Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 22. Bergurulah Padanya


__ADS_3

Mouhuli terkejut setelah memeriksa nadi Gofan, ini adalah kedua kalinya bagi Mouhuli untuk mendapati seseorang dengan energi surga.


' Aku yakin ini energi surga, tapi batu bertuah apa yang dimiliki anak ini? ' Pikir Mouhuli.


Mouhuli tahu bahwa hanya sembilan batu bertuah yang mengandung energi surga di dunia ini.


" Maaf. Apakah ada yang salah dengan tubuh saya? " Tanya Gofan.


Gofan melihat perubahan raut wajah gadis bercadar itu ketika memeriksa nadinya, dia berpikir apa ada yang salah dengan dirinya, hingga membuat gadis bercadar itu begitu terkejut.


" Sepertinya kamu masih menyembunyikan sesuatu... Ada energi surga dari batu bertuah di dalam tubuhmu, batu apa yang kamu miliki? " Tanya Mouhuli, yakin energi surga itulah yang membuat Gofan mampu menguasai kekuatan Mata Iblis.


Gofan sedikit terperangah, gadis bercadar putih itu tahu tentang batu bertuah yang dia miliki, hanya saja dia tidak tahu jika itu batu reinkarnasi, Gofan bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan itu, dia tidak ingin memberitahukan bahwa dia sudah beralih raga.


' Fanfan, bilang saja batu yang kau miliki itu Batu Mental '


Xionan melihat Gofan yang kebingungan, dia membantunya dengan memberikan jawaban yang tidak akan membuka rahasianya.


" Ini... Batu Mental. Batu itu yang saya miliki " Sahut Gofan.


Gofan sedikit ragu mengikuti saran Xionan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti saran itu.


" Begitukah?... Lalu ini, batu apa? "


*Zyuut*


Mouhuli mengibaskan lengan gaunnya dan seketika muncul sebuah batu berwarna hijau muda, batu itu melayang di atas telapak tangan Mouhuli.


'Batu Mental !! ' Melihat batu hijau muda itu, Xionan kaget, dia mengetahui dengan pasti bahwa itu batu mental.


' Nannan, itu sungguh batu mental?' Tanya Gofan saat mendengar suara pikiran Xionan yang kaget.


Xionan menggangguk, dia tidak menyangka Mouhuli memiliki salah satu batu bertuah.


" Maafkan saya senior. Saya tidak berniat membohongi, Hanya saja ini sedikit... Saya tidak bisa mengatakannya sekarang " Gofan langsung berkata dengan jujur, takut gadis bercadar itu marah.


*Zyuut*


Mouhuli sekali lagi mengibaskan lengan gaunnya, Batu Mental itu langsung menghilang.


" Tidak apa, aku akan menunda tentang hal itu. Kelak kamu harus memberi tahuku " Karena ini pertama kalinya mereka bertemu Mouhuli memberi waktu bagi Gofan untuk jujur.


" Oh ya... Jangan panggil aku senior, namaku Mouhuli, tapi aku lebih senang dipanggil leluhur " Imbuh Mouhuli.


" Baik Leluhur " Gofan mengatupkan kedua tangannya dan memberi penghormatan pada Mouhuli, memanggilnya dengan sebutan leluhur.


" Aku akan memberimu batu mental ini, setelah kamu membantuku untuk melakukan sesuatu " Kata Mouhuli sambil berbalik memunggungi Gofan.


" Tapi leluhur, saya hanya orang biasa, bahkan kekuatan mental saya hanya di tingkat kedua, saya belum mempelajari bela diri, hal seperti apa yang bisa saya bantu? "


Gofan tentu sadar, hal yang diminta Mouhuli pastilah untuk melepaskan kutukannya agar bisa pergi dari hutan itu. Namun dia sendiri belum tahu harus bagaimana melepaskan kutukannya sendiri.


" Tidak perlu buru-buru, aku akan mengajarimu ilmu bela diri, tentu kamu pasti mau, bukan ? " Sahut Mouhuli dengan nada sedikit agak meninggi di bagian akhir, menandakan dia tidak ingin Gofan menolak.


Xionan juga sadar yang diminta Mouhuli pastilah tentang melepaskan kutukan,


' Fanfan terima saja, bergurulah padanya '


Gofan melirik Xionan dan mengangguk pelan,


" Tentu... Tentu saya mau, tapi sebelum itu izinkan saya untuk memastikan keadaan teman-teman saya yang lain "


" Aku beri kamu waktu untuk mengucap perpisahan, aku tidak ingin menunda hal ini lagi " Sahut Mouhuli tegas.


" Mm.. Tapi leluhur, saya perlu pergi ke gua di bagian barat hutan ini, saya perlu mencari peninggalan ayah saya, warisan ayah saya ada di dalam gua itu " Gofan masih harus menemukan warisan ayahnya. Dari awal itulah tujuannya memasuki Hutan Bambu Kemarau.


' Warisan ayahnya? Apa Lenhao itu ayahnya?'


Mendengar perkataan Gofan, Mouhuli mengingat kejadian sebelas tahun lalu, ketika dia bertemu dengan seorang pria bernama Lenhao yang menitipkan sesuatu padanya.

__ADS_1


" Siapa ayahmu? Apa namanya Lenhao? " Mouhuli berjalan dua langkah menjauh dari Gofan, sambil tetap memunggunginya.


Gofan terkejut, Mouhuli mengetahui identitas ayahnya, dia menutupi rasa terkejutnya dan menjawab.


" Benar Leluhur. Ayah saya Lenhao. Anda mengenalnya ? "


" Ck!... Tentu aku mengenalnya, tapi kenapa kau membohongiku lagi, jelas-jelas namamu berawalan Go, bukan Len " Mouhuli berdecak dan melipat kedua tangannya.


" Itu... Mm... " Gofan masih berpikir harus menjawab apa.


" Sudahlah, dari awal memang kamu akan ku beri benda yang dititipkan Lenhao padaku sebelas tahun lalu, ini... Tangkap ! "


*Zyuut*


Sebuah kitab melayang ke arah Gofan, dia menangkap kitab itu.


' Ini...! ' Pikir Gofan setelah menerima kitab itu. Gofan tidak asing dengan kitab itu. Melihat kitab itu, Gofan sekilas mengingat kembali mendiang ayahnya.


" Itu adalah Kitab Surga Sembilan Langit, tapi yang dititipkan Lenhao hanya sebagian, tahap dasar pertama dan kedua, tidak tercantum di kitab itu, jika kau memang benar anaknya, kau pasti memiliki salinan sebagian kitab lainnya "


Awalnya Mouhuli akan mengajarkan Gofan mengenai ilmu bela diri di dalam kitab itu, dan dia berencana mengubah versi dasar yang tidak dia miliki, dengan versi yang dibuatnya sendiri.


' Mouhuli ini benar-benar kejam, sudah tahu kitab itu hanya sebagian, masih ingin mengajarkan Gofan ilmu di kitab itu ' Xionan sadar betapa berbahayanya mempelajari sebuah ilmu bela diri tanpa mempelajarinya dari dasar.


' Fanfan, jika kamu tidak memiliki sebagian kitab lainny...'


" Benar Leluhur. Saya memang mengetahui sebagian kitab lainnya " Xionan berkata ingin memperingatkan Gofan, tapi kata-katanya di sela oleh Gofan.


Gofan memang memiliki dasar-dasar ilmu bela diri, itu adalah ilmu dasar pertama dan kedua dari Kitab Surga Sembilan Langit.


" Baguslah kalau memang kamu mengetahui sebagian kitab lainnya, berarti kamu memang anak Lenhao dan kamu tidak perlu lagi ke barat, sepertinya ayahmu salah menilai arah " Kata Mouhuli.


Mouhuli ingat pertama kali bertemu Lenhao, Lenhao selalu mengatakan gua yang ada di timur itu, ada di barat.


Gofan mengangguk, sambil memandangi punggung Mouhuli, dia bertanya, " Leluhur, jika boleh tahu apa yang ada di barat hutan ini? "


' Uroro, siapa dia? ' Pikir Gofan.


Gofan masih belum mengetahui nama Beruang Bambu yang dia temui sebelumnya, bernama Uroro.


Gofan menyimpan Kitab Surga Sembilan Langit di dalam kantong ruangnya, kemudian dia berbalik dan melangkah keluar gua. Xionan melayang mengikuti di belakang Gofan. Beberapa hela napas kemudian dia tiba di depan Urori yang masih memandang ke depan, ke arah dalam gua.


*Oh... Benar, Ternyata memang kamu, Uroro sudah mengatakan padaku bahwa kamu ada di dalam bersama leluhur* Urori terlihat antusias saat melihat Gofan, dia berdiri dan menghampiri Gofan. Urori menyambutnya dengan bahasa makhluk buas.


Gofan mengernyitkan alisnya ketika melihat seekor Beruang Bambu dengan luka di mata kanannya menyambutnya dengan antusias. Gofan terlihat mengetahui bahwa Beruang Bambu di hadapannya adalah salah seekor dari lima ekor yang menyerang kelompok Yanse sebelumnya.


*Dia kah yang bernama Uroro?* Gofan membalas menggunakan bahasa yang sama, dia menunjuk ke arah beruang yang sebelumnya menolong dirinya.


*Ya, dia Uroro, aku Urori* Sahut Urori sambil memperkenalkan diri.


Sangat mudah untuk mengenali Uroro dan Urori, jika Urori memiliki luka cakaran di matanya, maka Uroro memiliki luka cakaran berbentuk silang di dadanya, inilah yang membuat Gofan mengenali keduanya.


*Oi... Bangun..!!..*


*Duaghh*


Urori menendang Uroro yang masih tertidur di sebelah kakinya. Urori ingat disuruh membangunkan Uroro jika Gofan keluar gua.


*Hmm....?* Uroro bangun dan mengelus-elus paha kanannya yang di tendang Urori, anehnya dia tidak mengerang kesakitan atau berteriak ketika bangun, ekspresinya datar dan biasa saja.


'Seberapa tebal kulitnya ?' Batin Gofan.


Gofan jelas-jelas melihat tendangan Urori cukup keras, jika dia yang ditendang, mungkin dia akan terpental beberapa langkah.


Ketika melihat Gofan, Uroro langsung berdiri, di sebelah kiri Urori, kemudian dia langsung bertanya kepada Gofan, *Bagaimana? Apa yang dikatakan leluhur?, kamu bisa membantu kami kan ?*


*Tentu aku bisa.... Jadi, yang kamu ingin aku bantu sebelumnya adalah masalah-masalah kutukan yang dibicarakan leluhurmu ?* Sahut Gofan.


Awalnya Gofan mengira, hal yang diinginkan Uroro adalah inti giok bambu, tapi ternyata hal yang diinginkannya sama dengan Mouhuli. Gofan memancing Uroro dengan mengatakan 'kutukan', padahal Mouhuli sama sekali belum mengungkit hal itu.

__ADS_1


*Benar..., kata leluhur, jika ada seseorang di antara kami yang berhasil mencapai tingkat jiwa raja, pasti bisa melepaskan kutukan* Kata Uroro menjelaskan dengan detail.


' Sudah ku duga !! ' Pikir Gofan, kemudian dia menggangguk pada Uroro, terkesan dia sudah tahu tentang hal itu.


Setelah itu, Gofan menghampiri Yubing, dia berjongkok di hadapan Yubing yang masih tidak sadarkan diri.


' Cantik sekali. Nona Yubing. Benar-benar cantik. Seandainya...' Gofan melamun lagi, ketika dia menatap wajah Yubing.


Sementara itu, Uroro dan Urori berkata panjang lebar tentang pertemuannya dengan Nian, mulai dari Urori yang membuat Nian pingsan, bertemu Uroro, hingga Nian disandarkan di sebelah Yubing. Tapi Gofan hanya terus berjongkok memandangi Yubing, dia melamun, sehingga tidak menyadari apa yang dikatakan kedua beruang itu.


*....jadi begitulah Senior...* Kata Uroro.


Dua hela napas kemudian, belum juga ada tanggapan dari Gofan.


*Senior ?* Panggil Urori sambil menepuk pundak Gofan.


Barulah kemudian, Gofan tersentak bangun, ketika merasakan tepukan Urori yang membuatnya kaget.


" ...Seandainya aku bisa mencium bibirmu... Ups " Gofan yang kaget langsung berbicara tidak karuan, mengatakan hal-hal yang ada dalam lamunannya, ketika sadar, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Uroro dan Urori, tidak mengerti apa yang dikatakan Gofan, mereka hanya saling pandang, heran melihat tingkah Gofan.


" Hihihi... Dasar cabul, baru melihat kecantikan seperti itu, kamu langsung lupa diri, tampaknya energi mentalmu masih sangat lemah hihihi " Xionan tertawa lepas melihat aksi konyol Gofan.


Xionan kemudian membentuk segel tangan, dia akan menembakkan cahaya putih yang sama saperti yang dia lakukan saat menyadarkan Gofan.


' Nannan, jangan lakukan itu, itu sangat menyakitkan! ' Seru Gofan, mencegah Xionan yang hendak menyadarkan Yubing dan Nian dengan panah jiwanya.


'Tenang saja ' Sahut Xionan.


*Zyuut*


Dua panah jiwa melesat dan tepat mengenai dahi Yubing dan Nian.


" Hmm... Gofan? " Yubing bangun sambil mengusap-usap kedua matanya, seperti orang yang baru saja bangun tidur, dia mendapati Gofan ada di hadapannya.


" Awas Senior. Awas Bocah... Ukh... ! " Nian yang baru tersadar langsung panik melihat dua ekor beruang berdiri di belakang Gofan.


Gofan bertindak cepat, mengirimkan cahaya hijau ke tubuh Nian, dan membekukannya.


" Tenanglah Nona Nian. Mereka teman-temanku, mereka tidak berbahaya " Gofan berdiri dan menenangkan Nian dengan kata-katanya, kemudian dia menarik kembali kekuatan mata iblis dari tubuh Nian.


Yubing awalnya tidak menyadari keberadaan Uroro dan Urori karena pandangannya mengarah ke Gofan, dia sempat ikut panik setelah mendengar kata-kata Nian, tapi kemudian dia lega, mengetahui dua ekor beruang itu tidak berbahaya,


Yubing berdiri, dan memeriksa tubuhnya, kini dia sadar dia telah kehilangan topengnya. Yubing merogoh kantong ruangnya dan mengeluarkan sebuah cadar, cadar berwarna merah muda, dia mengenakan cadar itu untuk menyembunyikan wajahnya.


***


[Di tempat Rombongan Yanse berada]


Sesaat setelah Yubing dan Nian pergi, kelompok Yanse memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan dari berkumpulnya para Beruang Bambu di dalam tornado, untuk melanjutkan perjalanan, pergi menuju ke arah barat. Mereka meninggalkan Jangbi yang saat itu mendadak pingsan karena kekurangan darah.


" Biarkan saja dia di sini, akan menyusahkan kalau harus menggendongnya selama perjalanan " Kata Moyo saat melihat Jangbi yang tidak sadarkan diri.


Sebenarnya itu hanya alasan Moyo saja, dia sudah begitu membenci Jangbi yang membawa anak-anak Beruang Bambu ke arah mereka, sehingga ketika melihat Jangbi yang tidak sadarkan diri dia ingin meninggalkannya.


Beberapa orang di kelompok Yanse setuju, namun Lingzi terlihat tidak menyukai kata-kata Moyo, sementara beberapa yang lainnya seperti tidak peduli.


" Kalau begitu, aku akan memindahkannya ke rumpun bambu di sebelah sana, aku rasa dia akan aman di sana, nanti kita akan menjemputnya lagi " Kata Yanse yang menyetujui kata-kata Moyo.


Mendengar Yanse mendukung dirinya, Moyo tersenyum kecil, sementara Lingzi, akhirnya hanya menurut, mengikuti pendapat Yanse.


Selesai Yanse menempatkan Jangbi di antara rumpun bambu, Yanse dan kelompoknya melanjutkan perjalanan mereka.


Namun beberapa ratus langkah kemudian, kelompok Yanse dihadang oleh enam orang yang berpakaian serba hitam.


Enam orang yang menggunakan caping bambu berwarna hitam, mereka berpakaian serba hitam, bahkan wajah mereka tertutup kain berwarna hitam, hingga hanya terlihat mata mereka saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2