Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 119. Kegelisahan Mulai Terjadi


__ADS_3

Tentu saja lalat yang hinggap di kerah jubah Litaizhong itu adalah Gofan. Sesaat setelah ledakan terjadi, Gofan menarik masuk Vasudev, Yubing, Nian, Julala, dan Goxianlong ke dalam sebuah ruangan mewah yang berada di lantai empat Pagoda Jindun miliknya.


Julala sempat protes dirinya dimasukkan kembali ke dalam Pagoda Jindun, namun usai melihat ruangan mewah di lantai empat pagoda itu, Julala berhenti mengeluh. Ruangan mewah di lantai empat Pagoda Jindun itu, menyediakan berbagai fasilitas utama dari sebuah ruangan penginapan kelas atas.


Kemudian Gofan menciptakan boneka tanah melalui debu dan abu yang berhamburan dari perabotan yang hancur karena ledakan. Gofan menggunakan jurus barunya dan menciptakan lima boneka tanah yang mirip dengan Kongchu.


Sesaat setelah itu barulah Gofan merubah dirinya menjadi seekor lalat. Begitulah yang terjadi hingga akhirnya kelima boneka tanah buatan Gofan berhasil dikalahkan Kongchu dan Guxiong.


" Gofan. Kenapa Guxiong itu menyebutmu sepupu? Dan dari mana dia tahu kalau kamu pernah belajar pada Tabib Ajaib? " Ucap Julala dari dalam ruangan di lantai tiga Pagoda Jindun.


Karena kesadaran Gofan telah terhubung dengan Pagoda Jindun, Gofan bisa menyimak apa pun yang dilakukan oleh teman-temannya saat mereka berada di dalam pagoda tersebut, termasuk dengan pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh Julala.


" Sewaktu aku tinggal di kediamannya, dia dan keluarga Gu menganggapku sebagai seorang sepupu jauh. Sementara, mengenai Tabib Ajaib, aku tidak memiliki petunjuk dari mana dia mengetahuinya. Aku bahkan tidak tahu kalau Paman Lenchan adalah Tabib Ajaib, jika bukan kamu yang memberitahuku saat itu " Sahut Gofan.


" Guru. Apa Pangeran Goxianlong masih belum sadarkan diri? " Tanya Gofan usai menjawab pertanyaan Julala.


" Belum. Seharusnya dengan sebutir Pil Pemulih Kesadaran dia sudah bisa siuman. Tapi kenapa dia masih pingsan? " Sahut Vasudev sembari memeriksa nadi di lengan kiri Goxianlong.


" Senior. Aku tidak tahu apa ini akan menjawab pertanyaanmu... "


" Tapi.. Ketika kami dipasung, aku melihat salah satu pengawal pribadi Goyige meminumkan sebutir pil berwarna merah kepada Pangeran Goxianlong " Ucap Nian menceritakan apa yang dia ketahui.


' Pil berwarna merah? ' Batin Gofan ketika Litaizhong mengikuti langkah kaki Kakaknya berkeliling ruangan mencari tanda-tanda keberadaan penyusup.


" Kak. Jangan konyol... Kenapa kamu memeriksa di bawah puing-puing kayu itu? Apa mungkin penyusup itu berubah menjadi sekecil semut? Hahaha " Tawa Litaizhong menghina tindakan Litaihyun yang memeriksa keberadaan penyusup di bawah puing-puing kayu di salah satu sudut Ruang Penyekapan.


' Konyol? Penyusup ini jelas-jelas punya energi sihir dan menguasai perubahan wujud, menjadi semut bukan masalah untuknya ' Batin Litaihyun sembari menggeleng pelan mendengar tawa Litaizhong.

__ADS_1


Litaihyun, Kongchu, dan Guxiong, sudah berputar-putar mengelilingi ruangan tersebut. Namun tidak ada satu pun jejak penyusup yang bisa mereka temukan.


" Apa mungkin mereka sudah kabur? " Tanya Guxiong kepada Kongchu berpuluh hela napas kemudian.


Kongchu diam, tangan kanannya mengepal erat menggenggam pedangnya. Urat-urat hijau terlihat di dahinya, dia menahan amarahnya. Kongchu menatap ke arah Guxiong dan menggeleng menyatakan bahwa dia tidak tahu. Kongchu kesal tidak bisa menemukan keberadaan para penyusup.


" Tuan. Bagaimana ini? Nyonya belum juga sadarkan diri? Apa kita harus terkurung di dalam sini? " Tanya Meigui.


Meigui sudah tidak peduli lagi dengan ada atau tidaknya penyusup itu, dia khawatir, majikannya itu tidak akan sadarkan diri dan mereka semua terpaksa terkurung di dalam sana.


Di lain sisi, pandangan mata Goyige terus menerus mengarah ke arah Ximenhong. Goyige ingin menghardik Ximenhong yang masih memulihkan diri, tetapi dia segan pada identitas Ayah Ximenhong.


" Kita tunggu saja. Seharusnya sebentar lagi istriku akan pulih, aku sudah memberinya sebutir pil obat " Sahut Kongchu.


Ketika Kongchu tiba di dalam ruangan itu dan mendapati istrinya tergeletak di lantai, dia segera menghampirinya. Meskipun Kongchu terkejut melihat lima sosok orang menyerupai dirinya berdiri agak jauh di belakang ruangan, dia lebih memilih untuk memeriksa keadaan istrinya terlebih dahulu.


Saat itulah Kongchu menyadari istrinya terkena racun dari jurus racun bergairah. Kongchu memberikan pil obat anti racun bergairah. Itu membuat kondisi istrinya membaik namun tidak kunjung sadarkan diri.


Ximenhong menyadari sedari tadi Goyige menatap marah ke arahnya. Ximenhong bangkit dan mendekati Goyige.


" Pangeran. Maafkan aku, aku tidak menyangka jika, para penyusup ini ternyata adalah manusia boneka. Ta-tapi aku berjanji, aku akan berusaha sekuat tenaga membantu menemukan Pangeran Ketiga " Ucap Ximenhong ketika tiba di sebelah Goyige.


Luka tebasan pedang di punggunggnya benar-benar sembuh berkat Bubuk Seratus Luka pemberian Guxiong.


Tidak mendapat tanggapan jawaban dari Goyige, ximenhong segera menoleh ke arah Guxiong, " Saudaraku. Terima kasih. Obat yang kamu berikan, benar-benar ajaib "


" Bukan masalah. Sisanya kamu simpan saja, aku masih punya banyak " Sahut Guxiong.

__ADS_1


Waktu terus berputar, puluhan hela napas berikutnya pun berlalu, dan mereka masih tidak dapat mendeteksi keberadaan penyusup. Ziyishi juga tak kunjung sadarkan diri. Kegelisahan mulai terjadi.


" B**ing*n! Beraninya mereka mengacaukan segala usahaku! " Teriak Tianfuzi di luar Ruang Penyekapan. Tianfuzi berdiri dengan wajah penuh amarah di depan pintu Ruang Penyekapan.


Saat Tianfuzi tiba di ruangan tempat dia menyiksa Meiling. Tianfuzi mendapati Meiling telah menghilang dan itu membuat dia marah. Tetapi dia semakin marah ketika menyadari guci besar yang berisi darah Meiling juga ikut menghilang.


Seandainya hanya Meiling yang menghilang, Tianfuzi tidak akan terlalu marah seperti sekarang. Masih ada darah Meiling yang bisa dia gunakan untuk berbudidaya. Tapi, sekarang darah Meiling yang dengan susah payah dia kumpulkan, juga ikut menghilang.


' Aku yakin ini pasti ulah orang yang membuat ledakan sebelumnya! ' Batin Tianfuzi saat dia memutuskan untuk pergi menyusul yang lain ke Ruang Penyekapan.


Sekarang, ketika Tianfuzi tiba di depan Ruang Penyekapan itu, dia justru ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dia berdiri lama dan menunggu ada orang asing yang keluar dari ruangan itu.


Tianfuzi menunggu di luar, dan Kelompok Kongchu menunggu di dalam. Tianfuzi tidak berani masuk karena Formasi Garis Pengurung dan kelompok Kongchu tidak bisa keluar karena masih menunggu Ziyishi siuman.


Setelah lewat ratusan hela napas, satu-satunya yang ada dipikiran semua orang yang berada di dalam Ruang Penyekapan hanyalah, bagaimana caranya membuat Ziyishi segera sadarkan diri.


" Sial. Di sini gerah sekali... Apakah Nyonya Bunga Indah sudah sadarkan diri? " Keluh Litaizhong sembari bertanya pada Meigui.


" Litaizhong. Sabarlah... Kamu sudah menanyakan itu hampir sebanyak 20 kali... Jika bukan kamu yang dengan percaya diri masuk kemari, aku tidak akan ikut masuk " Sahut Litaihyun menyela Meigui yang hampir mau menjawab pertanyaan Litaizhong.


" Aku? Kamu menyalahkan aku? Kak. Kamulah yang pertama kali mengusulkan untuk masuk, kenapa kamu menyalahkanku? " Bantah Litaizhong.


" Aku kan hanya mengusulkan, kamu lah yang dengan gegabah masuk tanpa pikir panjang " Guman Litaihyun pelan.


" Apa? Apa kamu bilang? " Tanya Litaizhong pada Kakaknya itu. Litaizhong mendengar Litaihyun bergumam, namun dia tidak jelas mendengar apa yang digumamkan Litaizhong.


" Sudah.. Sudah... Kalian itu pangeran atau bukan? Kenapa justru berdebat di situasi seperti ini " Kongchu menengahi perdebatan kedua saudara itu sembari memeriksa nadi lengan kiri istrinya.

__ADS_1


" Hahaha... Aku tidak menyangka rencanamu akan menghasilkan tontonan seperti ini. Ini tontonan terbaik yang bisa ku nikmati selama hidupku Hahaha... " Tawa Vasudev dari dalam Pagoda Jindun, Vasudev menyaksikan apa yang terjadi di luar pagoda bersama dengan Yubing dan lainnya.


Bersambung...


__ADS_2