Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 72


__ADS_3

Amara


"Tante Risa!",sapaku.


"Eh, nak Amara."


Aku menghampiri Tante Risa yang duduk di sofa. Masih seperti tadi, beliau tetap tersenyum ramah.


"Kok ke sini? Yang jagain papi mu siapa?",tanya Tante Risa.


"Ada mami sama kakakku Tante!",jawabku. Bianca mendudukkan dirinya di samping Tante Risa. Khas anak muda, dia memainkan ponselnya tanpa menghiraukan keberadaan orang lain. Kebanyakan seperti itu!!


"Bian, kenalin ini Kak Amara! Yang tadi mama ceritain!",ujar Tante Risa.


"Heum!", sahutnya santai. Gadis itu memakai pastan kekinian.


"Eum...kami saling kenal kok Tan!"


"Oh ya?",tanya Tante Risa cukup terkejut.


"Iya Tante, kebetulan kami sempat meeting beberapa hari yang lalu di kantor HS grup."


"Benarkah? Oh, gitu ya?! Kamu dari perusahaan mana?", tanya Tante Risa antusias.


"Rhd.co Tante."


"Masyaallah, berati kamu putri bungsu nya pak Rahardi?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Ngga nyangka ya kita bertemu di sini. Dulu Tante sama mba Kirana sering bertemu tapi ya karena kesibukan kami jadi jarang berkomunikasi lagi. Mami kamu itu senior Tante lho Amara."


Aku mengangguk tipis sambil tersenyum. Aku percaya kalo mami senior Tante Risa karena mami memang lebih tua dari Tante Risa.


Aku melihat Bianca hanya memutar bola matanya malas sambil mencebikkan bibirnya.


"Sebenarnya Bianca belum lama ini lulus kuliahnya. Tapi ya gimana lagi, papinya udah sering sakit seperti ini. Cuma Bianca harapan kami."


"Iya Tante, saya paham kok. Mungkin Mara sama Bianca berada di posisi yang sama!"


Tante Risa menepuk bahuku.


"Kakaknya Risa sudah fokus sama restorannya. Yang bantuin perusahaan justru menantu Tante. Tapi ya itu, dia punya batita. Tidak bisa standby di kantor."


Aku mengangguk paham mendengar cerita Tante Risa. Entah kenapa aku merasa cocok mengobrol dengannya.


"Oh iya, papi kamu sakit apa Amara?"


"Jantung Tante."


"Oh begitu, kalo papa nya Bianca gagal ginjal. Jadi sering menginap di sini!"


"Sering cuci darah ya Tan?"


Tante Risa mengangguk.


"Iya Amara. Namanya juga ikhtiar selagi mampu kan?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Ciiih...Sono ah pulang ke kamar mu. Kami mau tidur!", celetuk Bianca mengusirku.


"Bian! Jaga sopan santun mu Nak?!",kata Tante Risa. Bukankah menuruti ucapan mamanya, Bianca justru bangkit dari sofa.


"Yang ga sopan tuh aku apa dia? Udah tahu sekarang sudah malam. Malah ngegosip! Ini bukan kafe buat nongkrong ma!", sahut Bianca lagi.


"Astaghfirullah, bian!", suara Tante Risa sedikit meninggi.


"Sudah Tante, ngga apa-apa. Bianca benar kok. Ini sudah malam. Tante istirahat ya, Mara juga mau balik ke kamar. Terimakasih untuk mukena nya."


"Maaf ya Amara!",kata Tante Risa tak enak hati.


"Ngga apa-apa tante. Permisi Tante, Bianca. Assalamualaikum?"


"Walaikumsalam!", jawab Tante Risa dan Bianca. Jika Tante Risa menjawabnya dengan lembut, Bianca menjawabnya dengan ketus.


Aku pun keluar dari kamar rawat suami Tante Risa.


"Bianca, kamu ini kenapa ngga sopan seperti itu? Dia rekan bisnis kamu lho. Apalagi dia juga lebih tua dari kamu. Mama ngga pernah mengajarkan kamu seperti ini lho. Kamu sudah dewasa, sudah dua puluh tiga tahun. Bukan anak kecil lagi!"


"Ma, asal mama tahu! Dia itu udah ngerebut pujaan hati aku ma. Siapa yang ngga kesal!"


"Pujaan hati apa sih? Hah? Ngga usah aneh-aneh!", Risa mendekat pada Bianca.


"Bian udah lama suka sama CEO HS grup ma. Malah sejak aku masih kuliah. Mama tahu , aku bela-belain magang di kantor HS grup karena siapa? Karena Alby! CEO HS grup! Tapi dia yang tiba-tiba datang malah merebut perhatian Alby! Siapa yang ga kesal! Siapa pun bisa menilai kalo aku lebih cantik bahkan jauh lebih muda dari Amara itu!"


"Astaghfirullah, adek! Kamu keterlaluan amat sih?"


"Biarin!",sahutnya ketus.


"Kamu tuh anak perempuan, ngapain ngejar-ngejar laki-laki yang ngga suka sama kamu. Kamu kan masih muda nak. Anak mama cantik, bisa mendapatkan laki-laki mana pun yang kamu mau sayang. Untuk apa kamu mencari perhatian laki-laki yang memang ngga tertarik sama kamu!"


Bianca bangkit dari sofa lalu masuk ke kamar mandi. Tante Risa hanya menghela nafas dan mengelus dadanya. Dia tak habis pikir, putri bungsu nya yang selama ini ia anggap anak kecil sekarang sudah beranjak dewasa bahkan ambisius memiliki laki-laki yang dia inginkan.


Aku kembali ke kamar papi. Mami sudah tidur di brankar sebelah. Sedang kak Daniel masih memainkan ponselnya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


"Dhea tidur sama siapa kak?"


"Sama mba mayang!",jawab kak Daniel.


"Ngga rewel?"


"Kayanya sih ngga. Dia malah seneng kalo main sama Bu Dhe nya !", jawab kak Daniel. Aku hanya mengangguk.


"Udah malam, tidur gih!"


"Ternyata, yang pinjemin mukena tadi tuh istri pak Pradipta. Direktur Sentra Timur Kak!"


"Oh ya?",kak Daniel menegakkan punggungnya.


"Heum, aku juga kenal sama Bianca yang sekarang menggantikan posisi kak Pradipta. Dan...dia...suka sama Alby!"


Daniel tersenyum miring.


"Merasa tersaingi?", tanya nya santai.

__ADS_1


"Ngga juga sih. Kami memang tidak sedang bersaing!", jawabku.


"Ra!"


''Heum? Kakak mau ngomong sesuatu!",bisik Kak Daniel. Aku yang tadi duduk berhadapan sekarang memilih duduk di sebelah kak Daniel.


"Apa kak? Rahasia?",tanyaku.


"Gimana kalo kita check kesehatan papa tanpa sepengetahuan mami dan kak Nathan!",bisik kak Daniel sambil melirik maminya yang sudah terpejam. Tapi siapa tahu kalo ternyata mami belum pulas tidurnya.


"Kita sepemikiran kak!", kataku.


"Iya Ra."


Tiba-tiba ponsel ku berdering, ada nama Alby yang memanggil. Padahal ini sudah cukup larut malam.


"Siapa?", tanya kak Daniel.


"Alby kak!"


"Ya udah angkat aja. Tapi pelan aja!", pinta kak Daniel. Aku mengangguk.


[Assalamualaikum, By?]


[Walaikumsalam. Belum tidur kan Ra?]


[Eum, belum. Kenapa?]


[Maaf kalo aku lancang. Tadi aku sempat ngobrol sama Sakti soal kesehatan papi kamu]


[Lalu?]


[Maaf sekali lagi, aku minta Sakti buat mengecek ulang kondisi papi kamu. Entah kenapa aku merasa kalau... sebaiknya kita selidiki penyebab kambuh nya jantung papi kamu]


[Oh ya?]


Aku melirik ke kak Daniel. Kak Daniel sendiri hanya menatap ku, mendengar obrolan ku mungkin meski tak terlalu jelas.


[Tapi ... Sakti harus mendapatkan persetujuan dulu dari wali yang bertanggung jawab terhadap pasien. Karena dia tidak mungkin melakukannya tanpa persetujuan pihak keluarga]


[Em...oke, nanti aku tanya kak Daniel dulu ya By. Makasih... makasih banget udah perhatian sama papi aku]


[Jangan bilang seperti itu. Besok...aku boleh kan jenguk papi kamu?]


[Boleh By]


[Ya udah, kamu istirahat ya. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Aku meletakkan ponsel ku di atas meja. Lalu menatap kak Daniel.


"Kak, ternyata Alby sudah lebih dulu ngobrol sama dokter Sakti soal cek ulang kesehatan papi. Tapi ya itu.... dokter sakti tidak bisa bertindak semaunya tanpa prosedur dan persetujuan dari pihak pasien. Gimana kak?"


"Alby perhatian sekali sama papi?"


"Entah lah",aku mengedikan bahu sambil tersenyum.


"Jadi, kamu sudah benar-benar membuka hati kamu lagi buat Alby? Bersedia menerima pertanggungjawaban Alby?"

__ADS_1


Aku terdiam. Jujur aku senang Alby perhatian sama papi. Tapi jika ingat tentang pertanggung jawaban yang Alby tawarkan, aku masih ragu. Aku ragu jika dia belum sepenuhnya membuka hatinya untuk ku. Aku takut kalau ternyata Alby masih memiliki cinta untuk istri Febri, Bia. Bukankah ini lebih menyakitkan???? Hanya di jadikan pelarian?


__ADS_2