
Tentu saja tantangan yang diucapkan Gofan ditujukannya untuk Ziyishi yang tengah mengendalikan para Mayat Hidup tersebut.
Mendengar tantangan itu, Ziyishi semakin geram, dia segera mengarahkan semua Mayat Hidup itu untuk mengepung Gofan di semua sisi, hingga tidak ada lagi celah bagi Gofan untuk berlari menghindar.
“Grooaahh!!.”
“Grooaahh!!.”
*Trang*
*Trang*
Gofan menangkis setiap Mayat Hidup yang menerjang ke arahnya.
Meski kini, tubuh Gofan tidak ada ubahnya seperti tubuh orang biasa, namun tubuh Gofan masih lebih kuat berkat perlindungan dari Ilmu Tubuh Tulang Abadi dan setengah Tubuh Naga Sejati. Goresan ringan dari serangan para Mayat Hidup itu dapat dengan cepat dipulihkannya.
Tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah serangan dari para Mayat Merah. Serangan Mayat Merah itu tidaklah ringan, mereka memiliki jurus dan tenaga dalam yang cukup untuk membuat Gofan menjadi lumpuh dalam beberapa kali serangan.
Untuk beberapa saat Gofan mungkin bisa menghidar dan bertahan, namun karena jumlah mereka yang begitu banyak dan Gofan yang tidak memiliki tenaga dalam, lama kelamaan, ayunan tongkatnya semakin tidak bertenaga. Gofan pada akhirnya mulai kelelahan.
“Grooaahh!!.”
*Trang*
Waktu terus berjalan, dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Gofan masih berusaha melawan meskipun tidak banyak membuat perubahan. Tubuhnya terluka parah.
*Tes*
*Tes*
Darah menetes dari ujung tongkat yang digenggam Gofan. Darah dari luka-luka di tubuhnya menetes melapisi tongkat dan pakaiannya. Kini Gofan bersimbah darah.
‘Tidak bisa.. Aku tidak boleh mati di sini.. Aku harus bertahamln, sedikit lagi, Guru pasti akan datang menyelamatkanku..’ Batin Gofan ketika pandangan kedua matanya perlahan mulai buram.
Tubuhnya tidak lagi berdiri tegap, Gofan terlihat seperti orang yang hampir saja terjatuh. Kedua kakinya menekuk gemetaran, berusaha untuk tidak terjatuh.
*Tes* Darah Gofan terus menetes saat seorang Mayat Merah mengarahkan sebuah kepalan tinju berlapis tenaga dalam.
__ADS_1
“Grooaahh!!.”
*Duaaghh*
“Ukh....” Gofan memuntahkan segumpal darah saat dia terpukul mundur dan menghantam pintu batu ruangan tersebut.
Pada akhirnya setelah bertahan selama yang dia bisa, Gofan terkulai lemas, tidak sadarkan diri tepat di depan pintu batu yang tertutup.
“Grooaahh!!.”
“Grooaahh!!.”
Melihat Gofan akhirnya tidak sadarkan diri. Ziyishi menarik tenaga dalamnya dan berhenti mengendalikan para Mayat Hidup.
“Kenapa berhenti? Kamu tidak membunuhnya?.” Tanya Kongchu ketika menerima kembali Kompas Langit dari tangan Ziyishi.
“Tanpa aku kendalikan pun, para Mayat Hidup itu akan dengan sendirinya menyerang dan memakannya hidup-hidup Hahaha....” Sahut Ziyishi sebelum dia berbalik dan bersiap untuk pergi.
“Dengan begini.. Urusan di sini sudah selesai.. Aku akan kembali ke Paviliun.” Imbuh Ziyishi ketika dia pergi meninggalkan markas bawah tanah tersebut.
Kongchu menyimpan kembali Kompas Langit sembari menoleh ke arah ruangan tempat Gofan terkurung.
“Sayang.. Tunggu aku!.” Teriak Kongchu, segera menyusul kepergian Ziyishi.
Genangan darah yang merembes keluar, membuat Kongchu yakin bahwa Gofan telah mati.
Delapan hela napas setelah kepergian Kongchu dan Ziyishi, lapisan pelindung dari Formasi Sembilan Kutukan Langit menghilang. Ruangan itu tidak lagi dilapisi oleh Formasi Dewa tersebut.
***
[Pulau Duyung-Perguruan Yin Biru]
Rombongan Perguruan Tunjung Putih akhirnya tiba di Pulau Duyung. Ketika tiba di dermaga, mereka disambut oleh beberapa murid Perguruan Yin Biru dan diantar pergi ke perguruan satu-satunya di Pulau tersebut.
Jika di lihat dari atas, Pulau duyung ini berbentuk mirip dengan seekor ikan berukuran raksasa. Hanya ada satu Kota di Pulau Duyung. Kota Yin Biru, persis sama dengan nama Perguruan tersebut.
Mahaguru Perguruan Yin Biru juga berperan sebagai Tuan Kota untuk kota tersebut. Seluruh aparat kota juga berasal dari Penatua dan murid berbakat dari Perguruan Yin Biru.
__ADS_1
Dihuni oleh lebih dari ratusan ribu penduduk, yang sebagian besar dari mereka hidup sebagai Nelayan. Perdagangan ikan dan hasil kekayaan laut lainnya adalah pendapatan utama Kota Yin Biru, sehingga Kota Yin Biru sering dijuluki Kota Ikan.
“Selamat datang Senior Tianlang. Terima kasih sudah menyetujui permintaan kecil kami.” Ucap Mahaguru Perguruan Yin Biru ketika dia menyambut kedatangan rombongan Duan Tianlang di depan Aula Tamu perguruannya.
Duan Tianlang tertawa kecil “Bukan masalah. Bukan masalah. Lagi pula kami memang berencana melakukan perjalanan melalui Laut Timur, jadi apa salahnya jika mampir sebentar ke Perguruanmu?... Yanzi...Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak melihatmu, tapi kecantikanmu tidak berubah Hahaha.”
“Terima kasih Senior. Yanzi juga tidak menyangka, Senior tidak banyak berubah, masih bermulut manis seperti dulu, pantas saja gadis tercantik di Benua Penda jatuh hati padamu.” Sahut Mahaguru Perguruan Yin Biru yang bernama Yanzi.
“Hahaha... Itu masa lalu, sekarang aku sudah seperti ini, bagaimana bisa dia masih menyukaiku? Hahaha... Hmm.. Ada apa? Sepertinya kamu sedang mencari seseorang?.” Tanya Duan Tianlang ketika melihat pandangan mata Yanzi tidak tenang. Matanya seolah memindai setiap murid dan Penatua yang berdiri di belakang Duan Tianlang.
“Oh.. Tidak, aku tidak mencari siapa pun... Aku hanya penasaran dengan pewaris baru dari Perguruan Tunjung Putih. Aku dengar dia memiliki warna rambut yang khas... Tapi kenapa aku tidak melihatnya di rombongan ini?.”
“Aiya.. Jadi karena itu.. Tuan Muda kami ini, orangnya sedikit bebas, dia memiliki jalannya sendiri. Kebetulan dia telah lebih dahulu pergi ke Pulau Api bersama Gurunya.” Sahut Duan Tianlang.
“Tenang saja, sesampainya di Pulau Api, aku akan langsung mengenalkannya denganmu.” Imbuh Duan Tianlang.
“Baik. Terima kasih Senior. Mari... Kita masuk dulu, suguhan ala kadarnya sudah kami sediakan di dalam.” Sahut Yanzi sembari mempersilahkan Duan Tianlang dan rombongannya untuk masuk ke dalam Aula Tamu.
Meski niatnya untuk bertemu dengan Gofan gagal terlaksana, Yanzi yang sedikit kecewa menghela napas pelan. Setidaknya nanti, di Pulau Api dia bisa bertemu dan memastikan kalung yang dikenakan Gofan.
“Hahaha.. Ayo.. Ayo...” Ucap Duan Tianlang.
Sementara Duan Tianlang dan rombongan lainnya bergegas masuk ke Aula Tamu Perguruan Yin Biru, Xiongmeng masih berada di atas Kapal Laut yang bersandar di Dermaga di pinggiran Pulau Duyung.
“Kakak... Apa kita benar-benar akan melakukan itu? Kenapa kamu sangat tidak menyukai Pewaris Baru ini?.” Tanya seorang Pria yang sedikit lebih muda daripada Xiongmeng.
“Pewaris ini sangat bebas, tidak bisa diatur, belum lagi dia berguru pada Perguruan lain. Dia tidak layak menjadi pemilik baru Perguruan Tunjung Putih.” Sahut Xiongmeng, terlihat jelas di dalam pandangan matanya tersimpan amarah yang begitu besar terhadap Gofan.
“Xiongkang... Apa kamu sudah mendapatkan, apa yang aku minta?.” Imbuh Xiongmeng bertanya.
Pria bernama Xiongkang itu menggelengkan kepalanya pelan, “Wuling menyimpannya dengan sangat rahasia.”
“Bodoh! Mendapatkan benda itu saja kamu tidak bisa! Dia sekarang sedang terpuruk karena mengetahui masa lalunya... Jebak saja dia, kita buat dia berbicara, dimana dia menyimpan benda itu...”
“Ayo.. Bawa arak-arak Cenchu itu-!.” Ucap Xiongmeng ketika dia melangkah menuju ke Perguruan Yin Biru.
“Baik Kak.” Sahut Xiongkang.
__ADS_1
Bersambung...