Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 57


__ADS_3

"Amara!", panggil Alby dan Frans bersama-sama. Febri yang berada di samping Amara terdengar menghela nafasnya.


Alby dan Frans mendekat pada Amara dan Febri.


"Kamu....dari mana Ra?",tanya Alby sedikit memicingkan matanya ke arah Febri. Curiga? Cemburu?


"Hai Febri?! Apa kabar?",tanya Frans menyapa Febri. Amara tak menjawab pertanyaan Alby, justru fokus pada Frans yang bertanya kabar pada Febri.


"Alhamdulillah, baik dokter Frans!", Febri mengulurkan tangannya pada Frans. Tatapan Frans sekarang beralih pada Alby.


Posisi Alby saat ini berada di samping Amara. Dia masih beradu pandang dengan Frans.


"Ehem...Ra, Lo ada tamu. Gue balik dulu deh kalo gitu!",ujar Febri. Amara mengangguk.


"By ,gue balik deh!",pamit Febri pada Alby menepuk bahu Alby.


"Frans, aku...balik duluan ya",pamit Febri pada Frans. Frans mengangguk tipis.


"Kamu sama Mara dari mana Feb?",Alby seolah mencegah Febri pergi. Febri pun tidak jadi membuka pintu mobilnya.


"Ak...!"


Drrtt...drrt...ponsel Febri bergetar.


"Maaf, sebentar!", kata Febri. Dia mengangkat panggilan telepon nya.


[Assalamualaikum,nduk!]


[Walaikumsalam. Mas, neng ndi toh?]


[Di depan rumah Amara nduk. Kie mau pulang]


Alby dan Frans memperhatikan Febri yang sedang menerima telpon. Mungkin penasaran.


[Iki lho mas, hp ne Amara ketinggalan. Kok Yo bisa lupa toh!]


Febri menoleh pada Amara.


[Sebentar nduk!]


"Ra, hp Lo ketinggalan di rumah. Ini Bia kasih tahu!",kata Febri. Amara merogoh kantong blazer nya.


"Astaghfirullah, iya mas. Lupa!"


"Kebanyakan ghibah sih!", celetuk Febri. Alby menatap penuh penasaran pada Amara. Kenapa bisa ponsel Amara ada pada Bia???


Amara hanya meringis tipis.


"Terus gimana? Gue ambil, anterin ke sini?",tanya Febri pada Amara.


"Ngga usah mas, besok aja aku mampir kalo mau ke kantor!", kata Amara.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu!",sahut Febri.


[Simpen ae nduk, besok Amara ambil ke rumah!]


[Yo wes mas. Ndang muleh!]


[Hooh. Iki pan muleh. Yo wes, assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Febri menyimpan ponselnya ke saku nya lagi.


Lalu pria gagah itu menoleh pada Alby yang sepertinya sudah berpikir yang bukan-bukan padanya.


"Amara dari rumah gue. Seharian di ngobrol sama Bia. Jadi, jangan samain gue kaya Lo!", Febri menepuk bahu Alby. Dia masih memasang wajah kesal tapi tak terlalu nampak di kegelapan seperti ini.


"Emang gue kenapa?",tanya Alby pada Febri. Frans sendiri menyimak dua lelaki tampan yang sedang mengobrol. Frans sudah mulai bisa bahasa Indonesia, hanya saja masih banyak kosakata yang dia kurang paham.


"Ga tahu! Tapi yang jelas, gue ga bakal kecewain Bia. Apalagi buat... berkhianat!", bisik Febri tapi masih cukup terdengar oleh Amara.


Alby mendengus kesal karena ucapan Febri yang terdengar sedang meledeknya, meski kenyataan nya memang seperti itu.


"Udah, ngga usah marah-marah. Lo pernah pesen sama gue. Jangan pernah sakiti Bia, cukup Lo yang pernah sakiti dia. Gue jalanin amanah dari Lo!", kata Febri. Lagi-lagi dia menepuk bahu Alby.


"Udah ah, kebanyakan drama. Gue pulang! Kasian anak-anak sama bini gue!",kata Febri.


"Gue balik Ra, selamat berpusing ria. Semoga tidak ada perang dunia ke lima! Assalamualaikum!",kata Febri.


"Walaikumsalam!", sahut Amara dan Alby.


Sekarang, tinggallah tiga orang dewasa yang sama-sama berdiri di depan gerbang. Azmi sediri menolak untuk menemani Alby. Aspri luknut memang! Bisa aja menolak perintah bosnya! Atau... mungkin dia sudah feeling bakal begini 🤭


"Aku ingin bicara Amara, dengan mu dan orang tua mu. Bisa?",tanya Frans.


Amara menoleh pada Alby yang juga sedang menatap matanya.


"Eum, ya... bisa!",kata Amara dengan sedikit ragu. Alby masih tak melepaskan pandangannya dari sosok gadis cantik yang tinggi semampai itu.


"Apa kamu juga akan bertemu dengan orang tua Amara, Alby?",tanya Frans pada Alby.


Pria tampan itu terlihat menarik nafas sedikit cepat. Marahkah???


Dia mau apa ke sini? Batin Amara saat melihat Alby masih terus menatap nya.


"Tidak!",jawab Alby singkat.


Ada rasa kecewa dalam hati Amara. Dia pikir, Alby juga akan melakukan hal yang sama seperti Frans. Tapi kenyataannya???


Amara jadi teringat ucapan Bia saat mengobrol tadi.


Kalau memang Alby mau memperjuangkan kamu, minta dia melakukan apa yang dia mampu. Tapi kalo emang dia ngga bisa, bilang ke dia. Jangan pernah memberikan harapan palsu. Perasaan di tarik ulur kata layangan tuh ngga enak. Apalagi ujung-ujungnya tali nya putus.

__ADS_1


Obrolan itu terus terngiang di telinga Amara. Membenarkan ide yang Bia katakan tadi.


"Terus, kamu mau apa ke sini?",tanya Amara pada Alby yang tidak memiliki kejelasan dan tujuan nya mendatangi kediaman keluarga Rahadi.


"Sebenarnya aku...aku ingin bicara serius. Seperti yang sudah ku katakan tadi siang. Tapi.... sepertinya Frans lebih penting!",kata Alby dengan wajah datarnya sambil menatap Frans yang masih setia menunggu Amara berbicara dengan Alby.


Benar kan!?


"Mau sampai kapan begini?", tanya Amara dengan suara nya yang lirih. Mungkin Frans tak mendengarnya.


Tak ada sahutan apa pun dari Alby.


"Jadi...hanya segini usaha mu yang kata nya...kamu lah yang akan menikahi ku, heum?",tanya Amara sedikit berbisik. Sekarang Alby menatap mata lentik Amara dengan pandangan berbeda.


"Aku ambil ponsel kamu dulu. Besok pagi aku antar sekalian ku jemput!",kata Alby. Tanpa aba-aba, Alby menarik kepala Amara. Lalu ia mengecup puncak kepalanya. Amara sedikit terkejut. Begitu pula Frans yang dari tadi kurang begitu paham dan kurang mendengar obrolan keduanya.


Setelah mengucapkan itu, Alby pun meninggalkan Amara dan Frans. Tujuan nya saat ini adalah ke rumah Febri untuk mengambil ponsel Amara. Setidaknya...besok pagi dia punya alasan untuk berbicara dengan Amara. Licik kali si duda ganteng satu ini yak???? 🤭


Sepeninggal Alby, Amara mengajak Frans masuk ke dalam rumah nya.


"Mara!", Frans menarik tangan Amara. Tapi sebisa mungkin Amara melepaskan genggaman itu, sayang nya Frans terlalu kuat menggenggam nya.


"Lepas Frans!",kata Amara.


"Tidak akan! Aku akan mengatakan pada mami dan papi mu, kalau kita sudah setuju untuk kembali melanjutkan hubungan kita!",kata Frans masih dengan melangkahkan kaki nya menuju pintu utama.


Amara menghentakkan tangan nya dari tangan Frans.


"Frans!"


"Mara! Aku mencintaimu, sangat mencintai mu! Aku tahu kesalahan terbesar ku adalah membohongi status ku saat itu. Tapi sekarang aku benar-benar sendiri! Aku tidak akan menyakiti mu lagi, Amara! Please! Beri aku kesempatan!", kata Frans bersungguh-sungguh.


Bagaimana bisa seperti ini?


Ceklekk.... pintu ruang utama terbuka. Muncullah sosok Daniel yang masih memakai sarung serta kopiah nya. Mata Daniel langsung tertuju pada adik bungsunya yang sedang bergandengan tangan dengan Frans.


Daniel menarik nafas dalam-dalam.


"Assalamualaikum Kak!",Amara melepaskan tangan nya dari genggaman Frans untuk menyalami sang kakak. Frans pun tak ingin kalah melakukan hal itu.


"Walaikumsalam. Masuk! Kita bicara di dalam!",titah Daniel.


Ya, Daniel sudah menyaksikan dari cctv yang memperlihatkan jika si bungsu di antar oleh Febri, di kecup keningnya oleh Alby, dan terakhir bergandengan tangan dengan Frans.


Pusing tuh duda beranak satu!!! Sebenarnya adik nya itu mau gimana????


****


Coba ganti cover nya hehehe


Ganteng itu relatif kan yak??? Tapi ga tahu kenapa, buat mamak liatin mas2 yang di cover itu betah aja. Sampe di bilang sama si bungsu, ibu udah punya ayah jangan liatin orang ganteng mulu 🤣

__ADS_1


Juteknya akan kembali kumat ya? Perasaan belum keliatan banget sisi Jutek si Aa selain sama si Bianca, ya ga sih??


Makasih yang udah baca sampe sini. Love You lah pokoknya 😘😘😘😘😘😘


__ADS_2