Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 10


__ADS_3

Aku masuk ke ruangan ku. Ternyata sudah ada Marsha di sana. Ia sedang mengecek beberapa berkas yang nanti akan ku pakai untuk meeting.


Mungkin marsha hanya fokus dengan berkas yang ada dihadapan nya tanpa menyadari jika aku sudah masuk ke dalam ruangan ku.


"Sha?"


Dia mendongak, mengalihkan perhatian dari berkas yang ada di mejaku.


"Ya? kenapa mas?"


"Gue bisa siapin sendiri kaya biasanya, kenapa Lo sesibuk ini sekarang?"


"Ya...kan biar Lo tinggal jalan mas!", jawab nya sambil tersenyum.


"Apa ada yang mengganjal pikiran Lo?"


"Maksudnya?"


"Apa Lo dengar omongan anak-anak?", tanyaku lagi.


"Omongan yang mana!?"


"Gue tahu, Lo tahu itu!"


Marsha menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ya!", jawab nya singkat.


"Dan lo diam aja?"

__ADS_1


"Emang harus gimana?"


"Ya , Lo tinggal bilang dan jelasin kalo kita murni berteman. Tepis tuduhan mereka yang ngga berdasar."


"Tuduhan soal persahabatan antara pria dan wanita ga ada yang murni bersahabat? Salah satu nya pasti memiliki perasaan lebih. Begitu maksudnya!?"


Aku mengangguk.


"Sayang nya itu memang benar adanya mas!", Marsha berdiri dari kursi nya.


"Maksud Lo apa Sha?", aku ikut bangkit dari kursi ku.


"Orang lain paham, calon suami gue aja paham. Tapi Lo ngga mas!"


Aku menggeleng heran.


Mataku melebar mendengar pengakuannya barusan. Benarkah seperti itu???


"Tapi gue sadar mas! Lo cuma cinta sama Bia, bahkan pernikahan Lo sama Silvy cuma bikin Lo tertekan. Tapi gue bisa apa???"


Aku menggeleng tak percaya. Sahabat ku bicara seperti itu??


"Sha! Ini bukan Lo yang gue kenal!"


"Tapi ini gue mas. Ini gue!"


"Sha!"


"Mas, gue mau resign dalam waktu dekat ini mas. Jo udah ngga mau liat kedekatan kita yang seperti ini."

__ADS_1


"Sha! Lo mau ninggalin gue ?"


"Gue ngga bisa buat pura-pura ngga punya perasaan apapun sama Lo mas!"


"Sha, cuma Lo sahabat yang gue punya Sha? Gimana kalo Lo ngga sama gue lagi di sini?"


"Bisa! Lo pasti bisa mas. Lagi pula bulan depan aku akan menikah sama Jo. Dan...dalam aturan perusahaan, tidak boleh ada hubungan kekeluargaan yang bekerja dalam perusahaan yang sama. Dan gue, gue memilih untuk mundur. Gue harap Jo yang akan tetap bekerja di perusahaan ini"


"Lo ga bisa giniin gue Sha!"


"Mas!"


"Sha?Lo sahabat gue satu-satunya! Dan Lo ninggalin gue gitu aja hah?"


"Ini yang terbaik mas! Lo mau , gue terus-menerus merasa bersalah karena memiliki perasaan sama Lo sedangkan gue masih setengah hati sama Jo, calon suami gue??"


Aku tak lagi mampu berkata apapun. Kalimat-kalimat itu hanya akan terulang dan berulang. Lelah!


"Gue udah buka lowongan buat di posisi sekretaris, buat gantiin gue. Dan gue akan keluar setelah sekretaris baru itu paham sama kerjaan gue mas."


Aku meraih berkas yang ada dihadapan ku. setelah itu, aku keluar dari ruangan ku. Mood ku sedang tidak baik. Aku tak menyangka jika persahabatan ku akan berakhir seperti ini dengan Marsha.


.


.


Sepeninggal bos sekaligus atasannya, Marsha kembali terduduk. Untuk pertama kalinya ia berbicara seterbuka ini dengan Alby. Hubungan yang tak lazim antara atasan dan bawahan. 'Lo dan Gue' !


Tapi ini mungkin yang terbaik untuk masa depan keduanya. Sampai kapanpun, Alby hanya menganggap nya sahabat. Tak lebih!

__ADS_1


__ADS_2