Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 86


__ADS_3

Di kediaman Keluarga Hartama....


Nabil tengah bermain dengan Teh Ani di halaman rumah yang dekat dengan pintu gerbang.


Anak tampan itu tampak sangat riang menendang dan mengambil bola bersama Teh Ani. Sedikit berlari lalu berhenti dan terduduk sambil tertawa. Begitu seterusnya!


"Amih, Mimi!",teriak Nabil pada teh Ani.


"Den Nabil mau minum?",tanya teh Ani. Nabil mengangguk cepat. Teh Ani akan mengambil minum untuk anak majikannya. Tapi sebelum dia masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum, Teh Ani mengunci lebih dulu gembok gerbangnya. Meski Teh Mila bilang akan belanja sebentar.


Tapi teh Ani tak ingin mengambil resiko jika saat Nabil di tinggal ambil minum malah ada orang asing masuk ke dalam rumah besar itu.


Sekitar beberapa menit, Ani sudah membawa botol berisik air putih untuk Nabil. Di sudut matanya, ia menangkap seseorang yang sepertinya mondar-mandir di depan gerbang. Kok tahu? Karena model gerbang nya tak tertutup semua. Ada bagian tengah yang memang di disain berlubang memanjang.


Karena tak ingin menaruh curiga, Ani pun mengabaikannya. Lagi pula di gerbang utama perumahan ada sekuriti.


Tek...Tek.... gerendel pintu gerbang di ketuk oleh teh Mila.


"Ya teh, sebentar!",kata Ani menghampiri pintu gerbang.


"Kunaon atuh di kunci?",tanya Mila.


"Tadi teh si Aden minta minum. Dari pada pas di tinggal tau-tau ada orang asing kan gawat! Mending saya kunci aja!", jawab Teh Ani.


"Heeuh, teh Ani mah emang bisa gitu diandalin jaga Nabil!",puji teh Mila.


"Amih, papa kapan pulang? Telpon papa amihhh...!",kata Nabil pada Teh Ani.


"Den Nabil mau telepon papa?",tanya Teh Ani. Nabil mengangguk cepat. Teh Ani melihat jam di ponsel nya. Sudah hampir jam dua siang sih, tapi jika di telpon takut mengganggu majikannya. Kalo tidak di telpon, kasian juga si Nabil.


"Sebentar ya!",ujar Teh Ani. Nabil pun menunggu Teh Ani menghubungi Alby.


[Assalamualaikum Pak]


[Waalaikumsalam, naon teh?]


Sapa Alby di ujung sana.

__ADS_1


[Si aden katanya teh pengen telepon jeng papanya!]


Teh Ani mengarahkan kamera nya pada Nabil.


[Papa]


[Iya sayang, tumben telpon papa? Kok ngga bobo siang sih Nak?]


[Katanya Nabil mau sekolah? Katanya mau ke rumah Abah di kampung? Kapan papa?]


Alby menghela nafasnya. Anaknya terlalu pintar untuk mengingat janji yang ia katakan.


[Ini baru hari Selasa sayang, insyaallah pulang nya mah hari Jumat malam. Sama om Azmi juga]


[Beneran papa?]


[Insyaallah Nak]


[Yeyey... makasih papa. Pulang nya Nabil mau papa beliin bugel ya]


[Burger?]


[Oke, nanti papa pulang bawain burger buat Nabil sama semua yang di rumah.]


[Horeee...makasih papa. Dadah papa, mikum]


[Iya, walaikumsalam]


Ponsel Teh Ani pun di kembalikan oleh Nabil.


"Makasih amih!",kata Nabil.


"Saya den Nabil yang pinter!", teh Ani mengusap rambut Nabil yang lurus berwarna hitam pekat.


Di kantor....


"Bos!"

__ADS_1


"Apa?",sahut Alby.


"Gue bingung!", kata Azmi.


"Soal apa? Ustadzah Salsabila? Kan udah jadi bini orang!"


"Ishhh...Lo mah! Gue serius!", Azmi mulai bersikap serius.


"Ya udah apaan?"


"Menurut Lo, gue mending ngambil KPR apa beli tanah baru bangun rumah kalo udah ada duit?",tanyanya.


"Lo kan santri, kok nanya ke gue? Bukankah riba itu haram?"


"Huum, makanya bingung gue!",jawabnya lesu.


"Gue pernah denger ada kpr syariah, coba aja cari!", kataku. Azmi menoleh.


(Mamak ga tahu benar apa kagak 🙈)


"Lo kan pernah jadi santri, tanya aja sama kyai Lo atau senior Lo. Kali aja Lo dapat jawaban memuaskan. Kalo gue pribadi mah, ya ngga apa-apa kpr mah."


Azmi jadi makin bingung mengajak bos nya sharing.


"Udah, tanya dulu sama senior Lo yang lebih ngerti dan paham. Biar ga perlu pro kontra. Tergantung pemikiran Lo sendiri aja! Kalo pendapat Lo begini, Lo ga bisa maksa pendapat Lo ke orang lain yang berpendapat begitu!",kataku.


Azmi mengangguk.


"Masih ada kerjaan apa lagi sih?",tanyaku. Azmi mengecek notebook nya.


"Udah selesai sih kalo laporan bulanan dari bag keuangan Lo selesai di cek!"


Aku melirik laptop ku. Ya, bag keuangan mengirim email padaku. Tapi tetap ada berkas hitam di atas putih.


"Dikit lagi!",jawabku.


"Ya udah gue balik ke meja gue!", pamit Azmi.

__ADS_1


"Heum!",sahutku. Usai Azmi keluar, aku pun melanjutkan kembali pekerjaanku.


__ADS_2