
"Kok bisa sih kamu pernah punya hubungan sama orang ngga jelas kaya si Frans itu!", gerutu Daniel pada adiknya.
"Dulu dia ngga kaya gitu Kak!",sanggah Amara.
Daniel memicingkan sebelah matanya.
"Kok kesan nya kamu kaya gimana gitu ya Ra, abis ketemu Frans?",tanya Daniel. Pria berusia tiga puluh satu tahun itu menatap heran pada Amara. Di matanya, Amara seolah terlihat iba pada laki-laki yang sudah berbuat jahat padanya.
Amara menghela nafas panjang. Lalu ia menyandarkan kepalanya.
"Aku kenal Frans sangat baik kak. Kami berkenalan karena insiden penembakan yang di alami Febri. Waktu itu aku kembali patah hati karena Febri mengenalkan Bia adalah tunangannya. Dan kebetulan, saat Febri tertembak, kondisi nya cukup mengkhawatirkan. Kami tak bisa menghubungi siapa pun. Dari sana, aku mulai kenal Frans. Dia nawarin ponselnya buat ku pinjam, biar bisa ngabarin keluarganya di sini."
Daniel masih fokus dengan setirnya. Mereka mengarah ke apartemen Amara lagi karena hari sudah lewat siang. Sekitar jam satu, mereka baru selesai pemeriksaan dan kunjungan kepada Frans.
"Jadi sejak itu, kalian dekat? Tanpa memikirkan apapun kalian pacaran gitu?",tanya Daniel. Amara mengangguk.
__ADS_1
"Ya, waktu itu kan emang aku lagi butuh pelarian. Udah gitu, yang aku tahu kami sama2 nonis!"
"Kenapa kalian bisa putus?", Daniel mulai penasaran.
"Ngga sengaja aku lihat chat di ponsel nya kalo istrinya akan melahirkan. Kebetulan juga aku udah mau pulang ke sini kak. Jadi ya udah lah, toh aku udah terlanjur kecewa sama Frans."
"Andika kamu tidak tahu kalo Frans lelaki beristri, kamu masih berlanjut dengan nya?"
"Mungkin seperti itu. Beruntung Allah membuka rahasianya lebih dulu."
Daniel kasihan sekali pada adik bungsunya. Sejak pertama kali ia jatuh cinta pada sosok Febri, dia sama sekali tak pernah berusaha melirik laki-laki lain. Keluarga nya tahu soal hal itu. Lalu, dia jatuh hati pada Frans yang ternyata bukan lah cinta melainkan obsesi ingin memiliki. Dan sekarang...Amara terlihat jatuh cinta pada lelaki yang bernama Alby. Mungkin jika hanya status duda, orang tua Amara tak keberatan. Tapi bagaimana jika mereka tahu, Alby pernah gaga Lo berumah tangga lalu mantan istrinya sekarang menjadi istri dari seorang laki-laki yang pernah Amara cinta??? Di sangka tukar jodoh gitu??? Eh, tapi kan Febri mah ngga pernah ada hubungan apa-apa sama Amara ya?
Daniel mengusap puncak kepala Amara. Amara mengangguk tipis.
"Kakak sendiri, gimana? Belum mau cari pengganti Mama nya Dhea?",tanya Amara.
__ADS_1
"Aku belum kepikiran Ra. Sulit buat lupain Dian."
Amara bergantian mengusap bahu kakaknya. Almarhum kakak iparnya memang perempuan yang sangat baik. Mereka berpacaran saat masih SMA. Tapi karena perbedaan keyakinan saat itu, membuat mereka sempat berpisah hingga akhirnya kak Daniel mengikuti keyakinan Dian. Seperti halnya kak Nathan dan sekarang....Amara!
"Gimana juga, Dhea butuh sosok ibu. Kak Daniel juga masih muda." Daniel tersenyum.
"Kaya Alby bukan duda saja!",ledek Daniel terkekeh. Wajah Amara memerah di ledek seperti itu oleh kakaknya.
"Kapan kalian akan membicarakan hal serius. Barang kali kamu mau bertemu orang tua Alby?"
"Mungkin nanti malam kak. Bia, istrinya Febri mengundang kami buat hadir di acara grand opening rumah makan Bia."
Daniel menautkan alisnya.
"Kalian... sedekat itu?",tanya Daniel. Amara tersenyum.
__ADS_1
"Iya...ga juga sih. Sekalian mau membuktikan kalau...Alby benar-benar sudah move on dari Bia kak!"
Daniel pun setuju dengan pendapat Amara. Toh, melupakan mantan istri yang terpaksa berpisah itu pasti sangat sulit.