
Alby sudah sampai di kantornya. Seperti biasa, ia memasang wajah jutek seperti biasa. Meski begitu, jika ada yang menyapanya selagi dia sopan dan tidak ganjen bagi cewek, Alby masih menanggapinya.
Azmi sudah melirik bos nya yang baru datang di jam makan siang. Alby sendiri langsung merasa bersalah karena melimpahkan semua pekerjaan padanya. Meski dia memang aspri nya, tapi bukan berarti Alby bisa semena-mena padanya.
"Assalamualaikum!",sapa Alby.
"Walaikumsalam",sahut Azmi singkat.
"Selamat siang, selamat datang di kantor bos! Sudah selesai urusan hatinya? Sampe jontor itu bibir!",sindir Azmi.
Alby langsung meraba bibirnya yang mungkin sedikit berbeda karena ulahnya dengan Amara tadi.
"Ngga usah nyindir Mi. Ya maaf!",kata Alby menepuk bahu Aspri nya itu.
"Kenapa minta maaf sama saya pak?",tanya Azmi pada alby.
"Tuh, kan! Gue tahu gue salah. Maaf deh ya...ya....!",rayu Alby.
"Saya kan emang aspri bapak, wajar kalo kerjaan saya banyak selama anda 'si-buk'!",sahut Azmi lagi.
"Udah deh, ngga usah nyindir mulu?!",Alby nyeret Azmi masuk ke dalam ruangannya.
"Bisa ngga? Jangan kaya gini! Yang liat jadi nya beda persepsi!",kata Azmi lagi.
"Meuni pundung sia teh!",Alby mendengus sambil mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
Azmi pun duduk di hadapan Alby, sambil menyerahkan laporan hasil meeting tadi. Dia juga menjelaskan bahwa kerja samanya dengan Sentra Timur akan berlanjut.
"Sudah kan pak? Kalo tidak ada lagi yang bapak butuhkan, saya mau mengerjakan pekerjaan lain!",kata Azmi undur diri.
"Sebentar ngapa Mi!",cegah Alby.
"Apa? Mau curhat? Abis dapet c**** dari Amara gitu?", cerocos Azmi.
"Sia*** Lo Mi!", Alby melempar tisu pada Azmi.
"Heum, udah...ada apaan?",Azmi memilih mengalah dan duduk lagi.
"Gue...mau nikah sama Amara, secepatnya!",kata Alby penuh keyakinan.
"Yakin Lo?",tanya Azmi. Alby mengangguk cepat.
"Lo udah bilang sama Mak? Sama ortunya Amara?",tanya Azmi lagi.
"Belum sih. Kan gue baru ngobrol tadi!"
Azmi hanya ber'oh' dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kemarin pas kita ke kampung, Frans melamar Amara. Tapi sekarang Frans sudah balik ke negaranya",terang Alby.
"Jadi, Lo mau rebut tunangan orang? Lo tahu hukumnya merebut perempuan yang sudah di khitbah?",tanya Azmi pada Alby.
"Iya tahu, tapi Amara sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan mereka. Toh, tunangan itu terjadi gara-gara Amara di ancam sama Frans."
Azmi termangu beberapa saat setelah itu, ia memandangi bosnya.
"Soal ancaman Frans?"
"Semoga ancamannya sudah ngga berlaku lagi. Tapi ya...dia kirim anak buahnya buat jagain Amara. Tadi aja gue sempet di cegat sama anak buah Frans. Untungnya, Amara juga sekarang pake jasa bodyguard."
Azmi bertepuk tangan.
"Kenapa?",tanya Alby heran.
"The real Sultan emang beda!",sahut Azmi.
"Iya lah, ga kaya gue. Siapa sih gue!", katanya. Tapi detik berikutnya, kedua pasang mata itu saling bertemu.
"Gue juga bakal cari bodyguard buat Lo. Gue ga yakin kalo Frans dkk bakal biarin Lo sama Amara begitu aja!"
"Ckkk...ngga usah lebay Mi!",tolak Alby.
"Bukan lebay, antisipasi aja. Amanah yang Lo pegang lama lho. Nunggu Nabil dewasa!", kata Azmi.
Azmi mengacungkan jempolnya.
"Udah kan? gue mau balik ke meja gue!",pamit Azmi.
"Heum, ya silahkan!",kata Alby.
.
.
Jam lima sore, Alby sudah sampai di rumah. Kondisi rumah sepi, pasti Nabil sedang bermain. Alby pun langsung menuju ke kamar nya.
Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ternyata, Nabil sedang bermain petak umpet dengan teh Ani, Mak dan Bianca. Mereka memang bermain di taman belakang. Tapi namanya petak umpet, tentu saja mencari tempat bersembunyi.
Bodohnya Bianca, dia justru bersembunyi di kamar Alby tanpa ia sadari tentunya.
Dia bersembunyi di samping ranjang king size itu. Di saat dirinya sedang bersembunyi, Alby keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang. Dia tak tahu jika ada orang asing masuk ke kamarnya.
Alby berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Lama-lama Bianca menyadari jika dirinya sedang berada di kamar sang duda pujaan hati.
__ADS_1
Apa yang akan dia lakukan????
Bianca mengamati tubuh Alby dari belakang yang hanya memakai handuk. Pria itu masih berdiri di depan lemari sambil memilih pakaiannya.
Bianca sebenarnya ragu! Dia tiba-tiba keluar dari tempat persembunyiannya, artinya dia bunuh diri. Tapi kalo ternyata Alby yang memergokinya di kamar duda Jutek itu?!!!
Bianca menutup mulutnya saat ia melihat Alby sedang memakai CD nya meski tanpa membuka handuk begitu juga dengan celana training selutut.
Setelah ia memakai celananya, baru lah Alby melempar handuk itu asal-asalan. Dan kebetulan handuk itu terlempar ke arah Bianca bersembunyi. Gadis itu memekik terkejut.
Dan hal itu tentu saja mengejutkan Alby. Pria itu langsung menghampiri asal suara tadi.
Mata Alby membulat sempurna melihat keberadaan gadis yang sedang bersembunyi di samping ranjangnya sambil tersenyum.
Bianca sempat terpaku melihat Alby yang hanya memakai celana pendeknya, belum memakai atasan.
Menyadari tatapan mata Bianca, Alby langsung memakai kaosnya.
"Ngapain kamu di sini? Keluar!", teriak Alby. Bianca yang di bentak dengan kasar pun langsung berdiri dan berwajah pucat.
Mendengar suara dari kamar anaknya, Mak buru-buru ke kamar Alby.
"Ada apa By?",tanya Mak. Mata Mak beralih ke Bianca yang masih terlihat shock.
"Keluar dari kamar saya!",ulang Alby masih dengan suara emosi. Mak menghampiri Bianca. Di pintu, Teh Ani menggendong Nabil. Sepertinya situasi saat itu tidak baik untuk Nabil, jadi teh Ani memilih menyingkir agar Nabil tak mendengar hal-hal yang tidak baik untuknya.
"Bianca? Kenapa kamu ada di sini?",tanya Mak.
"Maaf, tadi kita kan lagi main petak umpet sama Nabil Bu...!",jawab Bianca lirih. Mak menghela nafas berat.
"Rumah ini luas, kamu bisa bersembunyi di mana pun! Kenapa harus di kamar saya!?"
"Sudah By, sudah!",Mak mengusap bahu Alby pelan.
"Maaf ya nak Bian, mungkin Alby sedang kecapean. Kita keluar saja ya!",ajak Mak Titin. Bianca pun mengangguk.
"Kamu ngapain lagi ke sini? Sudah sering saya bilang, ngga usah deketin saya. Percuma! Apa kamu pikir kalau kamu dekati Nabil, saya akan luluh? Jangan harap!",ujar Alby.
"Astaghfirullah, Jang!",Mak mengusap dadanya karena tak percaya putranya bisa semarah itu.
"Gimana aku ngga marah Mak! Dia lihat aku pakai celana pakai baju! Apalagi kalo bukan sengaja? Kalo dia tahu aku selesai mandi, harusnya dia buru-buru keluar. Tapi apa? Dia malah masih bersembunyi!"
"Begitu Bian?",tanya Mak Titin pada Bianca. Tadinya Bian mengangguk lalu menggeleng.
"Bukan gitu maksudnya Bu!",kata Bianca.
"Udah lah Mak, bawa dia keluar. Sama kasih tahu teh Ani, bawa Nabil ke sini!",pinta Alby.
__ADS_1
"Iya Jang!",jawab Mak sambil mengajak Bianca keluar.