Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 38. Xiashe dan Tabib Ajaib


__ADS_3

Xionan yakin bahwa bait nyanyian-nyanyian kuno yang diucapkan Mouhuli secara pelan itu adalah sebuah mantra. Mantra adalah rapalan yang berirama, bernada, terdengar seperti nyanyian, yang mengandung energi sihir dan hanya bisa digunakan oleh para penyihir.


Penyihir adalah julukan bagi seorang pendekar yang mengolah energi sihir, mereka mempelajari kitab teknik bela diri yang khusus membudidayakan energi sihir. Penyihir biasanya menggunakan mantra untuk berbagai tujuan, tergantung pada jenis mantra itu.


Ada banyak sekali jenis mantra dan setiap mantra memiliki khasiat dan kegunaan masing-masing. Contohnya seperti mantra untuk mengusir setan atau hantu, mantra untuk menyembuhkan orang sakit, mantra untuk memikat orang dan mantra-mantra yang lain.


Di dunia bela diri Benua Penda, jumlah para penyihir sudah sangat sedikit, hal itu karena hanya ada satu perguruan bela diri yang bisa mengajarkan ilmu yang berkaitan dengan sihir dan mereka sangat ketat dalam melakukan seleksi perekrutan murid, hanya mereka yang memiliki bakat alami saja yang pasti diterima.


Perguruan itu didirikan oleh seorang penyihir terkuat yang dikenal dengan sebutan Suddha. Suddha ini memiliki tujuh orang murid, yang memiliki julukan Tujuh Penyihir Keajaiban, masing-masing dari mereka disebut sebagai Vhala.


Dari ketujuh Vhala, hanya enam yang telah mengangkat murid, masing-masing murid mereka akan disebut sebagai Putali.


Ajaran mereka sangat rahasia dan mereka tidak banyak berinteraksi dengan para pendekar pada umumnya.


Kebanyakan para penyihir akan menggunakan kemampuan mereka untuk berurusan dengan ritual-ritual di kerajaan, sehingga mereka sangat dekat dengan anggota kerajaan dan para bangsawan. Selain ritual-ritual, para penyihir ini juga memiliki tugas utama, yaitu sebagai pembasmi siluman.


-Siluman adalah musuh utama para penyihir, bagaimana bisa Mouhuli mempelajari ilmu sihir, siapa penyihir yang mau mengajarinya ?-


Xionan bingung ketika mendapati bahwa Mouhuli ternyata menguasai ilmu sihir.


Pada kenyataannya Mouhuli adalah seorang siluman, akan tabu bagi seorang penyihir untuk mengajari siluman membudidayakan energi sihir dan mempelajari ilmu sihir.


Meskipun ada siluman yang membudidayakan energi sihir, mereka tidak akan bisa mengajari siluman lain yang bukan satu trah dengan mereka. Sementara, trah siluman serigala bukanlah trah siluman yang membudidayakan energi sihir. Jadi, menurut Xionan, pasti ada seorang penyihir yang mengajari budidaya energi sihir kepada Mouhuli.


-Fanfan, tanyakan padanya, Apakah dia mau mengajarimu budidaya energi sihir ?-


Mengetahui Mouhuli menguasai ilmu sihir, Xionan ingin agar Gofan mempelajari ilmu sihir dari Mouhuli dan membantunya mengaktifkan lentera jiwa, dengan demikian Xionan akan memiliki waktu yang panjang sebelum menemukan tubuh yang tepat.


-Maksudmu? Leluhur ini seorang penyihir?-


Melalui pikirannya Gofan bertanya kembali kepada Xionan, Gofan tidak menyadari bahwa baru saja Mouhuli melakukan sebuah teknik sihir.


-Lihat mulutnya, dia sedang merapalkan mantra-


Xionan menunjuk ke arah wajah Mouhuli, tepatnya ke arah mulutnya yang berkomat-kamit merapalkan bait nyanyian-nyanyian kuno.


-Itukah mantra ?-


Gofan baru pertama kali melihat seseorang merapalkan sebuah mantra, jadi dia masih belum tahu yang namanya mantra.


-Iya, Aku yakin sekali itu mantra... Cepat minta dia mengajarimu budidaya energi sihir-


Xionan mendesak Gofan, meskipun tabu bagi seorang penyihir mengajari seorang siluman tentang ilmu sihir, tidak ada salahnya jika itu sebaliknya, seorang siluman mengajari seorang manusia ilmu sihir.


-Iya, Baik, Aku akan memintanya-


Gofan mengangguk saat dia menatap ke arah Xionan.


"Leluhur, Bukankah yang baru saja anda lakukan itu adalah teknik sihir ?"


Gofan tidak langsung meminta Mouhuli mengajarinya ilmu mengolah energi sihir, tetapi berbasa-basi sedikit untuk memastikan kembali bahwa Mouhuli memang menguasai ilmu sihir.


"Oh, Kamu tahu... Pintar juga kamu, Benar, yang aku lakukan tadi disebut Sihir Pemanggil. Kenapa kamu menanyakan itu ?"


Mouhuli baru saja selesai melakukan sihir pemanggil dan menjawab pertanyaan Gofan.


"Jika Leluhur tidak keberatan, Maukah Leluhur mengajari saya budidaya energi sihir ? Saya ingin sekali menguasai ilmu sihir"


Gofan membungkuk memberi hormat berharap Mouhuli akan mengabulkan permintaannya itu.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa mengajarimu, aku telah bersumpah pada yang mengajariku, bahwa aku tidak akan mengajari siapapun setelah aku menguasai ilmu sihir darinya"


Mouhuli dengan tegas menolak permintaan Gofan, dia tidak ingin melanggar sumpahnya kepada seseorang yang telah mengajarinya budidaya energi sihir.


"Tapi, Tenang saja, Semakin cepat kamu menyelesaikan latihanmu dan membantuku melakukan sesuatu, kamu akan mendapatkan budidaya sihir setara Dewa "


Imbuh Mouhuli setelah melihat ke arah portal yang bersinar di saat hari sudah semakin gelap. Mouhuli melihat sesosok makhluk dengan cepat menembus keluar dari portal dan menyelam menyeberangi danau, menuju ke arahnya.

__ADS_1


*Sshhh*


Seekor Ular Sisik Naga muncul keluar dari dalam danau dan melata maju menaiki bukit menuju ke gubuk di puncak bukit.


*Ada apalagi, nenek sihir itu memanggilku? shhh, Apa yang ingin dia lakukan dengan dua buah herbal ini ?*


Orang yang dipanggil Mouhuli dengan jurus sihirnya adalah Julala. Julala yang saat itu sedang tertidur melingkar, menjaga harta berharganya, tiba-tiba merasakan rasa sakit yang teramat sangat dari gelang jiwa yang melingkar di lehernya. Gelang jiwa itu bergetar terus menerus membuat jiwa Julala merasakan rasa sakit seperti tercabik-cabik.


Setelah bergetar beberapa saat, gelang jiwa itu mendengung dan sebuah pesan masuk ke dalam jiwa Julala, pesan yang menyuruhnya membawa madu dari Lebah Ekor Panjang dan akar dari Teratai Dua Warna, ke dalam dunia dimensi dan menemui Mouhuli di gubuk di puncak bukit.


Tentu saja Julala akan menurut dan melakukan apa yang diperintahkan Mouhuli. Julala tidak bisa menolak perintah Mouhuli, atau rasa sakit yang ditimbulkan oleh gelang jiwa akan menyiksa jiwanya hingga hancur.


*Salam Ratu, ini dia benda-benda yang Ratu inginkan *


Saat hari baru saja berganti malam, Julala tiba di depan Mouhuli, Xionan dan Gofan, dia memuntahkan dua herbal obat di depan mereka. Julala, tentunya berkata dalam bahasa makhluk buas, ketika menyerahkan dua herbal obat itu.


Sesungguhnya bahasa makhluk buas adalah bahasa universal di antara para makhluk buas, tidak terlalu banyak perbedaan antara bahasa makhluk buas yang satu dengan bahasa makhluk buas yang lain, yang membedakan hanya beberapa logat khusus yang menjadi ciri dari makhluk buas itu.


*Xiashe!?, Kamu kan Xiashe ?*


Gofan belum merespon perkataan Mouhuli, tetapi dia sudah dikejutkan terlebih dahulu oleh kemunculan Julala, yang dia kenali sebagai Xiashe.


*Kamu..! Siapa kamu? Darimana kamu tahu nama kecilku ?*


Saat masih muda, sebelum sisik-sisik naganya tumbuh, Julala sangat lemah, dia diselamatkan oleh seorang tabib dari serangan makhluk buas lain, yang kemudian merawat Julala dan memberinya nama Xiashe.


Cerita ini tidak diketahui oleh siapapun, kecuali oleh tabib itu dan seorang keponakannya yang nakal. Tentu saja, keponakan tabib itu adalah Gofan-Lenfan- dan tabib itu sendiri adalah Lenchan, si pemilik Kitab 100 Kehidupan, karena itu Gofan mengenali Julala sebagai Xiashe, nama yang diberikan pamannya kepada Julala yang masih muda pada saat itu.


*Ini aku, aku... Aku keponakannya Lenchan, bukan, bukan, maksudku aku adik dari keponakannya*


Gofan bingung harus memperkenalkan dirinya sebagai siapa kepada Julala, sebab dia sudah bukan lagi Lenfan, dia sudah berganti raga dan Gofan juga tidak bisa mengaku sebagai Lenfan, sebab usianya kini 12 tahun, Lenfan yang diketahui Julala tentunya akan berusia 21 tahun saat ini.


*Kamu adik Lenfan? yang benar? Seingatku dia anak tunggal*


Julala meragukan perkataan Gofan.


*Itu... di ekormu, ada bekas luka, itu karena ulah kakakku, kan? dan dulu kamu pernah menelan telur burung api milik paman Chan, yang akhirnya membuat sisikmu agak kemerahan, paman dan kakakku selalu menceritakan tentangmu kepadaku*


Dulu Gofan-Lenfan- suka menjahili Xiashe kecil, Lenfan suka mempermainkannya, karena Xiashe sangat lemah, dia tidak memiliki bisa seperti ular-ular beracun lainnya dan sisiknya juga lembek dan lembut.


Kenakalan Lenfan itu membuat ekor Xiashe menjadi terluka, bekas luka itu cukup unik, itulah yang membuat Gofan mengingat Xiashe dengan jelas.


Dulu Lenfan mengira Xiashe adalah seekor belut karena tubuhnya yang lembek dan lembut itu. Lenfan belum mengetahui bahwa Julala alias Xiashe adalah seekor Ular Sisik Naga.


Ular Sisik Naga baru bisa memiliki kemampuannya saat usianya mencapai satu tahun, saat itu sisik naga di tubuhnya akan mulai tumbuh dan bertambah kuat seiring bertambahnya usia ular itu. Sementara, ketika Xiashe diselamatkan Lenchan, dia baru berusia tujuh bulan.


Xiashe yang terluka parah berhasil diselamatkan oleh Lenchan dengan ilmu pengobatannya yang tinggi. Semenjak itu Xiashe mengikuti kemanapun Lenchan pergi. Namun kebersamaan mereka akhirnya harus terhenti ketika bencana menghampiri keluarga Lenhao.


*Benar sekali, Semua yang kamu katakan tidak salah, tapi, ada satu hal yang selalu dilakukan Tabib Lenchan, jika kamu bisa menjawabnya, aku akan mempercayaimu*


Meski Julala alias Xiashe sudah mendengarkan semua kebenaran yang diceritakan Gofan, dia masih tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Gofan, Julala berpikir, bisa saja Gofan mencuri dengar semua itu dari Lenfan.


*Katakan, tanyakan saja...! Aku pasti akan menjawabnya dengan benar*


Kata Gofan sedikit agak ketus, dia kesal Xiashe tetap tidak percaya padanya setelah semua yang dia ceritakan.


-Apa yang mereka bicarakan ?-


Xionan masih melayang di sebelah Mouhuli, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Gofan dan Julala, dia hanya diam dan terus memperhatikan.


*Oh... Jadi Julala ini kenalanmu? Sudahlah Julala, berhentilah curiga, dia benar-benar mengenalimu. Kenapa kamu begitu ragu? *


Mouhuli yang sedari tadi ingin membalas salam dari Julala, terkejut diam ketika tiba-tiba Gofan menyela dengan memanggil Julala sebagai Xiashe.


Melihat hal itu, Mouhuli hanya mengibaskan tangannya dan membuat dua buah herbal obat yang dimuntahkan Julala menghilang begitu saja sambil terus memperhatikan percakapan Gofan dan Julala.


*Tidak apa Leluhur, Saya pasti bisa membuktikannya*

__ADS_1


Gofan dengan percaya diri, ingin membuat Xiashe percaya bahwa dia memang keponakan Lenchan.


*Mm..Baiklah, Kalau begitu, lanjutkan*


Mouhuli mengangguk dan melipat kedua tangannya ke belakang punggung, dia menatap ke arah Gofan dan Julala, ingin melihat kelanjutan dari pembicaraan mereka.


*Shh... Katakan padaku, Apa kata-kata favorit yang selalu diucapkan Tabib Len setelah mengobati pasiennya*


Julala menjawab perkataan Gofan, saat Mouhuli berhenti menyela perdebatan mereka.


*Seperti halnya rejeki, Jodoh pun diatur oleh sang Pencipta Nasib, di dunia ini apa saja bisa terjadi*


Sahut Gofan sambil menirukan gaya bicara pamannya itu.


*Benar... Benar sekali... ! Tabib Len selalu mengatakan itu saat dia pergi meninggalkan pasien yang telah dia sembuhkan, dia tidak memberitahukan namanya, dia tidak memberitahukan kediamannya, dia tidak menerima pemberian untuk terima kasih, dia hanya datang dan pergi bagai angin lalu*


Julala akhirnya mempercayai kata-kata Gofan.


*Hahaha, shhh, Akhirnya aku menemukan pewaris Tabib Lenchan, Hahaha, Aku sudah menunggumu selama sepuluh tahun. Tahukah kamu siapa pamanmu itu? *


Imbuh Julala sambil tertawa kencang, dia senang bisa menemukan pewaris dari harta berharga tuannya. Tuannya itu adalah Lenchan, tabib yang telah menyelamatkan nyawanya.


*Siapa pamanku? Tentu saja dia Lenchan, seorang tabib... Siapa lagi*


Gofan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Xiashe.


*Pamanmu bukan sekedar seorang tabib biasa. Tidak ada yang tahu, bahkan kekasihnya sendiri pun tidak mengetahui semua tentangnya, shhh... Pamanmu adalah tabib yang sangat terkenal, dia adalah Tabib Ajaib *


Julala sedikit tampak sedih ketika mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui jati diri Lenchan yang sebenarnya.


Tuannya itu orang yang sangat murah hati, suka menolong tanpa pamrih, bahkan karena dia sungguh ikhlas menolong, dia akan langsung pergi setelah pasiennya sembuh. Lenchan selalu menggunakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya, sehingga dia tidak mudah untuk dikenali.


Lenchan juga tidak ingin namanya dikenal, sehingga dia tidak pernah menyebutkan namanya. Ketika para pasien menanyakan namanya, Lencan hanya akan mengatakan, 'panggil saja saya dengan tabib'.


Saat Lenchan pergi, para pasiennya akan bertanya, kemanakah mereka harus pergi jika ingin berobat lagi padanya, Lenchan selalu menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata favoritnya, 'Seperti halnya rejeki, Jodoh pun diatur oleh sang Pencipta Nasib, di dunia ini apa saja bisa terjadi', Lenchan menganggap pertemuannya dengan para pasien adalah suratan jodoh, jika jodoh menyuratkan, maka apapun bisa terjadi.


Begitulah Lenchan, sikap murah hatinya, membuatnya dipuja oleh para pasien yang pernah disembuhkannya, karena mereka tidak mengetahui identitas Lenchan, akhirnya, mereka menjuluki Lenchan sebagai Tabib Ajaib.


*Tabib Ajaib!?*


Gofan cukup terkejut mengetahui hal itu, ternyata Tabib Ajaib yang banyak dipuja-puja oleh penduduk Benua Penda adalah pamannya. Gofan tersenyum kecil, dia bangga dengan apa yang telah dilakukan pamannya itu.


Xionan masih diam tidak mengerti apa yang dibicarakan Gofan dan Julala, tapi dia merasakan bahwa itu adalah hal yang baik, sebab Xionan melihat Julala tertawa.


Mouhuli yang sedari tadi menyimak, kini mengerti semua alur pembicaraan mereka, dia kini tahu bahwa pewaris yang ditunggu-tunggu Julala selama tiga tahun di Hutan Bambu Kemarau adalah Gofan.


*Iya, Pamanmu adalah Tabib Ajaib, selama hidupnya dia selalu merahasiakan tentang hal itu bahkan dari kedua orang tuamu... Oh ya, dia menitipkan warisan padaku untuk diberikan pada keturunan keluarga Len yang selamat, sebab dia belum memiliki keturunan*


Sahut Julala, sambil melingkarkan ekornya, dia tampak sedih mengingat tuannya yang mati muda tanpa meninggalkan seorang keturunan.


-Keturunan paman?... Oh iya, Serbuk Bunga Kematian, Kenapa aku bisa lupa tentang hal ini-


Gofan tiba-tiba teringat kembali tentang pesan terakhir pamannya, yang harus dia sampaikan kepada kekasih pamannya yang saat itu sedang mengandung buah hati mereka.


*Tidak Xiashe, Pamanku mungkin memiliki seorang keturunan, tapi kita harus memastikan hal itu dulu*


Gofan ingat dia harus menyampaikan pesan kepada kekasih pamannya tentang resep obat yang akan menyembuhkan penyakit keturunan yang selama ini diderita oleh kekasih pamannya itu. Resep obat itu berkaitan dengan resep dari pembuatan Serbuk Bunga Kematian.


*Sungguh? Tabib Lenchan, mungkin memiliki seorang keturunan?*


Tanya Julala penuh antusias, dia senang, setidaknya Lenchan yang baik hati itu memiliki keturunan yang masih hidup untuk mendoakannya.


-Sekarang aku ingat, aku harus menanyakan tentang Serbuk Bunga Kematian ini pada Yubing dan Nian-


Pikir Gofan sebelum mengangguk kepada Xiashe, menyatakan bahwa memang pamannya mungkin memiliki seorang keturunan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2