jatuh berlutut dengan kepala yang menunduk lemah di dalam kubah.


*Wuuzz*


Mouhuli terbang tepat di atas kubah empat warna.


Mouhuli menarik napas panjang dan menghisap energi roh alam yang ada di sekitarnya. Merubah energi roh alam itu menjadi tenaga dalam berupa bola-bola api berwarna biru. Kemudian dia menyerang kubah empat warna itu dengan bola-bola api biru tersebut.


*Duuaarr*


*Duuaarr*


Ledakan terjadi dari serangan bola-bola api biru Mouhuli.


Mouhuli mengamuk, dari mulutnya dia memuntahkan bola-bola api tenaga dalam itu berkali-kali ke arah kubah empat warna.


Tanah bergetar, debu berterbangan, percikan api biru terpantul kesana kemari, bangunan terdekat roboh dan terbakar, pohon dan rumput habis tersapu api dan angin ledakan.


" Sial. Kenapa jadi begini? Bianselong, kenapa dia mendadak mengamuk seperti ini? " Tanya Bailaohu saat melompat menjauh dari area pertarungan tersebut bersama Bianselong.


" Mungkin ini karena mendiang Raja Siluman Serigala. Beliau tewas karena formasi ini juga ! " Sahut Bianselong.


Tepat seperti yang dikatakan Bianselong. Mouhuli mengamuk karena mengingat formasi yang telah merenggut nyawa suaminya.


Saat Mouhuli mendengar Gofan berteriak dan melihat Gofan terikat di dalam kubah empat warna. Mouhuli langsung melihat bayangan wajah suaminya di diri Gofan. Gofan terlihat seperti suaminya yang tengah terantai di dalam Formasi Kamapat Empat. Oleh karena itulah Mouhuli menjadi lepas kendali dan mengamuk.


" Jika terus begini, akan semakin banyak pendekar manusia yang datang " Imbuh Bianselong.

__ADS_1


" Kita sembunyi dulu ! " Ucap Bailaohu saat dia merubah wujudnya menjadi seekor kucing biasa.


Melihat perubahan wujud Bailaohu itu, Bianselong segera berkamuflase dan menghilang dari tempatnya berada.


Saat ini suara dentuman keras dari ledakan serangan bola api biru Mouhuli terdengar menggema di seluruh Ibu Kota. Ibu Kota yang tenang dan damai mendadak menjadi panik.


Para Pendekar Pengawal Kerajaan yang baru saja berhasil memadamkan kebakaran Kuil Cahaya Kegelapan, kini bergegas berangkat menuju ke arah timur, ke arah pertarungan kelompok Gofan.


" Sial ! Ada apa dengan hari ini? Baru saja selesai memadamkan api, sekarang justru ada ledakan lain ! " Keluh salah seorang Pendekar Pengawal Kerajaan.


" Apa ini ulah si Bocah berambut putih itu? " Tanya Pendekar Pengawal Kerajaan lainnya.


" Kita hanya akan tahu, setelah tiba di sana. Ayo !! " Ucap Ketua Pendekar Pengawal Kerajaan.


" Baik Ketua ! " Sahut para Pendekar Pengawal Kerajaan saat mereka mengikuti langkah ketua mereka menuju ke timur.


Ketua Pendekar Pengawal Kerajaan yang tadinya baru selesai memadamkan kebakaran Kuil itu, bernama Yilanren. Saat ini, Yilanren bersama dengan 55 pasukannya bergerak ke tempat Gofan.


Setelah beberapa puluhan hela napas, Yilanren dan pasukannya sampai di tempat pertarungan kelompok Gofan.


Ratusan bala bantuan yang sebelumnya dipanggil secara rahasia oleh salah satu dari ke-16 Pendekar Pengawal Kerajaan juga tiba di area pertarungan itu.


Kelompok Tongkat Sakti juga tidak ketinggalan. Mereka juga tiba secara diam-diam di dekat area pertarungan.


Sebelumnya, mereka gagal menemukan hal yang berkaitan dengan Gofan, meski mereka akhirnya mengetahui penyebab Gofan menjadi seorang buronan Kerajaan. Saat mereka kebingungan mencari petunjuk keberadaan Gofan, seorang anggota Tongkat Sakti melapor melihat adanya pertarungan di arah timur.


Kelompok Tongkat Sakti pun bergegas ke timur dan tiba di sana, tepat pada saat Mouhuli sedang mengamuk.


" Baik Mahaguru ! " Sahut ratusan Kelompok Tongkat Sakti kepada Duan Tianlang.


Segera seluruh Kelompok tersebut memakai topeng hitam milik mereka masing-masing.


Duan Tianlang adalah seorang Mahaguru dari sebuah Perguruan Bela diri, selama ini dia menyamar sebagai Kepala Desa di Desa Seribu Satu Malam, menunggu kemunculan si Pewaris baru Tongkat Emas Naga Kembar.


" Apa kita akan bergerak sekarang Kak? " Tanya Suezilu kepada Duan Tianlang.


" Tunggu dulu. Kita tunggu sampai kubah itu terbuka. Aku yakin mereka tidak akan membunuh si Pewaris " Sahut Duan Tianlang dari balik topeng hitamnya.


Sementara Duan Tianlang dan kelompoknya bersembunyi sembari mengamati pertarungan. Para Pendekar Pengawal Kerajaan menerjang maju menyerang Mouhuli.


" Pasukan Panah ! Serang ! Jatuhkan manusia serigala itu ! " Seru seorang Kapten Pendekar Pengawal Kerajaan dari ratusan bala bantuan yang baru saja tiba.


Bala bantuan Pendekar Pengawal Kerajaan yang baru saja tiba itu dipimpin oleh seorang Pendekar berpangkat Kapten, namanya Qiangzhuang. Segera setelah Qiangzhuang memberi perintah, puluhan pendekar mengarahkan busur mereka ke arah Mouhuli.


*Tyuung*


*Tyuung*


Puluhan anak panah melesat ke arah Mouhuli yang sedang terbang melayang di atas kubah empat warna.


Namun tidak ada satu anak panah pun yang berhasil mengenai Mouhuli. Anak panah itu seperti terpantul oleh sebuah dinding udara tebal di sekitar Mouhuli.


" Yilanren... Kemari ! " Panggil Qiangzhuang kepada Yilanren.

__ADS_1


" Iya Kapten ! " Sahut Yilanren saat menghadap Qiangzhuang.


Saat dipanggil Qiangzhung, Yilanren dan beberapa pasukannya baru saja selesai memindahkan tubuh Ke-16 Pendekar Pengawal Kerajaan yang sebelumnya dihajar oleh Bianselong, Bailaohu, dan Mouhuli hingga terkapar tidak sadarkan diri.


" Ambil busur ini. Aku dengar kamu sangat berbakat dalam memanah. Jatuhkan manusia serigala itu ! " Tunjuk Qiangzhuang ke arah Mouhuli setelah menyerahkan sebatang busur panah berwarna perak.


" Baik Kapten " Yilanren menerima busur dan anak panahnya lalu bersiap menyerang ke arah Mouhuli.


" Rasakan panah ini ! Siluman !! " Teriak Yilanren saat melepaskan anak panahnya ke arah Mouhuli.


" Tembakan Angin Rajawali "


*Tyuung*


Anak panah yang ditembakkan Yilanren terlihat dilapisi oleh tenaga dalam berwarna emas. Ada bayangan burung Rajawali saat anak panah itu melesat ke arah Mouhuli. Angin kencang juga terhembus saat anak panah itu dilepaskan oleh Yilanren.


*Cruaatt*


Anak panah Yilanren menembus dinding udara pelindung Mouhuli dan tepat mengenai bahu kiri Mouhuli. Darah bercucuran dari bahu Mouhuli.


Mouhuli berhenti memuntahkan bola-bola api biru dan melepaskan anak panah yang menancap di bahu kirinya.


Mouhuli masih melayang di atas kubah saat dia membentuk sebuah segel tangan sembari menatap marah ke arah Yilanren.


* Rooaarr * Teriak Mouhuli dalam bahasa Makhluk buas.


Teriakan Mouhuli itu menggema di seluruh Ibu Kota. Mendadak berbagai jenis binatang yang ada di sekitar Ibu Kota mengamuk dan berlarian ke arah pertarungan Mouhuli.


Anjing, Kucing, Tikus, Ular, Semut, Tokek, Cicak, Lalat, Nyamuk, Kecoa, Burung, Lipan, Kambing, Kuda, Sapi, Kerbau dan binatang-binatang lainnya yang mendengar teriakan Mouhuli, semuanya bergerak serempak ke arah Mouhuli.


Pemandangan itu sangat mengerikan. Banyak penduduk yang terkejut dan ketakutan melihat berbagai gerombolan binatang itu pergi serempak ke arah timur Ibu Kota.


" Kambingku... Seseorang tolong tangkap kambingku ! "


" Ahh.. Kecoa, kenapa bisa ada banyak kecoa keluar di sini?... Tolong aku diserbu Kecoa !! "


" Sapi !! Kembali... Sapi !! "


" Tolong... Para binatang mengamuk...!! "


" Tolong.. Tikus-tikus ini sangat menjijikkan ! Singkirkan mereka dariku !! "


" Siapa pun, tolong bantu aku ! Selamatkan anjingku ! "


" Selamatkan dirimu ! Bukan selamatkan anjingmu... Lari, Selamatkan dirimu. Para binatang mengamuk !! "


" Selamatkan diri kalian. Para binatang mengamuk !! "


Begitulah kekacauan terjadi di Ibu Kota, hingga berita itu akhirnya sampai ke telinga petinggi Kerajaan Penda.


Bersambung...


Novel ini hanya fiktif belaka. Karya asli Penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

__ADS_1


__ADS_2