
Amara
Setelah Frans pulang, aku memilih duduk di sofa. Beruntung aku memiliki kakak ipar yang pengertian. Di sudut ruangan, sudah ada pakaian untuk ku ganti malam ini.
"Solat dulu Ra!",pinta Daniel.
"Iya kak!", sahutku. Aku pun bergegas mandi dan solat isya. Setelah solat isya, ternyata kak Daniel sudah memesan makanan untuk kami berdua.
Aku sudah tak memakai hijab. Rambutku masih basah. Lagi pula, sah-sah saja bukan jika kak Daniel melihat aurat ku. Bahkan Alby yang bukan mahram ku saja pernah....skip saja lah!
"Kak, jadi gimana? Apa kata dokter Sakti?",tanyaku memulai obrolan.
Kak Daniel pun menjelaskan sesuai apa yang dia pahami. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati.
"Apa yang Frans katakan sama kamu?"
Karena aku merasa kak Daniel percaya padaku, maka aku menceritakan semuanya minus soal tindih menindih tentunya.
"Jadi, kita harus apa kak? Aku takut kalo Frans juga akan melakukan hal yang sama pada ibunya Alby seperti ke papi!",aku menoleh pada papi yang masih terpejam.
Dokter tak bisa mengatakan jika papi koma, tapi sampai sekarang papi juga belum siuman sejak masuk ke rumah sakit ini.
"Alby cukup cemas sama kamu Ra. Apalagi ponsel kamu tidak aktif!",kata kak Daniel. Aku menepuk dahiku.
"Astaghfirullah, Kak! Aku lupa, ponsel ku mati tadi waktu masih di resto!"
"Tapi kakak udah bilang ke dia, kamu baik-baik saja. Jadi ngga usah khawatir!",kata kak Daniel sambil mengunyah makanannya.
"Kalo kak Daniel mau pulang, pulang aja. Biar Mara sendiri gak apa-apa. Kasian Dhea ga ketemu kak Daniel dari kemarin."
Kak Daniel menghentikan kunyahannya. Sepertinya, dia sedang menikmati banyak hal.
"Sebenarnya kakak juga tidak enak menitipkan Dhea sama mba Mayang terus. Tapi gimana ya? Kalo kakak ambil Dhea gitu aja, takut mba Mayang tersinggung. Apalagi...kamu tahu sendiri lah, mba Mayang kan sudah lama sekali ingin punya anak. Dengan merawat Dhea, dia sudah seneng banget Ra!"
"Bener juga sih Kak!"
Kami berdua sama-sama terdiam. Aku merapikan meja sisa makan kami tadi. Kak Daniel sendiri masih duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya.
"Kamu sama Alby gimana kelanjutannya?"
Aku menoleh. Kelanjutan apa? Bahkan Alby bilang dia tidak ingin pacaran.
Lalu, aku sendiri juga belum bisa menjaga diriku agar tak tersentuh oleh Frans. Dia masih suka menciumku tanpa persetujuan ku.
Ya Allah, murahan sekali aku ini!!! Aku memukul kepalaku.
"Ra!!!"
"Heum, itu kak...Alby ngga mau ada istilah pacaran. Katanya kalo pacaran, dia takut sewaktu-waktu putus. Jadi dia cuma bilang, jalani saja!"
Kak Daniel mengulas senyumnya.
"Kamu kelewat lugu atau memang tak paham maksud ucapan Alby, Ra?"
"Maksudnya apa?"
__ADS_1
"Alby tidak ingin pacaran, dia mau nya langsung nikah. Gitu aja ga paham!",ujar Daniel.
Ya, aku memang seperti teman jika mengobrol dengan kak Daniel. Meski wataknya keras, tidak seperti kak Nathan. Aku sudah terbiasa dengan suara tinggi kak Daniel, rapi tidak dengan kak Nathan.
Aku hampir tak pernah di marahi olehnya sejak aku kecil. Dan baru beberapa hari yang lalu ia meninggikan suaranya hanya karena hasutan Frans.
"Tapi...Alby bilang, kami harus mendapatkan restu dari mami dan papi dulu! Lagi pula...aku belum begitu yakin jika Alby benar-benar sudah melupakan Bia, Kak!"
"Kakak penasaran, seperti apa sih yang nyaman Bia itu? Sampe seorang Febri, Alby dan Sakti terpedas padanya? Cantik banget gitu?",tanya Daniel dengan nada mengejek.
"Aku aja yang cewek ngakuin Bia cantik Kak! Apalagi mereka!",sahutku.
"Heum, kalo menurut kakak sih sebenernya Alby bukan hanya sekedar ingin tanggung jawab atas kesalahan kalian waktu itu. Itu murni karena dia ingin kamu mendampingi nya. Ya... barang kali, setelah kalian bersama justru Alby bisa melupakan Bia-Bia itu!"
Aku tak menyahut lagi ucapan Kak Daniel. Membahas Bia, yang ada aku hanya merasa iri. Dia begitu di cintai oleh Febri dan Alby.
"Aku tidur kak!", aku beranjak ke brankar yang ada di sebelah brankar papi. Beberapa menit kemudian aku benar-benar tertidur pulas.
.
.
Amara
Aku sudah rapi dengan pakaian kantor ku. Mami dan Mba Mayang pun sudah tiba untuk menggantikan ku dan kak Daniel.
"Cari sarapan dulu Ra di kantin!", ajak kak Daniel.
"Ayo kak!"
Aku dan kak Daniel mengobrol santai sampai tak menyadari jika seseorang turut berjalan di samping ku. Spontan aku menoleh ke arah samping. Ternyata, Alby yang sudah berada di samping ku.
"By? Kapan datang?"
"Tadi aku ke kamar papi mu. Kata mba Mayang, kalian ke kantin. Jadi ya aku ikutin!"
Aku tersenyum mendengar jawaban Alby. Pantas ngga sih aku meras bahagia jika dengan seperti ini saja aku merasa Alby memperhatikan ku???
"Kamu ngga ke kantor By?",tanya kak Daniel.
"Ke kantor Kak. Habis anter Amara tentunya!", katanya tersenyum manis.
Masyaallah, nih orang ganteng nya kelewatan banget sih!!!! Batin ku.
"Jaga pandangan mu Mara!",kata Daniel mengingatkan. Aku pun mencebikkan bibir. Belum sampai ke kantin, seseorang menghadang kami. Siapa lagi jika bukan Frans???
"Selamat pagi sayang!",sapa Frans padaku. Aku tidak tahu apa yang ada dalam batin Alby saat Frans mengatakan demikian. Bolehkah aku berharap dia akan cemburu?
Kak Daniel berdehem pelan. Mungkin karena mendengar panggilan 'sayang' Frans padaku. Apa yang Alby lakukan? Seperti biasa, wajah tampan nya kembali datar seolah dia tak merasakan apa pun.
"Hai kak? Kalian mau ke mana?",tanya Frans pada Daniel.
"Kami mau sarapan di kantin!", jawab kak Daniel apa adanya. Aku sempat kesal sebenarnya saat kak Daniel mengatakan hal jujur tersebut pada Frans. Takut aja sih, kalo ternyata dia gabung sarapan bersama kami!
"Oh, benarkah? Aku pun belum sarapan, tak apa jika aku ikut bersama kalian?",tanya Frans pada kak Daniel. Aku hanya menahan kesal. Entah kenapa Frans terlalu pandai bersandiwara di depan orang lain.
__ADS_1
"Silahkan!",kata kak Daniel santai. Setelah itu,ia mendahului kami.
Di belokan lorong, tanpa sengaja ia hampir menabrak stroller yang berisi dua bayi kembar.
Brakkk! Dengan sigap, Daniel menangkap stroller itu agar tak terlalu bergerak jauh dari empunya.
"Maaf!",ujar Daniel.
"Iya pak, nggak apa-apa! Saya yang kurang hati-hati!"
Daniel sempat terkesima melihat sosok ibu muda yang ada di hadapannya.
Selang beberapa detik kemudian, seorang lelaki berseragam khas instansi seperti adiknya dulu menghampiri perempuan itu.
"Ada apa nduk?", tanyanya yang tak lain adalah Febri. Ia menanyakan sang istri yang terlihat diam di tempat semula.
"Ga opo-opo mas!", jawab Bia. Mata Febri beralih pada tiga orang yang berada di belakang pria itu.
"Febri, Neng Bia?",panggil Alby.
Aku tak menyangka jika kami akan bertemu di sini.
"A Alby!",jawab Bia pelan. Lalu tersenyum padaku.
Andai ada lagu pengiring seperti di sinetron-sinetron mah, pasti lagunya begini...
Ada cinta....yang ku rasakan....
Hufttt! Hal seperti ini lah sebenarnya aku takutkan!
"Eh, By! Ngapain di sini? Nabil sakit? Atau Mak?", berondong Febri.
"Ngga, papinya Amara yang di rawat!",jawab Alby. Mata Febri beralih pada Frans dan Daniel yang menatap istrinya.
Ehem!!! Febri berdehem. Dia tak suka jika istrinya jadi pusat perhatian laki-laki asing. Sudah cukup Alby yang membuat nya cemburu.
"Istri Kapten Febri jauh lebih cantik ternyata di banding saat video call dulu!",ujar Frans.
Bia menautkan kedua alisnya, lalu menoleh pada Febri.
"Terimakasih Dokter Frans!",jawab Febri. Bia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Jadi, ini yang mara panggil Bia? Mantan istrinya Alby? Yang sampai dokter Sakti saja ikut menaruh hati??? Astaghfirullah! Mata oh mata! Jaga pandangan mu! Dia istri orang lain! Pantas saja Alby sudah move on, dan Febri tetap tak berpaling pada Amara! Batin Daniel.
"Kalo gitu, kami permisi ya. Fesha dan Ribi mau di imunisasi!", kata Febri. Bia sendiri tampak tak mau ikut banyak bicara.
"Oh ya silahkan!", jawab kami semua kecuali Frans.
Aku melihat Alby yang sekarang menatap punggung Bia atau Febri yang menjauh dari kami. Benar kan? Sampai kapan pun perasaan Alby tak akan pernah berubah pada sosok Bia. Lalu apa artinya aku bagi Alby????
"Buruan ke kantin nya, itu juga kalo mau bareng!",Kak Daniel menarik tangan ku. Alhasil Frans dan Alby berjalan di belakang kami. Sadar ga sih? Aku sedang berjalan dengan tiga duda! 🤔
****
Makasih 🙏
__ADS_1