
Spesial part nya Azmi. Mon maap, ga ada yang vulgar2 ye 🤭🤭🤭
******
"Ayok berangkat!", ajak Azmi pada Nur yang sudah selesai memakai mukenah dan bawahan nya celana piyama.
"Ayok!", sahut Nur. Saat keduanya keluar kamar, ternyata ada tetangga kamar juga yang keluar sudah memakai atribut solat.
Nur menyunggingkan senyumnya pada tetangga tersebut. Sedang Azmi fokus mengunci pintu kamarnya.
"Kamu yang menghuni lantai satu kan?", tanya tetangga Nur. Nur pun mengangguk. Azmi yang baru selesai mengunci kamarnya pun menoleh pada tetangganya, ya tersenyum tipis sekedar menyapa mereka.
Kebetulan di lantai tiga hanya ada tiga kamar dan terisi semua oleh pasangan suami istri. Jika kemarin Azmi satu-satunya yang single, sekarang tidak lagi. Dia juga bisa membuat suara 'laknat' seperti mereka yang sering kali ia dengar di malam hari. Hahahahah 🤣🤣🤣
"Iya mba. Alhamdulilah, kami baru menikah dan kamar lama saya sudah di sewa penyewa baru,jadi kami menghuni kamar lama suami saya!", kata Nur sopan. Dan mereka pun berkenalan satu sama lain.
Tiga pasang suami istri itu pun menuruni tangga menuju ke mushola yang ada di gang samping kost mereka.
Nur yang mudah akrab akhirnya merasa punya teman setelah menghuni kamar lantai tiga. Sayangnya, kedua tetangga kamar nya sudah memiliki anak yang di tinggal di kampung. Sedang mereka semua bekerja. Jadi, hanya Nur yang pengacara alias pengangguran banyak acara.
Setelah selesai solat tarawih, kedua pasang tetangganya langsung kembali ke kostan. Tapi tidak dengan sepasang pengantin baru yang baru 'sah' beberapa jam yang lalu.
"Mau beli lauk apa buat sahur nanti!?", tanya Azmi pada Nur.
"Emang di kulkas ngga ada bahan buat di masak?", tanya Nur.
"Aa belum sempat belanja!", jawab Azmi. Ia meraih tangan Nur untuk di genggam. Nur sempat menghentikan langkahnya sesaat. Azmi pun mau tak mau ikut berhenti.
"Kenapa? Mau beli di warteg?", tanya Azmi karena kebetulan mereka berhenti di depan warteg.
"Kenapa ngga beli nanti saja pas sahur? Pasti buka kan ?", tanya Nur sambil melihat tautan tangan keduanya. Azmi tersenyum tipis lalu mendekat ke telinga Nur.
"Takut bangun kesiangan!", kata Azmi. Nur mengerjapkan matanya.
Kenapa harus kesiangan? Kan tinggal pasang alarm? Lagian...kost mereka dekat komplek perumahan, pasti bakal di bangunin buat sahur kan??? Batin Nur.
"Ayok, mau makan apa sekarang? Terus lauk apa buat sahur?", tanya Azmi lagi.
"Sekarang makan soto aja deh A. Terus sahur nya pecel ayam atau lele. Nanti tinggal di angetin. Ada microwave kan di kamar? Kayanya aku lihat!"
"Ada. Ya udah pesen gih!", kata Azmi. Nur pun memesan makanan yang dia sebut tadi. Azmi membayar makanan itu.
"Wah, mas Azmi udah punya istri nih sekarang? Kapan nikah nya nih mas?", tanya penjual pecel lele. Azmi cukup di kenal meski ia belom terlalu lama kost di sana karena ia memang berlangganan. Tapi tidak dengan Nur. Dia bekerja di restoran hampir setiap hari dan pulang malam. Kalau pun libur siang dia lebih sering memesan via aplikasi.
"Iya, Alhamdulillah. Baru nikah tadi mas, di kampung!", jawab Azmi.
"Wah... Alhamdulillah, selamat kalo gitu mas Azmi. Semoga samawa ya!", kata penjual pecel lele tersebut. Nur dan Azmi mengamini doa pecel lele tersebut. Setelah itu mereka berdua pun pulang.
"A!"
''Heum?"
"Kalo aa kerja, aku ngapain di rumah? Aku boleh kerja lagi kan?", tanya Nur saat keduanya berjalan beriringan.
"Bukannya ngga boleh, tapi insyaallah Aa bisa kok mencukupi kebutuhan kamu!", jawab Azmi.
__ADS_1
"Tapi...aku bosen A kalo ngga ngapa-ngapain?", kata Nur.
"Atau...Putri ngga usah mondok aja? Kan udah ada aku yang ngurusin?", kata Nur dengan wajah berbinar. Azmi menanggapi istri nya dengan tersenyum. Kaki mereka tetap melangkah menuju kamar di lantai tiga.
Engap!!! Udah ngos-ngosan duluan ini mah!
Mereka berdua masuk ke kamar, tak lupa langsung menguncinya. Karena tak ada jawaban apapun dari suaminya, Nur langsung melepaskan mukenanya dan menyiapkan piring untuk mereka makan.
Gadis itu mengikat rambutnya cukup tinggi agar tak mengganggu wajahnya. Sedang Azmi sendiri pun sama, ia melepaskan sarungnya. Menyisakan celana pendek selutut dan kaos oblong tanpa lengan.
Ia mendekati Nur yang sedang memunggunginya karena menyiapkan nasi dan lauk.
Azmi memeluk Nur dari belakang dan membuat Nur terkejut.
"Astaghfirullah!", pekik Nur. Dia terkejut karena tiba-tiba saja sepasang tangan kekar sudah mendarat di atas perutnya. Dan dagu Azmi berada tepat di bahunya. Nur meneguk ludahnya pelan. Jantung nya berpacu sangat cepat. Mungkin jika lomba maraton, kali ini dia akan menang.
"A..A!", kata Nur dengan suara bergetar. Azmi tersenyum menghadapi kegugupan istrinya.
"Iya. Ya udah ayo makan!", kata Azmi membantu Nur membawa piring berisi nasi. Nur sendiri sedang menikmati degup jantung nya yang tak baik-baik saja.
Seolah tak terjadi apa-apa, Azmi makan dengan santai. Tapi tidak dengan Nur. Sekitar lima belas menit, makan malam mereka selesai.
Nur kembali membersihkan sisa makanan mereka dan mencucinya di wastafel. Nur akui, meski di lantai tiga, fasilitas nya jauh lebih lengkap dibanding di kamar nya yang ada di lantai bawah.
Dilihatnya sang suami yang berdiri di jendela, menghadap ke pemukiman warga. Terdengar dia sedang menghubungi Putri karena Nur mendengar ia menyebutkan nama Putri.
Sekitar jam sembilan malam, panggilan telepon sudah selesai. Nur pun sudah berbaring di kasur busa yang memang tak memakai dipan.
Azmi mendekat dan duduk di sampingnya. Pandangan keduanya bertemu.
"Solat apa lagi?", tanya Nur.
"Solat sunat yang di lakukan untuk sepasang pengantin baru!", kata Azmi mengulurkan tangannya. Lagi-lagi nur tersipu.
Solat sunat...itu artinya...??? Waaaahhhhh! Teriak Nur dalam hati.
"I-iya A!", kata Nur mengiyakan. Tak mungkin dia menolaknya. Apalagi sikap Azmi sangat berbeda sekarang di banding sebelum mereka menikah. Ataukah...memang dia seperti ini??
Sepasang pengantin baru itu selesai melakukan ibadah sunahnya. Azmi memutar duduknya hingga berhadapan dengan Nur. Tak lupa ia menyentuh ubun-ubun Nur dan melafalkan doa. Usai membaca kan doa itu, Azmi mengecup puncak kepala Nur. Lalu kedua mata itu bergantian dan terakhir mengecup bibir Nur. Ralat, bukan hanya mengecup tapi sedikit lebih dari itu.
Nur memejamkan matanya menikmati hal baru yang pertama kali ia rasakan. Azmi melepaskan tautan bibirnya beberapa saat lalu tersenyum dan menghapus bekas perbuatannya di bibir Nur hingga membuat mata gadis itu terbuka dan mengerjap.
Azmi membantu Nur membuka mukenanya.
"Kita istirahat di tempat tidur!", ajak Azmi berdiri lalu ia pun melepaskan sarungnya. Nur sedikit oleng pun justru bertanya.
"Istirahat?", tanya Nur saat Azmi membantunya berdiri. Lelaki tampan itu tersenyum lalu menuntun Nur rebahan di kasur. Mereka tidur bersebelahan.
Jangan di tanya seperti apa perasaan nur saat ini. Jika ada yang bertanya, apakah jantung Nur aman? Tidak!
"Kamu kenapa kaya gemetar begitu?", tanya Azmi.
"Heuh? Ngga kok A!", jawab Nur.
"Emang...boleh?", tanya Azmi ambigu. Nur tak paham makna 'boleh' itu yang seperti apa hanya menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Boleh? Boleh apanya?", tanya Nur dengan nada bertanya dan memicingkan matanya.
Tapi ternyata Azmi tak menjawabnya, melainkan langsung menyambar bibir lembut istrinya yang masih orisinil hihihihi berbeda dengan mantan duda tentunya.
Nur yang awalnya terkejut pun lama-lama terbawa suasana. Perlahan ia mengikuti instingnya. Azmi mahir melakukan tugasnya dengan baik.
Sekarang, Azmi bisa membalas suara-suara laknat tetangganya yang mengapitnya di kanan kiri.
Memalukan! Tidak! Mungkin hanya untuk kali ini ia mengijinkan Nur mengeluarkan ekspresinya. Setelah ini, Azmi akan ngebut untuk segera merampungkan rumahnya agar bisa secepatnya bisa di huni. Tidak hanya proyek perusahaannya saja yang ia selesai kan.
Ngga usah tanya detail nya yakkk?? Mamak paham para reader's masih ingat seperti apa rasanya jadi Nur 🤣🤣🤣🤣
Tak perlu di deskripsikan seperti apa proses mereka menuju anu....
Azmi mengecup kening Nur yang kelelahan. Berbeda dengan Azmi, meskipun ia lelah tapi dia tampak lebih segar. Iya lah, puasa ramadan memang di mulai. Tapi puasa kesendiriannya sudah berakhir karena dia memiliki partner sah.
"Terimakasih sayang!", kata Azmi berbisik. Nur yang malu-malu itu hanya mengangguk dan menenggelamkan kepalanya di ketiak Azmi.
"Kenapa ngumpet?",tanya Azmi.
"Era Ning!", kata Nur lirih. Azmi terkekeh pelan.
"Kenapa harus malu? Kita suami istri yang sah?"
"Iya, tapi...aku merasa...kok gampangan banget padahal kita baru mengenal, belum lama."
"Ssst... gampang apa nya? Kita susah kok dapetin restu Abah!", kata azmi.
"Tapi...!"
"Pssttttt!", Azmi menutup bibir Nur dengan telunjuknya.
"Tidak perlu beranggapan seperti itu. Mau baru sehari pun kita saling mengenal, kita suami istri yang sah. Dan kita melakukannya karena sama-sama cinta dan insyaallah di ridho-i. Jadi... berhenti beranggapan kalo kamu gampangan!", kata Azmi. Nur pun mengangguk pelan dalam dekapan Azmi.
"Ke kamar mandi dulu, bersihkan diri dulu. Sekalipun ngga langsung mandi, yang penting sudah bersih!", kata Azmi.
"Mau mandi wajib aja A. Takut kesiangan sahurnya!", kata Nur.
"Ngga usah, mandi nanti aja mau subuh. Nanti sebelum sahur Aa mau lagi! Jadi, dari pada kamu mandi terus ya... mending bersihin diri aja! Mandi mau subuh, bareng sama Aa. Di bolehin kok mandi bersama!", kata Azmi.
"Lagi????", tanya Nur terkejut. Azmi tertawa melihat ekspresi lucu istrinya. Ia yakin tetangganya 'sedikit' terganggu karena ulahnya pada Nur. Salah siapa coba??? Mereka juga pada suka kaya begitu! Mau balas dendam ceritanya ✌️.
"Ayo, Aa anterin ke kamar mandi !", kata Azmi.
''Aku bisa sendiri A!", tolak Nur. Azmi pun tak memaksa. Nur perlahan-lahan memasuki kamar mandi dan ya...gadis eh... mantan gadis itu terkejut dengan mahakarya Azmi yang membuat dirinya seperti alergi dengan tubuh nya yang merah-merah. Tapi...dia tersenyum sendiri dan bersyukur. Kenapa?
Ia melakukan nya untuk pertama kali dengan suaminya dan ia bisa memberikan mahkota nya hanya pada seseorang yang berhak dan juga ia cintai.
******
Sudah puas kan??? Puas dong harusnya wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
Bu Din Triono Hardini.... please...jangan bahas saat aku melewati rumah mu!!!
Matur nuwun 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
__ADS_1