
Panggilan si Raksasa masih terdengar dua kali setelah itu, namun Gofan masih disibukkan dengan cara melepaskan segel emas tersebut. Dia tidak menjawab panggilan si Raksasa.
Empat helaan napas kemudian, Gofan memutuskan untuk merenungi kata-kata yang tertulis di dalam segel emas. 'Jiwa Abadi Selama Akar Bertahan, Jiwa Terkunci Dalam Tanpa Batas' kata-kata itu berulang kali dipikirkan Gofan di dalam benaknya. Sembari memejamkan mata, dia mencari arti dari kata-kata itu.
‘Benar juga, bukankah sudah jelas, selama akarnya masih utuh maka segel ini juga demikian.’ Akhirnya Gofan memahami maksud kata-kata di segel tersebut.
Kata 'Jiwa Abadi Selama Akar bertahan' membuat Gofan menyadari bahwa kelemahan segel itu ada pada akar pohon yang ditempeli segel. Jika akar itu dia hancurkan, maka segel emas itupun akan hancur dengan sendirinya, begitulah pikirnya.
*Triung* Pedang Qianlong dihunuskan.
‘Tebasan Pembalik 96 Langkah!!’ Teriak Gofan dari dalam hati saat dia melancarkan serangan ke arah akar Pohon Teratai Racun Pelangi.
*Zyaat*
*Crash*
Senyum merekah di wajah Gofan. Dia berhasil memotong habis akar yang ditempeli segel emas tersebut.
Tidak lama setelah itu, segel emas itu terlepas dan menghilang menjadi butiran-butiran cahaya keemasan.
Beberapa hela napas kemudian. Sebuah cahaya putih melesat keluar dari dalam batang Pohon Teratai Racun Pelangi.
“Gofan! Terima kasih.” Jiwa Tian Baixiang keluar dari batang emas Pohon Teratai Racun Pelangi.
Pohon itu bergetar pelan lalu, berubah menjadi cahaya emas kuning berkilauan saat Tian Baixiang melakukan sebuah segel tangan.
Tian Baixiang mengekstraksi Pohon Teratai Racun Pelangi dengan sisa kekuatan jiwa yang dia miliki.
“Terimalah ini, ini adalah ektraksi dari Pohon Teratai Racun Pelangi, Pil Teratai Racun Pelangi.” Sebuah pil berwarna kuning keemasan muncul dari cahaya emas kuning yang kini berada di ujung jari Tian Baixiang.
Mata Gofan berputar, dia khawatir dengan nasib dirinya, jika dia menelan pil itu. Bagaimanapun dia adalah seorang setengah siluman.
“Kamu hanya akan menjadi manusia seutuhnya setelah menelan pil ini. Kekuatan Mata Iblis tidak akan musnah, hanya saja kamu kemampuanmu akan sedikit menurun, mungkin kamu hanya perlu mengulanginya saja.”
Gofan terkejut, Tian Baixiang ternyata telah mengetahui tentang Mata Iblis yang ada di dalam dirinya. Gofan masih diam, tangannya ragu untuk menerima pil tersebut.
__ADS_1
Saat Gofan ragu, si Raksasa juga ikut terkejut. Dia melihat cahaya kuning keemasan memancar dari dalam kolam saat semua bunga teratai berwarna pelangi menghilang seketika.
Si Raksasa, kembali berteriak memanggil Gofan dan bertanya gerangan apa yang dilakukan Gofan hingga menghilangkan semua bunga teratai di Kolam ujian tersebut.
“Tapi Dewa.. Aku...”
“Tidak perlu ragu lagi, cepatlah! Meski kamu harus mengulang kembali menguasai Ilmu Raja Siluman, kamu diuntungkan dengan tubuh kebal racun dan anti siluman. Cepatlah!” Tian Baixiang melemparkan pil emas itu ke arah Gofan, saat dia menyela ucapan Gofan
*Bluup Bluup*
Gofan menerima pil itu, sesaat dia memperhatikan dengan ragu. Sangat disayangkan, dia harus mengulang kembali mengolah Ilmu Raja Siluman dalam pikirnya.
Pada akhirnya, setelah menatap ke arah Tian Baixianhg, Gofan menelan pil itu.
“Meski pada akhirnya kamu akan menghapus darah keturunanku dengan darah Dewa Naga, aku tidak menyesalinya, hanya saja aku berharap kamu akan mempertahankan darah itu dan melanjutkan garis keturunanku.” Ucap Tian Baixiang saat cahaya putih memancar dari sekujur jiwanya.
*Blazh* Sinar cahaya putih bersinar terang.
Sebuah patahan gading putih terlihat terjatuh keluar dari sinar cahaya putih, tempat Tian Baixing menghilang. Gofan mengambil gading putih tersebut dan menyimpannya ke dalam Cincin Dimensi.
Tiga puluhan hela napas setelah itu Gofan keluar di ujung Kolam.
***
“Aku tidak tahu, apa yang kamu lakukan di dalam sana hingga begitu lama, bahkan kamu menghilangkan semua racun dan bunga teratai di kolam ini... Tapi Selamat! Kamu sudah melewati ujian kedua.. Selanjutnya, bersiaplah!.” Ucap si Raksasa tanpa bertanya mengenai kejadian yang dialami Gofan di dalam Kolam Teratai Tujuh Warna.
“Teruslah berjalan lurus, di depan sana akan ada Mata Ilahi, bisa tidaknya kamu mengambilnya tergantung pada dirimu sendiri!.” Imbuh si Raksasa saat suaranya perlahan menghilang.
Mengikuti arahan si Raksasa, Gofan melanjutkan langkahnya berjalan lurus ke depan.
Lima puluhan langkah setelahnya, Gofan melihat sebuah bola mata bercahaya yang melayang setinggi lebih dari dua belas kaki di atas sebuah tebing curam.
Bola mata itu melirik ke arah Gofan, saat Gofan berjalan semakin dekat dengan ujung tebing curam tersebut.
Gofan melipat kedua tangannya saat dia memikirkan cara untuk meraih bola mata itu. Andai saja dia bisa terbang, itulah satu-satunya hal yang sedari awal terlintas dipikirannya.
__ADS_1
Sesungguhnya dengan perpaduan Mata Surga dan Mata Iblis, Gofan bisa saja melayang terbang dan meraih bola mata itu. Namun selain telah kehilangan kekuatan Mata Surga, Gofan juga belum bisa mengendalikan perpaduan dua kekuatan tersebut. Saat ini, dia hanya menghela napas pelan sembari menatap ke arah bola mata tersebut.
“Hei.. Tuan Raksasa, bolehkan aku bertanya?” Teriak Gofan.
“Namaku Bairawa, jangan panggil aku Tuan lagi.. Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan!.” Suara si Raksasa menjawab teriakan Gofan. Ternyata Raksasa yang selama ini menguji Gofan bernama Bairawa, tepat sama seperti nama Rawa tersebut.
Gofan mengangguk dan lanjut bertanya, “Bairawa... Apa bola mata di atasku ini adalah Mata Ilahi?”
“Tentu saja. Kalau bukan itu, lalu apa lagi? Cepatlah! ambil dan selesaikan ujian ini...” Sahut Bairawa sedikit ketus.
Gofan sebenarnya sudah menebak, bahwa bola mata bercahaya itu adalah Mata Ilahi, namun karena untuk meraihnya kemungkinan Gofan akan terjatuh ke dalam jurang di ujung tebing, Gofan ingin memastikan bahwa bola mata itu benar Mata Ilahi.
Gofan diam sesaat, dia mengeluarkan Selendang Gongzhu dan berencana menggunakan selendang itu untuk menangkap Mata Ilahi yang melayang-layang di atas kepalanya.
*Zyaat*
*Zyaat*
Gagal!, demikian yang tersirat di dalam pikiran Gofan saat dia berkali-kali gagal menangkap bola mata bercahaya itu. Gofan menyimpan kembali Selendang Gongzhu dan mencoba melompat.
Meski Gofan melompat, lompatan kakinya tidak setinggi tempat Mata Ilahi melayang. Gofan masih juga gagal.
Tangan kanan Gofan menyentuh dagu, saat peluh mulai menetes di dahinya. Dia memikirkan langkah selanjutnya yang harus dia lakukan, agar dapat mengambil Mata Ilahi.
Gofan memutuskan untuk duduk bersila. Dia memejamkan mata dan mengatur napas. Dia mengosongkan pikirannya agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengambil bola mata bercahaya tersebut.
***
Puluhan hela napas kemudian, Gofan membuka mata dan bangkit berdiri. Dia mengeluarkan Kitab Raja Awan Hitam dari dalam Cincin Dimensi Shiyuxin.
“Aku ingat... Ayah pernah membuat kubah hitam dengan jurus dari kitab ini. Aku yakin, dengan kubah itu, aku tidak perlu takut jatuh ke dalam jurang.” Gofan membuka Kitab Raja Awan Hitam dan mulai mempelajarinya.
Satu tangannya melipat ke belakang punggung, tangan lainnya memegang kitab. Gofan berjalan berputar-putar sembari membaca kitab milik Ayahnya tersebut.
Sesekali kilasan ingatan tentang Ayahnya terlintas dipikirannya. Bahkan ekspresi Shiyuxin juga terlintas saat itu,‘Kenapa aku jadi memikirkan gadis hantu itu? Haha... Tapi bagaimana ya kabarnya sekarang?’
__ADS_1
Bersambung...