Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 159. Xionan, Selamat. Akhirnya Kamu Hidup Kembali


__ADS_3

*Grooaahhh*


Tuobha mengarahkan serangan kepalan ke arah tinju Gofan.


*Duuaaarrr*


*Duuaaarrr*


Ledakan terjadi disekitar keduanya. Meski tubuh Tuobha jauh lebih besar daripasda Gofan, kepalan tangannya serasa tidak bergeming menghadapi Tinju Sembilan Kutukan Langit.


*Grooaahhh*


Gagal memukul mundur Gofan dengan satu kepalan tangan, Tuobha menyatukan kedua tangannya dan melompat tinggi.


Kemudian mengarahkan gabungan kedua tangan itu tepat ke arah Gofan.


Melihat Tuobha mengambil ancang-ancang dengan melompat tinggi sebelum mengarahkan pukulan padanya, Gofan menarik kaki kanannya mundur saat tubuhnya sedikit condong ke depan, lalu dengan sedikit dorongan tenaga dalam, Gofan menerjang ke atas.


*Zyuut*


“Hyaahh!!” Teriak Gofan saat cahaya merah berkumpul dan memadat di kedua tinju tangannya.


Terlihat kedua tangan Gofan seperti mengenakan sebuah sarung tangan cahaya berwarna merah.


*Duuuaarrr*


*Duuaarrr* Ledakan dari dua serangan terjadi di udara


*Kretek tek tek* Suara tulang yang remuk dan patah terdengar berderit dari kedua lengan Gofan.


“Hyaaa!!” Teriak Gofan, memberi semangat pada kepalan tinjunya yang mulai melemah.


Meski harus jatuh dan mati, setidaknya dia akan berhasil memberi kesempatan hidup baru pada Xionan, begitulah yang tersirat dari mata Gofan yang berapi-api penuh semangat.


*Duuaaarrr*


Tinju Sembilan Kutukan Langit berhasil menembus dada Tuobha.


“Arrgghhh...” Teriak Tuobha kesakitan. Sebuah lubang selebar bahu terlihat menganga di dadanya.


Satu demi satu, hantu yang sebelumnya diserap oleh Tuobha keluar dari lubang tersebut. Tubuh Tuobha menyusut kembali sebelum berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang menghilang di udara.


Sementara Gofan yang trlah berhasil menembus tubuh Tuobha, tersenyum tipis sebelum kesadarannya mulai menghilang. Gofan terjatuh.


“Gofan!?” Xionan melesat, melayang menuju ke arah Gofan. Dengan energi kehidupannya yang tersisa, dia memaksakan diri menyelamatkan Gofan, sebelum jatuh dan membentur tanah merah Lembah Kematian.


***


[Pulau Api-Di Dalam Sebuah Tenda]


Lima hari berlalu, semenjak Gofan mengalahkan Tuobha dan kehilangan kesadarannya.


“Kamu sudah sadar?” Tanya Bailaohu yang duduk di pinggiran ranjang Gofan.


“Huhi?...” Gofan mengangguk pelan sembari memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Gofan melihat ke sekelilingnya, “Dimana ini? Dimana Xionan?” Tanyanya.


“Tenanglah, sekarang kamu di tempat yang aman, kita sedang berada di Pulau Api...”


“Xionan sedang bersama Senior Mouhuli dan Gurumu yang lain. Kamu tenang saja.” Sahut Bailaohu.


“Benarkah?.. Oh ya.. Bunga Api Ribuan Roh, aku harus segera memberikannya pada Xionan.” Ucap Gofan sembari bergegas bangkit dari ranjang.


Gofan mengenakan sepatu dan pakaiannya serta melepas beberapa perban yang masih membalut kedua lengannya.


“Gofan..” Panggil Bailaohu saat Gofan bersiap untuk keluar dari tenda tersebut.

__ADS_1


Gofan menoleh ke arah Bailaohu.


“Terima kasih karena sudah membunuhnya.” Ucap Bailaohu.


“Membunuhnya? Maksudmu?” Tanya Gofan.


Bailaohu bangkit dan menghampiri Gofan, “Berkat kematian Kaisar Siluman terdahulu, segel Dimensi Siluman sudah sepenuhnya menghilang...” Bailaohu menunjuk ke arah sebuah kotak kecil di atas meja, “Itu ada titipan dari Xionan, katanya, dia menemukan itu saat menolongmu... Masalah bunga itu, Xionan sudah menyerapnya. Temuilah dia, dia sudah hidup kembali.”


Bailaohu keluar dari tenda.


Gofan mendekati meja dan mengambil kotak kecil yang ditunjuk Bailaohu.


Gofan membuka kotak kecil itu, “Batu Kematian..” Gumamnya pelan sebelum menyimpannya ke dalam Cincin Dimensi.


Gofan tersenyum lega dan bergegas keluar Tenda.


**


“Terima kasih karena sudah menyelamatkan Gofan.” Ucap Vasudev kepada seorang gadis cantik berkepang dua.


Gadis itu adalah Xionan. Sekarang, dia sudah hidup kembali dan mendapatkan kembali tubuhnya setelah menyerap Bunga Api Ribuan Roh.


“Bukan masalah. Justru aku yang harus berterima kasih padanya. Sekarang aku bisa merasakan rasanya bernapas lagi.... Hihihi”


Tawa Xionan bahagia saat dia berulang kali menarik napas dalam-dalam sembari melompat-lompat kecil, kegirangan.


Mouhuli dan Vasudev yang berada di dekat Xionan tertawa kecil melihat tingkahnya.


*Tep*


Gofan memeluk Xionan dari belakang. Dia memeluk erat punggung Xionan dan menghentikannya melompat-lompat.


“Nannan... Selamat. Akhirnya kamu hidup kembali.” Bisik Gofan di telinga Xionan.


Xionan tertegun, kedua pipinya tampak merona merah saat dia mengetahui pelukan tiba-tiba itu dilakukan oleh Gofan.


“Gofan. Kamu sudah baikan?.” Tanya Mouhuli.


Gofan tertawa kecil, “Sudah Leluhur. Sekarang aku sudah baik-baik saja.” Sahutnya.


“Oh ya.. Ngomong-ngomong, bagaimana aku dan Xionan bisa berada di sini?.” Tanya Gofan.


“Aku yang membawa kalian kemari.” Sahut Vasudev.


Mouhuli mengangguk pelan, sementara Xionan masih menundukkan wajahnya yang memerah.


Vasudev kemudian menceritakan, kejadian yang terjadi setelah Gofan yang kehilangan kesadaran diselamatkan oleh Xionan.


Lima hari yang lalu, malam itu, Vasudev tengah tertidur di sebuah penginapan kecil di dekat Kediaman Keluarga Tian, di Tanah Halimun. Vasudev menginap di sana untuk mencari informasi tentang pergerakan Keluarga Tian.


Malam itu, Cuaca yang mendadak berubah, membangunkan Vasudev dan juga seluruh orang yang berada di Tanah Halimun.


“Wah... Apa itu? Apa sedang terjadi badai di Lembah Kematian?.”


“Lihat.. Ada ledakan yang terjadi, apa mungkin sedang ada pertarungan di Lembah Kematian itu?.”


“Siapa yang berani mengusik para hantu itu? Nyalinya sungguh besar!.”


“Itu pasti orang gila... Itu mungkin seorang Pendekar yang sudah lelah hidup.”


“Haha... Benar. Benar. Dia ke sana untuk mengantar nyawa.”


Beberapa penduduk di Tanah Halimun berkerumun dan melihat jauh ke arah Lembah Kematian. Suara petir, kilat dan ledakan-ledakan mirip orang bertarung terdengar dan terlihat oleh mereka.


Vasudev juga berdiri di antara kerumunan tersebut.


*Deg*

__ADS_1


Melihat dan mendengar hal itu, Vasudev terkejut. Dia bergegas menuju ke Lembah Kematian.


Setibanya di Lembah Kematian...


“Gofan... Sadarlah... Sadarlah.” Ucap Vasudev ketika dia menemukan Gofan tidak sadarkan diri dan tubuhnya melayang satu jengkal dari permukaan tanah.


Vasudev melihat ke sekeliling. Dia mengambil tubuh Gofan dan meletakkannya di atas sebuah batu besar yang permukaannya sedikit datar.


Kemudian Vasudev memeriksa tubuh Gofan. Dia mengeluarkan sebutir pil dan memasukkannya ke dalam mulut Gofan.


“Apa yang sebenarnya terjadi?, Kenapa tubuhmu sampai seperti ini?.” Gumam Vasudev ketika menyadari sebagian besar tulang di kedua lengan Gofan remuk dan terpatah-patah.


Vasudev membalut kedua lengan Gofan dengan sebuah perban yang telah dia aliri dengan tenaga dalamnya.


“Xionan. Aku tahu, kamu ada di sini.. Terima kasih telah menyelamatkan Gofan.” Ucap Vasudev kepada Xionan.


Meski tidak bisa melihat Xionan secara langsung, Vasudev menebak bahwa tubuh Gofan yang hampir saja terjatuh dan menghantam tanah sebelumnya, selamat dan terlihat seperti ditopang oleh seseorang. Kalau bukan Xionan, siapa lagi, itulah yang dipikirkan Vasudev.


“Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi aku harap kamu juga baik-baik saja.” Ucap Vasudev sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


Usai melihat Gofan diobati, Xionan merasa lebih tenang, namun tubuhnya telah semakin transparan. Sebagian kakinya bahkan telah menghilang.


“Aiya... Apa yang sebenarnya kalian lakukan..?.” Gumam Vasudev pelan saat dia melihat Gofan terbaring, tidak sadarkan diri.


Saat mendengar gumaman Vasudev itu, Xionan teringat dengan bunga yang diperebutkan Gofan dan Tuobha.


Sebelum kembali dari Neraka, Gofan juga mengatakan bahwa bunga itu dapat memberi Xionan kehidupan yang baru. Dengan menyerap Bunga itu, Xionan akan memiliki tubuh baru.


“Dimana bunga itu? Dimana Fanfan menyimpannya?.” Xionan mencari-cari di sekitar tubuh Gofan


“Ini dia...” Ucap Xionan, ketika dia menemukan Bunga Api Ribuan Roh yang diselipkan Gofan di dalam pakaiannya.


Gofan sengaja, tidak menyimpan bunga itu di dalam Cincin Dimensi, sebab, jika Gofan melakukannya, Bunga Api Ribuan Roh itu bisa saja membakar seluruh isi Cincin Dimensi Gofan. Kerugian besar tentunya.


Dengan energi kehidupan yang tersisa, Xionan membentuk sebuah segel tangan dan menyerap Bunga Api Ribuan Roh.


Vasudev yang berdiri di sebelah Gofan terkejut. Di hadapannya, sebuah Bunga berapi-api dengan asap hitam, keluar dari dalam pakaian Gofan dan melayang-layang di udara.


Vasudev hanya diam memperhatikan, saat sedikit demi sedikit, bunga api itu berubah menjadi butiran cahaya merah dan menghilang entah kemana.


Ratusan hela napas kemudian...


Xionan muncul dengan tubuh telanjang di hadapan Vasudev.


Vasudev yang terkejut, segera membalik badan, “Si-Siapa kamu?.” Tanyanya memunggungi Xionan.


“Senior. Ini aku Xionan. Bisakah kamu memberiku sehelai pakaian” Sahut Xionan.


Dalam keterkejutannya, Vasudev mengeluarkan sehelai pakaiannya dan melemparnya ke belakang.


**


“Begitulah yang terjadi dan aku bersumpah.. Aku tidak melihat banyak” Tutur Vasudev saat Xionan berusaha mencegahnya menceritakan kemunculnya dengan kondisi telanjang saat itu.


“Senior-!.” Pukul Xionan pelan ke arah pundak Vasudev.


Mouhuli, Vasudev, dan Gofan tertawa.


“Terima kasih Gofan. Kamu benar-benar telah membantuku hidup kembali.” Ucap Xionan saat Vasudev dan Mouhuli pergi meninggalkan mereka berdua.


“Bukan masalah. Lagi pula, jika bukan karena dirimu, tidak akan ada Gofan yang berdiri di sini.” Ucap Gofan sembari mengenang pertemuan pertamanya dengan Xionan.


“Bukankah sekarang waktu yang tepat buatmu mengajariku beberapa jurus yang ampuh.” Imbuh Gofan sembari tersenyum.


“Tentu.. Bagaimanapun, aku sudah berjanji.” Sahut Xionan diakhiri dengan tawa khasnya.


Keduanya terus bercengkrama hingga matahari terbenam di ufuk barat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2