
Amara sudah bangun dari pagi. Suasana rumah yang sudah ramai sepertinya tak mengganggu seorang Amara yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Ini weekend, Amara pun pimpinan perusahaan. Tapi dia seolah sibuk sendiri????
Tok...tok...
"Masuk!", pinta Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Maminya pun masuk ke kamar Amara.
"Ya Tuhan Amara, hari ini kamu mau meni...eh... tunangan lho. Kok malam masih mainan laptop sih!", ujar mami nya.
"Mainan apa sih Mi? Mara kan emang lagi selesaiin kerjaan Mara yang semalam belum kelar. Lagian kan acaranya juga nanti malam. Ini masih jam sembilan pagi mami!"
"Ya kan kamu bisa ngerjain hal lain. Ngecek persiapan atau apa gitu, malah ngurus kerjaan Mulu."
"Hehehe mami, semua udah ada yang handle kan Mi? Mara ngga perlu khawatir kali."
"Tapi kan ngga harus kerja juga Mara!", Mami mengusap bahu Amara.
Amara meraih tangan maminya yang ada dalam bahu.
"Mi, sejak kemarin-kemarin Alby susah dihubungi. Mara takut kalau Alby ngga jadi melamar Mara, Mi. Mara takut gagal lagi!", setelah mengucapkan keresahannya, mara memeluk tubuh maminya. Mami tersenyum sambil mengusap kepala Amara dengan sayang.
"Jangan berpikir seperti itu dong sayang. Mami yakin kok, Alby laki-laki yang baik. Dia ngga akan kecewain kamu. Apalagi...sudah banyak hal yang kalian hadapi sampai berada di titik ini."
Amara tak menyahuti lagi. Dia masih betah berada di dalam pelukan maminya.
"Sarapan dulu gih! Jangan kerja terus!",pinta mami.
"Heum, iya. Mara mandi dulu deh. Abis itu turun terus sarapan!"
"Ya udah, mami turun ya?"
Mara pun mengangguk pelan. Setelah maminya keluar, Amara pun melipat lagi laptopnya. Dia bergegas menuju ke kamar mandi.
Cukup lama ia berada di kamar mandi karena ia menyempatkan diri memakai lulur. Ya... meski bukan perawatan mewah khas sultan meskipun Mara mampu, tapi Amara cukup memperhatikan kesehatan kulitnya. Dia memang cenderung kuning langsat, tidak putih seperti Alby.
Ia keluar dari kamar mandi masih dengan handuk kimononya dengan rambut yang terbungkus handuk.
Aduh, kok nyeri amat sih nih perut!
Amara mengusap perutnya yang mendadak nyeri. Jangan-jangan mau datang bulan lagi!
Setelah siap, dia ke bawah untuk sarapan dan bercengkrama dengan anggota keluarganya yang lain.
.
.
.
Hari sudah cukup sore. Nyaris gelap malahan. Amara yang mandi jam sembuh siang pun , menjelang magrib kembali mandi. Tak butuh waktu lama untuk Amara menyelesaikan ritual mandi sorenya.
Saat ia melangkah ke lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengurungkan niatnya mengambil baju. Lalu ia pun mengambil ponselnya.
Senyumnya mengembang saat mengetahui siapa yang menghubunginya. Tanpa pikir panjang, Amara menerima panggilan tersebut.
[Assalamualaikum A. Ya Allah, A. Aa kemana aja sih? Kenapa aku ngga bisa hubungi Aa sama sekali. Azmi juga! Telpon ke kantor bilang nya kalian sibuk. Aa ke....]
[Walaikumsalam neng]
Sambutan salam dari Alby menghentikan cerocos Amara yang saking penasarannya kenapa Alby seolah menghindarinya di saat acara penting mereka akan segera di laksanakan.
[Aa kemana aja?]
__ADS_1
Amara menatap sendu kekasihnya yang justru sedang tersenyum.
[Ngga ke mana-mana. Kamu baru mandi neng?]
Amara mengangguk.
[Aa ngga mau batalin rencana pertunangan kita kan A?]
Mata Amara sudah berkaca-kaca. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.
Tak ada sahutan apa pun dari Alby, lelaki tampan itu hanya tersenyum.
Coba kamu di sini neng, udah ku.....
Alby merasa gemas dengan sosok cantik yang pertama ia kenal sebagai sosok yang kuat dan tangguh. Tapi yang dia lihat sekarang adalah sosok Amara yang lembut dan manja.
[Maaf! Tapi... sepertinya rencana kita gagal sayang]
[A...apa?]
Amara sedikit ternganga.
[Iya, rencana pertunangan kita gagal. Dan...aku minta maaf akan hal itu]
Ponsel Amara melorot. Dia menatap kosong ke arah lantai.
[Hallo? Mara....halo?]
Mara tak menyahuti lagi ucapan Alby bersamaan pula dengan mami yang membawa sore MUA ke dalam kamarnya.
Mara sendiri masih mematung. Dia hampir tak percaya dengan apa yang Alby katakan tadi.
"Mami?"
"Di make over dulu sayang!", pinta maminya. Amara ingin mengatakan apa yang Alby katakan, tapi ia tidak tega kalau nanti apa yang di ucapkan akan bersama buruk pada mami papinya.
Akhirnya, setelah lebih dari satu jam berkutat dengan perkakas make up, tampilan Amara jauh lebih cantik. Amara di temani oleh kang make up dan mba Mayang karena maminya turun lebih dulu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Amara menatap wajah nya di cermin.
Mayang dan kang make up melihat Amara yang sangat cantik di cermin. Dia sudah selesai di make up.
"Kenapa Ra?", tanya mba Mayang ya h tersenyum di balik cadarnya. Amara menggeleng pelan.
"Ngga apa-apa mba?!", jawab Amara. Mayang tidak lagi ingin mengorek informasi dari adik iparnya itu.
Wajah amara menegang karena sudah lewat jam delapan, ia benar-benar tak mendapatkan kabar apapun lagi dari Alby.
Jam delapan lewat lima belas menit, seseorang memanggil Amara agar turun ke lantai bawah.
Amara mencoba menenangkan dirinya, meskipun dia sudah siap untuk kecewa dan sudah terbiasa sakit hati tapi tetap saja ada rasa yang tak bisa di jelaskan.
"Ayo!", ajak Mayang pada Amara. Dengan perlahan-lahan, Mayang menggandeng tangan Amara menuju ke lantai satu di mana acara berlangsung.
Dia cukup terkejut karena melihat beberapa orang duduk lesehan. Termasuk papi dan kedua kakaknya.
Dan satu lagi, Amara hafal dengan punggung yang membelakanginya. Ya, punggung itu milik Alby karena kemejanya sama dengan kain yang ia pakai.
Semua mata tertuju pada Amara yang menuruni tangga di bantu mba Mayang. Begitu pula dengan Alby yang memutar badannya menengok ke arah Amara.
Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Alby menyunggingkan senyumnya yang tampan, serius benar-benar tampan. Tapi wajah Amara tampaknya sangat kebingungan. Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya sebelum ia ke lantai bawah.
__ADS_1
Mayang mendudukkan Amara di samping Alby. Gadis itu yang sudah berganti status menjadi nyonya Alby Gunawan mengerjap pelan.
"Pakaikan cincinnya ke tangan istrinya mas Alby! Begitu juga sama mba Amara!",pinta pak penghulu.
Amara mendadak oleng? Mungkin telinganya salah mendengar. Alby tersenyum dan melakukan apa yang pak penghulu katakan.
Tapi, di tengah kebingungannya Amara hanya mengikuti apa yang Alby lakukan.
"Nah, mba Amara cium punggung tangan Alby lalu mas Alby cium kening mba Amara!", pinta pak penghulu lagi.
Amara masih belum sepenuhnya menyadari jika dirinya sudah bukan lagi gadis, tapi nyonya!
"Tunggu!", tahan Amara. Semua atensi tertuju pada Amara.
"Kenapa neng?"
"Aku...ngga paham!", kata Amara. Papi dan yang lain tersenyum begitu pula dengan Alby.
Lalu mata Amara menatap Alby.
"Tadi...Aa bilang kita ngga bisa tunangan kan?", tanya Amara. Alby mengangguk.
"Lalu...ini apa?", Amara heran.
"Kita ngga tunangan neng Mara. Kita sudah menikah! Kita sudah sah menjadi suami istri. Paham?", kata Alby mengusap pipi Amara.
Amara menggeleng tak percaya.
"Sudah menikah???", tanya Amara.
Alby mengiyakan dengan anggukan.
"Apa aku sedang bermimpi?", tanya Amara. Semua tersenyum melihat tingkah Amara yang sepertinya masih belum percaya jika mereka sudah benar-benar menikah.
"Ngga sayang. Kamu ngga mimpi. Aa, suami kamu!", kata Alby.
"Masyaallah!!", mata Amara berkaca-kaca. Lalu setelah itu ia spontan mengecup punggung tangan Alby dengan mata yang masih mengembun.
Alby meraih kepala Amara, di kecup nya kening Amara cukup lama. Hingga tak terasa Amara menitikkan air matanya. Tapi Alby menghapus bulir air mata Amara.
"Udah, jangan nangis! Nanti istri ku mendadak jelek!", goda Alby. Akhirnya Amara tertawa, begitu juga dengan tamu yang lain.
Dan ada seseorang di sana yang hanya mampu tersenyum melihat kebahagiaan sepasang suami istri baru tersebut.
Semoga kalian bahagia dan menua bersama!
*****
Kok tiba-tiba udah sah aja??? Besok lah ya ... heheheh....
Selamat hari raya Iedul Fitri....
Baik yang merayakan hari ini atau pun besok. Kalo mamak mah besok lebarannya heheheh sekarang udah beres masak2 jadi bisa nyicil menghalu deh hihihihihi 🤭
Mohon maaf lahir batin, kalo2 mamak bikin salah secara online 😁✌️🤭 entah itu balas komentar atau.... ceritanya ngga sesuai ekspektasi kalian.
Mon maap 🙏🙏🙏🙏
Besok libur up dulu deh semoga kk Mimin memahami situasi dan kondisi kalo lagi lebaran hehehe
Terimakasih yang udah bersedia ngikutin sampe bab ini. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1