
Amara
Aku menutup panggilan ku dengan Alby. Setelah itu aku menghapus riwayat panggilan ku dengan Alby. Antisipasi saja jika Frans mendadak mengecek ponsel ku.
Sebenarnya aku tak ada meeting. Hanya saja setiap membahas seperti apa hubungan yang aku jalani dengan Alby, rasanya....huft! Entah lah apa namanya!
Ada rasa ingin saling memiliki tapi juga tidak bisa berkomitmen selain dalam ikatan yang sah. Ya, itu benar sih! Ajaran yang sebenarnya menang seperti itu. Tapi kami berdua bahkan seolah melebihi hubungan sekedar berpacaran.
Di bilang tidak berpacaran, kami beberapa kali saling mencumbu! Hal gila apa ini namanya?
Nada mengetuk pintu tapi belum kusahut dia sudah membukanya dan tahu kan siapa yang berada di belakang Nada, dokter gila itu!
"Baby, Nada melarang ku bertemu dengan mu!",kata Frans mengadu. Nada sedikit tak terima diadukan seperti itu, tapi aku mengibas tanganku agar Nada mengabaikan Frans. Dia pun kembali menutup pintu.
Frans mendekati ku. Duduk di meja, menghadap ku.
"Nanti malam kita bertunangan sayang, kenapa kamu malah ke kantor?",tanya nya sambil mengangkat daguku dengan telunjuknya. Aku menurunkan telunjuknya dengan perlahan.
Dimas bilang, tunjukan wajah ketakutan agar Frans merasa aku berada dalam jangkauannya. Yang itu artinya, aku hanya bisa pasrah dengan semua yang Frans lakukan padaku. Tapi yang sebenarnya adalah aku justru semakin merasa kuat saat orang-orang terdekat ku mendukungku. Meski ya ...caranya sedikit ekstrem!
"Aku banyak pekerjaan setelah seharian kemarin ikut dengan mu Frans!", kataku pelan. Frans tersenyum miring. Dia meraih ponselku yang tergeletak di meja. Sudah ku duga, dia tak akan melewatkan kesempatan itu untuk memeriksakannya. Dimas benar, tentang ia meretas nomor ku memang benar. Tapi dia sebenarnya hanya fokus pada chat atau panggilan ku dengan Alby. Selebihnya mungkin dia tak ambil pusing. Frans yang posesif juga ambisius!
Dugaan ku justru dia tak sebenarnya mencintai ku, melainkan obsesi mendapatkan ku. Entah itu perasaan ku atau hanya sekedar tubuh ku. Tapi jika memang dia hanya menginginkan tubuh ku, dia bisa saja melakukannya sejak awal bukan? Tanpa perlu drama mencelakai papi ku?
"Siapa Dimas?",tanya nya melirik ku.
"Teman waktu masih di instansi lama ku!",jawabku, jujur kan?
"Untuk apa di menghubungi mu sepagi itu?",dia menatap ku curiga.
"Dia akan menikah. Hanya ingin memberi tahu itu. Kebetulan aku mengenal calon istrinya!"
Frans meletakkan ponsel ku lagi ke meja. Tapi detik berikutnya, dia mencengkram daguku.
"Kamu tidak bohong kan baby?",katanya pelan tapi menatap ku tajam.
"Apa untungnya aku berbohong padamu Frans!",aku menurunkan tangannya dari daguku. Selalu seperti itu!
"Ada apa kamu ke sini?"
Dia tersenyum tipis.
"Papi mu baru saja pulang dari rumah sakit."
"Iya, sakti sudah mengabari ku!"
"Wow, Dokter Sakti rupanya. Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Tentu saja. Dia mengatakan kondisi papi jauh lebih baik!",sahutku.
Dia menarik kursi yang ku duduki hingga mendekat padanya.
"Kamu tidak ingin berterimakasih padaku baby? Aku sudah berbaik hati untuk membuat papi mu baik-baik saja saat ini!"
Aku menahan emosi ku. Frans benar-benar....
"Apa kamu masih butuh terimakasih dari ku? Bukankah apa yang kamu harapkan akan segera terwujud, mendapatkan ku?"
Frans mengusap pipiku dengan punggung jarinya. Lalu tersenyum miring, mendekatkan wajahnya ke arah ku. Mungkin ingin mencium ku. Tapi aku berhasil menghindarinya. Dia tersenyum tipis lagi.
"Sebelum aku benar-benar mendapatkan mu, jangan harap kalian akan bebas begitu saja!", bisik nya di samping telinga ku.
Aku mendorong tubuh nya yang seakan menghimpit ku karena aku dalam posisi duduk. Badannya pun mundur tapi dia masih duduk di meja.
"Aku sudah menuruti maumu! Nanti malam kita akan bertunangan! Apalagi?"
"Kita belum menikah!",sahutnya cepat.
"Bagaimana kita akan menikah jika keyakinan kita saja berbeda!", jawabku.
"Bukan berbeda, tapi aku yang belum menentukan keyakinan ku. Asal bersamamu, aku akan mengikuti mu!"
"Keyakinan bukan permainan!"
__ADS_1
"Aku tidak bodoh sayang. Kalo kamu mau, aku bisa melakukannya sekarang. Kamu tinggal sodorkan saja apa yang harus ku pelajari. Hari ini juga aku bisa menguasainya!"
Aku menggeleng tak percaya. Ada manusia semacam Frans di muka bumi ini. Oke, ku akui dia memang jenius tapi kejeniusannya tak di manfaatkan dalam kebaikan.
Aku bangkit dari kursi ku, lalu berjalan ke arah pintu. Mata Frans hanya mengikuti ke mana langkah ku.
"Kita akan bertemu nanti malam, setelah ini aku ada meeting. Sebaiknya, kamu kembali ke kantor mu!"
Frans tersenyum miring. Dia pun bangkit dari meja ku, berjalan perlahan menuju kemana aku berdiri di belakang pintu.
"Kamu mengusir ku baby?",tanyanya. Pria bertinggi sekitar seratus sembilan puluhan itu sedikit menunduk berbicara dengan ku.
"Maaf, tapi nanti malam pun kita akan bertemu!",jawabku tanpa melihat wajahnya. Aku menekan gagang pintu tapi tangan kekarnya meraih tangan ku. Sedikit menggeser tubuh ku untuk bersandar ke pintu. Terkejut? Tentu! Tiba-tiba kini dia sedang mengungkungku!
"Kamu tahu baby, aku benci yang namanya pengkhianatan! Kamu tahu itu!",katanya berbicara tepat di depan bibirku. Dekat, sangat dekat! Aku bisa mencium aroma mint dari mulut nya.
"Jangan kamu pikir, aku tak tahu rencana mu!", bisiknya lagi. Benar kah dia tahu rencana ku dan Dimas? Bahkan aku dan Dimas belum membahasnya di telpon tadi.
"Memang apa yang bisa ku rencanakan? Kamu selalu mengawasi ku!", kataku memberanikan diri menatap matanya.
Frans memiringkan kepalanya akan kembali mencium ku, tapi aku menoleh. Aku berusaha untuk menjaga kewarasan ku. Sudah cukup rasanya bibir ini dijamah oleh pria psikopat itu.
Tapi dia tak gentar, dia meraih pinggang ku seperti biasa lalu menahan tengkukku. Alhasil aku tak bisa menghindarinya.
Jika selama ini dia memainkan secara lembut, tidak kali ini. Dia mengeskplor semuanya. Lidah ku saja sampai terasa mau lepas. Pemberontakan ku seolah tak ada apa-apanya. Aku tak bisa melawannya saat ini. Ku pukuli punggungnya agar dia menghentikan perlakuan nya padaku. Tapi semakin aku melawan semakin terasa menyakitkan yang ku rasa.
Aku mencoba meredam emosi ku, dengan terpaksa aku mengikuti permainannya. Setelah aku mengikuti permainannya, barulah ia melembutkan pagutannya.
Sungguh aku jijik dengan bibirku sendiri! Entah berapa lama permainan adu mulut kami, sampai Frans menyudahinya. Bibir ku bengkak, lidahku kebas. Bahkan bibir Frans pun sedikit berdarah karena kekesalan ku. Tapi sepertinya dia tak merasakan hal itu. Dia justru tersenyum menang.
"Aku suka kamu seperti tadi baby! Kamu tahu, kamu sudah membangkitkan yang di bawah sana!",katanya berbisik sambil menuntun tangan ku untuk menyentuh miliknya. Memang benar, aku merasakannya sekilas tapi dengan cepat pula aku menarik tangan ku dari posisi itu.
Mataku sudah ternodai melihat milik Alby saat itu. Sudah cukup! Aku berharap hanya milik Alby yang ku lihat, dan dia lah yang kelak akan menjadi suamiku. Tidak salah bukan aku berharap demikian????
"Bagaimana jika kita meneruskannya nanti malam usai bertunangan?",tanyanya sambil tersenyum mesum. Aku pun mendorong tubuh nya sekuat tenaga.
"Jangan harap! Pergilah!", pintaku. Frans pun membenarkan posisi kancing kemejanya yang sempat berantakan tadi.
"Tunggu aku baby!",katanya sambil mengecup kening ku. Setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan ku.
Aku berlari ke kamar mandi ruangan ku. Aku kumur-kumur lalu menggosok gigiku dengan kasar.
Rasa kebas di lidah ku pun belum sepenuhnya hilang karena ulah Frans tadi. Ku gosok-gosok bibirku yang sudah kotor karena di sentuh olehnya berkali-kali. Apa aku masih layak mendapatkan Alby jika aku saja tak bisa menjaga diriku sendiri!!???
Aku keluar dari kamar mandi, terdengar ada panggilan dari Febri.
[Hallo mas?]
[Ra, kami sudah bergerak ke tempat yang kamu bilang. Di perbatasan kota bukan? Rumah yang tampak dari luar tak berpenghuni?]
[Iya mas. Kamu...ngapain di sana?]
[Tentu saja bekerja!]
[Tunggu! Kamu mau menggerebek tempat itu? Mas, itu bukan wewenang kita! Em... maksudnya ...]
Oh ya ampun, aku lupa! Aku bukan lah bagian dari instansi mereka lagi! Sadar Amara! Sadar!
Febri terkekeh pelan di sana. Mentertawakan ku yang mungkin masih berharap banyak di instansi itu.
[Iya, bukan instansi kita. Tapi instansi mertua Seto. Kamu ngga lupa kan instansi mertua Seto?]
Ah, iya! Mertua Seto kan petinggi kepolisian! Berapa banyak yang aku libatkan???
[Tunggu! Gimana bisa papa nya Naya mengijinkan misi itu? Bukankah perlu surat pengantar atau laporan lebih dulu?]
[Entah lah, itu urusan Seto!]
[Ini lembaga ne....]
[Iya Ra. Kamu paham. Dan doakan semoga semua sesuai rencana!]
Huh!!! Entah apa rencana kalian!
__ADS_1
[Baiklah. Semoga sukses. Dan jaga diri kalian semua baik-baik. Terimakasih banyak]
Aku terharu sekali mereka semua mau membantu ku.
[Insyaallah Ra. Bagaimana pun juga, aku pernah berhutang budi sama kamu, sama Frans juga sih sebenarnya]
Apa Febri sedang membahas tentang peristiwa penembakan di negara konflik dulu? Awal di mana aku justru kenal sama Frans?
[Heum. Sekali lagi terimakasih]
[Iya Ra. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Usai menurunkan bobot tubuh ku ke kursi, aku pun memejamkan mataku. Aku harap semua yang sudah mereka rencanakan berhasil. Dan tak perlu ada yang di korbankan!
.
.
.
Alby
"Laper Pa!", rengek Nabil. Aku lupa jika ini di kampung ku. Tidak ada warteg apalagi rumah makan. Yang ada warung sayur Wak Euis. Tidak mungkin juga aku meminta Mak belanja ke sana. Aku takut tetangga pada julid ke Mak. Kasian Mak nanti.
"Ya udah kita masak. Papa ke warung dulu ya?",pamitku.
"Biar saja aja pak, pak Alby beri tahu saja di mana warung nya?",tawar teh Ani.
"Udah ngga apa-apa saya aja. Nabil mau mam apa?",tanyaku.
"Apa aja pa!",sahut putra ku.
"Kalo Putri, mau mam apa?", tanyaku pada anak Azmi.
"Mie goreng boleh ngga om?",tanya putri takut-takut.
"Nabil kaya kak putri juga pa!", celetuk Nabil tiba-tiba.
"Baiklah! Papa beliin!",kataku beranjak dari sana. Mak sendiri sedang memasak air di Pawon. Entah, mungkin perempuan baya itu sedang merindukan momen-momen di mana Pawon itu sebagai teman keseharian nya di sini.
"Lo ga nawarin gue sama Teh Ani?",tanya Azmi.
"Ga. Lo makan angin aja udah kenyang kan?"
"Rese emang pak bos!",kata Azmi kesal. Lalu dia duduk di kursi.
"Ya udah Lo ikut gue !"
"Kemana?"
"warung lah!"
"Kenapa harus ikut?"
"Lo kan bapak rumah tangga, lebih tahu kan apa yang harus di beli!",kataku sambil membawa kunci motor yang di gantung di dinding.
"Heh? Naik motor? Itu motor masih bisa di pake? Heran gue, ga ada gitu yang nyolong nih isi rumah."
"Gue rasa Bia juga udah mikirin sampai beginian juga!",kataku lagi sambil menyeret motor yang ku beli dengan gajiku saat masih bekerja di pabrik otomotif dulu.
Benar dugaan ku, motor ini masih bagus. Setelah lima menit ku panaskan, Azmi pun duduk di belakang ku.
"Warungnya jauh Bos?",tanya Azmi.
"Ga. Ke depan doang. Deket sih, tapi kalo jalan takut papasan banyak orang. Males gue di tanya-tanya!"
Azmi pun mengangguk. Semoga dia mengerti.
Dua duda sekaligus bapak rumah tangga beranak satu in action!!! Bukan mau berantem, tapi belanja sayur! 🙈
*****
__ADS_1
Maap kalo ga sesuai ekspektasi 😁✌️, lanjut nanti malam. Makasih 🙏🙏🙏
Happy weekend 🤗🤗🤗