Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 142


__ADS_3

"Masih lama ngga sih kerjaan papa?",Nabil mulai tidak tenang. Kebetulan teh Ani sedang ijin tidak masuk. Tapi membawa Mak Titin ke kantor untuk menjaga Nabil juga bukan solusi. Jadi ya, Nabil sibuk mengganggu Alby atau Azmi bergantian.


"Sebentar lagi sayang!",jawab Alby sambil mengetik di laptopnya.


"Nabil laper papa!",kata Nabil mulai lesu. Akhirnya Alby menghentikan jemari nya yang menari di keyboard laptopnya.


"Ya udah, kita solat Dhuhur dulu. Habis itu kita cari makan di luar. Oke???",kata Alby.


"Cari makan? Emang ada yang buang makanan pa!? Kenapa harus di cariin?",tanya Nabil dengan polosnya. Alby pun menggaruk pelipisnya. Pertanyaan Nabil memang tidak salah, tapi juga ya....


"Maksud papa, kita makan di restoran mana aja. Nabil yang cari atau menentukan nanti!",jelas Alby.


"Oke pa. Yuk solat! Ajak om Ami ngga? Atau Tante Amara?",tanya Nabil.


"Iya sama om Azmi. kalo Tante Amara ngga bisa sayang, lagi sibuk di kantornya. Mungkin lain kali. Emang Nabil mau gitu makan bareng Tante Amara?"


"Mau lah Pa. Tapi ya udah lah, besoknya lagi aja kalo Tante Amara ngga sibuk!",jawab Nabil menggandeng tangan papanya.


Nabil pun menggandeng tangan papanya, dia tak mau melepas papanya biar dia tidak di tinggal. Azmi berjalan di belakang kedua bapak dan anak itu.


Sebelum sampai lift, ponsel Azmi berdering. Dia menghentikan langkahnya sebentar sebelum menekan tombol lift.


[Hallo?]


[......]


[Kapan? Sudah sampai di sana?]


[......]


[Iya, terimakasih Billy. Tolong tetap kawal ya]


[.....]


[Iya, terimakasih]


Azmi langsung memasukkan ponsel nya lagi ke dalam saku kemejanya.


"Ada masalah? Sampai Billy menghubungi mu?",tanya Alby pada Azmi yang baru saja menekan tombol lift untuk turun.


Azmi menarik nafas sesaat sebelum menyampaikan informasi penting pada bosnya.


"Amara ke lapas, menjenguk Frans! Sendiri!",kata Azmi.


"Apa...??? Ngapain dia kesana sendiri? Ngga bisa di biarin ini Mi. Bahaya buat Amara!",kata Alby mulai terpancing emosi.


"Tenang saja, ada Billy dan yang lain."


"Aku harus ke...!", telapak tangan Alby di remas oleh Nabil.


"Apa papa mau pergi? Ngga jadi makan siang sama Nabil?",tanya Nabil sambil mendongak menatap papanya. Perlahan emosi Alby menurun menatap wajah lugu sang putra.


"Kalo papa mau pergi buat nemuin Tante Amara, ngga apa-apa. Nabil makan sama om Ami aja. Ngga apa-apa kan om?",tanya Nabil menoleh pada Azmi.


Azmi yang juga merasa menjadi seorang ayah pun tidak tega melihat Nabil yang terlalu 'pengertian' ini.


Azmi berjongkok di depan Nabil.


"Ngga kok. Papa ngga akan ke mana-mana, Papa pasti makan siang sama Nabil. Om jamin!", kata Azmi. Nabil menggeleng.


"Papa kalo mau pergi, pergi aja. Ngga apa-apa kok, Nabil sama om Ami aja!",kata Nabil melepaskan tangan nya dari Alby. Lalu memeluk Azmi lalu meminta nya untuk di gendong.


Mau tidak mau, Azmi pun menggendong Nabil. Anak lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu Azmi.


Alby merasakan jika anaknya sedang merasa di abaikan karena ucapannya tadi. Tidak seharusnya ia sekhawatir ini pada Amara. Sudah ada Billy dan pasukannya yang menjaga Amara.


Pintu lift terbuka, Nabil masih di dalam gendongan Azmi.


"Nabil di gendong papa aja ya? Kasian om Ami nya?",tawar Alby pada Nabil.


"Ngga usah pa. Papa pergi aja, biar Nabil sama om Ami aja. Nabil janji kok, ngga akan nakal. Nurut sama om Ami. Ya kan Om?", tanya Nabil.


"Bil, papa akan makan siang sama Nabil kok. Kan papa udah janji sama Nabil. Heum?",bujuk Azmi. Nabil pun menoleh ke papanya.


"Iya, papa kan udah janji sama Nabil. Oke? Sekarang gantian papa yang gendong Nabil. Kasian om Ami nya!", sekarang Alby yang membujuk Nabil. Nabil pun beralih ke gendongan Alby.


Pemandangan segar yang di tunjukkan oleh tiga wajah tampan itu pun menjadi perhatian orang-orang.


"Sholat di mushola lantai satu?",tanya Nabil. Kedua lelaki tampan itu mengangguk.


Ketiga nya pun menuju ke mushola yang ada di belakang, di lantai satu. Tidak terlalu ramai karena memang di setiap lantai di sediakan mushola. Kenapa memilih lantai satu? Biar sekalian turun aja sebenarnya. Tidak ada yang spesial.


Setelah solat Dhuhur, mereka bertiga pun menuju ke loby untuk menunggu mobil. Setelah mobil siap, ketiga nya pun melesat keluar dari area gedung HS grup.

__ADS_1


.


.


Beralih ke Amara lagi.


"Kenapa masih di sini? Kamu sudah melihat keadaan ku, bukankah ini yang kamu mau Baby?",tanya Frans menyindir.


Kedua tangannya di perban, belum lagi jarum infus yang menancap di lengannya. Kenapa pemandangan itu sungguh menyakitkan di mata Amara???


"Aku...aku...."


"Kamu bahagia kan bersama Alby? Mungkin, aku memang tidak pernah pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang aku sayangi!",kata Frans sambil menatap langit-langit ruangan itu.


"Jangan bicara seperti itu. Mommy dan Daddy mu sayang padamu Frans. Mereka juga ingin mengunjungi mu. Mereka mengkhawatirkan mu. Mereka...."


"Tidak. Aku tidak ingin bertemu mereka. Untuk apa? Mereka tidak pernah merasa jika aku ada. Anak mereka hanya almarhum adikku."


"Frans?", Amara berusaha mendekati. Tapi Frans mengangkat tangan nya, menahan agar Amara tak mendekatinya.


"Jangan mengasihani aku!"


"Frans, untuk apa kamu seperti ini? Mencoba bunuh diri? Untuk apa?",tanya Amara dengan suara bergetar.


"Untuk apa? Untuk memuaskan kalian yang tak menginginkan keberadaan ku!"


Amara menggeleng pelan.


"Tidak seperti itu. Mommy dan Daddy mu sangat menyayangi mu Frans. Kamu mau ya, ke psikiater? Ya?",bujuk Amara.


"Aku tidak gila Amara!",teriak Frans. Padahal Frans seorang dokter juga tahu, ke psikiater bukan hanya karena di anggap gila. Tapi karena memang membutuhkan penanganan khusus untuk membantu memulihkan mentalnya yang sedikit terganggu.


"Kamu memang tidak gila Frans. Kamu dokter jenius. Dan dokter jenius tidak akan mati sia-sia dengan bunuh diri. Tidak Frans!", kata Amara penuh penekanan meski ia masih menjaga jarak dari Frans karena Frans yang memintanya. Padahal, beberapa hari yang lalu Amara lah yang takut setiap ia dekat dengan Frans.


"Untuk apa aku hidup, jika aku saja tidak bisa memiliki mu? Jassy lebih memilih adikku, dan kamu gadis yang sudah membuat ku sembuh dari luka ku karena Jassy, sudah memilih Alby. Lalu buat apa aku hidup jika orang-orang yang aku cintai, hanya bisa mengkhianati ku!"


Amara menggeleng tak percaya. Dia tak percaya sosok yang pernah begitu mencintai dan menyakiti nya sekaligus terlihat begitu lemah dan rapuh.


Apa selama ini, dia menutupi kerapuhan nya dengan sikap egoisnya? Psikopat nya???


"Pergi lah, dan jangan pernah menemui ku jika hanya ingin mengasihani ku!",bentak Frans.


Amara sedikit terkejut.


"Ada apa?",tanya dokter.


"Saya tidak ingin di jenguk olehnya. Katakan juga pada petugas di depan. Jangan pernah mengijinkan nya menjenguk saya!", kata Frans lantang.


Dada Amara merasa nyeri. Bukan karena pengusiran Frans. Tapi sikap Frans yang benar-benar seperti orang yang putus asa.


"Mari nona, biarkan tuan Frans istirahat dulu",ajak dokter pada Amara. Amara pun mengangguk lalu menyempatkan menoleh pada Frans. Tapi Frans tampak acuh padanya.


Sekeluarnya Amara, Frans hanya memandangi langit-langit ruangan itu. Apa ya kira-kira yang Frans pikir kan?


.


.


Amara melajukan mobilnya perlahan menuju ke kantor nya kembali. Mungkin ia membenci Frans saat dia melakukan banyak kejahatan pada papinya, juga padanya. Tapi melihat keterpurukan Frans, ia juga tidak tega. Ya, itulah kelemahan Amara. Mudah sekali iba.


Mengusir kesepian di dalam mobilnya, Amara menyalakan musik. Kebetulan yang dia nyalakan lagu barat milik Britney Spears, tentang patah hati. Hyuuuk...patah hati katanya. Dengan perlahan ia menikmati alunan lagu yang slow itu.


Ia baru menyadari bahwa lagu itu sering ia dengar saat dirinya dan Frans di negara konflik dulu. Tepatnya setelah mereka mulai dekat karena ia, meminjam ponsel Frans untuk menghubungi Bia saat Febri tertembak dulu.


(Lagu nostalgila ala2 mamak. Nggak apa-apa kali ya, boleh kan Min? Mamak hobi pisan sipil lagu orang? 🀭🀭🀭. Habis ngga punya lagu sendiri heheheh βœŒοΈπŸ™πŸ™ boleh ya kak MiminπŸ™πŸ™πŸ™. Lamun aya anu ngadenge, sok lah. Pake headset, di resapi sambil bobo cantik, wes...merem wae matane 🀭)


Flashback


Frans meninggalkan ruangan rawat Febri setelah ia mengembalikan ponsel miliknya. Amara yang sudah cukup bahagia melihat pujaan hatinya yang tampak sangat bahagia bisa menghubungi tunangannya, Bia. Dengan keadaan Febri yang nyaris sekarat saat itu. Tapi setidaknya melihat seseorang yang berarti dalam hidupnya bahagia dengan orang lain, mungkin itu yang dinamakan mencintai tanpa harus memiliki.


Kaki jenjang Amara melenggang menuju ke ruangan dokter Frans. Lelaki berparas tampan dan berkacamata itu terlihat berdiri menghadap jendela. Hanya terlihat punggung kokohnya yang berbalut jas profesi nya berwarna putih.


Amara mencoba mengetuk pintu ruangan Frans, tapi sepertinya si pemilik ruangan sedang menikmati alunan lagu jadul tahun 2004an mereun. Mungkin juga mewakili perasaan Frans kala itu.


(Semoga di ACC ya Min πŸ™πŸ™πŸ™)


Everytime by Britney Spears


Notice me take my hand, why are we strangers when. Our love strong, why carry on without me?


(Pandanglah aku genggam tangan ku, kenapa kita jadi tak saling kenal saat, cinta kita begitu kuat, kenapa kau lanjutkan hidup tanpa ku?)


And every time i try to fly, i fall without my wings, i feel so small. I guess i need you, baby. (Tiap kali ku mencoba terbang,aku jatuh. Tanpa sayap, aku merasa begitu kecil. Kurasa aku butuh dirimu, sayang)

__ADS_1


And every time i see you in my dreams i see your face, it's haunting me, i guess i need you baby. (Dan tiap kali ku melihat mu di mimpiku. kulihat wajah mu, wajah mu menghantui ku. kurasa aku butuh dirimu, sayang)


(Silahkan lanjutkan sendiri πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™. Keliatan banget umure piro πŸ€£πŸ™ˆ)


Amara masuk ke dalam ruangan Frans, ia ingin mengatakan terimakasih padanya.


"dokter Frans, dok...!",sapa Amara. Frans sedikit tersentak lalu menoleh padanya.


"Amara, maaf aku tak tahu kamu di sini!",ujar Frans lalu mematikan ponselnya yang sedang memutar lagu itu.


"Tak apa, justru aku yang meminta maaf sudah masuk ke ruangan mu tanpa ijin lebih dulu. Tadi aku sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya kamu sedang larut dengan lamunan mu!",kata Amara tersenyum tipis.


Senyum Amara yang manis menyita perhatian Frans yang sudah beberapa kali bertemu di rumah sakit ini.


Frans pun membalas senyuman gadis itu.


"Bisa jadi, aku hanya sedang ingin mendengarkan nya saja. Masih jam istirahat!",kata Frans sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Terimakasih dokter Frans!",ujar Mara.


"Untuk?",tanya Frans menautkan kedua alisnya.


"Sudah menyelamatkan Febri dan meminjamkan ponselmu agar dia bisa menghubungi orang terpenting dalam hidupnya!",kata Amara sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia bersandar di dinding dengan siku lengan kirinya sebagai tumpuan. Matanya pun turut menatap pemandangan gersang karena peperangan yang bisa saja menyerang bangunan itu sewaktu-waktu.


"Aku seorang dokter. Sudah kewajiban ku!", sahut Frans. Amara mengangguk.


"Apa Febri juga berarti untuk mu?",tanya Frans pada Amara. Amara menoleh sesaat.


"Huum, may be! Tapi...kami tak memiliki hubungan apapun, anggap saja aku cukup menjadi seseorang yang mencintai nya tanpa memiliki nya!",kata Amara. Frans menatap wajah cantik khas Asia itu.


"Mungkin itu lebih baik, dari pada...jika kalian memutuskan bersama tapi pada akhirnya hanya ada pengkhianatan di antara kalian karena cinta hanya bertepuk sebelah tangan, itu lebih menyakitkan." Amara menoleh cepat pada sosok dokter tampan itu. Terlihat mata elang di balik kacamata bening itu berkilat menyimpan sesuatu yang sepertinya tak bisa di tebak, bisa jadi sebuah kekecewan. Dalam hati Amara ingin bertanya, tapi... mereka hanya sebatas rekan baru kenal yang anehnya dengan mudah Amara menceritakan kisah cinta nya yang gagal.


"Are you okay?",tanya Amara. Frans pun menoleh, lalu tersenyum menunjukkan gigi nya yang rapi.


"Yes. I'm okay."


Lalu ia pun turut memandangi kota yang hampir rata dengan tanah karena bangunan itu runtuh oleh bombardir para pengkhianat.


Sejak itu keduanya mulai dekat. Bahkan saat Seto dan Febri kembali ke tanah air, Amara masih stay di sana.


Beberapa bulan berlalu, keduanya pun layaknya pasangan kekasih. Amara mulai mengikis perasaannya pada Febri.


Hingga suatu hari, saat keduanya bermesraan di ruangan Frans (Ngga aneh-aneh kaya sama Alby lho ya??)


"Baby, aku ke toilet sebentar!",kata Frans mengecup kening Amara yang sedang tak bertugas di jam tersebut. Amara mengangguk sambil tersenyum.


Tak lama ponsel Frans yang ada di atas mejanya bergetar tanpa dering. Amara melihat sekilas. Ada 'Mommy calling' di layar benda pipih itu.


Amara ragu dan ingin mengangkat panggilan tersebut, tapi rasanya tak etis sekali. Meskipun keduanya bilang ingin menjalin hubungan yang serius. Tak ada salahnya bukan mengenal orang tua pasangan?


Tapi belum sempat Amara menyentuh benda itu, panggilan itu pun berhenti. Amara pun urung mengambil ponsel itu.


Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi chat pun berdenting.


'Jassy sudah akan melahirkan, kamu bisa pulang kan Frans? Kasian istri mu!'


Begitu isi chat Mommy Frans. Amara bisa membaca nya meski tak perlu membuka chat tersebut karena terlihat di aplikasi hijau saat pesan itu masuk.


Dada Amara bergemuruh hebat. Dia tak percaya, lelaki yang dia pikir sudah membuat nya perlahan melupakan Febri justru membohongi nya. Tidak main-main, Amara merasa dirinya seolah menjadi seorang pelakor yang memacari suami orang!


"Maaf baby, perut ku tidak enak!",kata Frans setelah memasuki ruangan nya lagi. Mata Amara menatap tajam pada kekasihnya.


"Maaf? Maaf katamu? Tega kamu Frans?",tuding Amara. Frans yang bingung pun mendekati Amara.


"Ada apa baby?",tanyanya. Amara memundurkan langkahnya, tak ingin di sentuh Frans.


"Jangan mendekati ku! Mulai sekarang kita tidak pernah ada hubungan apa pun!",kata Amara lantang.


"Why?", tanya Frans masih bingung.


"Istri mu akan segera melahirkan Frans. Dan kamu di sini, bersama ku! Di mana perasaan kamu Frans!", kata Amara penuh emosi. Frans meraih ponselnya. Dia menggeleng, ingin menjelaskan bahwa dia tak seburuk yang Amara pikir.


"Dengarkan aku baby! Please, oke aku minta maaf. Dia... memang istri ku tapi...."


"Stop Frans! Stop! Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari kamu. Kita selesai!",Amara pun meninggalkan ruangan Frans dengan penuh emosi.


'Bisa-bisanya gue pacaran sama suami orang! Apa sebegitu ngga lakunya gue!', batin Amara. Dia menghapus air matanya sambil berjalan menuju ke barak nya. Kebetulan, hari itu penerbangan menuju ke tanah air. Amara membereskan barang-barangnya lalu ia akan ikut penerbangan hari itu.


Frans berusaha mengajak Amara bicara, tapi gadis itu mengabaikannya. Dan akhirnya ia pun pulang ke negaranya, untuk menyelesaikan masalah yang sudah membuat dia kehilangan Amara.


Flashback off


*****

__ADS_1


Wes...segini dulu 🀭, makasih banyak-banyak.... semangat berpuasa yak βœŒοΈπŸ™


__ADS_2