
Amara
Aku kembali duduk di bangku dekat brankar papi. Sampai detik ini papi belum sadarkan diri. Sudah hampir jam delapan malam, aku belum sholat isya. Tapi meninggalkan papi sendiri seperti sekarang sepertinya bukan pilihan yang tepat.
Entah kenapa feeling ku mengatakan jika Frans bisa saja melakukan 'sesuatu' terhadap papi ku jika tidak ada aku di sini.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan???
Aku memandangi pakaian ku yang hanya celana kulot dan kemeja serta blazer. Tidak memungkinkan untuk solat dengan pakaian seperti ini.
Aku melongok dari pintu, berharap ada perawat yang melintas. Tapi sudah lima menit berlalu, apa yang ku harapkan tak kunjung terealisasi.
Hampir putus asa, sampai ada seorang wanita berhijab cukup dewasa keluar dari kamar sebelah. Wanita itu nampak membawa sebuah paper bag. Aku memberanikan diri untuk menghampiri nya.
"Assalamualaikum!",sapaku.
"Walaikumsalam",jawab wanita itu ramah sambil tersenyum manis.
"Maaf Tante!"
"Iya, dek? Ada yang bisa saya bantu?"
''Jadi gini Tante, saya belum solat isya. Tapi saya tidak bisa meninggalkan papi saya sendiri di kamar kalau saya solat di mushola rumah sakit. Kalau solat di kamar, saya juga tidak bawa mukena Tante. Maaf, bisakah saya meminjamkan mukena, itu pun jika Tante bawa?"
Wanita itu tersenyum.
"Tentu saja. Sebentar ya saya ambil dulu!",katanya.
Aku mengulurkan tanganku.
"Nama saya Amara Tante!"
"Oh, iya. Saya Risa."
Tante Risa menyambut uluran tangan ku tanpa mengurangi senyuman ramahnya.
"Sebentar ya Amara!", kata Tante Risa. Aku mengangguk pelan sambil menunggu di antara pintu kamar papi dan kamar rawat keluarga Tante Risa. Beberapa menit kemudian, Tante Risa keluar membawa sebuah tas kecil yang berisi mukena.
"Ini, nak Amara!", Tante Risa memberikan nya padaku.
"Makasih Tante. Maaf merepotkan. Padahal Tante tidak mengenal saya."
"Jangan sungkan, tolong menolong lah dalam kebaikan. Begitu kan anjurannya?",tanya Tante Risa. Aku mengangguk.
"Ya sudah Tante tinggal ke kantin dulu ya. Oh iya, kamu sudah makan malam belum?",tanya Tante Risa.
"Eum, belum pengen aja Tante. Mungkin nanti bisa pesan online."
"Eh, gini aja Tante kan mau ke kantin. Sekalian aja kamu bisa nitip pesan apa. Biar Tante bawa ke sini!", ujar Tante Risa.
"Jangan Tante. Udah, ngga usah Tante Risa. Saya udah dipinjamkan mukena aja sudah cukup. Saya ngga mau merepotkan Tante Risa lagi."
"Ngga repot kok Amara. Kan sekalian jalan kecuali kalo kamu nyuruh saya beli, padahal saya ngga ke sana. Itu baru merepotkan hehehhe!"
"Tante bisa saja. Maaf lho Tan!",kataku benar-benar merasa tak enak.
"Jangan sungkan begitu. Tante tinggal dulu ya Amara!",pamit Tante Risa.
__ADS_1
"Iya Tan!"
Sepeninggal Tante Risa, aku kembali ke kamar papi untuk solat isya. Sekitar sepuluh menit aku sudah selesai. Sambil menunggu Tante Risa untuk mengembalikan mukena, aku memilih duduk di luar.
Tak lama kemudian, Tante Risa benar-benar datang lagi. Dia tersenyum pada ku.
"Sudah selesai solat nya?"
"Alhamdulillah sudah Tante!", jawabku sambil mengembalikan mukena nya.
"Sudah pakai saja dulu, Tante masih ada punya anak Tante. Ini makan dulu, katanya mau nemenin papi kamu."
"Makasih Tante, maaf Mara ngerepotin Tante terus."
"Jangan bilang kaya gitu terus ah ...!''
Tante Risa memberikan makanan untuk ku dan mengembalikan mukena yang tadi aku pakai.
"Makan ya, udah malam nih. Tante masuk ke kamar suami Tante dulu. Di dalam sebenarnya ada anak Tante. Tapi dia biasanya kalo di suruh jagain papanya kebanyakan main hp."
"Iya Tante. Sekali lagi terimakasih banyak."
"Sama-sama Amara. Tante masuk ya!"
"Iya Tan, Mara juga masuk!", kami saling melempar senyum setelah itu.
Aku masuk ke dalam kamar papi. Setelah meletakkan kembali mukena di sofa, aku pun duduk dan memakan makanan yang Tante Risa berikan. Kenapa aku menerima begitu saja pemberian Tante Risa? Bisa saja kan aku curiga pada orang asing. Tapi feeling ku mengatakan jika Tante Risa orang baik.
Selesai makan, pintu kamar papi terbuka. Mami dan kak Daniel masuk membawa tas.
"Assalamualaikum!", sapa kak Daniel, tidak dengan mami.
"Lho kamu sudah makan Ra? Frans yang beliin?", tanya mami.
Kenapa sih yang ada di pikiran mami hanya nama Frans??? Harus bagaimana lagi menjelaskan ke mereka jika Frans tak sebaik yang mereka kira???!!!
"Bukan mam. Tante Risa yang kasih."
"Siapa itu Tante Risa?",tanya Mami.
"Yang jagain pasien sebelah kamar Mi. Kebetulan tadi waktu mau solat, Mara pinjam mukenanya. Eh, malah di kasih makan sekalian."
"Alhamdulillah kalo kamu udah solat. Tadi Kakak minta bibik siapin baju kamu buat sekarang sama yang buat ke kantor besok. Itu mukena nya juga ada."
"Oh ya? Wah, makasih banyak ya kak!", kataku senang.
"Heum! Ya udah mandi sana, sudah malam!", pinta kak Daniel.
Mami tak mengatakan apapun usai aku menjawab jika Tante Risa yang memberi ku makanan.
"Nanti kamu balikin aja mukena Tante Risa tadi kalo udah selesai mandi. Sama ini, tadi kakak beliin kue. Lumayan buat sarapan Tante Risa besok", ujar Daniel.
"Iya kak. Makasih banyak ya!", kataku sekali lagi.
Setelah itu, kak Daniel duduk di sofa yang tadi ku duduki. Dia memainkan ponselnya. Sedang mami memilih duduk di bangku sebelah papi.
.
__ADS_1
.
" Mukena mama mana?"
"Masih di pinjem dulu sama kamar sebelah. Besok pagi kan dia juga solat subuh, mama bisa pinjem punya kamu!"
"Heum, okey!"
Beberapa saat kemudian suara pintu di ketuk.
Tok...tok....
"Aku aja yang buka Ma!"
Tante Risa mengangguk.
Ceklekk.... pintu terbuka.
"Nona Amara?"
"Nona Bianca?"
Keduanya seperti nya sama-sama terkejut karena tak sengaja bertemu di sini.
"Eum, Tante Risa ada kan?",tanyaku. Bianca mengangguk.
"Masuk!",ujar Bianca dengan nada judes. Jangan tanya kenapa !!!
Yupz Bianca kesal saat dia merasa di tolak oleh Alby bahkan Alby memilih untuk mengobrol berdua dengan Amara.
.
.
.
Alby sudah sampai di rumah. Sudah lewat isya, Nabil masih belum tidur.
"Assalamualaikum, anak papa!", sapa Alby pada putra tunggalnya itu.
"Walaikumsalam!", jawab Mak Titin.
"Papa!",Nabil menghamburkan ke pelukan ku.
"Papa belum mandi sayang. Masih bau acem!", kata Alby.
"Mandi!",jawab Nabil cepat.
"Iya, papa mau mandi terus solat isya."
"Nabil ikut mandi papa!",kata Nabil.
"Kan Nabil udah mandi tadi sore!", sahut Alby yang masih menggendong Nabil.
"Mau mandi anget sama papa!", rengek Nabil. Akhirnya Alby hanya mengangguk pasrah karena mungkin Nabil memang menginginkan mandi bersamanya.
"Arek daang Jang?",tanya Mak pada Alby.
__ADS_1
"Moal Mak. Masih kenyang!", jawab Alby. Mak pun meninggalkan bapak dan anak itu. Setelah itu Alby pun mengajak Nabil ke kamar untuk membersihkan diri karena hari sudah cukup malam bagi seorang batita untuk mandi, lagi! Meski pun dengan air hangat.